
Happy reading ....
*
Rumah minimalis bergaya modern dengan cat putih yang mendominasi tak lepas dari pandangan Rayhan sejak sampai di tempat itu. Rayhan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Isti tidak mengaktifkan ponselnya. Security rumah itu menuturkan bahwa Isti dan kedua orang tuanya pergi ke luar kota tadi pagi.
Rayhan merasa ada yang aneh di sini. Karena jangankan memberitahu sejak awal, bahkan sampai saat ini pun Isti sulit dihubungi. Dengan perasaan kecewa, Rayhan pun meninggalkan tempat itu.
Di tempat lain, setelah membaca chat dari Raka, Ghaisan mengurungkan niatnya semula dan menelepon Annisa. Ia ingin menghabiskan waktu bersama kekasihnya itu selama berada di Indonesia.
Ghaisan bersiap akan menjemput Annisa. Saat ia sedang mengenakan helm, mobil Rika memasuki halaman rumah itu. Rika turun dari mobilnya dan menghampiri Ghaisan sambil bertanya, "Mau kemana, Sayang?"
"Hangout, Ma." Sahutnya setengah berdusta.
"Kamu nggak ingin nyusul Angel ke Bali? Dia ada acara sama teman-temannya di sana. Ya, semacam perpisahan gitu," ujar Rika.
"Ke Bali?"
"Iya. Tadi pagi berangkatnya. Coba kalau semalam dia bilang, pasti mama akan langsung pesankan tiket untuk kamu. Mama juga baru tahu dari Jeng Reni. Dia nggak bilang sama kamu?"
"Enggak. Udah telat kali, Ma. Lagian juga dia kan sama teman-temannya. Nggak enak kalau Agas tiba-tiba nimbrung," sahut Ghaisan.
"Ya nggak apa-apa. Biar sekalian mereka tahu kalau kalian mau tunangan," imbuh Rika.
"Biarin aja lah. Kasih Angel kesempatan untuk menikmati kebersamaan dengan teman-temannya. Toh nanti juga di New York Agas sama dia tiap hari ketemu," ujar Ghaisan datar sambil menyalakan mesin motornya.
Rika tersenyum lebar mendengar hal itu. Ia merasa senang karena Ghaisan sudah mulai luluh dan mau menerima Angel.
"Ya sudah, hati-hati ya." Pesannya. Ghaisan mengangguk dan mulai melajukan motornya.
Rika menatap kepergian Ghaisan dengan hati gembira. Rika mengeluarkan ponselnya dan menelepon Reni.
"Jeng, hari ini ada waktu? Bagaimana kalau kita beli cincin tunangan untuk Angel? Kalau saya beli sendiri, nanti kekecilan atau kebesaran."
"...."
"Ide bagus itu. Saya siap-siap dulu ya. Mau pakai mobil siapa?"
"...."
"Oke." Pungkasnya. Rika masuk ke rumah dengan perasaan gembira.
__ADS_1
***
Setelah menepikan motornya, Raihan melangkah gontai menuju teras rumahnya. Ia terduduk di sana untuk sekedar menetralkan raut wajahnya yang muram. Ia tak ingin jika suasana hatinya saat ini membuat keluarganya tak nyaman. Rayhan mencoba berbaik sangka pada Isti agar rasa kecewanya tak berkelanjutan.
Rayhan menoleh pada pintu gerbang saat mendengar suara motor yang sangat familiyar. Itu adalah suara motor Ghaisan, dan benar saja, sahabatnya itu terlihat memasuki halaman rumahnya.
"Ray, lo baru sampe?" tanya Ghaisan yang sedang melepaskan helm-nya.
Rayhan hanya mengangguk, dan balik bertanya, "Lo mau jalan sama Nisa? Bukannya lo bilang punya rencana? Kok malah nge-date?"
"Ya mumpung di sini, Ray. Rencana ada laah. Si Raka punya info ter-update tentang dia. Lo lihat aja nanti," sahut Ghaisan sambil terduduk di kursi.
"Awas lo ya, kalau cuma ngomomg doang. Apalagi kalau nge-date kalian ini justru rencana lo sebelum ninggalin Nisa." Rayhan memberikan penekanan pada kalimatnya.
"Enggak lah, Ray," sahut Ghaisan.
Ghaisan mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan suara pada Annisa, "Sayang, aku udah di depan."
"Gue mencoba tenang, Ray. Gue percaya bisa menjalaninya dengan Nisa," ujar Ghaisan.
"Meskipun nyokap lo nggak setuju?" tanya Rayhan sinis.
"Heh, siapa bilang nyokap lo nggak kenal Nisa? Eh, Gas. Lo itu pura-pura b*go atau b*go beneran sih? Nyokap lo itu nggak suka sama Nisa, bukan karena belum kenal tapi lebih karena Nisa -." Rayhan mengurungkan kaliamatnya saat tiba-tiba terdengar pintu terbuka.
Ghaisan dan Rayhan menoleh dan mendapati Annisa tersenyum lebar pada mereka.
"Udah siap?" tanya Ghaisan.
"Udah," angguk Annisa cepat.
"Mau kemana sih?" tanya Rayhan.
"Mau tahu aja. Yang ada lo ngintilin kita. Lo mau jadi nyamuk?" canda Ghaisan.
"Ya udah sana ah! Nggak tahu apa gue lagi bad mood," ujar Rayhan kesal.
"Kenapa, Kak?" tanya Annisa pura-pura tidak tahu.
"Ada deh, mau tahu aja," sahut Rayhan sambil tersenyum tipis.
Annisa memperhatikan gerak-gerik Rayhan yang terlihat gusar. Ghaisan beranjak dari duduknya sambil bertanya, "Mama kamu nggak ada, kan?"
__ADS_1
"Kok tahu?" Annisa balik bertanya.
"Mobilnya nggak ada," sahut Ghaisan sambil menoleh pada garasi rumah yang terbuka.
"Oh iya ya. Hehe. Ibu barusan pergi sama Dita. Mau lihat apartemennya Bu Rida," sahut Annisa.
"Ooh. Pergi sekarang, yuk!" ajak Ghaisan.
"Kak Ehan nggap apa-apa sendirian di rumah?" tanya Annisa.
"Kakak takut, Nisa. Ikut ...," ucap Rayhan manja. Namun kemudian tertawa dan berkata, "Nggak lah. Sana pergi! Jangan pulang malam, apalagi main ke rumah dia. Nanti ketemu valak, bahaya loh. Bisa-bisa kamu mimpi buruk, hiii." Selorohnya sambil berlalu dari teras itu, meninggalkan Annisa yang bengong tidak mengerti maksud dari ucapan kakaknya.
Sementara itu Ghaisan hanya terkekeh ringan. Ia kemudian mengajak Annisa untuk segera menuju motornya.
"Mau makan apa?" tanya Ghaisan sambil memakaikan helm yang diambilnya dari motor Rayhan di kepala Annisa.
"Apa aja," sahut Annisa sambil tersenyum dan menatap lekat pada Ghaisan.
"Yang penting nasi ya," celetuk Ghaisan.
Annisa tersipu, dan bertanya, "Kok ini sepertinya agak merah deh, Kak? Kenapa?"
"Oh ini. Biasalah, aku kadang suka agak oleng," kelakar Ghaisan sambil mengusap bagian rahangnya yang terkena pukulan Rayhan.
Annisa mengernyitkan keningnya, tapi kemudian tersipu saat Ghaisan menekankan ujung telunjuknya di dagu Annisa.
"Yuk!" ajak Ghaisan yang mulai menyalakan motornya. Annisa mengangguk pelan dan mulai menaiki motor Ghaisan.
Entah di sengaja atau tidak, Ghaisan memutar tuas motornya dengan tiba-tiba dan membuat Annisa terkejut, dan refkeks melingkarkan tangannya di pinggang Ghaisan. Sahabat Rayhan itu terkekeh pelan sambil menatap wajah Annisa yang kesal di kaca spion.
"Ish, Kak Agas. Nisa jadi malu, kan?" gerutu Annisa dengan wajah yang memerah sambil menoleh pada dua orang security yang membuang muka.
"Maaf, Sayang. Lagian kamu sih, memangnya aku tukang ojek? Jauhan gitu," kilah Ghaisan.
"Nisa kan baru naik, Kak," sahut Annisa sambil mendelik manja.
Ghaisan mengeratkan tautan tangan Annisa hingga bagian dada Annisa menempel pada punggungnya. Kemudian ia mulai melajukan motornya meninggalkan halaman rumah Adisurya.
Annisa benar-benar merasa malu saat melewati para security itu. Annisa sampai menyembunyikan wajahnya di belakang tengkuk Ghaisan. Berbeda dengan Ghaisan yang tersenyum tipis di sepanjang perjalanan.
_bersambung_
__ADS_1