Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
kesal


__ADS_3

Happy reading ....


Untuk pertemuan selanjutnya, Helmy harus puas dengan hanya mendapatkan nomor ponsel Heru, asisten Adisurya. Selain itu, Annisa juga tidak ikut mengantarnya hingga keluar area yayasan.


Pada Imas, Helmy menanyakan tentang status Annisa. Helmy harus menelan kecewa mengetahui gadis incarannya sudah dipinang pria lain.


Sementara itu, di dalam ruangan Imas, Annisa melakukan panggilan video dengan Ghaisan. Raut wajahnya nampak muram, buah dari rasa kesal menghadapi sikap Helmy yang sok kenal.


"Assalamu'alaikum, Sayang."


"Wa'alaikumsalam. Kak Agas lagi apa?" tanya Annisa datar.


"Nggak lagi apa-apa. Lagi ngerjain tugas. Malam ini aku lembur, jadi belum tidur. Nanti udah salat subuh baru tidur. Kebetulan jadwalku hari ini kosong, jadi ya ... bisa tidur sampai siang. Tumben nelpon duluan. Ada apa, Yang?" tanya Ghaisan yang kembali fokus pada layar laptopnya. Sepertinya Ghaisan sedang tanggung mengerjakan tugas kampusnya yang tinggal sedikit lagi.


Sorot mata Ghaisan yang mulai redup seakan memberitahukan bahwa ia sudah sangat mengantuk. Pria itu bahkan beberapa kali menguap sambil berucap.


"Emang kenapa kalau Nisa nelpon duluan. Nggak boleh? Ya udah kalau gitu. Assalamu'alaikum," pungkas Annisa yang langsung mengakhiri panggilan ponselnya.


Annisa pun menjauhkan ponselnya sembari menggerutu, "Kukira hanya orang tadi yang ngeselin. Eh, Kak Agas juga."


Ponsel Annisa berdering. Ghaisan yang melakukan panggilan. Annisa menatap malas, lalu beranjak dari kursi. Saat hendak menutup pintu, Imas terlihat baru saja kembali dari mengantar tamu.


"Mas Helmy-nya sudah pergi, Neng," ucapnya.


Annisa tersenyum tipis seraya berkata, "Terima kasih sudah menemani Nisa. Ya, Bu."


"Sama-sama, Neng. Neng Nisa mau pulang sekarang?"


"Iya, Bu," angguk Annisa.


"Hati-hati di jalan, Neng. Salam untuk Bu Rianti."


"InsyaAllah nanti Nisa sampaikan. Nisa mau ngambil tas dulu. Permisi."


"Silahkan, Neng."


Annisa berlalu dari hadapan Imas masih dengan bunyi ponselnya yang entah untuk ke berapa kali. Tak hanya menelpon, Ghaisan juga mengirim pesan pada Annisa.


Setelah mengambil tasnya dan berpamitan pada beberapa orang yang ditemui, Annisa pun menuju tempat parkir.


"Huft. Astagfirullah. Ada apa denganku? Kok rasanya kesel banget sih," gumam Annisa sembari menghela napas.


Annisa mencoba untuk tenang dan memakai helm-nya. Ia akan membaca pesan Ghaisan dan menelpon lagi setelah tiba di rumah, dan mandi. Annisa berharap rasa kesalnya hilang jika badannya sudah segar.


*

__ADS_1


Selepas mandi, Annisa merasa suasana hatinya lebih baik. Ia merogoh ponselnya dari dalam tas dan berjalan mendekati tempat tidur. Annisa tersenyum tipis melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Ghaisan. Setelahnya, Annisa pun membaca satu persatu pesan kekasihnya itu sembari mendaratkan bokongnya di salah satu tepi tempat tidur.


Wajah Annisa tersipu membaca pesan berisi bujuk rayu Ghaisan. Pria itu bahkan tak sungkan meminta maaf untuk sesuatu yang sebenarnya bukanlah sebuah kesalahan.


Raut wajah Annisa nampak sendu dengan helaan napas kecil keluar dari bibirnya. Saat ini Ghaisan pastilah sedang tidur dan Annisa tak ingin mengganggu meskipun sangat ingin meminta maaf secara langsung atas sikapnya tadi. Alhasil Annisa hanya bisa menuliskan pesan untuk pria yang jadi kekasihnya itu.


[Maafkan Nisa, Kak. Tadi Nisa lagi kesel, dan malah Kak Agas yang kena imbasnya. Maaf ya. Selamat istirahat, Sayang. I love you too.]


"Huft. Kenapa aku seperti itu ya tadi? Seingatku periode bulananku masih lama. Masa udah PMS lagi," gumam Annisa sembari beranjak dari tempat tidur.


"Nis. Nisa! Lagi ngapain di kamar terus? Lagi dipingit ya? Sini dong, ada yang kangen nih." Terdengar suara Yuda memanggilnya. Annisa meletakkan ponsel di atas nakas, dan berlalu ke luar kamar untuk makan malam bersama keluarganya, dan juga Yuda.


"Siapa yang kangen?" tanya Annisa sembari celingukan. Tak ada siapapun di sana selain Yuda dan Dita yang berjalan dari ruang makan sambil mengunyah sesuatu.


"Aku. Hehe," cengir Yuda.


"Diih. Nggak banget," cebik Annisa sembari melewati sofa yang diduduki Yuda dan berlalu ke ruang makan untuk membantu Marni menyiapkan makan malam. Raydita mengambil bantal sofa yang menghalanginya, dan duduk di samping Yuda.


"Yee, masa nggak boleh?" tanya Yuda enteng.


"Ya nggak boleh, Dodol!" ujar Raydita sembari memukulkan bantalan sofa yang masih dipegangnya ke wajah Yuda.


"Duuh, Yang. Kaget. Kira-kira dong kalau mukul," ujar Yuda sembari mengusap wajahnya.


"Ciee cemburu. Aku cuma becanda, Dit. Masa gitu aja marah," kilah Yuda dengan mimik merayu Raydita.


"Modus lo." Raydita mendorong wajah Yuda dengan bantal. Yuda yang takut terjungkal refleks memegang tangan Raydita dan menariknya.


Bantal itu jatuh ke lantai. Sementara Raydita tertarik dan membuatnya berada di atas tubuh Yuda.


"Modus tuh," ucap Rianti yang tiba-tiba saja melewati sofa.


Raydita cepat-cepat memperbaiki posisinya dan mengambil bantal untuk mengalihkan rasa gugup kepergok oleh Rianti.


"Hehe. Kayanya sih biar cepat dihalalin, Tante," seloroh Yuda sembaru mencoba untuk bangun dan duduk kembali. Tapi tiba-tiba ... bugh!


Lagi-lagi Raydita memukulkan bantal itu ke wajah Yuda.


"Haduh, Yang," pekiknya pelan sembari memgang bagian mulutnya.


"Rasain," umpat Raydita sambil beranjak dari kursi.


Adisurya yang baru saja keluar kamar mengulumkan senyum sembari menuruni tangga. Ada saja tingkah konyol pasangan itu yang membuat ia geleng-geleng kepala.


"Selamat malam, Om," sapa Yuda.

__ADS_1


"Malam, Yud. Udah lama?" tanya Adisurya.


"Belum, Om. Gimana perjalanannya, Om? Sayang banget tadi nggak bisa ikut nganter Kak Ray."


"Alhamdulillah lancar. Nggak apa-apa. Kamu lagi semesteran, 'kan?" tanya Adisurya lagi sembari duduk tak jauh dari Yuda.


"Iya, Om."


"Semoga lancar ya."


"Aamiin," angguk Yuda.


"Duuh yang sebentar lagi jadi manten," goda Annisa yang datang membawakan teh hangat untuk mereka.


Yuda hanya bisa nyengir, karena sungkan jika harus menjawab dengan candaan di depan calon ayah mertua.


Memang, rencana pernikahan Yuda dan Raydita akan dilaksanakan saat keduanya telah menyelesaikan ujian semester enam. Hanya tinggal menghitung minggu, dan Rianti sudah mulai menyusun banyak daftar untuk acara pernikahan yang kedua dalam keluarganya tersebut.


"Tadi gimana, Sayang?" tanya Adisurya pada Annisa dengan gerakan tangan meminta putrinya itu duduk di sampingnya.


"Yaa gitu. Nisa kasih aja nomornya Pak Heru, biar dia buat janji dulu kalau mau ketemu ayah," sahut Annisa datar.


"Kayanya ada yang bete," celetuk Yuda.


"Tau aja kamu," delik Annisa yang ditanggapi senyuman lebar oleh Yuda.


Adisurya terlihat heran dan langsung bertanya, "Bete kenapa, Sayang? Gara-gara Hemly?"


"Nggak kenapa-napa, Yah. Nisa-nya aja yang lagi sensi," sahut Annisa sembari tersenyum pada Adisurya.


"Ayah nanya serius loh. Karena dia ya?" selidik Adisurya.


"Enggak," geleng Annisa. "Beneran, Yah. Hari ini Nisa emang lagi bad mood aja. Kak Agas aja Nisa cuekin. Tapi itu tadi, sekarang udah enggak," imbuh Annisa. Ia tak ingin perasaan tak nyamannya ngobrol dengan Helmy berbuntut panjang jika Ayahnya sampai tau.


"Bener ya bukan karena dia. Soalnya dari awal Helmy itu emang banyak tingkah. Katanya harga bisa nego, tapi dinego tetap ingin harga awal. Waktu ayah mau mundur, eh dia ngehubungin minta ketemu di yayasan. Dan sekarang Heru itu mau memastikan dulu keaslian sertifikan tanahnya. Ya, buat jaga-jaga aja," tutur Adisurya.


"Terus Agas gimana?" tanyanya kemudian.


"Nisa mau nelpon, tapi Kak Agas-nya lagi tidur," sahut Annisa pelan.


Adisurya tersenyum tipis. Tangannya bergerak mengusap punggung Annisa, lalu berkata, "Jangan sampai persoalan sepele mempengaruhi hubungan kalian. Bagi ayah, Agas itu udah serasa anak sendiri. Dan dia juga tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi kalau bisa pertahankan, Sayang. Mudah-mudahan kalian berjodoh dan jodohnya panjang sampai maut memisahkan."


"Aamiin. Makasih doanya, Yah," ucap Annisa sembari menyadarkan kepalanya di pundak Adisurya.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2