Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
mengenang masa lalu (3)


__ADS_3

Lanjut lagi flashback-nya ya.


Happy reading ....


Esok adalah hari dimana Rianti akan kembali dari rumah sakit. Setelah tiga hari berada di sana, dokter sudah membolehkan istri Adisurya itu pulang.


Saat ini, Adisurya sedang mengemudikan mobilnya menuju vila. Di sampingnya, Bi Susi sedang menyusui Annisa dari botol susu yang ia bawa.


Sesekali Adisurya menoleh. Setiap kali bayi itu tersedak, rasanya seperti ada yang menusuk hatinya. Annisa merengek, mungkin masih lapar tapi keadaan sulit memungkinkan ia untuk kenyang. Adi bisa melihat, Bi Susi menatap dengan mata berkaca-kaca pada bayi dalam gendongannya.


Dua jam lebih perjalanan, mereka tiba di vila. Seorang wanita berdiri di samping Mang Asep menyambut mereka. Di sana juga ada Mang Dayat dan Bi Marni, istrinya.


Mang Asep bertugas menjemput Asih, saudari Bi Susi yang akan dipekerjakan sebagai pengasuh Annisa. Dari raut wajahnya, perangai wanita itu lembut dan semoga saja penyayang.


Adisurya tahu para pelayannya tentu terkejut melihat keadaan bayinya. Namun mereka tidak berani lancang untuk sekedar memperlihatkan rasa iba.


"Kamu akan tinggal di sini dengan Mang Dayat dan Bi Marni. Tugas kamu hanya memastikan putri saya baik-baik saja. ASI untuk putri saya, akan diantar oleh Mang Asep atau mungkin oleh saya sendiri. Pastikan tidak basi dan jangan sampai putri saya sakit. Bi Susi akan bermalam di sini untuk mengajari kamu semuanya." Jelasnya.


"Baik, Gan," sahut Asih hormat.


Sebelum pulang, Adisurya menghampiri ranjang Annisa. Bayi itu terlelap, dan membuat hati sang ayah semakin berat meninggalkannya.


Adisurya kembali pulang, sementara Mang Asep dan Bi Susi akan pulang esok pagi. Mereka harus sudah pulang sebelum Rianti kembali.


Hari-hari berlalu, Rianti menikmati harinya bersama Raydita. Bi Susi sendiri yang menjadi pengasuh Raydita. Tentu atas permintaan Adisurya. Hal itu agar memudahkan ia mengambil botol ASI tanpa ada yang mencurigai.


Botol ASI dikirim dua kali setiap hari. Mang Asep yang bertugas bolak-balik mengirimkannya. Untuk Raydita, Bi Susi diam-diam mengganti dengan susu formula, dan itu hanya bisa dilakukan jika Rianti sedang terlelap.


"Mas, Dita nyusunya kuat ya. Selalu habis, padahal banyak loh ASI hasil mompanya. Makanya pipinya cubby begini." Ujarnya dengan tatapan gemas.

__ADS_1


Adisurya hanya tersenyum sambil mengangguk pelan. Kemudian ia pun mengatakan akan ada urusan di luar kota.


***


Adisurya tidak ke luar kota. Ia hanya ingin bermalam di vila. Sudah satu minggu ini ia tidak menemui putrinya. Ia merasa sangat gusar, setelah tadi Mang Asep melaporkan bahwa keadaan Annisa tidak baik-baik saja.


Adisurya seolah mati rasa, melihat Annisa yang sangat kurus untuk bayi seusianya. Pria itu sampai menitikkan air mata setiap kali mendengar Annisa merengek meminta susunya.


Tak ada cara lain kecuali menunggu sampai usia Annisa tiga bulan. Di saat Raydita bermandikan kasih sayang, Annisa tak ubahnya seperti bayi yang terbuang.


Beruntung ia dikelilingi orang yang penyayang. Asih sangat menyayangi Annisa, begitu juga dengan Mang Dayat dan istrinya. Mungkin mereka juga yang menguatkan Annisa kecil untuk tetap bertahan. Karena sejujurnya, Adisurya menyerah dan tak kuasa bila harus melihat penderitaan putrinya lebih lama.


Adisurya tak pernah lagi datang ke vila. Ia membunuh rasa rindu di hatinya untuk Annisa. Sepenuhnya ia menyerahkan Annisa dalam pengasuhan para ART-nya dan memilih tertawa bersama Rianti juga dua anak kecil dalam rumahnya.


Sampai suatu hari, Mang Asep menyadarkannya bahwa saat itu sudah tiga bulan. Hati Adisurya sudah terpaut pada Raydita. Ia meminta Mang Asep untuk membawa bayi Annisa ke rumah sakit dan menemui dokter Iyan sesuai arahannya.


Tanpa diantar supir, mereka selalu datang dengan angkutan umum setiap kali jadwal operasi ataupun jadwal check up. Jika beruntung, mereka akan diantar Mang Asep yang mengantarkan susu sesuai perintahnya.


Belakangan ini, entah lupa atau sengaja Adisurya tak pernah lagi meminta Mang Asep mengantarkan susu. Namun tanpa diminta Mang Asep mengantarkan susu itu, walaupun dini hari ataupun pagi buta. Seringkali Adisurya mendapati supirnya itu dimarahi Rianti karena kesiangan setelah pulang pergi mengantarkan susu.


Dokter Riyan mengatakan, operasi telah selesai secara keseluruhan dan hanya tinggal melakukan check up beberapa kali. Tak ada rasa apa-apa di hati Adisurya selain merasa lega. Lega karena ia merasa tugasnya sebagai seorang ayah sudah selesai. Setidaknya jika anak itu sudah normal, ia dapat menyusu dengan baik dan pertumbuhannya juga akan membaik.


"Tuan, ada yang ingin saya sampaikan tentang Neng Nisa dan Asih," ujar Mang Asep dengan raut wajah yang cemas.


"Saya sedang banyak pikiran, Mang. Saya juga tidak mau tahu lagi tentang anak itu. Mulai sekarang, jangan melaporkan apapun tentang dia. Saya tidak mau kalau sampai istri saya mendengarnya, paham?"


Sejak saat itu, ada yang aneh dengan Mang Asep. Adisurya tak pernah lagi melihat supirnya itu pergi ke vila walau secara diam-diam.


Apakah karena sudah sembuh, Annisa sudah tidak memerlukan lagi ASI? Mungkin saja. Dan itu membuat Adisurya merasa sangat lega. Pikirnya, uang yang ia berikan lebih dari cukup untuk biaya hidup Annisa.

__ADS_1


Suatu malam, Adisurya memimpikan Annisa menangis sangat kencang. Entah mengapa, nalurinya sebagai ayah tiba-tiba saja datang.


Ia merindukan Annisa. Ia ingin bertemu putrinya, di malam gulita itu, ia mengendap dan pergi ke vila.


Sepi. Tak ada tangisan bayi. Adisurya melihat dalam keremangan, wajah Mang Dayat memucat.


"Mang, Annisa tidur di mana? Di kamarnya atau di kamar Asih?"


"Neng A-Annisa, anu a-nu, Tuan."


"Ya sudah, kalau dia tidur di kamar Asih. Besok saja saya melihat dia." Ujarnya sabil berlalu.


"Maaf, Tuan. Neng Annisa, tidak ada di sini."


Langkah Adisurya sontak berhenti. Ia membalikkan badannya dengan tatapan yang menanjam dan penuh tanya.


"Apa maksudnya itu? Dia tidak di sini? Di mana Asih? Asih!" Pekiknya memecah keheningan di dini hari.


Bi Marni datang dan menghampiri dengan membawa secarik kertas. Adisurya mengambilnya dengan tangan bergetar dan hati yang menggeram. Di bacanya surat itu. Surat yang sengaja ditinggalkan Asih sebelum ia pergi.


Teruntuk Bibi,


Bi, maaf, saya bawa Neng Nisa pergi. Saya tahu ini salah, tapi jika Agan tidak mengakui lagi Neng Nisa sebagai putrinya, biar dia jadi putri saya. Saya berjanji akan mengurusnya sebaik mungkin. Saya ingin sepenuhnya menyayangi Neng Nisa tanpa bayang-bayang Agan. Maaf ya, Bi. Kalau kepergian saya ini nantinya akan membuat bibi susah. Semoga suatu saat, Neng Nisa dipertemukan lagi dengan Agan. Semoga Allah melembutkan hati Agan dan Nyonya. Saya sedih Bi, kalau melihat Neng Nisa yang seperti sengaja dilupakan. Mungkin Agan juga tidak perduli walaupun saya membawa Neng Nisa pergi.


Terima kasih.


Dari, Asih.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2