
Happy reading ....
Suasana kediaman Adisurya terasa sepi. Raydita pergi ke tempat lesnya, begitu juga Rayhan yang pergi bersama kedua temannya. Tuan dan Nyonya Adisurya berada di kamar, sedangkan Annisa sedang berada di depan rumah, menunggu Yuda.
Annisa bermaksud menunggu Yuda di luar gerbang. Namun tak enak hati pada security yang kabarnya tadi dimarahi oleh Bu Rianti.
"Menunggu siapa, Neng?" tanya Mang Asep yang baru saja tiba dari mengantar Raydita.
"Teman, Mang."
"Teman Neng Nisa mau main ke sini?"
"Enggak. Teman Nisa cuma mau mengantarkan buku."
"Neng Nisa tunggu di dalam saja ya. Nanti Mang Asep yang akan mengambilkannya."
Annisa ingin menolak, namun lagi-lagi ia merasa tak enak hati. Mengetahui semua ART mendapatkan getah dari ulahnya, membuat Annisa merasa bersalah.
Annisa mengangguk pelan, namun baru saja ia membalikkan badan, suara klakson terdengar bersamaan dengan suara Yuda.
"Nisa!" seru Yuda sambil melambaikan tangan dengan raut wajah gembira.
"Nisa ke depan ya, Mang. Yuda-nya sudah datang," ujar Annisa canggung.
"Silahkan, Neng."
Annisa bergegas akan mendekati Yuda. Melihat pintu gerbang yang terbuka, Yuda justru nyelonong begitu saja. Melihat hai itu Annisa celingukan, merasa khawatir orang tuanya melihat.
"Kamu kenapa, Nisa?" tanya Yuda heran, sambil ikut celingukan.
"Kamu kenapa masuk, Yud?" tanya Nisa pelan.
"Oh, sorry. Nggak boleh ya."
"Bukan begitu. Aku takut kalau ...."
"Nisa."
Suara Ayah Adi yang memanggil namanya sontak membuat Nisa terkejut. Berbanding terbalik dengan Yuda yang menyapa Ayah Adi dengan gayanya yang santai.
"Selamat pagi menuju siang, Om." Adisurya mengangguk kecil.
"Nisa, temannya di ajak masuk dong," ujar Adisurya sambil menghampiri keduanya.
__ADS_1
"Tuh, nggak apa-apa kok," sahut Yuda pelan sambil turun dari motornya.
Annisa hanya bisa tersenyum kecut dan pasrah saat melihat Yuda menghampiri Ayah Adi yang menatap heran pada paper bag yang dibawanya.
"Apa itu? Sepertinya buku," tanya Ayah Adi sambil menoleh pada Annisa.
"Iya, Om. Ini buku untuk Nisa. Lumayan buat belajar," sahut Yuda sambil tersenyum lebar.
"Sayang, kenapa nggak bilang sama Ayah? Buku Bahasa Inggris?"
"Iya, Om."
"Kamu bawa lagi aja ya. Ibunya Nisa sudah bilang sama saya, dan mulai besok akan ada guru private yang akan membantu Nisa belajar." Ujarnya datar.
"Jangan, Yah. Nisa yang minta kok, iya kan Yud? Nisa bisa belajar dari dasar dengan buku ini. Buat nambah-nambah bacaan."
Annisa langsung mengambil paper bag itu dan mendekapnya. Ayah Adi mau tak mau membiarkannya walaupun dengan raut wajah tak suka.
Yuda dipersilahkan duduk di kursi teras. Annisa pamit akan membuatkan minum untuk tamunya.
"Om sepertinya pernah melihat kamu sebelumnya."
"Pernah lah, Om. Di sekolah."
"Jangan-jangan Om pernah memimpikan Yuda ya?" Kelakarnya.
Yuda yang semula niat bercanda, kembali bersikap biasa melihat tatapan Adisurya yang datar.
"Pernah, Om. Di tempat kemah."
"Nah itu! Sekarang Om ingat." Yuda mengusap dadanya pelan karena terkejut dengan nada suara Adisurya yang tiba-tiba meninggi.
***
Di tempat lain, sebuah mobil terlihat memasuki halaman vila mewah milik Adisurya. Mang Dayat dan Bi Marni sangat senang melihat siapa yang datang.
"Nenek! Kakek!" seru seorang remaja perempuan yang mendahului turun dari mobil itu. Tak lama, sepasang suami istri juga turun menghampiri mereka dan mengucapkan salam.
"Isti! MasyaAllah, lama nggak ke sini. Nenek kangen." Bi Marni memeluk erat cucunya.
"Isti juga. Nenek, apa kabar?"
"Baik."
__ADS_1
"Bu, Pak. Bagaimana kabarnya?" Orang tua Isti bergantian menyapa Bi Marni dan Mang Dayat.
"Alhamdulillah. Bagaimana kabar kalian? Pak Kyai dan Nyai sehat, Nak Dahlan?" Bi Marni menanyakan kabar besannya.
"Alhamdulillah sehat, Bu."
"Ayo, masuk."
Bi Marni mempersilakan mereka masuk ke rumah yang biasa ia dan suaminya tempati, yakni di bagian depan vila itu. Sementara Isti langsung tertarik dengan hewan-hewan yang dipelihara kakeknya.
Julaikah adalah adalah anak kedua Mang Dayat dan Bi Marni. Sedang anak pertamanya-Majid, tinggal di kota lain.
Berbeda dengan Majid yang menempuh pendidikan formal, hingga ke tingkat perguruan tinggi, Ikah memilih untuk mondok di pesantren. Siapa sangka, Ikah berjodoh dengan putra Kyai-nya yang saat itu sedang mengeyam pendidikan di luar negeri.
Dahlan memang anak seorang Kyai, namun ia lebih menyukai dunia bisnis dan ekonomi. Beruntung ayahnya mendukung, dan tentunya dengan syarat ia harus tetap berpegang pada nilai-nilai agama.
Awalnya mereka tinggal di kota lain. Baru dua bulan mereka pindah ke kota ini. Tentu saja Bi Marni sangat senang, karena dengan begitu ia bisa lebih sering bertemu dengan cucunya.
"Bu, katanya Den Adi sama Neng Rianti baru dari sini? Berapa hari? Coba waktu itu Abinya Isti megizinkan, pasti Ikah bisa ketemu sama mereka," tanya Ikah sambil menoleh pada suaminya yang kini berada di luar bersama ayah dan putrinya.
"Cuma seminggu. Kamu kan sekarang tinggal di kota yang sama dengan Neng Rianti. Main aja ke rumahnya. Kemarin juga waktu ke sini nanyain kamu."
Bi Marni tahu benar perangai Dahlan. Menantunya itu tidak mengizinkan anak dan istrinya pergi ke luar rumah bila tidak bersamanya, bahkan Isti pun diantar jemput oleh Abinya. Dan hari saat keluarga Adisurya datang ke vila, Dahlan masih harus mengurus segala hal tentang perpindahannya di kota asal mereka.
"Yang benar, Bu? Neng Rianti masih ingat sama Ikah?" Bi Marni mengangguk dan terlihat senang melihat oleh-oleh yang sedang dibukanya.
"Anaknya berapa, Bu? Pasti sudah besar ya. Hmm seandainya bisa reunian. Kira-kira Neng Rianti malu nggak ya Bu, kalau Ikah tiba-tiba menyapa. Siapa tahu bertemu di suatu tempat, kami kan tinggal di kota yang sama."
"Enggak lah. Neng Rianti walaupun kata orang lain ini-itu, dia baik kok."
" Iya ya, Bu. Semoga kami bisa secepatnya bertemu. Siapa tahu anak-anak Neng Rianti mau berteman sama Isti, jadi punya teman kan Isti." Bi Marni hanya tersenyum tipis.
"Bu, handuk di mana?" tanya Ikah yang masuk ke kamar orang tuanya dan membuka satu persatu pintu lemari pakaian itu.
"Di lemari bawah," sahut Bi Marni yang mulai bersiap menyiapkan makan siang di dapur.
Ikah mengambil satu handuk diantara handuk lain dan juga tumpukan sprei yang ada di sana. Saat ia akan beranjak, keningnya berkerut melihat map yang berada di bagian paling bawah dari tumpukan itu.
"Map apa ini?" Gumamnya.
Ikah mengambil map itu yang ternyata berisi lembaran berkas. Kening Ikah semakin berkerut melihat nama rumah sakit juga nama pasien yang tertera di sana.
"Annisa Putri Adisurya? Anak Den Adi? Tapi kenapa berkas laporan rumah sakitnya ada di sini? Memangnya sakit apa?" gumam Ikah yang kemudian membaca satu persatu lembaran berkas itu.
__ADS_1
_bersambung_