
Happy reading ....
Bel masuk telah berbunyi. Para siswa yang masih berada di luar kelas bergegas menuju kelas mereka. Termasuk Rayhan dan kedua temannya. Jika yang lain setengah berlari, tiga siswa ini justru berjalan dengan santainya.
"Lo nggak bawa motor Ray?" tanya Ghaisan.
"Enggak. Kalau papa yang nganter mana bisa gue bawa motor," dengus Rayhan.
"Sekarang papa Lo jadi sering nganter."
"Nggak tau tuh, mungkin karena Dita juga sekolah di sini. Kenapa itu anak?" Rayhan menyenggol lengan Agas dengan isyarat mata tertuju pada Raka.
"Mana gue tahu." Agas mengangkat sedikit bahunya.
"Kusut banget muka Lo, Ka. Pembokat mudik ya? Nggak ada yang nyetrikain," kelakar Rayhan.
"Kenapa Lo? Nggak biasanya. Oh iya, gue nggak lihat motor Lo di parkiran," tanya Agas.
"Gue di setrap." Sahutnya malas.
"Whats! Apaan tuh? Dapat kata dari mana?" tanya Rayhan.
"Gue di hukum, Dodol. Gara-gara kemarin pulang sore. Pas banget sama bokap gue yang baru pulang dari luar kota. Motor gue di sita, males gue ah. Bolos yuk!"
"Dih, mau bolos gimana? Gue nggak bawa motor, Lo juga enggak. Masa iya satu bertiga, nyungseb di hotel prodeo baru nyaho." Mendengar penuturan Rayhan, Raka hanya bisa membuang kasar nafasnya.
"Hei, Kalian! Kenapa belum masuk kelas? Masuk, masuk!" Mr. Thomas yang melihat mereka segera menghampiri.
"Ini kita mau belok ke kelas, Sir," kilah Raka.
"Iya, cepat masuk. Ah kalian, ada saja alasan. Ayo, masuk-masuk!"
"Ok, Sir! Have nice day," sahut Raka lagi.
"Dia kira kita ayam," gerutu Rayhan yang sudah mendahului masuk ke dalam kelas.
Mr. Thomas menghela nafasnya lalu menggelengkan kepala dengan raut wajah yang kesal. Sudah kelas tiga, kebiasaan mereka tetap saja sama. Terlalu santai.
Wakil kepala sekolah yang terkenal dengan gaya berjalannya yang cepat itu menuju bagian depan sekolah. Keningnya berkerut melihat seorang pria seperti sedang bertanya pada security. Ia pun kemudian menghampiri.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Tuan, ada Mr. Thomas. Silahkan bertanya kepada beliau," ujar security itu.
"Good morning, Sir."
"Good morning. Anda perlu apa? Barangkali saya bisa membantu."
"Perkenalkan saya, Sandy. Daddy-nya Raka, siswa kelas tiga."
__ADS_1
"Oh, anda wali siswa. Mari masuk, jika berkenan kita bisa bicara di ruangan saya."
"Tidak usah, Sir. Tadi saya hanya ingin menanyakan, putri Adisurya kelas berapa ya?" Tanyanya.
"Putri Tuan Adisurya?" Sandy mengangguk sambil tersenyum.
"Kedua putri Tuan Adisurya baru kelas satu. Mereka baru masuk tahun ini. Apakah ada masalah?"
"Ah, tidak. Terima kasih. Saya permisi."
"Sama-sama. Silahkan." Mr. Thomas menatap aneh pada pria yang sedang menyeberang jalan itu. Selama dua tahun ini, seingatnya hanya ibu Raka yang selalu datang ke sekolah bila ada pertemuan orang tua siswa.
"Pak, tutup gerbangnya."
"Baik, Mister," sahut security itu.
***
Sambil mengemudikan mobilnya, Sandy tak habis pikir sejak kapan Adisurya mempunyai dua putri. Dan anak perempuan itu, bukankah dia yang diakukan putra Adisurya sebagai adik kelasnya? Lalu mengapa tadi pagi anak itu ikut bersama Adisurya?
"Apa mereka bertetangga?" Gumamnya.
"Kenapa aku merasa justru anak itu yang mirip Rianti. Sedangkan anak perempuan satunya lagi, mirip .... ah, tidak mungkin. Aku harus tanya Raka, ya nanti aku akan menjemput dia. Tak apalah, jadi supir sehari ini. Asalkan aku mendapat info tentang putri Adisurya." Gumamnya lagi.
Rasa tidak suka Sandy pada Adisurya berawal dari cinta segitiga mereka di masa kuliah. Mereka bersahabat di organisasi kampus.
Sandy kecewa? Tentu. Ia bahkan jadi sangat membenci Adisurya. Jika dibandingkan dengan Adisurya, saat itu dirinya bukan apa-apa.
Adisurya memang terlahir dari keluarga kaya, sedangkan ia mahasiswa rantau yang kuliah sambil bekerja. Sandy bertekad ingin menjadi orang kaya. Ia bekerja keras hingga tanpa disadari memikat hati atasannya.
Atasannya itu menginginkan Sandy menjadi menantu. Akhirnya ia pun mau menikahi Fani, putri atasannya yang saat itu sempat depresi karena kekasihnya meninggal dalam kecelakaan.
Setelah mertuanya meninggal, Sandy yang menggantikan. Karena Fani lebih menyukai bidang lain sebagai ladang bisnisnya.
***
Waktu istirahat tiba, seperti biasa Isti selalu membawa bekal buatan uminya. Kali ini mereka menikmatinya di sebuah kursi panjang yang berhadap-hadapan di dekat kantin.
"Ini pesanan kamu, Nis. Mau nggak? Enak loh. Aku tadi nggak sempat sarapan, lapaarr," ujar Yuda sambil menyantap hot dog yang dibelinya di kantin.
"Nawarin kok cuma satu," delik Isti.
"Ya kalau kamu mau, beli aja." Sahutnya santai.
Isti mendelik sambil memajukan bibirnya. Hari ini, uminya membuatkan bekal norimaki dengan isian salmon yang tidak terlalu disukainya. Isti malas menyantap bekalnya, lain dengan Annisa yang sangat lahap memasukkan satu persatu norimaki itu ke mulutnya.
"Kalian kok nggak mau sih? Ini enak loh," ujar Annisa di sela kunyahannya.
"Nggak ah. Kamu habiskan ya, Nis. Biar umiku nggak marah."
__ADS_1
"Aku nggak suka ikan, apalagi itu. Iih anyir," sahut Yuda.
"Sayang tahu, Is. Ini umi kamu yang buatkan. Terus kamu makan apa dong? Aku belikan yang seperti itu, mau?" tawar Annisa menunjuk pada hot dog suapan terakhir di mulut Yuda.
"Kak Rayhan ke sini, Nis," gumam Isti menatap berbinar tanpa menghiraukan tawaran Annisa.
Annisa menoleh, benar saja Rayhan dan kedua temannya mendekati mereka.
"Mau ngapain mereka ke sini?" tanya Yuda dengan mulut yang terisi penuh.
"Kak Rayhan," ucap Isti pelan sambil tersenyum.
"Wiih, enak nih." Rayhan duduk seenaknya di samping Annisa. Rayhan juga membuka mulutnya minta disuapi oleh Annisa.
"Hmm, enak. Punya siapa?"
"Punya Isti, Kak," sahut Istiqomah dengan wajah bersemu.
"Ssst, pindah!" usir Raka pada Yuda yang duduk di samping Annisa.
"Di situ masih kosong, Kak."
"Pindah nggak!" hardik Raka.
"I-iya." Yuda pun pindah ke samping Isti dan Raka terduduk di samping Annisa. Kini posisi Annisa diapit Rayhan dan Raka. Sementara Agas, duduk di ujung meja kayu yang memisahkan dua kursi panjang itu.
"Mau dong Nisa, tangan gue kotor. A ...." Raka membuka mulutnya.
"Kak Raka geser dong. Jangan terlalu mepet gini, malu di lihatin orang. Itu ada wastafel, cuci tangan aja." Tanpa mereka sadari, Ghaisan menyuapkan norimaki yang dipegang Annisa.
"Itu buat gue, Gas. Ah, Lo," protes Rayhan.
"Lo mau, Ka. Nih," ujar Agas menyuapkan satu pada Raka.
"Mmm, bener enak. Bu Haji, besok bawa lagi ya," ujar Raka.
"Isti, Kak. Bukan Bu Haji," ujar Nisa.
"Nggak apa-apa Bu Haji juga. Kali aja nanti Lo naik haji, atau jadi istrinya pak haji, jadi bu haji beneran kan?" seloroh Rayhan sambil kembali mengunyak makanan yang disuapkan Nisa.
"Iya nggak apa-apa, Kak. Kak Rayhan mau jadi pak hajinya?"
"Gue?" Isti mengangguk cepat.
"Mmmfftthhh, hahaha." Raka dan Ghaisan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Rayhan dengan senyumannya yang masam.
Dari kantin, Viola menatap nyalang pada mereka. Apalagi dari meja yang berada di dekatnya ada yang berucap, "Gue dengar, anak kelas satu itu pacarnya Rayhan."
"Vio, tadi pagi gue lihat anak itu sama anak yang itu datang bareng sama Rayhan. Menurut Lo, mereka siapanya Rayhan sih? Kok gue jadi bingung," tanya Anya yang menunjuk pada Annisa dan Raydita yang sedang asik bercanda dengan kedua temannya di salah satu meja dekat kios penjual. Melihat dua adik kelas yang jadi saingannya bahagia, membuat Viola semakin geram saja.
__ADS_1