
Happy reading ....
*
Semua rangkaian acara pagi itu selesai dengan sangat lancar. Walimatul'ursy menjadi acara terakhir bagi mereka sebelum nanti malam akan diadakan resepsi.
Ketika yang lain menikmati hidangan di ruang masing-masing, Dahlan dan Adisurya mengantar Rayhan menemui mempelai wanita.
Dari ambang pintu, Rayhan tersenyum malu pada Isti yang sedang tersipu. Rianti dan Ikah menyambut Rayhan dengan suka cita. Dua wanita paruh baya itu mengapit Rayhan untuk bertemu dengan Istiqomah.
"Pak Adi, kita sampai di sini saja. Banyak sekali kerabat saya yang ingin kenalan dengan Pak Adi. Harap maklum, mereka selama ini cuma bisa lihat Pak Adi di berita tv," seloroh Dahlan.
"Saya jadi malu. Berita saya yang ditayangkan tv 'kan banyak yang negatifnya," ujar Adisurya.
"Siapa bilang? Justru mereka antusias sekali waktu tahu calon besan saya itu Pak Adi," kilah Dahlan.
"Hehe, bisa saja Pak Dahlan ini. Mari ...." Dahlan dan Adisurya memberi isyarat pamit pada beberapa wanita yang ada di ruangan itu. Mereka meninggalkan Rayhan yang tiba-tiba merasa deg-degan karena sendirian di ruangan yang isinya didominasi perempuan.
Senyum malu-malu itu terlihat menggemaskan dari wajah ayu yang cantiknya bisa disandingkan dengan bidadari bagi seorang Rayhan. Putra Adisurya itu terkesiap tatkala menatap wajah wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.
"Eeh, diem-diem bae. Jadi nggak?" tanya Raydita seraya menyenggol lengan Isti.
"Iya, nih. Malu-malu kebo," timpal Rianti.
"Malu-malu kucing, Ma ... kaya Kak Raka deh," protes Raydita.
"Halaaah, kucing kekecilan," kilah Rianti yang tidak perduli dengan delikan Raydita. "Ayo, Han. Maju, dong. Agresif dikit," imbuh Rianti.
"Iya, nih. Sun tangan suamimu, Is," ujar Ikah.
"I-iya, Umi," angguk Isti canggung.
Rayhan yang saat ini berhadap-hadapan dengan Isti pun mengulurkan tangannya. Ia tersenyum melihat Isti yang tersipu seraya menyambut uliran tangannya dengan malu-malu.
Setelahnya, Rayhan mencium kening Isti. Dan tanpa diduga, dengan isengnya ... Raydita yang menghadap keduanya pun mendorong pasangan itu agar saling bertubrukan.
"Dit," tegur Annisa. Rayhan refleks melingkarkan tangannya menahan Isti agar tidak terhuyung.
"Halaah, sok sweet cium kening, enakkan yang lain," seloroh Raydita.
Raydita mengulumkan senyum melihat wajah Isti yang merona. Seketika Isti teringat bahwasanya Raydita pernah memergoki ciuman pertamanya dengan Rayhan di kediaman Adisurya.
"Yang lainnya nanti aja di kamar. Ayo duduk sayang, kita lanjutin acaranya," ujar Rianti.
Kedua mempelai mengangguk samar. Melihat pasangan pengantin baru itu, para tamu yang ada rasanya akan sepakat mengatakan mereka pasangan yang serasi. Terlebih, rona malu-malu di wajah keduanya itu nampak menggemaskan bagi siapa saja yang melihatnya.
__ADS_1
***
Sepanjang acara inti, baik Annisa cs maupun Ghaisan cs berusaha menahan diri untuk tidak saling bertemu. Mereka tidak ingin merusak acara sakral Rayhan-Isti dan sepakat melakukan sesi foto bersama di acara resepsi malam nanti.
Keluarga dan kerabat mempelai laki-laki pamit pulang. Kedua keluarga akan hadir di hotel tempat diadakannya resepsi dua jam sebelum acara dimulai.
Suasana rumah Isti tentunya ramai dengan keberadaan kerabatnya. Namun bukan berarti mereka tidak memberi ruang pada kedua mempelai untuk sesuatu yang bersifat privasi.
Rayhan dan Isti merasa lega untuk sementara bisa menikmati waktu berdua saja. Masih ada sekitar tiga jam untuk mereka sebelum berangkat ke hotel.
Rayhan merentangkan kedua tangannya untuk meminta Isti masuk ke dalam pelukannya.
"Selamat datang di dunia kita, Sayang. Dimana hanya ada kita yang akan saling melengkapi satu sama lain. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik sebagai suamimu," ujar Rayhan ketika Isti melingkarkan tangan di pinggangnya.
"Terima kasih, Kak. Isti juga akan belajar menjadi istri yang baik," sahut Isti.
Mereka berpelukan sangat erat. Keduanya tentu sangat bahagia mengingat lamanya waktu bagi mereka menahan semua itu meskipun hanya untuk saling melepas rindu ala kadarnya.
Kini tak akan ada lagi penghalang bagi keduanya. Rayhan dan Isti memiliki kebebasan yang sebebas-bebasnya dalam mengungkapkan rasa cinta.
*
Suasana resepsi pernikahan di hotel yang notabene milik keluarga mempelai pria itu terlihat sangat megah. Meskipun para tamu yang datang berpasangan harus rela manikmati hidangan di tempat yang terpisah, mereka diberi kesempatan untuk berswafoto bersama mempelai dan keluarganya.
"Nis, kapan nyusul?" tanya salah satu teman Annisa dengan lirikan menggoda pada Ghaisan.
"InsyaAllah secepatnya," sahut Annisa pelan.
"Kita diundang, 'kan?" tanya teman yang lain dan diangguki oleh Annisa.
Pemisahan tamu pria dan wanita itu rupanya dikeluhkan oleh Raka dan Yuda. Keduanya ingin leluasa bercengkrama dengan pasangan mereka sembari menikmati hidangan. Tak terkecuali Ghaisan. Hanya saja, kekasih Annisa itu mampu menutupi dengan gayanya yang cool.
"Jangan bete gitu. Kita harus menghormati keluarga Isti. Lihat, Pak Adi dan Bu Rianti saja bisa, masa kalian enggak?" tegur Fany, ibunda Raka.
"Iya, Ma," angguk Raka malas. Fani mengusap pundak putranya dan pamit kembali ke ruangan wanita.
"Hei, Yud. Beneran lo pacaran sama adiknya Rayhan?" tanya Juna yang menghampiri Yuda dan Raka bersama Yopi.
Yuda menoleh pada kakaknya yang mengulumkan senyum, kemudian menoleh pada Juna seraya berkata, "Iya, Bang. Adik dia juga kalii."
Yuda menunjuk pada Raka yang sedang duduk sambil berbalas pesan dengan seseorang.
"Hehe nggak nyangka kamu jodoh sama dia," kekeh Juna. Adik Heru itu tentu tidak akan lupa peristiwa penculikan Raydita beberapa tahun yang lalu.
Yuda tersenyum tipis sembari menatap pada Raydita yang sedang bercengkrama dengan teman-temannya. "Cewek gue cantik 'kan, Bang?" tanya Yuda.
__ADS_1
"Cantik banget. Makanya gue nggak nyangka dia mau sama lo," kelakar Juna.
"Dih, Bang Juna," delik Yuda.
Yopi dan Raka menahan tawa mendengar obrolan keduanya.
Malam mulai larut. Satu persatu tamu undangan dan kerabat yang hadir mulai undur diri. Dari kursi pengantin, Isti menatap Rayhan yang sedang berbasa-basi pada tamu Adisurya yang berpamitan.
Sebagai penerus perusahaan milik Adisurya, moment itu juga menjadi ajang perkenalan dengan rekan bisnis sang Ayah.
"Tuan Adi mau pensiun dini? Sayang loh," ujar seorang rekan Adisurya.
"Wah, enak ya. Rayhan akan memegang perusahaan yang sebegitu besarnya. Beruntung sekali Pak Dahlan punya menantu pewaris tunggal," ujar pria di samping pria tadi. Pria itu berkata demikian mungkin karena Rayhan anak lelaki satu-satunya di keluarga itu.
"Tidak juga. Saya punya dua adik. Apapun yang saya miliki, mereka akan memilikinya juga. Dan kalau soal posisi saya di perusahaan, itu hanya mewakili keluarga saja. Karena kebetulan kedua adik saya menyukai bidang yang berbeda," sahut Rayhan.
Pria tadi pun bungkam. Bahkan terlihat malu dengan apa yang sempat terlontar. Di sisi lain, Adisurya tersenyum bangga. Ia yakin, Rayhan sangat menyayangi kedua adiknya.
Selain mampu menjadi kakak yang baik, Adisurya yakin putranya itu bisa menjadi suami yang baik, serta pengusaha yang sukses melebihi kesuksesannya di kemudian hari.
_bersambung_
***
Assalamu'alaikum, Teman-teman🙏
Apa kabar?
Semoga kalian sehat selalu ya😊
Mohon maaf lama tidak up🙏🙏🙏 maaf banget.
Kebetulan saya sedang daily (kejar kata) di aplikasi lain.
Bukan bermaksud mengesampingkan dua cerita on going saya di Noveltoon, hanya saja saya belum terbiasa daily, jadinya keteteran🙈 Maaf ya ....
Untuk cerita 'Cucu Sultan Love Stories' insyaAllah akan saya lanjutkan setelah cerita ini selesai.
Boleh sekalian promo?🤣🤣🙈
Yang punya aplikasi Fizzo, mampir ya ke cerita saya, 'Istri Siri Tuan Billy' dengan nama pena yang sama, El Nurmala.
Terima kasih masih menunggu kelanjutan cerita ini. Jaga kesehatan kalian🥰
Wassalamu'alaikum.
__ADS_1