
Happy reading ....
*
Kebahagiaan yang dirasa Raydita dan Yuda nyatanya menular pada yang lain. Pengunjung kafe itu mengulumkan senyum melihat tingkah konyol Yuda yang kegirangan.
"Si Bos bakal besanan sama keluarga konglomerat dong," goda salah satu pegawai kafe pada Yopi yang tersenyum seraya menundukkan kepala.
Yopi tak bisa berbuat banyak sejak mengetahui hubungan Yuda dengan Raydita. Meskipun awalnya ia cukup khawatir akan status sosial keduanya yang berbeda, namun Yopi cukup merasa lega mengetahui sedikit banyak tentang keluarga Adisurya dari sahabatnya—Juna.
Tak lama kemudian, pasangan muda yang tengah kasmaran itupun pamit pada Yopi. Yuda berniat mengantar Raydita pulang dan bicara pada keluarga sang pacar.
"Yang, Raka udah tahu belum?" tanya Yuda sembari mencoba fokus pada kemudi mobil Raydita.
"Belum. Yang tahu baru orang rumah," sahut Raydita pelan tanpa menoleh.
"Lagi chat-an sama siapa sih?" tanyanya kemudian.
"Kak Agas. Dia udah nanya aja kapan kita married," sahut Raydita. Kali ini Raydita mengatakannya sembari menatap pada Yuda.
Tatapan keduanya pun beradu. Menghadirkan rasa tak menentu yang membuat wajah mereka bersemu.
"Yud."
"Apa, Sayang?"
"Nanti kalau ketemu papa mau ngomong apa?" Raydita beringsut dari posisinya agar bisa lebih dekat pada Yuda.
"Ngomong apa ya? Mmm aku akan bilang sama papa kamu, kalau kita akan secepatnya menikah."
"Oh ya? Memangnya kamu berani ngomong gitu sama papa?"
"Siapa takut?"
"Tapi kuliah kita 'kan belum beres. Nanti kalau papa tanya, 'kamu punya apa mau nikahin Dita?' kamu jawab apa?"
"Aku jawab aja, 'punya kejantanan yang tiada dua'. Hahaha." Yuda tergelak dengan ucapannya sendiri.
"Ish. nggak malu apa kamu ngomong gitu sama papa?" delik Raydita kesal. Ada rasa kecewa medengar jawaban Yuda jauh yang berbeda dengan apa yang diharapkannya.
"Dit, papa kamu itu pria dewasa. Dia pasti mengerti bahwa kejantanan itu modal utama seorang pria dalam membahagiakan wanitanya. Uang, kerjaan, jabatan, itu bisa diusahakan. Bisa dicari. Buat apa semua itu kalau di ranjang tak berdaya. Yang ada istrinya uring-uringan. Mau begitu?"
"Yee, nggak gitu juga, Yud. Kalau ngomongin begituan sama Kak Raka, bukan sama papa. Malu-maluin aja," sahut Raydita kesal.
"Ke pinggir ah! Gue mau pulang sendiri. Lo pulang sana naik taksi," tegas Raydita.
"Diih, Ayang. Kok marah sih? Lagi PMS ya?" goda Yuda.
"Apaan PMS? Kesel tuh nggak ngenal PMS tahu nggak? Kesel ya kesel. Salah kamu ngeselin. Kasih jawaban seenaknya," gerutu Raydita dengan nada tinggi.
"Ya maaf, Sayang. Aku 'kan nggak tahu kamu lagi PMS apa enggak. Kamu tenang aja, tadi aku cuma becanda. Jangan dianggap serius dong," ujar Yuda sambil mencolek dagu Raydita
"Yakin cuma becanda?" tanya Raydita masih dengan mimik kesal.
"Yakin, Cintaku. Aku nggak akan ngomong gitu sama papa kamu. Percaya deh."
__ADS_1
"Awas aja kalau bohong," delik Raydita.
"Uluu-uluu main ancam sekarang ya? Bisa-bisa nanti kalau udah nikah ancamannya, 'nggak ada jatah malam ini. Sana tidur di sofa!' Aseek ... aku jadi nggak sabar nih pengen cepet-cepet halalin kamu," selorohnya.
Raydita menatap horor pada Yuda yang sedang senyum-senyum sendiri sembari menatap ke depan. Entah apa yang dibayangkan Yuda. Tapi tak lama kemudian, wajah Raydita pun menyunggingkan senyuman.
**
Kabar keinginan Yuda-Raydita untuk segera menikah pun jadi topik hangat di grup chat Rayhan cs. Raka tak hentinya menggoda Yuda dan Raydita yang kemungkinan akan 'melangkahi' dirinya.
"Lo yakin mau married sama si Yuda, Dit? Dia 'kan anaknya rada gaje (gak jelas)," tanya Raka asal.
"Gaje gimana? Justru mama memuji keberanian dia yang mau ambil kesempatan ini. Kapan lagi dilamar cewek secantik Dita, iya 'kan?" Fany melirik Raydita dengan mimik menggoda.
"Daripada kamu. Awas aja kalau ngehamilin anak gadis orang," imbuh Fany yang disertai delikan.
"Anak gadis orang yang mana, Ma? Kalau Yuli ya tinggal halalin aja. Lagian ya, yang anak mama itu Aka, bukan Dita. Bukannya belain anak sendiri, malah dipojokin. Berasa anak tiri."
Gerutuan Raka ditanggapi kekehan oleh Raydita dan Fany. Melihat kekompakan dua wanita beda usia itu tak ayal membuat Raka ikut tersenyum bahagia.
Fany kemudian pamit ke kamar. Wanita paruh baya itu akan pergi arisan bersama-teman-temannya.
"Dit, ikut mama yuk!" ajak Fany dari tangga.
"Kemana, Ma? Arisan? Emm enggak deh," tolak Raydita dengan senyuman.
"Ya udah kalau nggak mau," gumam Fany sembari meneruskan langkahnya menuju kamar.
Dari lantai dua, terdengar suara pintu kamar Fany ditutup. Raydita menoleh pada Raka yang sedang tersenyum sembari menatap layar ponselnya. Sepertinya Raka sedang bertukar pesan dengan Yuli.
"Kak."
"Mau nganter Dita, nggak?"
"Ayo. Kemana?"
"Ke rutan (rumah tahanan)," sahut Dita pelan.
Gerakan jari Raka yang sedang mengetik pesan pun seketika terhenti. Raka menoleh pada Raydita yang nampak kikuk saat menatapnya.
"Lo yakin?" tanyanya.
Raydita mengangguk. Sekali saja, ia ingin menyapa sosok ayah biologisnya itu sebelum benar-benar memulai kehidupan baru bersama Yuda.
"Ini hari apa?"
"Rabu."
Raka melihat pukul berapa saat ini, kemudian bertanya, "Lo mau hari ini apa Sabtu? Kalau mau hari ini, ayo sekarang. Jam besuknya sampai jam dua belas kurang kalau nggak salah."
Raydita melihat jam pada ponselnya yang menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi.
"Oke. Sekarang aja. Mumpung aku-nya lagi sadar. Kalau nunggu hari Sabtu bisa-bisa berubah pikiran. Hehe," seloroh Raydita.
Raka mengulumkan senyum sembari beranjak. Diacaknya kasar rambut Raydita saat melewatinya sambil berkata, "Gue bilang dulu sama Mama ya."
__ADS_1
Raydita mengangguk cepat. Gadis itu kemudian menelepon Adisurya untuk meminta izin menjenguk Sandy di lapas.
Tok ... tok.
"Ma." Raka memasuki kamar Fany.
"Ya, Ka. Ada apa?" tanya Fany heran saat melihat raut wajah putranya yang sulit diartikan.
"Raka mau nganter Dita dulu."
"Dita mau pulang? Kirain mau nginep di sini," sambung Fany.
"Bukan pulang, Ma. Tapi ... mau jenguk papa," ujar Raka ragu.
"Jenguk papa? Maksud kamu, Dita mau ke-."
Raka mengangguk cepat sebelum Fany meneruskan kalimatnya.
"Ooh. Y-y-ya udah sana anterin," ujar Fany yang mendadak merasa kikuk.
"Aka pergi dulu ya, Ma."
"Iya, Sayang. Hati-hati ya."
Fany menatap langkah Raka dengan raut wajah datar. Tak lama kemudian, terdengar suara dua anak itu di halaman depan. Langkah Fany pun menuju balkon kamar. Meski tak menampakkan diri pada keduanya, Fany diam-diam mendengarkan percakapan mereka.
"Pake motor ah. Biar cepet," protes Raydita.
"Ah, Lo. Sekarang maunya serba cepet. Nggak sabaran banget. Wabil khusus rencana pernikahan lo sama si Yuda. Nggak bisa gitu nunggu gue married dulu? Kesannya 'kan gue jadi kaya nggak laku," balas Raka.
"Idiih nggak ikhlas banget. Ya sabar ya, Boss," kelakar Raydita.
"Iya-iya gue sabar. Awas aja kalau nanti kalian punya anak, terus gue yang dijadiin baby sitter," gerutu Raka.
"Ide bagus tuh. Aseek, lumayan gratisan." Selorohan Raydita ditanggapi tatapan horor oleh Raka.
Deru motor Raka mulai terdengar. Fany mengulumkan senyum setelah percakapan mereka tak lagi terdengar.
Tak ada yang salah dengan keinginan Raydita. Jika ia saja bisa menerima buah perselingkuhan Sandy, dan bahkan sekarang sangat menyayangi Raydita layaknya anak sendiri, maka wajar jika Raydita juga mulai terbuka akan sosok ayah biologisnya.
"Haruskah aku berterima kasih padamu, San? Karenamu, aku tahu rasanya punya anak perempuan. Karenamu juga, Raka jadi seorang kakak yang baik dan penyayang. Meskipun secara hukum mereka tidak punya ikatan apa-apa, tapi hati anak-anakmu terikat kuat satu sama lain. Dan itu yang terpenting," gumam Fany dengan tatapan tertuju pada punggung Raydita yang dibonceng Raka meninggalkan halaman rumah mereka.
_bersambung_
___
Assalamu'alaikum, Teman-teman🤗
Apa kabar semuanya?
Semoga dalam keadaan sehat ya.
Sebelumnya, saya mengucapkan, 'Selamat hari raya Idul Fitri 1443 H' untuk teman-teman yang merayakan. Mohon maaf lahir&batin🙏
Maaf ya, Teman-teman. Cerita ini terlalu lama dibiarkan. Ma-aaaf banget. Mungkin kalian udah lupa jalan ceritanya, karena saya pun seperti itu. InsyaAllah akan mulai up lagi. Doakan saya semoga bisa konsisten nulis seperti para Author lainnya.
__ADS_1
Terima kasih masih sudi menunggu kelanjutan cerita ini. Salam hangat untuk keluarga🥰
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu.