
Happy reading ....
🌿
Pagi di kediaman Adisurya kali ini terasa berbeda. Rianti tak lagi memekik memanggil nama anak-anaknya untuk sarapan. Terlihat jelas gurat kelelahan di wajah Nyonya Adisurya itu, sepertinya semalam ia bahkan tak mampu memejamkan mata.
Rianti menatap sekilas pada Adisurya yang sedang menyeruput kopi. Setali tiga uang dengan istrinya, wajah pria itu juga seperti habis begadang. Kusut dan juga kelelahan.
Adisurya terlihat mengangguk pelan. Membuat Rianti memberanikan diri mengangkat tangan untuk mengetuk pintu kamar Annisa.
"Nis, Nisa. Sarapan, Sayang," panggil Rianti pelan.
Tak ada sahutan dari dalam kamar Annisa. Sekali lagi Rianti pun mencoba, namun hasilnya tetap sama. Annisa masih mendiamkannya.
"Ibu boleh masuk?" Rianti mencoba memberanikan diri bertanya.
Terdengar suara pintu kamar di lantai atas yang ditutup. Rianti menoleh ke arah tangga dan mengerutkan keningnya saat melihat Rayhan. "Han, kok sekolah?" tanyanya.
"Mau ngapain Ehan di rumah, Ma? Bikin suntuk aja. Mending juga Ehan di luar, bisa kumpul sama teman. Bisa main basket, dari pada di sini." Sahutnya datar.
Rianti menoleh pada Adisurya. Pria itu terlihat hanya membuang kasar napasnya. Mau bagaimana lagi? Rayhan kalau dilarang pun percuma.
"Nisa. Cepetan! Nggak pake lama."
Seruan Rayhan sontak membuat kedua orang tuanya terperanjat. Adisurya bahkan hampir saja tersedak kopi yang sedang diminumnya.
"Nggak sama Nisa juga dong, Han. Papa nggak kasih izin," tegas Adisurya.
"Iya, Han. Bagaimana kalau nanti di sekolah-." Kalimat Rianti terpotong. Mendengar suara pintu kamar Annisa terbuka, cepat-cepat Rianti menghampiri walaupun akhirnya sikap canggungnya sangat kentara.
"Sayang, kamu di rumah aja ya. Nggak usah sekolah dulu. Mama panggilkan guru private kamu biar nggak jenuh. Ya?" pintanya dengan wajah mengiba.
"Nisa pergi dulu, Bu. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam," sahut Rianti mau tak mau.
Ditatapnya nanar gerak-gerik Annisa yang sedang berpamitan pada Adisurya. Melihat Rayhan yang menyodorkan helm pada Annisa, bisa dipastikan kedua anaknya itu ke sekolah menggunakan motor Rayhan.
"Sayang, kamu belum sarapan," ujar Adisurya. Pria itu sepertinya tak berani melarang Annisa untuk tidak berangkat ke sekolah. Sedangkan Rianti sedang membuatkan roti selai untuk dibawa Annisa.
"Mang, motor Agas sama Raka siapa yang nganterin?" tanya Rayhan pada Mang Asep saat tak melihat motor kedua sahabatnya di garasi.
"Motor Den Agas dianterin sama Pak Leo. Kalau motor Den Raka sama Pak Andi. Neng Nisa mau berangkat sama Den Ehan?"
"Iya, Mang," sahut Annisa pelan.
"Hati-hati, Neng. Pegangan. Nanti pulangnya Mamang jemput," ujar Mang Asep.
"Nggak usah, Mang. Pulangnya juga bareng Ehan," timpal Rayhan.
"Ooh, begitu ya. Iya deh. Hati-hati, Den."
Langkah Rianti terhenti melihat motor Rayhan yang sudah keluar dari garasi. Tangannya yang memegang kotak bekal terkulai lemas dan membiarkan kotak bekal itu terjatuh begitu saja.
Rianti bahkan tak berani merasa kecewa. Ia paham benar bagaimana perasaan putrinya.
__ADS_1
Mang Asep menatap sendu kepergian mereka. Semalam ia dan pelayan lainnya sangat tahu kejadian di rumah utama. Terlebih dirinya dan Susi yang tahu persis kejadian 15 tahun lalu.
Mang Asep berjalan menghampiri Rianti. Ia sangat bersimpati pada majikannya itu. Meski dulu sempat menyayangkan sikap mereka, tapi kali ini ia tahu benar bahwasanya mereka benar-benar menyesal dan sudah menerima Annisa.
"Sabar, Nya. Neng Nisa perlu waktu. Mamang yakin semua akan baik-baik saja," ucap Mang Asep yang memberanikan diri menghibur majikannya.
Adisurya menghampiri dan mengusap pundak istrinya.
"Terima kasih, Mang. Saya minta maaf dulu sering sekali memarahi Mamang. Seandainya saja saya tahu, saat itu Mamang seperti itu demi Annisa," ujar Rianti pelan.
Rianti menyesali sikapnya yang sering memarahi Mang Asep karena bangun kesiangan sepulang dari mengantar botol susu Annisa ke vila.
"Tidak usah dipikirkan, Nya. Saya tidak pernah marah. Semoga Neng Nisa marahnya cepat selesai. Biar rumah ramai lagi," sahut Mang Asep sambil tersenyum.
"Iya, Mang. Aamiin."
Adisurya merengkuh pundak Rianti dan membawanya ke dalam rumah. Di belakang mereka, Mang Asep menengadahkan tangan lalu mengusapkan ke wajah. Sebuah doa ia panjatkan untuk kebahagiaan sang majikan.
***
Di rumah Raka, hal yang hampir serupa juga terjadi. Fany melarang Raka pergi ke sekolah. Ia tak ingin putranya itu mendapatkan hal tak mengenakkan sebagai imbas dari masalah yang dihadapi papanya.
Namun seperti halnya Rayhan, Raka juga memaksa ke luar rumah. Bedanya, remaja yang usianya menginjak 18 tahun itu tidak mengenakan seragam sekolah.
"Aka sudah janjian sama Agas, Ma. Kita mau basket di GOR." Sahutnya.
"Jangan keluyuran ya, Nak. Kalau udah selesai, pulang."
"Siap, Ma. Aka pergi ya." Pamitnya.
Saat mengetahui Ghaisan juga tidak sekolah, Raka sebenarnya merasa ragu mengajak Ghaisan untuk bertemu. Ia tahu benar, seperti halnya dirinya, Ghaisan juga lebih condong pada Rayhan.
Raka menepikan motornya di parkiran GOR yang sering mereka datangi. Ia merasa senang melihat Ghaisan sudah ada di sana dan sedang mematik sigaret di bibirnya.
"Udah lama?" tanya Raka.
"Baru juga sampai." Sahutnya sambil menyodorkan bungkus sigaret itu dan pematiknya.
"Ada kabar dari Ray?" Raka menoleh pada Ghaisan yang terlihat bingung.
"Kenapa?" tanya Raka lagi. Keduanya pun terduduk di lantai sambil bersandar pada dinding.
"Lo tahu nggak siapa Nisa, Ka?" tanya Ghaisan sambil menoleh.
"Nisa? Ya Nisa laah. Memangnya Nisa yang mana?" Raka nampak mulai bingung.
"Nisa itu adiknya Ray. Adik kandungnya, dan semalam Ray cerita ke gue tentang masa lalunya Nisa."
Raka terdiam. Ia sudah mengetahui kebenaran tentang Raydita, dan kini tentang Annisa.
Raka terkesiap mendengar Ghaisan yang sedang menceritakan apa yang semalam di dengarnya dari Rayhan. Dari cerita itu, bisa dipastikan bahwa kedua sahabatnya tidak mengetahui siapa orang tua biologis Raydita.
"Gue jadi penasaran, siapa ya bokap sama nyokapnya Dita?" ujar Ghaisan setengah bergumam.
Raka membuang kasar nafasnya. Kemudian dengan pelan ia bertanya, "Lo mau tahu siapa mereka?"
__ADS_1
"Memangnya Lo tahu?" Ghaisan langsung menoleh dengan ekspresi tak percaya.
Raka mengangguk pasti. Ghaisan mendesak Raka untuk memberitahunya.
"Pasangan yang lagi heboh dibicarakan. Gara-gara kemarin terlibat kecelakaan tunggal," sahut Raka datar dengan tatapan lurus ke depan.
Ghaisan mencoba untuk berpikir. Sahabat Rayhan itu terperanjat dan langsung mendorong pundak Raka.
"Gila, Lo. Yang benar aja. Nggak mungkin laah."
"Tapi itu kenyataannya, Gas. Raydita itu anak bokap gue sama tante Lo," sahut Raka pasti.
"Lo jangan fitnah Tante Rida dong, Ka."
"Untuk apa gue memfitnah tante Lo, Gas? Gue dengar sendiri. Tante Rida bahkan mengakui sebelum dia pergi ketemu papa malam itu. Sumpah demi nyokap gue, Gas." Raka mengangkat dua jarinya membentuk hurug 'V' untuk lebih meyakinkan Ghaisan.
Ghaisan terdiam seribu bahasa. Hal yang baru saja didengarnya, baner-benar tidak terduga.
***
Motor yang dikendarai Yuda menepi di halaman rumah Adisurya. Tak lama, sebuah mobil juga menepi di sana. Rupanya, Isti dan kedua orang tuanya datang berkunjung ke rumah Adisurya.
"Itu Yuda sama siapa ya, Ma?" tanya Adisurya. Mereka sengaja duduk di teras menunggu kepulangan Annisa dan Rayhan dari sekolah. Sementara Raydita sudah tidur siang, mungkin salah satu efek obat yang ia minum. Raydita mudah sekali merasakan kantuk.
"Mama juga nggak tahu, Pa. Siapa Yuda?"
"Yuda temannya Nisa. Itu juga yang perempuan. Tapi papa lupa namanya."
"Kok mama sepertinya kenal," gumam Rianti.
"Assalamu'alaikum. Neng Rianti, apa kabar?" sapa wanita berjilbab yang datang menghampiri mereka.
"Wa'alaikumsalam. Julaikah? Ikah, kan?" Rianti spontan tersenyum lebar dengan tatapan yang berbinar.
"Iya, Neng. Alhamdulillah masih ingat." Ikah tak kalah senangnya. Ibu dari Isti itu bahkan tak percaya Rianti memeluknya.
"Kamu kemana aja? Ingat dong, masa nggak ingat sih. Eh, anakmu sekolah di SMA itu juga?" Rianti tersenyum pada Isti dan menyambut uluran tangannya yang mengajak bersalaman.
"Iya. Kebetulan satu kelas sama Dita, sama Annisa juga."
"Oh ya? Kok Nisa belum pernah cerita ya? Siapa namanya, Sayang?"
"Isti, Bu." Rianti menganggukkan kepala.
"Nggak nyangka ya," ucap Rianti yang tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
Meski Ikah hanya putri ART keluarga orang tua Adisurya, kesederhanaan dan kerelaan Ikah yang mau menerima sikap arogan Rianti membuat sosoknya justru membuat Rianti nyaman dan akhirnya mau berteman.
"Iya. Dari kemarin Isti minta ketemu Nisa. Sekalian mau jenguk Dita. Tapi Abinya baru sempat. Jadi maaf ya."
"Loh, Nisa kan sekolah. Memangnya nggak ketemu?" tanya Rianti heran.
"Nisa nggak ada di sekolah, Bu. Iya kan, Yud?"
"Iya, Tante. Nisa nggak sekolah hari ini. Rayhan dan teman-temannya juga nggak ada," sahut Yuda.
__ADS_1
Raut wajah Rianti dan Adisurya seketika terlihat panik. Membuat tamu mereka saling menatap bingung.
_bersambung_