
Happy reading ...
Hari pernikahan Raydita dengan Yuda semakin dekat. Keluarga calon kedua mempelai pun sangat sibuk menyiapkan segalanya. Tak terkecuali Annisa yang mendapat mandat dari calon mempelai untuk mengundang beberapa teman SMA mereka pernah satu kelas.
“Nis, lo yang telpon Yuli ya,” pinta Raydita yang sedang mengagumi kebaya brokat warna pastel milik Annisa.
“Ya kamu dong, calon adik iparnya.” Annisa mendaratkan bokongnya di sofa sambil membawa satu kotak susu UHT dan sebuah gelas kosong.
“Lo aja deh. Ya?”
“Iya-iya. Terus Viola sama Anya siapa yang undang?” tanya Annisa sambil menuangkan susu ke dalam gelas.
“Lo juga,” sahut Raydita singkat.
“Eh, serius?” Annisa menautkan alisnya, menatap Raydita yang mengangguk sambil meletakkan kotak susu.
“Males gue, Nis. Bisa-bisa mereka ngetawain gue karena married sama si Yuda,” kilah Raydita.
“Ya nggak pa-pa. Kenyataannya emang kamu mau nikah sama Yuda ‘kan?” timpal Rianti.
“Nggak ah, Ma. Nanti aja di gedung. Jadi ‘kan mereka nggak leluasa ngetawain Kalau sekarang …. Mereka chat atau nelpon juga aku cuekin,” sahut Raydita.
Rianti dan Annisa hanya mengulumkan senyum mendengarnya. Tanpa menunggu, Annisa menelpon beberapa teman sekolahnya, yang juga merupakan teman Raydita. Ia juga menelpon Yuli, sahabatnya di desa.
“Yul, lagi di mana?”
“Aku lagi di desa, Nis,” sahut Yuli di ujung ponsel Annisa.
“Kukira kamu di kostan. Kebetulan dong, ibu juga mengundang orang tuamu ke nikahan Dita lusa. Jangan lupa datang ya. Nginep di sini juga boleh.
“Kayaknya nggak bisa, Nis. Maksudku, orang tuaku. Kakekku meninggal di Jawa. Hari ini mereka mau ke sana,” jelas Yuli.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Terus kamu kapan mau ke sini? Aku jemput ya,” tawar Annisa sambil menoleh pada Raydita yang bertanya tanpa suara perihal siapa yang meninggal.
“Nggak usah. Sore ini Kak Raka mau jemput.”
“Oh gitu. Langsung ke sini aja. Nginep di sini.”
“Iya, Nis. Nanti aku langsung ke sana.”
“Hati-hati ya. Salam buat orang tuamu. Assalamu’alaikum,” pungkas Annisa.
__ADS_1
“Iya, nanti kusampaikan. Wa’alaikumsalam.”
Annisa menutup panggilan itu, dan langsung menjawab tanda tanya di wajah Raydita dan ibunya.
“Kakeknya Yuli di jawa. Jadi mereka nggak bisa ke sini,” ujarnya.
“Yuli di jemput Kak Raka?” tanya Raydita.
“Iya,” angguk Annisa.
Mereka tak bisa apa-apa, selain berharap orang tua Yuli bisa hadir di pernikahan Annisa dengan Ghaisan.
**
Raka mengendarai motornya ke desa tempat asal Annisa. Ingatannya kembali ke beberapa tahun lalu saat ia dan Ghaisan menyusul Rayhan dan Annisa. Siapa yang akan menduga, rasa sukanya pada Yuli berbalas, dan mereka sudah berencana segera menyusul Raydita dan Yuda meskipun belum ada pembicaraan keluarga.
Raka tiba di depan rumah Yuli. Rumah itu sepi karena orang tua Yuli sudah pergi menggunakan kereta sekitar satu jam yang lalu. Senyum Raka mengembang ketika melihat Yuli keluar dari rumah dan menyambutnya dengan senyuman ramah.
“Pergi sekarang?” tanya Raka sambil berjalan mendekati Yuli.
“Kak Raka nggak istirahat dulu?” Yuli mendongakkan wajahnya untuk melihat langit sore ini. Langit mulai teduh dan sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan, atau mungkin di daerah lain sudah turun hujan.
“Tadi di jalan gimana, Kak? Mendung nggak?” tanya Yuli pelan.
“Mau sekarang?” tanya Yuli. “Kalau mau, aku mau ngunci pintu dan ngasih kuncinya ke Bi Titin,” sambungnya.
“Bawa aja jas hujan, Yul. Aku cuma bawa satu. Ada ‘kan?” tanya Raka.
“Iya, Kak. Ada.”
Yuli kembali ke dalam rumah untuk mengambil jas hujan dan juga sling bag miliknya. Setelah mengunci pintu rumah, mereka pun ke rumah mendiang Asih yang tak lain rumah Annisa.
Rumah itu kini sudah direnovasi. Meski begitu, sumur dan tungku sengaja tidak ditiadakan atas keinginan Annisa. Rumah itu meski terlihat sederhana dari luar, bagian dalamnya sangatlah nyaman. Di rumah itu tinggal Titin dan seorang kerabatnya.
“Pulang sekarang, Yul?” tanya Titin.
“Iya, Bi. Nitip ya. Bapak sama Ibu pulangnya setelah tujuh hari Eyang.”
“Iya. Kamu tenang aja. Salam sama Nisa.”
Pada Titin, Yuli memberikan beberapa lembar uang sebagai upah memberi makan ternak orang tuanya. Setelah berpamitan, Yuli dan Raka pun meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Semakin jauh meninggalkan desa, langit yang semula nampak cerah mulai kelabu. Sampai kemudian titik air mulai berjatuhan dan memaksa sejoli itu menepi untuk mengenakan jas hujan.
Diantara rintik hujan, keduanya terlihat mesra walau hanya saling bergantian membantu menarik resleting pada jas hujan. Raka yang saat ini sedang memakaikan helm menatap gemas wajah Yuli. Ia bahkan sempat mencubit ujung hidung Yuli yang terasa dingin dan juga memucat.
“Mau nunggu reda?” tanyanya.
“Lanjut aja deh. Masih gerimis,” sahut Yuli sambil menatap rintik air hujan.
“Sambil nyari tempat enak buat neduh ya,” ucap Raka yang diangguki cepat oleh Yuli.
Keduanya kembali berkendara. Selang beberapa menit kemudian, mau tak mau mereka kembali menepi.
Hujan semakin deras, dan tak mungkin untuk meneruskan perjalanan. Beruntung Raka mengarahkan motornya ke sebuah kedai kopi. Keduanya menikmati seduhan hangat kopi yang sengaja dibeli.
“Butuh penginapan nggak, Mas?” tanya seorang pria paruh baya di kedai kopi tersebut.
“Nggak, Pak. Terima kasih,” tolak Yuda.
“Kali aja butuh. Ada satu kamar kosong tuh, nggak mahal kok cepek (seratus) semalam,” ujarnya, dan kembali mendapat penolakan dari Raka. Pria itupun berlalu dengan diiringi tatapan datar Raka. “Menginap? Heh, yang benar saja. Mana cuma ada satu kamar,” gumam Raka.
Saat ini baru pukul enam sore. Akan tetapi suasana langit gelapnya seperti sudah jam sembilan malam.
Yuli menatap nanar lurus ke depan. Hujan yang semakin deras, bisa-bisa memaksa mereka untuk bermalam di sana.
“Aah, apa sih? Ini ‘kan masih jam enam. Semoga aja sebentar lagi hujan reda,” batinnya.
“Yul. Ngelamunin apa? Kopinya dingin, Sayang,” tegur Raka.
Yuli tersenyum tipis, lalu menyesap kopi susu miliknya.
“Hujannya tambah gede, Kak. Gimana dong?” tanyanya sambil menoleh pada Raka.
“Kita tunggu aja dulu. Ini masih sore, Yang,” sahut Aris sambil mengeluarkan rokok dan mematiknya.
Sesaat kemudian asap rokok mengepul di udara. Keduanya menatap ke derasnya air hujan yang jatuh dari genting kedai. Yuli yang mulai kedinginan pun melingkarkan tangannya di lengan Raka sambil menyandarkan kepala di lengan atas pria itu.
Raka menoleh, kemudian menggenggam tangan Yuli yang sudah sangat dingin. Menyadari kekasihnya kedinginan, Raka mulai tak enak hati.
Raka menatap agak lama pada derasnya hujan, kemudian menoleh ke teras rumah pemilik kedai kopi. Ia mulai merasa bimbang, akankah mereka bermalam di sana dan melanjutkan perjalanan esok pagi?
_bersambung_
__ADS_1