
Happy reading ....
*
Hari-hari berikutnya, Ghaisan terpaksa meninggalkan Indonesia dan memantau perkembangan kasus ibunya dari New York. Ia mempercayakan kasus Rika pada kuasa hukumnya—Bambang SH. Ghaisan harus melanjutkan studinya, tapi ia berjanji akan mendampingi Rika di persidangan perdananya nanti.
Sementara itu, dalam kasus pencamaran nama baik Adisurya, kerabat Darma yang telah mengeluarkan pernyataan, terancam pidana sembilan bulan penjara. Sebagai akhir dari perkembangan kasusnya, Adisurya mengadakan konferensi pers bersama Raydita, juga kuasa hukum yang ditunjuknya. Dalam konferensi pers tersebut, Adisurya memperlihatkan bukti berupa hasil tes DNA yang menyatakan bahwa Raydita bukanlah putri kandungnya.
"Dalam hal ini, saya mengadopsi Raydita sejak baru lahir dikarenakan saat itu kondisi ibu kandung Raydita sedang dalam keadaan tertekan. Suami yang menikahinya secara siri, meninggal dalam kecelakaan. Dan ia belum siap jika harus membesarkan putrinya seorang diri dalam usia yang masih sangat muda. Kebetulan istri saya juga baru saja melahirkan, dan keluarga kami juga cukup dekat. Jadi saya dan istri memutuskan mengambil tanggung jawab atas Raydita," tutur Adisurya setengah berdusta.
Raydita menatap haru pada Adisurya. Adisurya menoleh sambil tersenyum dan menggenggam tangan Raydita. Bagaimanapun ia tidak mau Raydita berkecil hati dengan status yang sebenarnya.
"Pak Adi, bagaimana dengan putri kandung Anda?" tanya seorang wartawan.
"Benar, Pak. Mengapa selama ini yang diperkenalakan ke publik hanya Raydita?" timpal wartawan lain.
"Untuk hal tersebut, mohon maaf mungkin di lain waktu. Karena fokus kita hari ini hanya yang berkaitan dengan kasus pencemaran nama baik," sahut pengacara Adisurya.
"Baiklah. Terima kasih sudah hadir di sini. Selanjutnya, proses hukum akan terus berlanjut, dan kita serahkan sepenuhnya pada pihak yang berwajib," sambung pengacara itu mengakhiri konferensi pers.
Acara yang disiarkan langsung di televisi itu ditonton oleh jutaan masyarakat, tidak terkecuali Rika yang kebetulan melihatnya. Rika menundukkan kepala setelah mendengar pernyataan Adisurya.
"Terima kasih, Adi. Terima kasih karena sudah menjaga kehormatan Rida," batin Rika sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya.
Sementara di tempat lain, Sandy menatap nanar pada layar televisi yang dilihatnya di lapas di kota yang berbeda. Tatapannya tertuju pada Raydita yang sekilas mengingatkan Sandy pada Rida.
'Pa, Aka tidak tahu harus bagaimana sekarang. Aka tidak bisa membenci Dita. Meskipun ia hadir karena pengkhianatan papa terhadap mama. Terlebih lagi bagi Ray, Dita adalah adiknya. Tapi Aka juga tidak mau melukai perasaan mama.'
'Pa, mama tidak keberatan Aka berhubungan baik dengan Tante Rida dan juga Dita. Saat ini, Tante Rida sedang sakit dan menjalani pengobatan. Aka akan support mereka, sebagai Kakak Dita. Haruskah Aka berterima kasih pada papa karena sudah memberi seorang adik?'
Ucapan Raka saat mengunjunginya beberapa kali itu membekas di ingatan Sandy. Pria itu sempat bersyukur mendengar cerita Raka tentang Rida yang bahagia menjalani kehidupan bersama Raydita. Namun saat mengetahui kondisi Rida saat ini, Sandy merasa bersalah telah menjadi penyebab dari penderitaan Rida.
***
Beberapa bulan kamudian ....
__ADS_1
Untuk segelintir orang, mereka melalui hari dengan berat hati. Misalnya saja Rika. Setelah putusan pengadilan, Rida harus mendekam di hotel prodeo untuk delapan tahun enam bulan ke depan. Begitu juga Angel, dan perawat yang membantu mereka. Sedangkan yang lain, mereka berusaha melakukan yang terbaik untuk masa depan agar sesuai dengan harapan.
Annisa dan teman-temannya disibukkan dengan kegiatan sekolah yang padat menjelang akhir masa pembelajaran. Begitu juga Rayhan dan kedua temannya. Sementara Rida, belum ada pekembangan yang berarti.
Pukul tujuh malam, Adisurya berkumpul bersama istri dan kedua putrinya di lantai dua. Alunan nada lagu 'You're Still The One' milik Shania Twain dimainkan Raydita mengiringi Rianti yang terlihat begitu santai saat menyanyikannya sambil duduk bersandar pada Adisurya.
....
You're still the one I run to.
The one that I belong to.
(Kaulah satu-satunya tempatku mengadu. Satu-satunya yang kumiliki).
You're still the one I want for life.
(Kau masih satu-satunya yang kuingin seumur hidup).
.....
Malam ini untuk merilekskan pikiran, Raydita bersama dua sahabatnya berencana menghadiri ulang tahun seorang teman mereka yang bernama Jessica. Jessica merupakan teman semasa sekolah menengah pertama yang meneruskan pendidikan di Australia.
Acara malam ini akan diadakan di salah satu rooftop lounge di ibukota yang lagi nge-hitz. Adisurya memberi izin dengan catatan Raydita tidak mabuk dan pulang tidak larut malam. Karenanya, saat menyadari sebentar lagi Mela dan Tasya akan datang menjemput, Raydita pamit ke kamarnya untuk bersiap-siap.
"Ingat pesan papa ya, Dita," ujar Adisurya.
"Siap, Pa. Paling juga mocktail sama cocktail. Jadi nggak mungkin mabuk," sahut Raydita sambil melambaikan tangannya pada Adisurya.
Adisurya memberi isyarat pada Rianti. Rianti menoleh pada Annisa yang sedang asik membaca bukunya.
"Sayang, kita dinner di luar yuk," ajak Rianti pada Annisa yang kemudian menganggukkan kepala. Rianti meminta Annisa bersiap-siap, karena mereka akan berangkat sebentar lagi.
***
Mela memarkirkan mobilnya di basement sebuah gedung yang merupakan menara bank swasta ternama. Dari sana, mereka menggunakan lift menuju lantai 56 tempat acara diadakan. Ketiganya terlihat menawan dengan gaun di atas lutut yang mereka kenakan.
__ADS_1
Suasana rooftop itu sangat nyaman dengan lounge berada di dalam. Dari tempat itu, mereka bisa menikmati gemerlap lampu yang membuat ibukota terlihat cantik di malam hari.
Raydita dan kedua sahabatnya menyapa Jessica dan memberikan hadiah yang mereka bawa. Mereka juga menyapa teman-teman semasa sekolah yang kebetulan hadir di sana. Ketiganya memilih tempat duduk di sofa yang berada di dekat kolam yang airnya terlihat biru.
Mela memperhatikan sekelilingnya, mungkin ada teman mereka yang belum disapa. Keningnya berkerut saat tatapannya tertuju pada seseorang yang dirasa tak asing.
"Dit, itu ... Vio, kan?" tanya Mela pelan sambil menyenggol siku Raydita.
"Eh, mana?" tanya Raydita yang kemudian menatap ke arah yang sama dengan Mela. "Iya, Vio."
"Ada apaan sih?" tanya Tasya penasaran.
"Viola? Kok dia ada di sini?" gumam Tasya.
"Eh-eh, dia ke sini. Mau ngapain kira-kira ya?" tanya Mela sambil menoleh pada kedua sahabatnya.
Viola berlenggok mendekati mereka sambil memegang segelas cocktail. Viola tersenyum miring dengan tatapan yang tertuju pada Raydita. Baru saja Viola akan menyapa, Jessica datang menghampiri dan berkata, "Kenalin, ini Kak Vio, sepupu gue. Dia alumni sekolah kalian loh. Kak, ini teman-teman SMP-gue. Eh, kalau nggak salah, sekolah itu punya bokap lo kan, Dit?"
"Bukan bokapnya kalee. Dia kan cuma anak pungut," sahut Viola sinis.
"Oh ya, kok gue nggak tahu. Ketinggalan info dong ya gue," seloroh Jessica.
Viola menyeringai tipis, dan menoleh pada teman pria yang menghampiri mereka.
"Jessy, is there no alcohol? Wait, who is this beautiful girl?" tanyanya dengan gerakan mata menggoda mengarah pada Raydita.
Viola yang mengerti maksud tatapan pria itu, cepat-cepat memperkenalkan, "She's Raydita, Colin."
"Ray-Dita? Hi, my name is Colin." Pria bule itu mengulurkan tangannya pada Raydita.
Raydita menyambut uluran tangan Colin, kemudian terbelalak merasakan tangannya ditarik cepat oleh pria itu ke dalam pelukannya.
"Hi, Sweety. How about tonight we have some fun (Bagaimana jika malam ini kita bersenang-senang)?" bisik Colin menyerngai.
_bersambung_
__ADS_1