
Happy reading ....
Mobil yang dikemudikan Adisurya menyusuri jalanan mengikuti sinyal yang perlihatkan GPS (Global Positioning System) yang terdapat pada ponsel Annisa. Adisurya tak habis pikir mengapa Annisa ingin kembali ke desa. Apa yang kurang? Baru semalam ia merasa senang mengetahui Rianti sudah mulai memperhatikan putrinya itu.
Bis yang ditumpangi Annisa berada tepat di depannya. Adisurya masih mengikuti dan tak berniat menghentikannya. Pikirnya, lebih baik menunggu bis itu berhenti di tempat pengisian bahan bakar.
Benar saja, bis itu terlihat berbelok ke tempat pengisian bahan bakar Adisurya mengikuti dan menepikan mobilnya. Di sisi lain, Annisa hendak merogoh ponsel, namun saat melihat larangan menggunakan ponsel di tempat itu, ia pun urung melakukannya.
"Nisa."
Annisa terperanjak, selain karena nama yang serupa, ia juga merasa mengenali suara orang yang memanggil itu. Baru saja Nisa akan berdiri, sosok Ayah Adi sudah terlihat di depannya.
"Ayah?"
Adisurya terlihat sangat lega. Pria itu mencoba tersenyum sambil berkata, "Turun, Sayang. Ayah yang akan mengantarmu."
"I-iya, Yah." Annisa merasa kikuk, dan menyambut uluran tangan Ayah Adi.
Beberapa penumpang terdengar berbisik. Sepertinya mereka berfikir Annisa kabur dari rumah. Pria yang masih mengenakan piyama itu tentu saja yang menyusulnya.
Dengan perasaan gugup, Annisa menunggu Ayah Adi yang sedang bicara pada supir. Ia menerka-nerka apakah Ayah Adi akan memarahinya.
"Sarapan dulu yuk! Ayah ingin ngopi," ujar Adisurya yang langsung merangkul pundak Annisa.
"Maaf, Nisa sudah membuat ayah khawatir." Ujarnya sambil tertunduk.
"Sudahlah. Yang penting ayah sudah bertemu kamu." Adisurya menarik lembut Annisa ke dalam pelukannya. Mengusap surai Annisa, lalu mengecup pucuk kepalanya.
Jangan pergi lagi, Nak. Ayah takut kehilangan kamu, batin Adisurya.
Adisurya sempat merasa ragu Annisa benar-benar kembali ke desa. Ia khawatir itu hanya alasan saja.
"Ke sana, yuk!" Ajaknya, dan langsung diangguki Annisa.
"Yah ...."
"Hmmm."
"Ayah tahu kan kalau ayah masih pakai piyama?" tanya Annisa ragu.
"Tahu."
"Kenapa nggak ganti dulu, Yah? Memangnya nggak malu?"
"Demi kamu, Ayah membuang rasa malu. Jangankan ganti baju, cuci muka juga belum," sahut Adisurya santai.
"Iih, Ayah jorok." Selorohnya. Dalam hati, Annisa merasa sangat terharu.
__ADS_1
"Jorok? Hmm coba, Ayah siapa yang jorok ini ya?"
"Ayah Nisa." Sahutnya cepat.
"Pinter." Adisurya mendekatkan kepala Annisa ke dadanya dengan senyuman yang lebar.
Adisurya memesan secangkir kopi, cokelat panas, dan juga roti. Sambil menunggu, Adisurya pamit ke kamar mandi. Sebelum beranjak, Adisurya meminta Annisa untuk tidak meninggalkan tempat itu. Pria itu seakan tidak perduli pada beberapa pasang mata yang menatap aneh padanya.
Di kediaman Adisurya, Rianti terlihat sangat khawatir. Beberapa kali ia menghubungi Adisurya, namun tidak diangkat juga. Terakhir kali, Adisurya mengatakan ia sedang mengikuti bis yang ditumpangi Annisa.
"Kemana sih? Kok nggak di angkat." Gumamnya.
"Bi, panggil Santi." Titahnya dengan nada yang ketus.
Bi Susi segera ke dapur dan memanggil Santi. Baru saja pelayan itu memasuki ruangan, Rianti sudah membentaknya.
"Siapa yang mengizinkan Nisa keluar, hah! Kamu?"
"Bukan mengijinkan, Nya. Saya hanya bertanya," sahut Santi sambil menundukkan kepala.
"Terus, kamu percaya? Kenapa tidak kamu temani? Kenapa tidak memberi tahu Bibi, kenapa!" Pekiknya dengan tatapan yang menajam, membuat Santi tak berani menjawab.
"Panggil security! Panggil siapa saja yang melihat Annisa keluar tadi pagi." Titahnya pada Bi Susi yang berdiri di luar pintu dengan perasaan yang cemas.
Tak lama beberapa pelayan pria datang sambil menunduk hormat. Rianti yang merasa geram, hanya bisa mengepalkan tangannya.
Nyonya Adisurya itu mencecar dan menyalahkan mereka. Rianti seperti kehilangan akal saking cemasnya. Ia pun kemudian menghubungi Heru.
Rianti kembali mencoba menghubungi Adisurya. Setelah panggilan kesekian kalinya, barulah telepon itu diangkat suaminya.
"Mas, ketemu nggak Nisa-nya?"
"Ketemu, ini baru mau melanjutkan perjalanan."
"Melanjutkan? Maksudnya gimana? Mas nggak bawa dia pulang?"
"Nisa ingin berziarah ke makam ibunya. Dia juga katanya mau menginap semalam di sana. Jadi mungkin besok pagi baru pulang."
Hati Rianti sesaat merasa sedih, mendengar Annisa menganggap ibu pada wanita lain. Namun kemudian cepat-cepat Rianti menepis perasaan itu.
"Nisa, bicara sama ibu." Terdengar suara Adisurya bicara pada Annisa. Bisa dipastikan ponsel Adisurya sudah berpindah tangan pada Annisa.
"Ha-halo, Bu. Ini Nisa." Suara Annisa terdengar gugup.
"Saya juga tahu ini kamu. Senang ya, pagi-pagi sudah buat heboh seisi rumah." Ujarnya ketus.
"Maaf, Bu. Nisa ...."
__ADS_1
"Nisa sudah minta izin, Sayang. Ayah aja yang telat baca pesannya," bela Adisurya. Rupanya mereka memasang mode loudspeaker.
"Pulang. Sekarang juga putar balik dan pulang ke rumah."
"Rianti, Annisa kan mau ...."
"Kamu dengar ibu, nggak?"
"Iya, Bu. Nisa akan pulang sekarang."
"Nak."
"Baguslah kalau kamu mengerti. Mas, dengar ya. Pulang, titik."
"Iya ...."
Rianti memutuskan panggilan. Adisurya membuang kasar napasnya. Ternyata Rianti masih belum bisa bersikap lembut pada Annisa.
"Nisa, kamu yakin akan pulang? Tidak apa sayang, kalau kamu ingin meneruskan perjalanan. Ayah akan menemani," ujar Adisurya.
"Tidak, Yah. Lain kali saja. Nisa tidak mau membuat ibu marah." Sahutnya.
"Baiklah. Kita harus keluar dulu jalan ini kalau ingin putar balik lagi."
Annisa menatap ke luar jendela. Hati gadis itu luluh seketika saat mendengar Bu Rianti men-ibu-kan dirinya.
Satu helaan napas dibuang lembut Annisa. Dalam hati ia bergumam, "Maafkan Nisa, Bu. InsyaAllah lain kali Nisa akan berziarah ke makam ibu. Nisa sudah rindu, ingin bertemu Bi Titin juga Yuli. Semoga secepatnya, semoga Nisa bisa kesana tidak hanya dengan Ayah Adi, tapi Bu Rianti juga."
Sementara itu, sambil menunggu teh mint buatan Bi Susi, Rianti terduduk di sofa. Jari-jarinya perlahan memijat bagian pelipis. Dari arah tangga Rayhan menatap heran pada mamanya. Suara Mama yang marah terdengar hingga ke kamarnya.
Tak hanya Rayhan, Raydita juga merasakan hal yang sama. Gadis itu penasaran akan apa yang terjadi di bawah. Setelah dari kamar mandi, Raydita pun berniat keluar dari kamarnya.
"Mama kenapa sih? Pagi-pagi udah marah-marah aja," tanya Rayhan, yang menghampiri sambil membawa air minum.
"Nisa mau kabur, Han. Untung papa kamu bisa menyusulnya," sahut Rianti yang masih memijat pelipisnya.
"Kabur? Hehe, berani juga dia."
"Kok ketawa? Gimana kalau ada apa-apa sama Nisa? Dia itu masih lima belas tahun, Han. Gimana kalau nanti di bis ada yang menghipnotis, terus Nisa ngikutin begitu aja. Kan bahaya?"
Raut wajah Rayhan langsung berubah. Putra sulung Adisurya itu merasa aneh dengan sikap mamanya.
"Ya biarin aja. Bagus kan kalau dia nggak ada. Mama jadi nggak usah marahain dia lagi," sahut Rayhan asal.
"Bagus apanya? Dia itu adik kamu, Han. Kok bisa adiknya pergi dibilang bagus," sahut Rianti kesal.
"Adik?" gumam Rayhan bingung.
__ADS_1
"Kok mama bilang Nisa adik Kak Ehan sih?" tanya Raydita yang menuruni tangga. Rianti mulai tersadar dari rasa cemasnya yang berlebihan. Kini ia jadi salah tingkah dan bingung untuk menjelaskan.
_bersambung_