Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
rencana pindah


__ADS_3

Happy reading .....


*


Walaupun tak selalu berjalan mulus, pesatnya perkembangan bisnis Adisurya membuat perusahaan miliknya dengan cepat 'menggurita'. Sosok Rayhan yang terbilang baru, tapi mumpuni itu mulai diperhitungkan.


Di kantornya, Adisurya, Rayhan, dan beberapa staf sedang mengadakan rapat. Mereka akan menunjuk pimpinan untuk anak cabang perusahaan yang ada di tiga kota sekaligus, tak terkecuali kota R.


"Pak Adi, bagaimana kalau kantor cabang baru di kota R dipimpin oleh Mas Rayhan?" saran seorang anggota rapat yang kemudian diamini oleh sebagian besar anggota rapat lainnya.


Adisurya nampak sedang menimbang. Tak lama kemudian, ia menoleh pada Rayhan dan bertanya, "Bagaimana, Han?"


"Tentu. Ehan akan usahakan yang terbaik untuk kantor cabang kita di kota itu," angguk Rayhan pasti.


"Baik. Sudah diputuskan Pak Widodo akan memimpin di kancab kota M, Pak Manaf di kancab kota L, dan Rayhan di kancab kota R. Untuk rekan-rekan lainnya dimohon kerjasama yang baik, juga dedikasi tinggi untuk perusahaan. Terima kasih," tegas Adisurya menutup rapat.


Adisurya dan Rayhan berjalan beriringan kelaur dari ruangan. Adisurya memastikan sekali lagi pada Rayhan akan keputusannya yang tentunya membuat sang Putra mau tak mau harus pindah ke kota R.


"Ehan yakin, Pa. Jangankan kota R, Pulau R pun kalau ada dan mengharuskan Ehan pindah ke sana, insyaAllah Ehan nggak akan nolak.," tegas Rayhan.


"Syukurlah. Tapi lebih baik kamu bicarakan dulu sama Isti, Han. Kalau dia keberatan, kita akan cari orang yang tepat untuk posisi itu," ucap Adisurya.


"Papa kaya nggak tahu istri Ehan gimana? Dia itu super solehah, jadi pasti setuju," sahut Rayhan.


"Iya, papa tahu. Tapi tetap harus bilang dari sekarang ya," pesan Adisurya sekali lagi.


"Oke. Siap, Pa."


Ayah dan anak itu meneruskan langkah dengan obrolan lain. Keduanya nampak sangat akrab membuat siapapun yang melihatnya merasa iri.


**

__ADS_1


Pintu belakang rumah utama yang sengaja dibuka menghadirkan hawa sejuk dari rintik hujan di luar rumah. Namun begitu, ruang makan di kediaman Adisurya terasa hangat dengan kehadiran seluruh anggota keluarga itu.


Rencana penempatan Rayhan sebagai CEO di salah satu kantor cabang (kancab) perusahaan milik Adisurya sedikit banyaknya menghadirkan kecewa bagi Rianti. Akan tetapi ia bisa apa saat anak-mantunya tak keberatan sama sekali.


"Hmm, bukannya honeymoon kemana gitu. Terus pulang-pulang bawa kabar baik. Eh ini malah-. Papa gimana sih? Udah enak-enak di sini jadi CEO, eh malah dipindah," gerutu Rianti.


Melihat sikap Rianti, anggota keluarga lain hanya tersenyum memaklumi.


"Ma. Ehan juga butuh pengalaman di luar kota. Berbaur dengan para staf di ruang lingkup perusahaan yang lebih kecil itu juga akan membuat Ehan tahu banyak hal. IsyaAllah Ehan akan sering pulang. Sebulan sekali mungkin," ujar Rayhan seraya tersenyum pada Rianti yang nampak murung.


"Sebulan sekali? Dari kota R ke sini cuma empat jam, Han. Kok sebulan sekali sih?" protes Rianti sembari mendelik manja dengan wajah yang ditekuk.


"Iya deh, dua minggu sekali ya?" sambung Rayhan sambil meraih tangan Isti yang berada di atas meja. Rayhan menggenggam tangan itu masih dengan senyuman di wajahnya.


"Mama kenapa? Dulu aja waktu Kak Ehan di London nggak masalah pulang sekian bulan sekali atau bahkan setahun sekali juga. Di sini 'kan ada Dita sama Nisa. Hmm lupa ya? Sekarang yang dikangenin Isti," protes Raydita dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.


"Bukan begitu, Dit. Masa iya mama lupa sama kalian? Rasanya ada yang beda aja kalau Ehan sama Isti nggak ngumpul sama kita," kilah Rianti.


"Itu sih mungkin menantu orang. Menantu mama 'kan nggak bau. Kamu ini gimana sih? Istri sendiri kok dibilang bau," delik Rianti yang disambut kekehan Adisurya.


"Hehe, iya sih. Itu 'kan ibarat kata, Ma. Bukan berarti menantu mama 'bau'. Menantu mama sih harumnya pake banget. Ya, Sayang?" Rayhan tersenyum sok imut pada Isti.


"Hati-hati modus, Isti. Barusan aja Ehan bilang kamu bau. Udah jangan ikut pindah, di sini aja sama mama," ujar Rianti. Raut wajahnya sudah seperti ibu-ibu yang sedang gibah.


"Nggak gitu konsepnya, Ma. Kalau Isti nggak ikut, kapan mama punya cucu?" ujar Rayhan tak mau kalah.


"Iya deh, kamu menang. Bawa sana menantu mama. Tapi harus cepat-cepat kasih mama kabar baik ya, Sayang," ujar Rianti yang nada suaranya otomatis berubah saat bertanya pada Isti.


"Aamiin. Doakan ya, Ma," sahut Isti dengan senyumannya yang manis.


"Selalu kalau itu," sahut Rianti.

__ADS_1


"Kak Ehan jangan terlalu capek. Biar cepet 'jadi'," celetuk Raydita.


"Diih bahasanya. Curiga jangan-jangan nih," balas Rayhan.


"Jangan-jangan apa?" tanya Raydita dengan nada tinggi. Raydita melirik pada Isti sembari berkata, "Tolong bilangin sama suaminya ya, Bu. Jangan suudzon!"


Mereka kompak terkekeh melihat ekspresi Raydita yang kesal.


"Percuma dong papa biayain kuliah Dita. Gini-gini Dita ini 'kan calon dokter, masa gitu aja nggak tahu? Tiap kali Dita nyerempet dikit aja, pikirannya pada jelek mulu. Heyy! Calon suami Dita itu cowok baik ya," ucap Raydita dengan ekspresi bangga.


"Iya, percaya. Kalau nggak baik, nggak mungkin papa kasih izin nikahin kamu," timpal Adisurya.


"Hehe. Iya juga ya," cengir Raydita.


"Huuu dasar, Lo. Kalau si Yuda denger yang barusan lo omongin, udah terbang tuh hidungnya," seloroh Rayhan.


"Kalau terbang, ya gue tangkap. Ya kali, laki gue nggak punya hidung," timpal Raydita seraya mendelik pada Rayhan.


"Ciee, belum nikah aja udah diakuin," goda Annisa sembari menyenggol siku Raydita dengan sikunya, dan membuat Raydita merona.


"Waah, bener-bener manjur nih pelet si Yuda," seloroh Rayhan.


"Suka asal deh," tegur Isti pelan.


"Canda, Sayang," cengir Rayhan.


"Emang enak? Makanya jangan suudzon," ejek Raydita sembari mencebikkan bibirnya.


Mereka pun meneruskan makan malam dengan suka cita. Kebahagiaan di ruangan itu sangat terasa. Kebersamaan itulah yang nantinya akan dirindukan para orang tua saat anak-anak mereka jauh dari rumah.


*

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2