Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
ketahuan


__ADS_3

Happy reading ....


*


Kilatan cahaya yang diselingi suara menggelegar tak dipungkiri membuat Rianti merasa gusar. Angin kencang walaupun tak disertai hujan membuat Rianti tidak bisa tenang, mengingat putranya dalam perjalanan pulang. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat Rianti menyiapkan makan malam kesukaan ketiga anaknya. Sambil memanjatkan doa, Rianti menata hidangan di meja.


Satu tahun sudah berlalu, dan selama itu juga Rayhan tidak kembali ke Indonesia. Sebagai ibu yang tahu betul watak putranya, Rianti tidak menduga Rayhan bisa serius juga dalam menjalani pendidikannya di London.


Rayhan memilih tinggal di asrama yang disediakan pihak sekolah. Meskipun keluarga mereka memiliki penthouse mewah di sana, hanya sesekali saja Rayhan mengunjunginya.


Rianti terperanjat mendengar suara guruh yang tiba-tiba saja menggelegar. Seketika lututnya terasa lemas, seiring perasaannya yang cemas.


"Ya Allah, semoga Engkau melindungi putraku dalam perjalanannya," batin Rianti lirih. Ia menarik kursi dan terduduk sejenak untuk menenangkan diri.


"Tenang, Bu. Kak Ehan sudah landing kok," ujar Annisa yang menghampiri Rianti sembari menyodorkan ponselnya.


Rupanya Annisa sedari tadi bertukar pesan dengan ayahnya untuk memastikan kedatangan Rayhan. Annisa tahu, ibunya sangat mengkhawatirkan sang kakak.


"Alhamdulillah," gumam Rianti sambil mengusap wajahnya. Annisa tersenyum tipis dan mencomot satu udang yang terdapat pada menu cah kangkung kesukaannya.


"Ish, jorok," decih Raydita sambil mendelik pada Annisa.


"Hehe," cengir Annisa sembari mengambil satu lagi dengan gerakan cepat dan menyuapkannya.


"Sama nasi biar kenyang, Nisa," ujar Rianti.


"Nanti aja, Bu," sahut Annisa sambil melangkah ke lemari pendingin dan mengambil buah.


"Kak Ehan sudah sampai, Ma?" tanya Raydita.


"Sudah," sahut Rianti sembari tersenyum tipis.


"Syukur deh," ujar Raydita. "Nis, cowok lo kapan balik?" tanya Raydita kemudian.


Hampir saja Annisa tersedak gigitan apel yang dikunyahnya. Ingin rasanya ia memelototi Raydita, namun urung dilakukannya saat menyadari tatapan Rianti yang menyelidik.


"Kamu punya pacar, siapa? Kok nggak bilang sama ibu?" Rianti menoleh pada Raydita dan Annisa silih berganti.


"Duuh, gimana ini? Ibu bakal marah nggak ya? Dita sih, mulutnya ember," racau Annisa dalam hatinya.


"Kak Agas, Ma," sahut Raydita santai.


"Hah?" Rianti melongo.


"Ghaisan? Ah yang benar?" tanya Rianti seakan tak percaya.


"Bener. Tanya aja sendiri," sahut Raydita dengan mimik wajah mengarah pada Annisa.


"Benar itu, Sayang?" tanya Rianti.

__ADS_1


"I-iya, Bu." Sahutnya pelan sambil menundukkan kepala.


"Biasa aja lagi. Udah kaya orang kepergok nyuri aja," celetuk Raydita.


Rianti mengulumkan senyum melihat gelagat Annisa. Putrinya itu pasti sangat takut jika ia menentangnya.


"Mama nggak marah kok, Nis. Lo lihat dong, jangan nunduk gitu. Lagian ya, lebih baik kalian terbuka, dari pada backstreet, terus kenapa-napa, gimana? Kalau mama tahu, kalau lo ada apa-apa ya Kak Agas yang tanggung jawab," ujar Raydita santai.


"Ish. Kamu kalau bicara suka sembarangan ah," protes Rianti sambil menyenggol lengan Raydita.


"Bukan gitu, Ma. Kalau mama lihat mata Nisa sembab , habis nangis, ya langsung hajar Kak Agas-nya. Hajar pertanyaan maksudnya ntar salah lagi Dita ngomong." Sahutnya.


Rianti tertawa pelan mendengarnya. Ia pun meminta Annisa untuk duduk dan menceritakan perihal hubungannya. Dengan wajah bersemu, Annisa pun menceritakan dengan sangat singkat.


"Oh, ternyata. Kyoto, i'm in love jadinya ya," goda Rianti.


"Mamanya Agas udah tahu, Sayang?" tanya Rianti kemudian.


"Belum, Bu," sahut Annisa pelan.


Rianti dapat melihat keraguan di wajah Annisa ketika ia menyinggung perihal Rika.


"Eh, Ma. Tanyain juga dong, udah ngapain aja gitu?" Raydita bersikap seolah-olah berbisik padahal suaranya terdengar Annisa.


"Nggak ngapa-ngapain kok," geleng Annisa capat.


"Kamu, Dit. Lagaknya bisik-bisik, tapi masih kedengeran. Jangan-jangan kamu juga pacar ya?" todong Rianti.


"Enggak. Dita belum mau pacar. Memangnya Nisa sama Kak Ehan," kilah Raydita cepat.


"Ehan juga? Oh My God, mama ketinggalan ternyata ya. Kalian ini, diam-diam di belakang mama-."


"Kita nggak ngapa-ngapain kok, Bu. Isti juga nggak aneh-aneh sama Kak Ehan," sanggah Annisa cepat.


"Isti?" Rianti tak bisa menutupi keterkejutannya.


Raydita dan Annisa saling menatap bingung. Kemudian Raydita beranjak dari kursi dan berlari ke ruang tv, "Kabuur! Bukan Dita yang ngasih tahu loh. Kalau Kak Ehan nanyain, mama tahu dari Nisa ya," seloroh Raydita sambil terkekeh pelan.


"Idiih kamu gitu. Dita! Sini," panggil Annisa, lalu tersenyum masam pada ibunya.


"Ogah!" sahut Raydita.


Terdengar suara klakson mobil di depan rumah. Raydita langsung terlonjak dari duduknya dan berlari riang ke ruangan depan.


"Bu, jangan bilang Kak Ehan," pinta Annisa dengan kedua tangan menangkup di dada.


"Tapi janji, mulai sekarang apapun itu kamu harus bilang sama ibu," ujar Rianti bernada tegas.


Annisa mengangguk cepat. Kemudian bergegas ke ruangan depan menyusul Raydita. Rianti yang tak kalah senangnya juga beranjak ke tempat yang sama.

__ADS_1


Hujan gerimis yang terbawa angin kencang menyambut kedatangan Rayhan di rumahnya. Wajah itu masih sama namun dengan jakun yang mulai terlihat jelas di bagian lehernya.


Rayhan memeluk Rianti sangat erat. Meski mereka selalu berbicara di telepon, tetap saja terasa berbeda saat berjumpa. Rianti sampai meneteskan air mata saat Rayhan mengusap pelan punggungnya.


"Miss you, Ma," ucap Rayhan pelan sembari mencium bagian samping kepala Rianti yang kemudian menganggukkan kepala.


"Hi, ladies! Kalian udah besar ya?"


"Besar apanya? Kan, kita emang udah besar," sahut Raydita sambil memeluk Rayhan sebentar.


"Besar apanya coba?" goda Rayhan sambil mengangkat sebelah alisnya. Kemudian ia pun memeluk Annisa.


"Idiih, Kak Ehan baru setahun di London, mulai piktor (pikiran kotor) deh," seloroh Raydita.


"Sok you know, ah." Rayhan terkekeh pelan.


"Besok dia nyampe." Bisiknya.


Annisa bersemu merah mendengar bisikan Rayhan yang tak lain membicarakan Ghaisan. Rayhan dan Ghaisan memanglah merencanakan kepulangan mereka bersamaan. Namun karena beda negara, Ghaisan dijadwalkan akan datang besok siang. Mereka akan menikmati liburan selama sepekan di Indonesia.


Suasana rumah Adisurya kembali ramai dengan kehadiran Rayhan. Canda tawa mereka seakan ingin menyaingi hujan yang semakin deras di luar sana.


Mereka menikmati kebersamaan sambil menikmati coklat dengan bentuknya yang unik oleh-oleh Rayhan. Annisa boleh lega, suasana hati ibunya sedang bahagia. Rianti tentu tidak akan membahas perihal dirinya dan Rayhan yang sudah punya pacar.


***


Langit siang ini nampak sangat cerah, namun begitu sinar matahari tidak terlalu terik. Mungkin karena saat ini masuk musim penghujan, cuacanya sangat mendukung bagi siapa saja yang ingin menikmati makan siang di luar.


Dari balik kemudi, Rika nampak sangat senang. Tapi bukan karena akan makan siang dengan seseorang, melainkan karena akan mendapat kejutan dari Ghaisan.


Sejak kemarin, ponsel Ghaisan tidak bisa dihubungi. Karena khawatir, ia pun menghubungi kepala pelayan yang dipercaya untuk mengurus segala keperluan Ghaisan di sana. Berbeda dengan Rayhan yang suka dengan dunia pertemanan, Ghaisan lebih suka menyendiri. Di New York, Ghaisan tinggal di rumah milik keluarganya.


Kepala pelayan itu memberi tahu bahwa Ghaisan kembali ke indonesia kemarin. Ia juga memberi tahu jam keberangkatan Ghaisan.


Rika merasa senang. Pikirnya, Ghaisan mungkin merencanakan kejutan untuknya. Rika senyum-senyum sendiri. Setelah ini, ia juga akan merencanakan suatu kejutan untuk Ghaisan.


Rika baru saja memasuki area bandara. Saat ia akan memarkirkan mobilnya, tanpa sengaja ia melihat pemandangan di luar dugaan.


"Ghaisan sama Annisa?" gumamnya.


Tidak jauh dari posisinya, Rika melihat Annisa berboncengan dengan Ghaisan dengan laju motor cukup pelan. Memang Ghaisan yang mengemudikannya, akan tetapi sepertinya motor matic itu milik Annisa.


Rika kembali memutar kemudinya. Ia mengikuti motor itu dari jalur yang berbeda, hingga mereka ke luar dari bandara.


Dada Rika seketika berdebar kencang melihat Ghaisan yang menarik tangan Annisa agar melingkar di pinggangnya. Bahkan sesekali Ghaisan menggenggam tangan itu dan menciumnya.


"Apa-apaan ini? Apa mereka pacaran?" geram Rika.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2