
Happy reading ....
*
Untuk sebagian orang, saat ini mungkin sudah larut dan mereka sudah terlelap di balik selimut. Tapi tidak bagi Rayhan.
Rayhan terlihat gelisah dan tentunya tidak bisa memejamkan mata. Isti menginap di rumahnya, tapi tak ada waktu untuk mengobrol berdua. Belum lagi ucapan mama mengenai LDR, serta kuliah. Mungkin karena baru kemarin ia menjalin hubungan dengan Isti, hingga tidak terpikir sampai ke sana.
London Business School, salah satu perguruan tinggi University of London itu menjadi incaran Rayhan selama ini. Sebagai putra Adisurya, Rayhan berkewajiban meneruskan perusahaan yang telah di rintis sang Ayah. Sebagai anak tertua, ia juga bertanggung jawab terhadap kedua adiknya. Tapi LDR ... sanggupkah?
Entah kenapa sejak Isti berstatus pacarnya, pikiran Rayhan melanglang buana. Membayangkan bersama Isti sampai tua, terkadang membuat Rayhan tertawa. Apa mungkin karena Isti cinta pertamanya?
Rayhan tak bisa diam saja di kamarnya saat Isti dekat dari jangkauannya. Ia pun beranjak dari tempat tidur dan mengendap keluar kamar, lalu menuruni tangga.
Sementara itu di kamar Annisa, ketiga gadis itu berkelakar. Annisa dan Raydita mencuri pandang pada Isti yang terlihat sangat cantik ketika jilbabnya ditanggalkan.
Tiba saatnya bercerita, diawali oleh Annisa yang menceritakan tentang pernyataan Ghaisan, sampai membuat dua orang yang berada di sisi kiri-kanannya menganga tak percaya. Ghaisan memang pernah menyatakannya di kantin sekolah, tapi saat itu mereka menganggap Ghaisan hanya iseng saja.
"Kapan itu, Nis?" tanya Isti.
"Waktu hari pertama ujian. Aku kan lagi nungguin Dita di depan. Eh, Kak Agas nongol. Terus bilang gitu," sahut Annisa tersipu.
"Kenapa ditolak? Kasian dong. Coba kalau dia bukan keponakan Tante Rida, udah gue sosor," kelakar Raydita.
"Haha cari yang lain, Dit. Percuma nyosor juga. Dia udah nyelonong duluan," ujar Isti menimpali kelakaran Raydita.
Raydita memajukan bibirnya sambil mendelik. Tapi tak lama kemudian mengulumkan senyuman.
"Tunggu dulu, emang kenapa kalau Kak Agas keponakannya Bu Rida?" tanya Isti heran, dan membuat Annisa juga Raydita bingung menjelaskan.
"Mmm itu karena ... sebenarnya, Tante Rida itu ibu kandungku," sahut Raydita pelan sambil menundukkan sangat dalam. Annisa yang berada ditengah, merengkuh pundak Raydita seakan ingin menguatkan saudarinya itu.
Isti menoleh pada Annisa yang memberinya anggukan kepala.
"Ooh, bilang dong. Pantas aja kamu mirip sama Bu Rida. Ternyata wajah kamu yang cantik ini diturunkan dari Bu Rida toh," ujar Isti sembari mengangkat dagu Raydita dengan ujung jari-jarinya. Raydita yang semula merasa kecil hati kini sedikit lega melihat senyum di wajah keduanya.
"Kita udah cerita nih, sekarang giliran kamu, Isti. Ayo, mau cerita apa?" todong Annisa.
"Aku? Hehe cerita apa ya? Kehidupanku ya gitu-gitu aja. Kalian bisa lihat sendiri, kan?" sahut Isti kikuk.
"Ya nggak apa-apa, cerita aja," ujar Annisa.
Isti merasa canggung menyadari tatapan keduanya terarah padanya. Ia ragu, apakah hubungannya dengan Rayhan sebaiknya diketahui Raydita dan Annisa atau tidak. Tapi Isti juga ingin berbagi perasaan dengan kedua sahabatnya itu. Apakah Raydita kini sahabatnya? Sepertinya Isti sudah menganggapnya begitu.
"Ada yang ingin aku katakan sama kalian. Tapi janji ya, ini hanya antara kita," pinta Isti pelan.
__ADS_1
Annisa dan Raydita saling menoleh. Heran sekaligus penasaran. Apakah Isti mempunyai suatu rahasia?
"Tentu. Apapun itu. Termasuk cerita gue. Tasya sama Mela juga nggak gue kasih tahu. Ya, walaupun mereka sahabat gue, tapi sedikit banyaknya gue juga tahu bagaimana mereka. So, don't worry. You can trust us," sahut Raydita mencoba untuk berbicara santai.
"Thanks," sahut Isti.
"Jangan dulu say thanks dong, cerita aja belum," protes Annisa.
"He-em, bener. Ayo cerita dulu, jangan curang! Kita berdua udah. Kita siap pasang telinga nih, ya kan Nis?" Annisa mengangguk cepat.
"Gini ... sebenarnya, aku sama Kak Ray itu ... pacaran."
"Hah!" pekik keduanya dengan mulut menganga.
Isti menggigit bibirnya sendiri sambil tersenyum masam. Annisa dan Raydita langsung merasa bingung dan salah tingkah.
"So-sorry, Isti. Kita nggak ada maksud apa-apa. Tapi, emang benar kalian pacaran?" tanya Raydita ingin meyakinkan.
Isti mengangguk pelan sambil bertanya, "Nggak cocok ya?"
"Cocok. Cocok banget malahan. Iya kan, Dit?" sahut Annisa cepat, dan langsung diangguki oleh Raydita. Keduanya nyengir dan tak tahu harus merespon apa.
"Sejak kapan kalian jadian?" Annisa memberanikan diri bertanya.
"Backstreet?" tanya Annisa lagi dan diangguki Isti.
"Seminggu? Berarti, barengan sama Kak Agas dong? Apa mereka janjian nembak cewek ya?" gumam Raydita.
"Nggak tahu juga. Tapi Kak Ray nembak aku malamnya. Kalau Kak Agas kan siang," papar Isti.
"Iya juga. Ciee, selamat ya. Hmm kamu berani juga ya diam-diam punya pacar. Pantesan Kak Ehan sore-sore mandi. Ternyata mau menyambut Julietnya datang," goda Annisa.
"Iya nih, kamu kenapa nggak bilang dari awal sih, Isti? Kalau aku tahu, Kak Agas nggak bakalan aku tolak," sindir Raydita.
Isti mengulumkan senyumnya melihat Annisa yang berkilah, "Nggak gitu juga, Dit."
"Tapi nyesel, kan? Padahal lo sama Kak Agas bisa backstreet juga loh," goda Raydita.
"Apaan sih, disamain segala? Enggak dong ah," sanggah Annisa.
"Ciee, mukanya merah. Malu ya? Sebenarnya kamu juga suka kan sama Kak Agas?" Isti ikut menggoda Annisa.
"Enggak. Ih apaan, kalian kok gitu? Yang jadian kan Isti, kok jadi aku yang dibully?" protes Annisa sambil terkekeh pelan.
Gelak tawa mereka terdengar bersahutan menghangatkan dinginnya malam.
__ADS_1
Berkebalikan dengan suasana di dalam kamar Annisa, di luar kamar itu sang kakak justru sedang menikmati dinginnya malam dalam kesendirian.
Gelak tawa samar terdengar, dan Rayhan berharap kedua adiknya cepat terlelap. Rayhan susah payah menahan kantuknya. Ia merasa senang saat tawa itu tak lagi terdengar dari dalam kamar.
"Apa mereka sudah tidur? Hmm kamu jangan dulu tidur dong, Sayang. Ngapain aku nungguin di sini kalau kamu nggak keluar," gumam Rayhan sembari mencoba menghubungi Isti.
Rayhan merasa yakin Isti belum tidur saat panggilannya ditolak. Ia pun mengirim pesan chat pada Isti.
'Aku ada di luar kamar Nisa. Keluar dong sebentar, please. Aku kangen ....'
Tak lama Isti membalas pesan Rayhan.
'Gimana kalau ada yang lihat, Kak? Ini udah malam.'
'Justru karena udah malam, semua pada tidur. Keluar ya, sebentaaar aja.'
Rayhan harap-harap cemas menunggu jawaban Isti sembari menatap lekat pada pintu kamar itu.. Cukup lama ia menunggu, dan berniat akan mengirimkan pesan lagi. Namun, kemudian urung melihat gagang pintu kamar Annisa bergerak.
Rayhan hampir saja bersorak, ketika melihat wajah Isti menyembul dari balik pintu. Lampu ruangan yang dimatikan sebagian nyatanya tak mampu menyembunyikan ekspresi wajah Isti yang bingung harus berbuat apa.
Rayhan mendekatinya, dan menarik tangan Isti pelan agar keluar dari kamar. Setelah menutup pintu, Rayhan terduduk di sandaran sofa sementara Isti berdiri di hadapannya.
Rayhan menatap lekat pada Isti yang asal mengenakan jilbabnya. Wajah cantik Isti untuk sesaat menghipnotis tatapan Rayhan.
Rayhan tersenyum tipis menyadari Isti yang salah tingkah menyadari tatapannya, juga genggaman tangannya. Perlahan, Rayhan mulai menarik tangan Isti dan tentunya membuat gadis itu tersentak hingga jilbabnya luruh ke pundak.
"Kak ...." Lirihnya.
"Kamu nggak kangen sama aku?" tanya Rayhan sangat pelan.
Belum sempat Isti menjawab, keduanya tersentak mendengar ada suara yang terkantuk ke pintu. Mereka langsung menoleh dan terkesiap melihat gagang pintu di putar seseorang.
Cepat-cepat Rayhan menarik Isti ke samping lemari. Perlahan, setelah terdengar suara pintu tertutup, Rayhan pun mengintip.
Rupanya Raydita yang sedang berjalan menuju tangga sambil memeluk bantalnya. Raydita terlihat sangat mengantuk. Mungkin, Raydita kurang merasa nyaman tidur berdempet-dempetan.
Cukup lama Rayhan memperhatikan Raydita. Ada rasa khawatir adiknya itu jatuh dari tangga.
Rayhan bernafas lega mendengar suara pintu yang dibuka Raydita. Ketika kembali menoleh pada Isti, Rayhan gelagapan melihat pacarnya itu terpaku sambil menggigit bibir bawahnya.
Tatapan Rayhan tertuju pada bibir Isti. Entah mengapa kegugupan Isti justru terlihat menggoda di matanya dan membuatnya menelan saliva.
Rayhan semakin mendekatkan tubuhnya. Mengikis jarak diantara Isti dengan dirinya. Sangat dekat, hingga bisa merasakan detak jantung Isti yang sangat cepat.
_bersambung_
__ADS_1