Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
keputusan terbaik


__ADS_3

Happy reading ....


*


"Nisa ...."


Ghaisan dapat melihat raut wajah Annisa yang nampak ragu untuk menjawab pertanyaannya. Ghaisan pun tersenyum tipis, sambil menggenggam tangan Annisa ia berkata, "Nggak apa-apa, Sayang. Kita akan menikah setelah kamu benar-benar siap."


"Terima kasih, Kak," sahut Annisa pelan. Annisa bukannya tak mau mengiyakan ajakan Ghaisan. Tentu saja ia mau. Tapi tidak untuk saat ini.


Annisa teringat akan cita-citanya yang ingin membanggakan mendiang sang ibu. Ia ingin menyelesaikan kuliahnya, dan berharap ilmu yang dimilikinya nanti dapat bermanfaat bagi orang banyak.


"Tahan dulu, Gas. Kuliah lo aja masih dua tahun lagi. Kalau kalian nikah sekarang, gue jamin, mama sama papa nggak akan ngizinin. Apalagi Nisa harus tinggal di Amerika. Hmm, percaya deh sama gue. Jadi, lebih baik ya nanti aja. Setelah Nisa lulus kuliah, kerja, nah baru nikah," jelas Rayhan.


"Kelamaan dong Ray," protes Ghaisan.


"Hehe. Sabar, Bro," kekehnya.


Karena mulai larut malam, Ghaisan dan Rayhan pun pamit pulang. Rayhan dan Isti hanya bisa saling menatap sebelum kembali berpisah. Mereka tidak ingin mengecewakan kepercayaan orang tua Isti yang nantinya akan membuat semuanya jadi sia-sia.


"Yang, boleh ya aku hubungin kamu?" pinta Rayhan.


"Iya, Kak," angguk Isti.


"Thank you," ujar Rayhan senang. Isti hanya mengangguk pelan.


"Udah sana pulang, Kak. Nanti ada yang laporin ke abinya Isti lho," ujar Annisa.


"Jangan sampai dong. Yuk, Gas!" ajak Rayhan.


"Daah, Sayang!" imbuh Rayhan sambil melambaikan tangannya, kemudian melakukan gerakan kiss bye berulang-ulang.


"Hati-hati, Kak." Isti tersipu melihat tingkah Rayhan.


Sementara itu, Ghaisan tanpa sungkan memeluk Annisa yang terlihat sangat malu pada Isti dan Rayhan yang membuang muka.


"I love you," bisik Ghaisan, kemudian melepaskan pelukannya dan mencium kening Annisa.


"Tidur yang nyenyak ya," imbuhnya lagi.


Annisa mengangguk dengan tatapan sendu, lalu menjawab, "Kakak juga."


Kesedihan itu masih tergambar dari sorot mata Ghaisan. Meski berusaha agar terlihat tegar, Annisa sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan sosok ibu dalam kehidupan seorang anak. Dengan berat hati, Rayhan dan Ghaisan pun meninggalkan kediaman Dahlan.


***


Rayhan tak bisa berlama-lama di Indonesia. Tahun terakhir masa perkuliahannya sangat padat dengan kegiatan di kampus. Begitu juga dengan Ghaisan. Beberapa hari lagi, ia pun harus kembali ke Amerika.


Hasil pertemuan dua keluarga yakni Adisurya dan Dahlan, menetapkan pernikahan antara Rayhan dan Istiqomah akan dilangsungkan satu bulan setelah kelulusan Rayhan. Meski memperbolehkan saling menghubungi, Dahlan meminta hubungan keduanya dijalani seperti semula. Tidak bertemu secara tatap muka tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada orang tua.


"Pa. Papa ngerasa nggak sih, kalau Pak Dahlan itu berlebihan? Rayhan juga 'kan ada London, sibuk dengan kuliahnya. Masa iya nanti kalau dia pulang, mau ketemu Isti aja harus izin? Kalau nggak diizinkan? Kasihan, 'kan?" protes Rianti sepulangnya dari rumah Dahlan.


"Mama ini bagaimana sih? Papa justru sangat setuju. Dengan begitu, Rayhan akan lebih fokus dan menahan diri untuk nggak pulang. Papa merasa sangat beruntung bisa besanan sama Pak Dahlan. Rayhan jadi lebih sopan, lebih care, dan lebih dewasa aja gitu. Coba mama bayangkan kalau yang dia pacari itu bukan Isti? Mmm papa yakin situasinya bisa berbanding terbalik dengan sekarang. Di luar sana, tipe-tipe Angel itu bertebaran Ma. Banyak banget," tutur Adisurya.


"Ish, Papa. Ngeri ah kalau ingat kasus mendiang Rika sama Angel. Iya juga ya. Oke, deh. Kalau Rayhan nggak boleh ketemu, mama aja yang ketemu sama calon mantu. Mama akan sering-sering ajak dia hangout. Sekalian sama Ikah, sama Annisa dan Dita juga. Biar kaya double date gitu ya, Pa?" seloroh Rianti.


Adisurya terkekeh pelan mendengar ucapan Rianti. Adisurya merasa senang, karena sikap Rianti semakin baik setelah kehadiran Annisa sebagai putri mereka. Sosok wanita arogan itu perlahan menjadi wanita anggun yang penyayang.


***


Siang ini, bersama Annisa, Ghaisan mengunjungi Rida sebelum nanti malam ia berangkat dengan penerbangan pukul sembilan. Keduanya bergandengan menuju ruang inap Rida di salah satu lantai kelas VVIP di rumah sakit itu.


"Assalamu'alaikum ...," sapa Annisa sambil membuka pintu ruangan itu.


"Wa'alaikumsalam," sahut Rida.


Annisa dan Ghaisan menyapa Dokter Edwin dan dua orang perawat yang berada di ruangan itu.


"Dita nggak ikut?" tanya Dokter Edwin.

__ADS_1


"Keluar dulu sama ibu, Dok," sahut Annisa.


"Kalau dia tahu mamanya sudah boleh pulang, pasti Dita senang," ujar Dokter Edwin.


"Bu Rida sudah boleh pulang?" Annisa terlihat sangat senang.


"Sudah. Tapi tetap harus dalam pengawasan perawat yang nantinya akan mendampingi di rumah," sahut Dokter.


"Ibu sudah bosan di sini, Nisa. Kalau diperbolehkan pulang, kenapa tidak?" Rida tersenyum lebar pada Dokter Edwin.


"Tante akan tinggal di rumah, 'kan?" tanya Ghaisan.


"Iya, Agas. Tante akan mengisi rumah itu. Kalau di apartemen pasti bosan. Di rumah 'kan enak, ada taman, bisa ngobrol sama mbak-mbak juga," sahut Rida.


"Benar itu, Bu," timpal Annisa.


"Nisa juga harus sering main ya. Biar Dita nggak bosan," pinta Rida.


"InsyaAllah," angguk Annisa.


Ghaisan merasa lega, karena Rida kembali menempati rumah mereka. Meski kedua orang tuanya sudah tiada, setidaknya masih ada Rida dan Raydita yang kini juga menjadi kerabatnya.


***


Menjelang sore, Raydita dan Raka menejmput Rida untuk pulang ke rumah Ghaisan. Di dalam mobil, mereka terlibat pembicaraan yang diselingi kekehan ringan.


"Mobilnya bagus ya. Terima kasih, Nak Raka," ujar Rida pada Raka yang sedang mengemudikan mobil Raydita.


Raka mengangguk kecil sambil mengulumkan senyum.


"Kak Raka kapan ke kota B lagi?" tanya Raydita.


"Nanti malam. Kenapa?" Raka balik bertanya.


"Dita antar ya?" tawarnya.


"Mau apa kamu ke sana?" tanya Raka.


"Boleh aja. Kalau dibolehin mamamu tentunya," sahut Raka.


Raydita menoleh pada Rida yang berada di kursi belakang. Belum juga Raydita bertanya, Rida sudah berucap, "Boleh, Sayang."


"Terima kasih," ucapnya senang.


Mereka kembali berkelakar. Sampai di rumah Ghaisan, keponakan Rida itu sedang tidak di rumah karena sedang mengunjungi makan kedua orang tuanya.


Tak berselang lama, Ghaisan sudah kembali.


"Jam berapa lo berangkat?" tanya Raka.


"Mungkin jam tujuh lebih?" sahut Ghaisan.


"Diantar siapa?" tanya Raka lagi.


"Taksi aja deh. Mau minta diantar Nisa nggak tega pulangnya sendirian," sahut Ghaisan.


"Dit, gimana kalau kita pergi ke kota B-nya setelah mengantar Ghaisan?" tanya Raka.


"Boleh," sahut Raydita.


"Ngapain lo ke sana?" tanya Ghaisan pada Raydita.


"Hehe. Mau tahu aja," sahut Raydita enteng.


Ghaisan menyeringai, Begitu juga dengan Raka.


Di rumah itu, Rida menempati salah satu kamar di lantai bawah. Kesehariannya yang diharuskan menggunakan kursi roda membuat Rida tidak mungkin menempati kamarnya semula. Akhirnya, kamar itu pun ditempati Raydita.


"Suster, kamarnya yang di samping kamar mama ya," ujar Raydita pada perawat yang ikut bersama mereka.

__ADS_1


"Iya, Non," sahutnya.


***


Pukul tujuh malam, Raka mengarahkan mobil Raydita yang dikemudikannya menuju bandara. Setelah memastikan Ghaisan check in, Raydita mengambil alih kemudi untuk melanjutkan perjalanan ke kota B.


"Nisa mau ngambil jurusan apa, Dit?" tanya Raka.


"Guru kalau nggak salah," sahut Raydita.


"Di Universitas Indonesia?"


"He-em."


"Kalau kamu?" tanya Raka lagi.


"Aku di Universitas B aja, Kak."


"Kenapa nggak satu kampus sama Nisa?"


"Aku maunya di sana, Kak."


"Universitas B? Berarti satu kampus sama Yuda. Dia mau ngambil teknik."


"Oh, ya?"


"Iya. Si Isti jadi ngambil jurusan tata boga?"


"Jadi."


"Enak dong si Ray tiap hari dimasakain kalau mereka udah nikah nanti," seloroh Raka.


"Kak Raka juga cari calon dong. Jangan main-main doang. Cari yang seperti Isti, atau Nisa. Mereka itu calon istri idaman banget ."


Raka menatap sekilas pada Raydita. "Idaman itu relatif, Dita. Setiap orang punya kriteria masing-masing," ujarnya.


Raydita hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Masih kuat nggak? Kalau pegal, sini gantian."


"Kuat dong. Satu jam juga belum," sahut Raydita.


"Dinner dulu, yuk! Keluar dari jalan tol ini ada resto yang katanya enak," ajak Raka.


"Oke."


Setelah sepuluh menit, mereka tiba di resto yang di maksud. Raka dan Raydita berjalan memasuki resto sambil beriringan. Mereka disambut pegawai resto yang kemudian menempatkan di meja nomor 27. Setelah mempersilakan untuk memilih menu, pegawai itu pun berlalu.


"Hei, anak baru. Nanti ke meja nomor 27 ya," ujar pegawai itu.


"Iya, Mas."


Lima menit kemudian, pegawai baru resto itu menghampiri meja nomor 27.


"Permisi, sudah ada yang mau dipesan?" tanyanya pada dua orang yang sedang tertunduk memilih menu.


"Makan apa, Dita?" tanya Raka.


"Apa aja deh yang recommended," sahut Raydita.


"Rasanya aku pernah lihat cowok ini. Di mana ya?" batin pegawai itu.


"Mbak, saya pesan paket satu. Ada tambahan lagi nggak, Dit?"


Raydita menggeleng sambil berbalas pesan dengan seseorang. Sementara itu Raka memperhatikan wajah pegawai yang sedang menuliskan pesanannya. Raka merasa tak asing dengan wajah pegawai itu. Setelah menyebutkan kembali pesanan Raka, pegawai itu hendak berlalu.


"Tunggu sebentar," cegah Raka.


Raydita menatap heran pada Raka.

__ADS_1


"Kamu ... Yuli, 'kan?" tanya Raka.


_bersambung_


__ADS_2