Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
pencarian


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Raka beringsut menjauhi yang lain. Ia berlalu ke bagian samping vila itu untuk menelepon papanya.


Sementara itu, Rida yang terduduk di sofa mencoba mengingat mobil yang terasa tak asing baginya.


Apa itu mobil Sandy? gumamnya dalam hati.


Rida terperanjak mengingat kebersamaan Sandy dan Raydita. Ia pun bergegas ke luar vila untuk menelepon Sandy.


Sandy, kumohon jangan lakukan apapun pada Dita, batin Rida harap-harap cemas.


Annisa, Mela dan Tasya berkumpul di bagian lain vila itu. Mereka nampak sangat menghawatirkan Raydita.


"Kira-kira siapa ya yang menculik Dita?" tanya Tasya pelan.


"Gue nggak kepikiran siapapun juga," sahut Mela.


"Semoga tidak terjadi apa-apa sama Dita," imbuh Annisa pelan.


Mela dan Tasya menoleh pada Annisa. Tak terlihat sedikitpun kebencian apalagi rasa puas dari raut wajah Annisa atas apa yang terjadi pada Raydita. Mereka menundukkan kepala, ada rasa malu dalam hati saat mengingat sikap mereka selama ini.


Sementara itu ...


"Kok nggak diangkat sih? Apa mungkin papa sengaja?" gumam Raka. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Sandy, namun diabaikan.


Raka dalam dilema. Jika ia mengatakan kebenaran tentang mobil itu, bisa dipastikan papanya akan berurusan dengan hukum. Seburuk apapun hubungan mereka selama ini, tetap saja Sandy itu papanya. Namun jika tidak, Raydita bisa saja dalam bahaya.


Aku harus bagaimana? batin Raka.


Tidak. Papa sudah melakukan hal yang salah. Cepat atau lambat akan tertangkap juga. Jadi sebaiknya aku jujur pada mereka. Tapi kira-kira kemana papa membawa Dita? Raka benar-benar bingung, karena keluarganya tidak punya vila di daerah ini.


Raka melangkah hendak kembali ke dalam vila. Namun langkahnya terhenti saat mendengar seseorang menyebut nama papanya.


"Sandy. Kamu lagi sama Dita, kan?"


"...."


"Please, jangan menyakitinya, San."


"...."


"Bukan. Bukan karena dia putri Kak Adi, tapi karena ...."


"...."


"San, Sandy. Tunggu dulu, jangan ditutup. Sandy." Suara Rida terdengar melemah. Ia kecewa karena Sandy sudah mengakhiri panggilannya.


"Itu karena dia anak kamu, San. Anak kita ...," lirih Rida lemas. Ia membiarkan tubuhnya yang bersandar di dinding luruh ke lantai.


Raka tertegun mendengar semuanya. Ia sangat shock. Wajahnya menegang dengan lutut yang tiba-tiba gemetar. Raydita anak papa?

__ADS_1


***


Prang!


Raydita terperanjak. Betapa tidak, Sandy yang terlihat sangat marah itu melempar kursi yang tadi didudukinya ke kaca jendela.


"Heh, lagi-lagi karena Adisurya. Bahkan wanita yang kucintai memohon untuk tidak menyakiti putri orang yang paling aku benci. Kau dengar itu!" geramnya.


Raydita yang sedari tadi terisak terlihat sangat lemah. Air matanya berderai menahan rasa sakit pada rahangnya yang dicengkram.


Raydita sempat berteriak, namun Sandy malah tergelak. Menurut pria itu, saat ini mereka berada di sebuah vila terpencil di dekat kaki gunung.


Raydita juga sempat melontarkan umpatan, dan tamparan di pipi yang ia dapatkan.


"Om, Dita mau pipis." Rengeknya.


"Ya disitu aja," sahut Sandy santai.


"Tapi, Om-," iba Raydita.


"Dengar ya, Om tidak akan kasihan sama kamu. Dan jangan mencoba untuk kabur. Karena kamu tidak akan menemukan orang lain selain dua penjaga itu. Menyenangkan rasanya, membayangkan semua orang sibuk mencari kamu. Aneh, kenapa Rida juga ikut-ikutan?" ujar Sandy sambil berlalu begitu saja.


Raydita bisa mendengar, perintah Sandy pada dua pria yang sedari tadi berjaga di luar ruangan. Kini ia hanya bisa menangis lirih, sambil merindukan kedua orang tuanya.


"Pa ... Ma ... tolongin Dita. Kak Ehan ... hiks." Raydita menangis tersedu-sedu. Tangan dan kakinya sudah sangat pegal, namun ia hanya bisa pasrah. Rasa perih menjalar di luka yang terkena air mata.


Di vila ...


Dengan cara itu, mereka bisa mengetahui tipe, warna, tahun pembuatan, masa berlaku pajak kendaraan, sampai nama pemiliknya.


"Siapa pemiliknya, Bang?" tanya Rayhan.


"Sandy Widodo," sahut Juna datar.


"Sandy Widodo? Kayanya gue pernah dengar nama itu?" gumam Rayhan.


"Itu kan, kepanjangan nama ...." Ghaisan menoleh pada Raka yang sedari tadi membisu.


Raka sangat shock mendengar kenyataan tentang Raydita, hingga tak mampu mengatakan perihal mobil itu pada mereka.


Rayhan yang juga mengingat nama panjang Raka langsung berdiri dan menghampiri sahabatnya itu.


"Pantesan Lo dari tadi diam aja. Ternyata Lo pengkhianat!" pekik Rayhan. Ia menarik bagian kerah baju Raka dengan penuh amarah.


"Ray, gue beneran nggak-."


Bugh. Rayhan melayangkan kepalan tinjunya di pipi Raka hingga sahabatnya itu terhuyung. Yopi langsung menahan tubuh Rayhan yang hendak memukul Raka lagi. Bahkan Ghaisan ikut menahan karena Rayhan terus saja meronta.


Yuda membantu Raka agar tidak tersungkur. Ia masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Brengs*k lo, Ka! Apa maksud lo dan bokap lo nyulik Dita, hah? Lo pasti sekongkol sama dia, kan? Makanya Lo minta kita ikut ngetrail tadi pagi. Sialan, Lo! Anj*ng, Lo!" pekik Rayhan dengan umpatannya.


"Jadi, Sandy itu ayah Raka?" tanya Juna ingin memastikan, dan dijawab anggukan oleh Ghaisan.

__ADS_1


"Om Sandy?" gumam Annisa.


"Kalian juga kenal?" Juna bertanya pada tiga remaja perempuan yang ada di sana.


"Tahu, Bang. Kenal sih enggak," sahut Mela.


Juna segera menghubungi Heru. Sedangkan Rida sangat terkejut mengetahui sahabat keponakannya ternyata putra Sandy, yang artinya kakak Raydita.


Satu jam berlalu, dan selama itu juga Raka mendapat tekanan dari teman-temannya. Mereka tidak mempercayai ucapannya yang mengatakan dirinya tak tahu apa-apa. Bahkan Rayhan memaksa meminta nomer Fany, ibunda Raka.


Suasana di luar vila sangat ramai. Tidak hanya Heru dan beberapa orang kepercayaannya. Teman-teman Juna yang mayoritas asli orang di daerah itu juga berkumpul di sana.


Mereka sedang memperkirakan kemungkinan tempat yang dijadikan persembunyian. Namun, mengingat bisa saja Raydita di bawa ke luar daerah itu, Heru juga meminta bantuan kepolisian untuk memastikan mobil Sandy tidak jauh dari jangkauan mereka.


Mereka mulai berpencar dengan tugas masing-masing. Raka yang tidak diajak, merasa sangat terpukul karena kedua sahabatnya tidak mempercayai dirinya. Ia pun memohon pada sang mama agar mendesak papanya. Rida juga terus menghubungi Sandy namun harus kecewa karena panggilannya diabaikan.


***


Hingga sore hari, belum ada yang menemukan Raydita. Rasa lapar yang mendera membuat Raydita terlihat lemas dengan wajah yang memucat. Ia bahkan harus menahan haus karena para penjaga itu benar-benar mengabaikannya.


Dua penjaga itu masuk, seorang diantara mereka membawa nasi bungkus dengan sebotol air mineral. Mereka menyeringai melihat raut wajah Raydita yang menatap lapar pada makanan itu. Pria yang membawa nasi itu pun menempatkan kursi di depan Raydita.


"Buka mulutmu dan makanlah. Kau harus hidup agar Tuan Sandy bisa lebih lama menyiksamu. Kasian, kau gadis yang malang." Ujarnya sambil memaksa menyuapkan nasi dan lauknya.


Raydita sebenarnya merasa jijik. Namun rasa lapar membuatnya mau tak mau menelan makanan itu.


"Om, tolong bantu aku keluar dari sini. Kalian tahu kan, papaku orang kaya. Dia akan memberi kalian banyak uang. Sangat banyak. Bahkan lebih banyak dari yang Om Sandy berikan. Berapapun yang kalian minta. Please," ujar Raydita dengan wajah mengiba.


"Gimana ya?" Pria di depan Raydita menoleh pada temannnya yang sedang mengamati kaca jendela yang pecah.


"Mau nggak, Bro?" tanya pria itu pada temannya.


"Boleh. Dengan satu syarat," ujar teman pria tadi sambil menghampiri Raydita.


"Syarat apa, Om? Aku akan penuhi," sahut Raydita sambil mengunyah cepat, lalu membuka mulutnya lagi untuk menerima suapan. Ia terlihat sangat lahap.


"Malam ini, kamu harus melayani kami. Mau? Lumayan, dapat perawan." Seringainya.


Raydita sontak menyemburkan makanan yang ia kunyah ke wajah pria yang berbicara.


Plak. Satu tamparan diterima Raydita tepat dibagian pipinya yang terluka.


"Tinggalkan dia. Biar saja dia kelaparan. Gadis bodoh!" Umpatnya kesal.


Raydita terisak. Lagi, dan lagi. Ia merasakan air matanya hampir habis karena seharian ini terus menangis.


Terngiang ucapan mamanya yang melarangnya dekat dengan Sandy. Kini, menyesal pun percuma.


Menyadari suasana yang mulai gelap dengan angin dingin yang leluasa masuk karena kaca jendela yang pecah, tangis Raydita pun pecah.


"Pa, Dita takut. Mama ... maafin Dita." Lirihnya di sela tangisan.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2