
Happy reading ....
*
Perjalanan dari apartemen menuju rumah sakit terdekat terasa sangat lama dengan kondisi jalan yang cukup macet siang ini. Mungkin karena ini waktu selesai istirahat makan siang, hingga lalu lalang orang-orang terlihat di sepanjang jalan.
Di dalam mobil yang dikemudikan Mang Asep, Raydita tak hentinya terisak di bahu Annisa. Ia yang semula sangat antusias sontak lemas saat mendengar penuturan pelayan di apartemennya.
Saat pelayan itu kembali dari supermarket, ia dikejutkan dengan kondisi Rida yang suah tidak sadarkan diri. Tanpa pikir panjang, pelayan itu menelepon Rika yang memang sedang berada di klinik.
Tak lama Rika datang bersama ambulance dan beberapa perawat. Menurut penuturan Rika yang langsung dihubungi Raydita saat mengetahui hal itu, kini Rida menjalani perawatan di ruang ICU di rumah sakit yang letaknya cukup dekat dengan kawasan apartemen.
Setibanya di halaman parkir rumah sakit, Raydita langsung membuka pintu dan bergegas turun. Raydita berlari menuju ke dalam rumah sakit dan langsung menanyakan keberadaan Rida pada perawat yang ditemuinya. Annisa yang juga berlari menyusul sambil berbicara dengan Rianti di telpon bertanya dengan isyarat wajah pada Raydita.
Perawat yang cukup familiar dengan wajah Raydita karena sering menemani Rida ke rumah sakit itu langsung menanyakan pada rekannya di bagian pendaftaran. Setelah mendapatkan keterangan di mana ruangan ICU yang ditempati Rida, Raydita dan Annisa pun bergegas menuju ke sana.
Tiba di depan ruang ICU, Raydita menerobos masuk ke dalam tanpa menghiraukan Annisa yang mencoba menahannya karena di dalam sedang ada beberapa dokter. Melihat Rida yang terbaring dengan ventilator hampir menutupi seluruh bagian wajahnya membuat hati Raydita terhempas begitu saja. Setengah berlari Raydita menghampiri Rida dan langsung memeluknya.
"Ma, ma ... mama bangun, ma." Raungnya.
Raydita tidak perduli pada tatapan heran dokter-dokter yang sedang menangani Rida, kecuali Dokter Edwin tentunya. Dokter yang berada di dekat Raydita itu mengusap punggungnya seakan ingin menenangkan.
"Dita. Sayang, biarkan kami menyelesaikan tugas kami ya. Mamamu harus segera mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut," bujuk Dokter Edwin.
__ADS_1
Raydita menoleh pada Edwin dan langsung memgangi lengan dokter itu sambil meminta dengan wajah mengiba, "Om Dokter, sembuhkan mama."
"Kami akan berusaha yang terbaik. Kamu tenang ya, tunggu di luar dulu. Doakan mamamu," sahut Edwin lembut.
Seorang perawat menghampiri dan mengusap lembut punggung Raydita, lalu menggandeng tangannya. Raydita menoleh pada Rida sambil menahan isakannya. Dengan berat hati, Raydita keluar dari ruangan itu.
Annisa yang sedari tadi menunggu di depan pintu langsung dipeluk Raydita. Raydita menangis sejadi-jadinya sambil membenamkan wajahnya pada tengkuk leher Annisa. Tangisannya terdengar memilukan hingga membuat siapa saja yang mendengarnya terenyuh bahkan Annisa yang sedari tadi mencoba menahan air matanya, ikut menangis sambil mengusap surai Raydita,
Derap langkah yang terdengar mengalihkan perhatian mereka. Raydita dan Annisa menoleh sambil mengusap wajah mereka yang sembab. Rika berjalan tergesa-gesa dengan dua dokter lainnya.
"Tante," lirih Raydita saat Rika melewatinya.
Rika hanya memberi isyarat dengan tangannya agar Raydita menunggu. Pintu ruangan itu tertutup rapat dan hanya pergerakan para dokter yang terlihat dari kaca pintu.
"Sudah ada kabar dari dalam?" tanya Adisurya.
"Belum," sahut Annisa pelan.
"Sabar, Sayang. Kita doakan yang terbaik ya," ujar Rianti lirih sambil mengusap air matanya.
Cukup lama mereka menunggu di luar ruangan. Beberapa dokter dan perawat terlihat keluar masuk ruangan itu. Mereka menyapa Adisurya dengan gerakan tangan saja. Saat seorang dokter paruh baya yang merupakan dokter kepala keluar, ia menyapa Adisurya. Setelah saling sapa, Adisurya menanyakan kondisi Rida.
"Harus segera diambil tindakan untuk penggumpalan darah di kepala pasien. Namun mengingat pasien dalam kondisi khusus, operasi ini harus ditindak langsung oleh Dokter James, dokter ahli yang selama ini menjadi rujukan Dokter Edwin dalam menangani pasien."
__ADS_1
"Kapan itu, Dok?" tanya Adisurya.
"Dokter James sedang tidak di Indonesia, Pak Adi. Kami sudah menghubunginya dan kemungkinan baru akan kembali tiga sampai empat hari lagi, karena beliau sedang cuti dan berlibur di Maldives," tutur dokter itu.
Adisurya tentu mengerti. Hal itu mengingat belum adanya penerbangan langsung dari Indonesia ke Maladewa dan sebaliknya.
"Apa beliau bersedia kembali?" tanya Adisurya.
"Tentu saja. Hanya saja jadwal penerbangan menjadi kendalanya," sahut dokter.
"Bagaimana dengan kondisi Rida jika harus menunggu sampai dokter itu kembali?" tanya Adisurya yang menoleh pada Raydita yang menghampiri dan memeluknya dari samping.
"Kami akan usahakan yang terbaik," sahut Dokter itu ragu.
"Saya akan kirim pesawat pribadi untuk menjemput dokter itu. Malam nanti baru bisa take off. Karena pilot dan kru harus mempersiapkan segala sesuatunya," ujar Adisurya memberi solusi, bertepatan dengan Rika yang membuka pintu ruang ICU.
Rika tertegun sesaat. Ia menatap haru pada dokter kepala yang terlihat senang dengan penuturan Adisurya. Dokter itu pamit ke ruangannya untuk memberi kabar pada James. Sedangkan Adisurya, langsung menelepon kepala kru pesawat pribadinya.
"Sabar ya, Rik. Semoga ada kabar baik sebentar lagi," ujar Rianti sambil mengusap lengan atas Rika.
"Terima kasih, Rianti. Aku sangat berterima kasih pada kalian," ujar Rika yang menyambut pelukan Rianti sambil terisak. Rianti mengangguk kecil sambil mengusap pelan punggung Rika.
_bersambung_
__ADS_1