Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
panggil 'Mama'


__ADS_3

Happy reading ....


*


Pemakaman yang diadakan sore hari itu berjalan lancar. Meski tak hadiri banyak pelayat, pekaman Rida pastinya dihadiri para kerabat dan sahabat dekat. Bahkan, Fany pun ada di sana.


Sepeninggal para pelayat, Raydita masih bersimpuh di sisi makam ibunya. Kebersamaan mereka terlalu singkat, hingga masih menyisakan rasa rindu yang teramat sangat.


Rianti setia menemani di sisi kiri, sedangkan Annisa di sisi kanannya. Isakan lirih masih terdengar meski Raydita berusaha untuk tegar. Dari sisi yang lain, Raka dan Yuda menatap sendu pada Raydita dengan wajah sembab mereka.


Fany mendekati Annisa. Mengerti arti dari sikap ibunda Raka itu, Annisa berdiri dan mundur dari tempatnya sambil mempersilakan Fani mendekat pada Raydita. Fanny berjongkok, lalu mengusap lengan Raydita.


"Mama tahu ini tidak mudah bagimu, Dita. Tapi kamu juga harus tahu, ada kami yang akan menemanimu melewati semua ini. Selain Mama Rianti, kamu juga punya Mama Fany, hmm?" ujar Fanny lembut.


Raydita menoleh dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Ia merasa haru saat mendapati Fanny menagngguk dan meminta Raydita memeluknya.


"Terima kasih, Ma," lirih Raydita.


Fany mengangguk pelan, lalu mencium pucuk kepala Raydita. Melihat hal itu, Raka kembali meneteskan air matanya. Raka merasa beruntung memiliki ibu sebaik itu.


"Dita, kita pulang yuk, Sayang," ajak Adisurya.


"Iya, Sayang. Ini sudah mau magrib. Yuk!" timpai Rianti.


"Dita mau pulang ke rumah Kak Agas, Ma," ujar Raydita pelan.


"Iya, Sayang. Ayo, Jeng Fany ikut dengan kami," ajak Rianti. Fany mengangguk pelan dan membantu Raydita untuk berdiri.


Sesaat, Raydita menatap nanar pusara ibunya. Bukan ia tidak tahu, selama ini Rida menahan sakit yang luar biasa. Selain efek dari kemoterapi, juga karena penyakitnya sudah merusak banyak organ vital dalam tubuh Rida.


"Tuhan pasti lebih sayang Mama. Sekarang, Mama sudah tidak merasa sakit lagi. Dita sayang Mama ...," lirihnya dalam hati.


Di sisi lain, "Ma, terima kasih sudah memberi Raka seorang adik. Terima kasih, atas kepercayaan yang Mama berikan pada Raka. Raka berjanji akan menjaga Dita," batin Raka. Mereka pun berlalu meninggalkan pemakaman itu.


Keesokan harinya, Ghaisan pulang dari New York. Bersama Raydita, ia mengunjungi makam Rida. Tak lupa Ghaisan juga mengunjungi makam ayah dan ibunya.


***


Beberapa bulan kemudian ....


Dari balkon kamarnya, Rianti menatap ke bawah dengan senyuman tipis terukir di wajah cantiknya. Gelak tawa yang terdengar dari teras depan rumah menjadi pertanda bahwasanya kebahagiaan itu sudah kembali pada keluarganya.


"Hei, Mama ... kenapa senyum-senyum sendiri?" bisik Adisurya yang memeluk Rianti dari belakang.


"Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi kita-orang tua, selain melihat anak-anaknya bahagia," sahut Rianti pelan sembari bersandar pada dada Adisurya.

__ADS_1


"Mama benar. Dan yang lebih membuat kita bahagia sekaligus bangga adalah anak-anak kita yang tumbuh dengan pribadi yang mengagumkan. Bahkan kita sepertinya harus belajar pada mereka."


"Mas Adi benar. Kalau ingat masa lalu, rasanya Mama sangat malu. Dulu kita sangat jauh dari sikap seperti itu," aku Rianti.


Adisurya merasa haru mendengarnya. Padahal, jika Rianti mau, bisa saja istrinya itu menyudutkan dirinya. Semua berawal darinya. Seorang Adisurya yang ceroboh, dan mengambil keputusan tanpa pemikiran yang matang.


"Bagaimana peresmian hari ini?" tanya Adisurya.


"Setelah Dzuhur, Mas."


"Annisa sudah tahu?"


"Belum dong. Kalau sudah tahu, bukan kejutan namanya," sahut Rianti dengan raut wajahnya yang senang.


"Kalau soal kejutan, Mama jagonya deh. Siapa aja yang mau ikut?"


"Kita ajak aja anak-anak itu semua," sahut Rianti antusias.


"Kalau mereka nanya, mau kemana? Jawab apa?"


"Ada deeh, gitu. Hehehe." Rianti terkekeh, membuat Adisurya yang merasa gemas mencium pipinya.


Sedangkan di bagian bawah rumah itu ....


Raka dan Yuda bermain basket di lapangan mini di depan teras. Sedangkan para gadis duduk di kursi yang ada di teras sambil menikmati makanan ringan buatan Bi Susi dan kawan-kawan.


Yuli menyenggol lengan Annisa. Gerak bola matanya menunjuk pada Isti yang sedang melamun sambil menatap Raka dan Yuda. Annisa hanya mengulumkan senyuman. Isti pasti sedang membayangkan jika saja Rayhan ada, pastilah ikut bermain bersama mereka.


"Ehhem, lagi pada ngapain?" tanya Adisurya dari ambang pintu.


Isti sontak menoleh, begitu juga yang lain. Bahkan Yuda dan Raka menghentikan permainan mereka.


"Eh, ada calon mantu," ujar Adisurya menggoda Isti.


"Eh, ada calon mertua," timpal Yuda.


"Yee, nyamber aja lo," cibir Raka.


"'Kan emang bener?" Yuda tak mau kalah.


"Iya, benar. Calon mantu," sahut Adisurya.


"Ah, Papa. Jadi malu," ujar Yuda sambil tersipu.


"Ah, Lo. Sok pemalu," cibir Raka.

__ADS_1


"Malu-maluin sih iya," timpal Raydita.


"Yee, bukannya dibelain, malah di jorokkin, Yang," protes Yuda.


"Lah emang iya," delik Raydita sembari mengulumkan senyum.


Yuda menghampiri Raydita dan berdiri dibelakangnya, lalu mencubit gemas kedua pipi Raydita.


"Ish. Sakit tau," geram Raydita dengan kedua mata yang membulat. Wajah Raydita seketika merona saat menyadari yang lain mengulumkan senyum karena sikapnya.


"Anak-anak! Ada yang mau ikut Mama?" tanya Rianti sambil berjalan menuju teras.


"Kemana, Ma?" tanya Raydita.


"Ada deeh," sahut Rianti sembari melirik pada Adisurya.


"Idih, Mama. Jadi penasaran deh," ujar Yuda.


"Kok Lo manggil 'Mama'?" tanya Raydita heran.


"Tadi kata mamamu, 'Ada yang mau ikut Mama?' berarti boleh dong aku juga manggil 'Mama'?" kilah Yuda.


"Huss. Ini Tom and Jery, dasar ya. Pacaran nggak ada mesra-mesranya," gerutu Rianti.


"Yuda boleh manggil mama ini 'Mama', Dita. Mama ini satu untuk semua deh. Raka sama Yuli juga boleh manggil 'Mama', kalau Isti 'kan udah pasti. Panggil Yuda itu 'Sayang', 'Honey', atau apa gitu. Masih aja lo-gue," imbuh Rianti menggerutu.


"Itu kamuflase, Ma. Kalau lagi berdua, sayang-sayanagn kok," bela Yuda.


"Sayang pala lo peyang," delik Raydita.


"Mama mau ngajak kita kemana sih?" tanya Raydita lagi.


"Iya. Kemana sih, Tante?" tanya Raka.


"Ke suatu tempat. Di sana, kalian akan diminta bantu-bantu sedikit lah ya. Mau nggak?" tanya Rianti.


"Mau dong, Bu. Gimana?" tanya Annisa pada yang lainnya.


"Oke," sahut mereka bersamaan.


"Kapan, Ma?" tanya Raydita.


"Satu jam lagi, gimana?" ujar Rianti balik bertanya. Anak-anak itupun mengangguk dengan raut wajah senang. Meski tidak tahu akan kemana, jika bersama pastinya akan menyenangkan.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2