
Happy reading ....
Jejeran mobil mewah terlihat satu persatu berhenti di depan lobi sebuah hotel bintang lima yang sangat ternama di Bali. Mereka adalah para pebisnis yang akan menghadiri acara di ballroom hotel tersebut.
Sebagian besar dari mereka datang berpasangan. Namun tak sedikit yang datang bersama asisten atau sekretaris pribadi seperti halnya Adisurya.
Ayah Rayhan itu datang bersama Heru, Asistennya. Mereka melangkah ke dalam hotel dengan seseorang yang mengarahkan.
Menyusul dibelakang, seorang pengusaha batubara terkenal yang datang bersama seorang wanita cantik berkulit putih bersih dan nampak sangat elegan. Wanita itu tak lain adalah Rida.
Tak lama, Sandy juga hadir di sana. Pria itu datang bersama sekretaris pribadinya yang berpenampilan sangat anggun dan cantik tentunya.
Di awal acara, ruangan yang terlihat sangat mewah itu terasa sangat formal. Sebagai salah satu pengusaha yang terbilang sukses di usia yang masih muda, Adisurya diminta menyampaikan beberapa patah kata.
Sandy menatap jengah pada pria yang yang pernah jadi sahabatnya itu. Pria yang sama yang berhasil mendapatkan cinta pertamanya.
Sebisa mungkin ia mengalihkan perhatian dengan memperhatikan ke sekitar. Gerakan matanya terhenti pada sosok wanita yang belakangan ini ia cari.
"Rida?" Batinnya.
Di saat yang bersamaan, Rida juga menoleh padanya. Wanita itu sepertinya tidak menikmati acara tersebut. Bisa dipastikan, ia datang sekedar menemani pria tua yang kaya itu.
"Heh, ternyata dia sekarang jadi mainan Tuan Raksa. Dasar bodoh! Apa yang dia harapkan dari pria yang sudah bau tanah itu. Harta? Ah, kenapa dia masih terlihat menggemaskan seperti dulu," gumam Sandy dalam hatinya.
"Itu kan Sandy. Sial! Kenapa aku harus bertemu dia di sini? Ada Kak Adi juga di sini. Ah sial, sial! Hmm, aku pura-pura tidak kenal saja. Sudah lama juga tidak bertemu dengan mereka. Tapi, kalau dibandingkan dengan tua bangka ini, pasti Sandy lebih gagah. Kak Adi masih kenal aku tidak ya?" batin Rida.
"Kau lihat siapa? Ada yang kau kenal di sini?" tanya Tuan Raksa datar dengan ekspresi tidak suka.
"Tidak juga. Diantara mereka, aku hanya mengenal Adisurya," sahut Rida.
"Kau mengenalnya?"
"Iya. Dia dan kakakku berteman sejak lama. Jadi aku mengenalnya, meskipun tidak terlalu kenal juga."
"Jangan menebar pesona pada mereka. Ingatlah kau di sini untuk menemaniku." Ujarnya pelan namun penuh penegasan.
"Baiklah. Aku juga harus ingat, aku mau menemanimu hanya karena berlian ini," sahut Rida yang dengan bangganya memperlihatkan kalung bertabur berlian yang kini dikenakannya.
Rida memanglah seorang 'petualang'. Gaya hidupnya yang hedonis, sangat bertolak belakang dengan sang kakak, Rika. Demi memastikan nominal di tabungannya bertambah, juga untuk memuaskan keingannannya akan barang-barang mewah, Rida melakukan segala hal. Meski untuk itu, tak jarang ia menjadi sasaran amukan wanita yang berstatus sebagai istri sah dari pria yang berkencan dengannya.
__ADS_1
Acara selanjutnya terasa lebih santai. Namun begitu, tetap saja yang mereka bicarakan seputar bisnis dan bisnis saja.
"Tuan Adisurya."
"Tuan Raksa, apa kabar?" Adisurya bersalaman dengan pria yang menghampirinya. Keningnya berkerut melihat Rida ada di sana.
"Rida bersama Tuan Raksa?" Batinnya.
"Anda benar-benar luar biasa, Tuan. Anda mampu menguasai hampir 70% saham di perusahan tambang yang ada di tanah Papua. Negara ini membutuhkan pengusaha lokal yang kompeten seperti anda, agar tambang kita tidak dikuasai pihak asing. Hebat, saya angkat topi untuk anda." Pujinya.
"Terima kasih, anda berlebihan. Saya juga belajar banyak dari anda, Tuan. Terima kasih atas masukan dan ilmunya selama ini," ujar Adisurya merendah. Ia dapat melihat Rida merasa tidak nyaman berada di sana. Adisurya pun memutuskan untuk berpura-pura tidak mengenalnya.
"Syukurlah. Sepertinya Kak Adi tidak mengenalku," batin Rida.
Keakraban dua pengusaha beda usia itu terganggu dengan kehadiran Sandy. Entah pria itu sengaja menghampiri, atau sekedar basa-basi.
"Selamat malam, Tuan-tuan. Wah, dua orang hebat sedang bersua. Tidak keberatan kan jika saya ikut gabung juga?" ujar Sandy dengan kilatan mata sekilas mengarah pada Rida.
"Tentu. Anda juga orang hebat dalam bisnis yang anda geluti saat ini," sahut Tuan Raksa.
"Oh, tidak. Saya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan senior seperti anda, Tuan."
"Haha, sampai usia saya yang sekarang ini, saya hanya menggeluti satu bidang saja. Tapi lihatlah Tuan Adisurya, semua bidang ia geluti. Properti, pariwisata, komunikasi, tambang, fashion, semuanya dicoba, dan semuanya sukses. Saya salut pada beliau ini. Anda harus belajar banyak pada Tuan Adisurya, Tuan Sandy." Pujinya.
"Tidak. Itu namanya pandai melihat peluang. Kita ini di dunia bisnis, tidak ada kata serakah. Punya modal, ada peluang, ambilah. Begitu kan Tuan Adisurya?"
Adisurya hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Sementara Sandy merasa terpojokkan dengan kata-katanya sendiri. Seringaian tertuju pada Rida yang memalingkan wajah.
***
Di tempat lain, Annisa sedang belajar di kamarnya. Ia mempelajari setiap kata dan percakapan dalam bahasa inggris.
Ceklek.
"Nisa, dipanggil Nyonya." Heni membuka pintu tanpa mengetuk. Matanya mendelik melihat buku-buku yang ada di atas meja belajar Annisa.
"Iya, Mbak. Saya akan ke sana."
Annisa menutup bukunya dan berlalu meninggalkan kamar.
__ADS_1
"Makan dulu, Neng."
"Nanti, Bi. Nisa masih kenyang. Tadi sore kan Nisa makan kue dari bibi."
"Itu kan sore, Neng."
"Nisa ke dalam dulu ya, Bi. Dipanggil ibu," ujar Nisa, kemudian berlalu.
"Ibu, dia lupa apa kalau Nyonya tidak suka dipanggil ibu," desis Heni.
Bi Susi tak ingin menanggapinya. Ia terduduk barsama yang lain untuk menikmati makan malam.
Di ruang keluarga, Rianti bersama kedua anaknya sedang menikmati dessert buatan Bi Susi. Jika Rayhan dan Raydita sibuk dengan ponsel, Rianti menonton acara di televisi.
"Ibu memanggil saya?"
"Iya. Kamu ngeyel juga ya. Saya kan sudah bilang, panggil saya 'nyonya', bukan 'ibu'. Memangnya saya ibu kamu," ujar Rianti ketus. Annisa pun menghampiri dengan tersenyum, membuat Rianti merasa bingung.
"Pijat kaki saya. Eh, siapa yang suruh kamu duduk di situ? Yang ada kamu menghalangi, duduk di bawah." Titahnya.
Annisa menurut. Ia duduk di lantai, lalu mulai memijat kaki Rianti yang selonjoran di sofa.
Raydita mendelik dengan seringaian sinisnya. Sementara Rayhan bersikap tak acuh dengan keadaan di sekitarnya.
"Kamu itu lemas atau malas sih? Dipijat, bukan diusap-usap." Bentaknya.
"Mama berisik ih," ujar Rayhan dan beranjak meninggalkan ruangan itu.
"Papa!" pekik Raydita dengan riangnya. Rupanya gadis itu sedang video call dengan papanya.
"Papa lagi di mana?"
"Di ballroom hotel. Ada acara makan malam dengan beberapa kolega papa, Sayang."
"Udah makan dong?"
"Sudah. Kamu juga sudah makan? Mama sedang apa?"
"Tuh." Raydita mengarahkan kameranya pada sang mama. Awalnya Adisurya tersenyum, namun kemudian senyum itu memudar melihat Annisa yang terduduk di lantai.
__ADS_1
"Nisa, kenapa duduk di bawah, Nak?"
_bersambung_