Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
mengenang masa lalu (2)


__ADS_3

Lanjut flashback-nya ya.


Happy reading ....


"Apa! Yang benar saja kamu, Adi. Bisa-bisanya kamu memiliki ide seperti itu," pekik Rika pelan. Saat ini, mereka berada di ruangan Rika.


"Aku harus bagaimana, Rika? Kamu tahu kan, Rianti segalanya bagiku. Aku tidak ingin melihat keadaannya semakin memburuk dengan selalu melihat anak itu."


"Tapi dia putri kalian. Darah dagingmu," ujar Rika mengingatkan. Ia tidak ingin keputusan Adi saat ini kelak akan disesalinya.


"Aku tahu. Aku akan mencari jalan lain untuk putriku. Tapi untuk saat ini, aku ingin melihat Rianti baik-baik saja. Bantu aku, Rika."


Untuk sesaat, Rika termenung. Kemudian ia berucap, "Baiklah jika itu keputusanmu. Tapi berjanjilah, kau akan menyayanginya."


"Tentu."


Awalnya, Rika akan menitipkan bayi Rida ke panti asuhan. Namun bukan berarti ia melepas begitu saja. Ia akan menanggung biaya hidup bayi itu, juga menjadi donatur tetap untuk panti tersebut.


***


Suara rengekan bayi perlahan menyadarkan Rianti. Wanita itu mengerjap dan mengucek kedua matanya. Rianti menoleh pada Adisurya yang sedang menatap ke ranjang bayi.


"Mas."


Adisurya menoleh sambil tersenyum.


"Sudah bangun?" Ia pun meminta perawat menggendong bayi itu agar diberikan pada Rianti.


"Bayinya lapar. Kamu mau menyusui atau dia minum dari botol susu?" tanya Adisurya lembut.


Rianti menatap lekat pada bayinya. Senyuman tipis tersungging dan ia pun menggendong bayi itu dengan senang hati.


"Mas, aku bermimpi buruk. Mimpinya terasa sangat nyata." Ujarnya pelan sambil mulai menyusui.


"Mimpi apa?"

__ADS_1


"Aku bermimpi, anak kita terlahir cacat. Untung cuma mimpi. Karena kenyataannya, anak kita tidak kurang apa-apa. Lucu," ucap Rianti menatap gemas pada bayi dalam dekapannya.


Adisurya berdehem dan saling melempar pandang dengan perawat itu. Ia pun mengisyaratkan sesuatu agar perawat itu melaksanakan tugasnya.


"Bu, bagaimana kalau setelah ini kita coba pijat pay*dara, supaya ASI yang keluar banyak. Saya juga menyarankan agar ibu memompa ASI, supaya nanti saat bayi ibu lapar, saya bisa memberikan ASI tanpa harus membangunkan ibu. Ini juga bisa dilakukan di rumah. Jadi ibu bisa tetap istirahat tanpa terganggu karena bayi ibu ingin menyusu." Tuturnya.


"Boleh juga. Oke, setelah ini ya, Sus."


"Baik, Bu."


Adisurya terlihat lega. Hanya dengan cara ini, bayinya bisa menyusu ASI dari Rianti.


"Mas, aku boleh kasih nama anak kita kan?"


"Tentu boleh dong, Sayang. Siapa namanya?"


"Kakaknya kan Rayhan, gimana kalau anak kita yang ini namanya Raydita?"


"Boleh, duo Ray dong. Tapi bukan anak Ade Ray kan?" kelakar Adisurya.


"Ish, ya bukan dong, Mas. Raydita ya."


***


Adisurya berpamitan pulang sebentar. Ia akan memastikan putranya baik-baik saja di rumah. Selain itu, ia juga akan membawa Rayhan pada mamanya.


Saat Adisurya terduduk di teras belakang, Bi Susi membawakan segelas kopi kesukaannya. Sebelum berlalu, Bi Susi menyampaikan sesuatu.


"Tuan, barangkali anda membutuhkan pengasuh bayi, saudari saya sedang mencari pekerjaan. Orangnya insyaAllah baik dan bertanggung jawab."


"Siapa namanya, Bi? Kenapa dia bekerja, memangnya suaminya tidak memberi nafkah?" tanya Adisurya datar.


"Namanya Asih. Suaminya sudah meninggal dan dia juga tidak punya anak, Tuan."


Adisurya tertegun. Bi Susi yang tidak mendapat respon dari tuannya, pamit ke dapur.

__ADS_1


Adisurya bersama Rayhan yang saat itu baru berusia dua tahun, juga pengasuhnya pergi ke rumah sakit. Rianti sangat senang melihat putranya datang.


"Ehan, sini Sayang. Ini adik cantik Ehan. Panggilannya Dita," ujar Rianti memperkenal bayi dalam pangkuannya.


Adisurya menggendong Rayhan dan akan menempatkannya di samping Rianti. Namun Rayhan menolak dan merengek minta digendong pengasuhnya.


"Eeh, kok gitu sih. Duduk di sini sama mama, Sayang. Lihat, adiknya cantik."


"Nggak au ..." rangek Rayhan. Rianti menatap kecewa karena Rayhan meronta saat papanya mendudukannya dipangkuan agar berhadapan langsung dengan mama dan adik barunya.


"Nggak apa-apa, dia masih kecil. Perlu adaptasi, Sayang."


"Iya mungkin ya, Mas." Adisurya mengangguk sambil tersenyum tipis.


Adisurya meminta bertemu dengan Dokter Riyan, suami Rika. Dokter yang disapa Iyan itu merupakan salah satu dokter bedah di rumah sakit itu.


"Bisa. Minimal setelah usia bayi itu tiga bulan bisa dioperasi. Dan itu butuh beberapa kali, Adi."


"Kemungkinannya bagaimana?"


"Kemungkinan bekasnya akan tidak terlalu terlihat. Karena pada kasus putrimu ini, hanya bagian luarnya saja yang tidak menyatu sempurna, sedangkan langit-langitnya tetap normal."


"Menurutmu bagaimana baiknya, Iyan?"


"Lebih cepat, lebih baik. Maksudku, setelah dia berusia tiga bulan, kita akan memeriksa kondisinya secara keseluruhan. Baru setelah itu akan diputuskan apakah bisa dioperasi saat itu atau mungkin butuh waktu lagi. Semoga saja bisa di usia itu. Karena kasihan, dia akan kesulitan saat menyusu dan pastinya akan berpengaruh pada tumbuh kembangnya."


Mendengar penjelasan Dokter Iyan, mulai ada secercah harapan di hati Adisurya. Ia pun kembali ke ruangan Rianti dan mendapati Rayhan sedang rewel.


Adisurya memangku putranya. Pada Rianti, ia berpamitan akan membawa Rayhan ke taman yang ada di sana.


Bukan ke taman, Adisurya membawa Rayhan ke ruang NICU tempat bayinya berada. Kebetulan saat itu seorang perawat sedang memberinya ASI dari botol susu.


"Ehan, lihat itu adik bayi. Namanya siapa ya? Papa belum punya nama untuk adik bayi Ehan."


Adisurya untuk sesaat tertegun. Sikap Rayhan berbanding terbalik dengan sikapnya di ruangan tadi. Rayhan tersenyum tipis sambil menunjuk pada bayi yang sesekali tersedak itu.

__ADS_1


"Mmm adik Ehan kan perempuan, bagaimana kalau papa beri nama, Annisa (wanita - dalam bahasa arab). Suka nama itu?" Rayhan tersenyum lebar. Adisurya sampai terharu melihatnya. Ternyata benar, kalau darah itu lebih kental dari pada air.


_bersambung_


__ADS_2