Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
obrolan teman lama


__ADS_3

Happy reading ....


*


"Kak Raka?"


__________


Raka sontak menoleh. Kedua maniknya berbinar menatap Yuli yang justru memberinya tatapan datar.


"Tunggu, ini benar kamu 'kan, Yul?" tanyanya sambil melangkah perlahan dan menatap dengan seksama tanpa berkedip. Raka mengamati Yuli tidak hanya dari atas sampai bawah, tapi juga dari depan, belakang, samping kiri dan kanan. Raka seolah tidak perduli pada tatapan Yuli yang kini berubah horor.


"Kak Raka lagi ngapain sih?"


Raka menekankan ujung telunjuknya pada lengan atas Yuli beberapa kali. "Eh, ternyata benar. Ini kamu, Yul. Aaa ... senangnya." Tiba-tiba saja Raka memeluk Yuli dari samping.


"Iih. Kak Raka apa-apaan?" tanya Yuli dengan nada suara yang cukup tinggi sambil mencoba melepaskan diri.


Suara Yuli itu tentu saja mengundang perhatian beberapa pengunjung perpustakaan. Yuli yang merasa sangat malu itu pun bergeges keluar dari tempat tersebut. Dan tentu saja, Raka mengekor di belakangnya.


"Hehe. Permisi, Bu," ujar Raka pada penjaga perpustakaan yang masih saja memberinya tatapan tajam.


"Kak Raka kenapa ngikutin Yuli?"


"Ya biar nggak hilang lagi," sahut Raka spontan.


"Hilang?"


"Aku dari tadi nyariin kamu, Yul. Udah keliling-keliling kampus," sahut Raka dengan gerakan tangan yang memutar.


"Mau apa nyari Yuli?"


"Mau ... mau apa ya? Mmm ya mau aja," sahut Raka kikuk.


"Karena kamu udah di sini, gimana kalau aku temani kamu menjelajahi kampus kita?" imbuhnya.


"Bo-boleh." Raka ingin sekali memekik senang, tapi ia tahan. Sahabat Rayhan itu terlihat salah tingkah, dan membuat Yuli mengulumkan senyum karenanya.


"Kamu tinggal di mana? Waktu itu aku ke restoran itu lagi lho," ujarnya.


"Mau ngapain, Kak?"


"Ya ingin ketemu kamu dong?"


"Mau ngapain ketemu Yuli? Yang ada nanti pacar Kak Raka marah," ujar Yuli sambil melemparkan tatapannya ke sembarang arah.


"Pacar aku?" Raka terlihat bingung. Tapi kemudian ia berkata, "Maksud kamu Dita? Dia itu adikku, Yul. Bukan pacar."


"Bohong. Baritanya aja banyak di sosmed," sahut Yuli pelan dan terdengar bernada kesal.

__ADS_1


"Yee nggak percaya." Raka merogoh sakunya dan membuka aplikasi chat dan melakukan panggilan video dengan seseorang.


"Kalau nggak percaya, nih tanyain sendiri sama Nisa teman kamu. Ini ...," ujarnya sembari menyodorkan ponselnya pada Yuli.


Yuli jadi tak enak hati, dan dengan ragu menerima ponsel Raka.


"Assalamu'alaikum, Kak Raka. Ada apa nih? Tumben nelpon Nisa," sapa Annisa di layar ponsel Raka yang masih menghadap ke atas.


"Wa'alaikumsalam, Nis," sahut Yuli.


"Yuli? Beneran ini Yuli? Apa kabar?" tanya Annisa yang langsung heboh melihat sahabat lamanya itu.


"Baik, Nis. Kamu gimana kabarnya?" tanya Yuli yang juga tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Alhamdulillah. Aku juga baik. Kamu kemana aja? Nomor kamu nggak aktif ya? Iih kangen banget. Main dong ke sini? Kamu satu kampus sama Kak Raka?" cecar Annisa.


"Woy! Satu-satu dong. Heboh banget arisannya, Bu," seloroh Raka yang mendekatkan wajahnya pada Yuli agar terlihat di layar ponsel.


"Hehehe. Maaf, Kak Raka. Abisnya kangen banget sih," sahut Annisa.


"Ya udah lanjutin aja," ujar Raka yang kemudian menoleh pada Yuli.


Yuli kembali berbincang dengan Annisa. Raka menggenggam tangan Yuli dan menariknya sambil berkata, "Duduk di sana, Yuk!"


Yuli menurut saja, meskipun dalam hati ia merasa takut Raka menyadari wajahnya yang merona.


Raka tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya pada telinga Yuli dan berbisik, "Jangan lupa tanyakan sama Nisa, siapa itu Dita."


"Oke?" Raka yang sudah kembali berdiri tegak sambil mengacungkan ibu jarinya. Yuli yang merasa kikuk pun hanya bisa mengangguk pelan.


Raka berlalu dengan riang. Sesekali ia menoleh seakan ingin memastikan Yuli masih ada di tempatnya.


Sementara itu, Yuli yang merasakan dadanya berdebar kencang mencoba untuk bersikap biasa saat bicara pada Annisa.


"Kak Raka bisikin apa, Yul? Oh, iya. Kata Dita, kalian ketemu di restoran? Kamu kerja, Yul? Maksudku, kuliah sambil kerja?" tanya Annisa.


"Enggak, Nis. Kemarin itu aku cuma bantu-bantu di restoran saudaranya Bapak sambil nunggu masuk kuliah, dari pada di desa. Kebetulan dia juga mau bantuin aku nyari tempat kos."


"Jadi sekarang kamu kos? Cuma kuliah aja berarti ya?"


"Nggak juga sih. Sekarang aku kerja di cafe kenalan saudaraku itu. Tapi di sini, lumayan lah dekat," sahut Yuli.


"Enak ya, udah bisa menghasilkan uang sendiri. Aku juga ingin yambi kerja."


"Kamu sih nggak usah kerja juga punya uang banyak, Nis," seloroh Yuli.


"Yee kamu juga."


"Enggak sebanyak uang kamu, hehe. Tapi beneran loh, punya uang sendiri sama uang dari orang tua itu beda rasanya."

__ADS_1


"Senang gimana gitu ya?"


"He-em."


"Nah karena itu, aku juga ingin kerja. Nanti deh aku cari-cari dulu lowongan," ujar Annisa.


"Eh, Nis. Boleh nanya nggak?"


"Boleh banget. Mau nanya apa?"


"Dita itu siapa sih? Siapanya Kak Raka?" tanya Yuli pelan.


"Ciee ada jangan-jangan ada udang di dalam bakwan. Kamu suka ya sama Kak Raka?" todong Annisa.


"Ish, kamu. Jawab dulu pertanyaanku," pinta Yuli dengan raut wajah yang merona.


"Dita itu ... selain saudara sepersusuan aku dan Kak Ehan, dia juga adik satu ayah Kak Raka. Gitu, Yul. Ngerti nggak? Atau masih bingung? Makanya main ke sini ya, ikut sama Kak Raka. Nanti aku ceritain selengkapnya. Ceritanya panjang banget, bisa sampai tujuh hari tujuh malam kalau diceritain semuanya," kelakar Annisa.


"Kalau aku ke sana malu, Nis. Kamu aja yang main ke sini. Ya, please ...," pinta Yuli.


"InsyaAllah. Sekali-kali aku nanti main ke sana. Kita hangout ala-ala gitu ya?"


"Beneran ya, Nis. Aku tunggu. Aku nggak punya banyak teman di sini. Jadi ya nggak kemana-mana selain ke kafe," ujar Yuli.


"Sekarang ada Kak Raka, 'kan?"


"Hayo! Ngomongin gue ya?" todong Raka yang tiba-tiba nongol di layar ponsel.


"Ish, Kak Raka ngagetin," ujar Annisa.


"Itu loh, katanya Yuli belum punya teman buat diajak jalan, Nisa bilang 'kan sekarang ada Kak Raka," imbuh Annisa.


"Ck. Betul banget. Untuk Bebep Yuli, Abang Raka siap 24 jam menemani," seloroh Raka dengan gayanya yang dibuat-buat.


"Nggak gitu juga kali, Kak," sanggah Annisa.


"Ya gue juga tahu. Lo nggak beda sama si Dita. Nggak peka. Eh, salah. Kurang peka," ujar Raka.


"Kurang peka apanya, Kak?" tanyaYuli.


"Eh? Kamu juga sama? Diih, kenapa cewek-cewek ini pada begitu yak?" Raka menggaruk tengkuknya.


Di layar ponsel terdengar gelak tawa Annisa. Sementara Yuli memperlihatkan raut wajah bingung.


"Hati-hati, Yul. Udah ada yang ngicer tuh," goda Annisa.


"Tinggal 'tembak', Nis. Doa-in ya," ujar Annisa sembari mengedipkan sebelah matanya pada Annisa, lalu menoleh pada Yuli yang melengoskan wajah untuk menyembunyikan rona di wajahnya.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2