
Happy reading ....
🌿
Ini pertama kalinya bagi Adisurya dan Rianti merasa gugup saat berhadapan dengan ketiga anak mereka. Rayhan terlihat santai sambil memainkan ponselnya.
Sementara itu Annisa menduga-duga apa yang akan dibicarakan ayah dan ibunya. Di sisi lain, Raydita merasakan degup jantungnya sangat cepat dan tak siap bila harus kecewa.
"Ehhem. Begini, papa dan mama bermaksud ingin memberitahukan sesuatu pada kalian. Jangan ada yang menyela sebelum papa dan mama selesai bicara. Paham?" Ketiganya mengangguk pelan.
"Untuk kedua putri papa, Dita dan Nisa. Apapun yang akan papa katakan sekarang, kalian harus ingat satu hal. Tidak akan ada yang berubah, apapun itu. Mengerti?"
Jangan-jangan, ayah akan mengatakan kalau aku ini putrinya. Kalau benar, bagaimana dengan Dita? Dia pasti akan sangat kecewa, batin Annisa.
Baguslah. Akhirnya papa dan mama berterus terang. Sudah waktunya Nisa mendapatkan haknya," batin Rayhan. Ujung matanya melirik pada Annisa yang sedang tertegun.
Sial. Bisa besar kepala si Nisa. Tega banget sih papa. Tapi, apa itu artinya papa dan mama tahu siapa orang tua kandungku? batin Raydita.
Raydita menoleh pada Annisa, begitu juga Annisa yang sedang menoleh padanya. Keduanya sesaat beradu pandang, kemudian melengoskan wajah.
"Begini ... sebenarnya, bukan tanpa alasan Papa membawa Nisa ke rumah ini. Ehan, Dita ... Nisa adalah saudari kalian. Dia anak mama dan papa. Anak kandung kami yang secara tidak sengaja tertukar di rumah sakit." Suara Adisurya terdengar gemetar. Kepala pengusaha kaya itu tertunduk menyembunyikan hatinya yang gemetar.
Rianti menatap sendu pada suaminya. Mungkin, ini satu-satunya cara Adisurya mengungkap identitas putri mereka.
Whats? Kok papa bohong sih? Jangan bilang papa takut menyakiti perasaan Dita. Aaah, oke deh. Bagaimanapun Dita juga adik gue. Adik sepersusuan, batin Rayhan.
Jadi kami tertukar? batin Annisa.
Apa itu artinya, mama gue ... ibu si Nisa yang orang kampung itu. Oh My God, nggak mungkin kan? Hanya dengan memikirkannya saja Raydita ingin sekali memekik tak percaya.
"Kami tidak tahu siapa orang tua kandung Dita. Yang papa tahu, Asih hanyalah pelayan yang dititipi Annisa. Itu artinya, ibunya Dita bukanlah Asih."
Hup. Syukur deh. Setidaknya, orang tua gue bukan orang kampung. Batinnya.
"Nisa, selamat datang di keluarga ini, Nak. Maafkan Mama yang terlambat mengetahuinya," ujar Rianti sambil tertunduk sangat dalam. Adisurya mengusap punggung istrinya mencoba menguatkan.
"Dita, mama bukanlah orang lain. Hampir satu tahun mama menyusui kamu, Sayang. Kenyataan ini kami ungkap bukan untuk membuat kamu terluka. Papa dan mama tulus menyayangi kamu. Sampai kapanpun itu," ujar Rianti sambil menatap Raydita dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Melihat air mata yang tergenang di pelupuk mata wanita yang sudah membesarkannya, hati Raydita bergetar. Ia merasa sedih mengetahui orang tua yang selama ini menyayanginya ternyata bukanlah orang tua kandungnya.
"Tapi Dita bukan anak mama," ujar Raydita pelan sambil menatap lekat pada Mama Rianti.
"Kamu anak mama, Dita. Selamanya akan menjadi anak mama." Rianti mencoba meyakinkan.
"Mamamu benar, Dita. Kamu, Nisa dan Ehan ... kalian anak Adisurya. Percayalah, kami tidak akan berubah sedikit pun. Papa tahu ini tidak mudah, bukan hanya untuk kamu, tapi juga Nisa. Perlahan tapi pasti, kita akan hidup sebagai satu keluarga," tutur Adisurya sembari menatap lekat satu persatu anak-anaknya.
Adisurya merasa aneh dengan raut wajah anak-anaknya. Ia memaklumi Rayhan, karena memang sudah mengetahuinya. Akan tetapi Annisa dan Raydita ....
Tak ada emosi berarti terlihat dari keduanya.
"Ehan ke kamar, Pa. Ma ...." Pamitnya dan diangguki oleh Adisurya.
"Nisa ...." Adisurya ingin sekali menanyakan sesuatu, namun ragu.
"Mmm Nisa boleh ke kamar juga nggak, Yah?"
"Boleh, Sayang." Sahutnya.
"Apa, Yah?"
"Kamu ... apa kamu tidak senang mengetahui kami orang tuamu?" tanya Adisurya sangat hati-hati.
Mendengar hal itu, tidak hanya Annisa yang tertegun, tapi juga Rayhan yang kini berada di tangga. Sejujurnya Rayhan juga merasa heran melihat ekspresi Annisa yang biasa saja.
"Tentu Nisa senang, Yah. Sebenarnya, Nisa sudah lama tahu kebenaran ini," ujar Nisa dengan senyum tipis di wajahnya.
Deg. Adisurya dan Rianti merasakan dunia mereka berhenti saat ini.
Nisa sudah tahu? Jadi ... Rianti tertunduk sangat dalam. Terbayang sikapnya pada Annisa selama ini. Ia tak bisa bayangkan sakit hati putrinya karena diperlakukan tak baik oleh ibunya sendiri.
"Ibu minta maaf, Nisa." Rianti tiba-tiba terisak dan itu membuat Adisurya terkejut, begitu juga ketiga anaknya.
"Kenapa ibu menangis? Nisa tidak apa-apa kok." Annisa segera menghampiri ibunya dan langsung memeluk. Tanpa mereka sadari, ada gerakan yang terhenti.
Raydita hendak menghampiri mamanya, namun urung saat melihat Annisa mendekat. Hatinya merasa sedih melihat ibu dan anak yang sedang berpelukan tepat dihadapannya.
__ADS_1
Seumur hidup mereka, tak pernah melihat Mama Rianti meneteskan air mata. Apalagi sampai terisak begitu. Rayhan menundukkan kepala, lalu meneruskan langkahnya perlahan.
"Maafkan Ayah juga, Nisa," lirih Adisurya yang mengusap punggung Rianti.
"Iya, Ayah. Ini kan bukan keinginan kita. Nisa dan Dita tidak sengaja tertukar. Jadi kalian tidak usah merasa bersalah. Nisa beruntung diasuh almarhumah ibu yang sangat menyayangi Nisa." Tuturnya.
Adisurya dan Rianti lagi-lagi menundukkan kepala. Dalam hati mereka meminta maaf karena tak mampu mengungkap kebenaran seutuhnya.
Raydita mulai merasa risih. Perlahan ia beranjak dari sofa dan berjalan menuju tangga. Sesekali ujung matanya melirik pada keluarga yang baru dipertemukan itu. Hatinya merasa sedih karena merasa tersisih.
"Nisa, kalau boleh ayah tahu, sejak kapan kamu mengetahui tentang hal ini?"
"Saat ayah dan Bu Dokter sedang bicara. Maaf, Nisa tidak sengaja mendengarnya." Adisurya tertegun sesaat mencoba mengingat saat itu.
Tante Rika? Jadi Tante Rika tahu semuanya, batin Raydita sembari meneruskan langkahnya menuju kamar.
Rianti menatap lekat pada wajah Annisa. Bekas operasi itu terlihat samar bahkan nyaris tak ada. Ada rasa sesal mengapa dulu ia tak bisa menerima kondisi Annisa. Penyesalan yang sia-sia, karena tak bisa memutar kembali masa dimana ia melewatkan tumbuh kembang putrinya.
"Janji ya, kamu tidak akan pernah meninggalkan ibu apapun yang terjadi di kemudian hari." Lirihnya.
"Iya, Bu. Nisa tidak akan kemana-mana kok. Nisa sudah tidak punya siapa-siapa, jadi mana mungkin Nisa pergi."
"Kamu punya ibu, Sayang. Kamu punya Ayah dan juga Ehan." Rianti tak bisa lagi menahan air matanya yang berderai. Hatinya semakin sakit melihat Annisa yang memberinya senyuman.
"Nisa ke kamar ya, Bu. Mau nyiapin buku untuk sekolah besok."
"Istirahat ya," sahut Rianti sambil mengangguk kecil.
"Selamat malam, Ayah."
"Semoga mimpimu indah, Nak," sahut Adisurya.
"Terima kasih." Annisa berlalu ke dalam kamarnya, diiringi tatapan kedua orang tua yang kini telah menerimanya sebagai putri.
Annisa merasa lega, karena dengan begitu kini ia memiliki keluarga. Begitu juga dengan Rianti dan Adisurya. Walau dalam hati kecil mereka ada perasaan tak nyaman karena memilih untuk menutupi yang sebenarnya.
_bersambung_
__ADS_1