Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
pernyataan Agas (bagian 2)-tamat


__ADS_3

Happy reading ....


*


"Sedang apa kalian?"


Rayhan sontak menoleh ke arah suara, sedangkan Isti membalikkan badan untuk menyembunyikan rasa malu sekaligus takut karena kepergok sedang bersama.


"Gila, Lo. Gue kira siapa," ujar Rayhan lega. Ghaisan menatap datar pada keduanya, kemudian berlalu begitu saja.


Rayhan mengulumkan senyum menatap punggung Isti. Ia pun menghampiri sambil berucap dengan nada menggoda, "Agas udah nggak ada, Yang. Duuh, malu ya?"


"Kak Ray sembunyi dulu ya. Nanti kalau Isti udah jauh baru keluar," pinta Isti sambil menarik Rayhan untuk bersembunyi di balik pohon. Setelah Raydita, kini Ghaisan juga memergoki mereka. Bisa-bisa nanti Pak Adisurya. Hanya membayangkannya saja Isti sudah merasa lemas.


Sementara itu Rayhan terkekeh melihat sikap Isti. Kekasihnya itu benar-benar sangat polos dan pemalu. Namun begitu tak ayal Rayhan menurutinya juga. Rayhan mengintip Isti dari balik pohon. Sesekali Isti menoleh dan memelototinya dengan gerakan tangan memintanya kembali bersembunyi.


"Ya Tuhan, beginikah rasanya jatuh cinta?" gumam Rayhan di sela kekehannya.


Rayhan sampai berdehem berkali-kali untuk memastikan ekspresinya cool lagi. Setelah itu, barulah ia kembali pada rombongan.


"Darimana aja sih Lo, Ray?" tanya Yuda.


"Gue? Darimana ya? Hehe, dari tadi gue di sini kok," sahut Rayhan mencoba bicara santai. Saat ia menoleh pada Ghaisan, sahabatnya itu hanya menyeringai.


Puas menikmati indahnya pemandangan, tiba saatnya menikmati kuliner khas negeri matahari terbit. Satu hal yang terpenting, Adisurya mencari restoran dengan label halal di sekitar tempat tersebut.


Meski banyak menu khas musim gugur yang dapat dinikmati, pilihan anak-anak didominasi menu ramen. Selain simple, mereka tertarik mencoba ragam varian rasa yang ditawarkan restoran.


Setelahnya, mereka kembali mengikuti kemana pemandu wisata yang telah disediakan pihak bis, hingga tak terasa hari mulai gelap.


Sebelum kembali ke stasiun, selain meminta mereka berganti pakaian, Adisurya juga menyempatkan untuk makan malam. Anak-anak terkagum-kagum pada keindahan taman di sekitar restoran.


Selama musim gugur, banyak light up yang menerangi dedaunan. Gradasi berwarna cerah itu menampilkan keindahan yang luar biasa.


Adisurya memperbolehkan anak-anak untuk menikmati sejenak sambil menunggu pesanan dibuat. Raydita dan Tasya terlihat paling antusias karena sudah tak sabar ingin berfoto ria dengan latar belakang keindahan taman tersebut.


Annisa juga tidak ketinggalan mengabadikan keindahan itu dalam rekaman video ponselnya. Sesekali ia terkekeh melihat tingkah konyol Yuda dan Raka.


"Yud, kalau ke sini sama pacar, romantis ya. Dapet banget viewnya. Sayang kita semua jones," keluh Raka.


"Lo nggak usah sedih, Ka. Sebelum lo nembak cewek, coba latihan dulu sama gue," usul Yuda.


"Idih najis. Gue normal, Bro," delik Raka.


"Yee, siapa juga yang 'belok'? Cuma latihan, Ka," kilah Yuda.

__ADS_1


"Oke. Lo ke sana dikit. Kalau gue bilang i love you, lo jawab balik ya. Awas kalau enggak," ujar Raka.


"Kalian pada gila ya. Nggak malu apa dilihatin orang banyak?" tanya Rayhan.


"Mumpung nggak lagi di Indonesia, Ray. Di sini nggak akan jadi viral," sahut Yuda santai.


"Ya nggak gitu juga," delik Rayhan.


"Woy! Jadi nggak? Malah asik berdua," protes Raka.


"Oke, gue di sini. Gue jadi siapa nih ceritanya?" tanya Yuda.


"Mmm Angel deh," sahut Raka.


"Angel mana? Anak kelas 2 itu ya? Haha lo suka sama dia, Ka?" tanya Rayhan dengan nada mengejek.


Raka hanya nyengir menanggapinya. Ia bersiap dengan ekspresinya yang dibuat-buat. Di sisi lain, Raydita mendelik melihat sikap Raka itu. Ia tidak tahu apakah bisa berdamai dengan Raka, seperti halnya dengan Rida.


"Siap, Ka?" tanya Yuda dan mendapat acungan jempol dari Raka.


"Ehhem. Tes ... tes, testing. Satu tetes langsung b*nting, hahaha." Raka menertawakan ucapannya sendiri.


"Dih, beneran gila ini anak," celetuk Rayhan. Sementara yang lain mengulumkan tawa.


"Jamuran gue, nunggu lo nyatain. Buruan!" pekik Yuda.


"Kak Raka grogi ya? Itu kan Yuda, kok sampai segitunya?" tanya Tasya heran.


"Sstt, lo nggak dengar? Yang di sana itu Angel. Kita ikut gila aja sekalian," seloroh Rayhan.


"Lo nggak tahu sih, Ray. Dia anak jendral, Bro. Kalau gue salah ngomong, niat nembak malah ditembak sama bokapnya. Berabe, kan? Siap ya! Ehhem."


"Angel, i love you!" seru Raka.


"Balik," jawab Yuda sambil mengangkat tangannya sebelah dan membalikkan badannya. Raka melongo, sedang yang lain spontan tertawa.


Raka berjalan cepat menghampiri Yuda dan langsung melingkarkan tangannya untuk mengunci leher Yuda.


"Anj*ng, Lo. Gue udah serius, lo malah becanda," desis Raka.


"Lho, kenapa? Lo sendiri yang bilang, gue harus jawab balik. Salah gue dimana?" Yuda berkilah.


"B*go, Lo. Balik bilang i love you, gitu," ujar Raka kesal.


"Oh bilang dong dari tadi. Yud, lo jawab i love you too, harusnya gitu kan? Bukannya malah suruh jawab balik," sahut Yuda membela diri. Antara kesal, malu, dan gemas, Raka mengacak kasar rambut Yuda.

__ADS_1


Gelak tawa tak terhindarkan. Tak terkecuali Raydita. Ia ikut menertawakan candaan Raka dan Yuda. Sebagian pengunjung menatap aneh pada mereka, tapi ada juga yang tersenyum karenanya.


Di sisi lain, Annisa yang sedang terkekeh dikejutkan deheman Ghaisan. Ia berusaha menghentikan kekehannya dan bertanya, "Eh, Kak Agas. Sejak kapan di sini?" Annisa celingukan. Ia baru menyadari bahwa sedari tadi Ghaisan tidak bersama teman-temannya. Apa itu artinya ia bersama Ghaisan di bawah pohon itu? Annisa merasakan wajahnya memanas, lalu tersipu malu.


Ghaisan berdiri di samping Annisa sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Sementara itu, Annisa tertunduk, berusaha mengatur perasaan agar degup jantungnya yang semakin cepat tak terdengar Ghisan.


"Nisa, boleh gue nanya sekali lagi?"


"Boleh. Nanya apa, Kak?" Annisa merasa semakin dag-dig-dug tak karuan.


"Gue suka sama lo. Gue mau lo jadi pacar gue, Nis. Will you be my lover?" tanya Ghaisan sembari menoleh pada Annisa.


Annisa menoleh sesaat. Kemudian tertunduk lagi saat tatapan mereka beradu.


"Would you?" tanya Ghaisan sekali lagi.


Annisa menoleh, memberanikan diri menatap kedua manik Ghaisan. Untuk sesaat, dunia terasa berhenti. Annisa merasa hanya ada Ghaisan di dunia kecilnya. Setelah itu, semua kembali seperti semua dan Annisa pun kembali menundukkan kepala.


Ghaisan menatap sendu pada Annisa. Ia merasa usaha keduanya sia-sia. Tapi sudahlah. Sebuah rasa itu memang tidak bisa dipaksa.


Ghaisan tersenyum tipis. Ia akan mengatakan pada Annisa, sekalipun mereka tidak pacaran, mereka masih berteman.


"Nisa." Ghaisan tidak meneruskan kalimatnya. Ia tertegun melihat Annisa mengangukkan kepala. Apakah itu artinya ....


"Lo nerima gue?" tanya Ghaisan mencoba untuk meyakinkan.


Annisa menangguk lagi.


"Oh My God. Are you serious?" Ghaisan ingin bersorak kegirangan saat Annisa mengangguk untuk untuk yang ketiga kalinya.


"Thank you," ucap Ghaisan jadi salah tingkah.


Annisa tersipu malu. Ia terkesiap melihat jari kelingking Ghaisan yang diacungkan di depan wajahnya.


"Pacaran?" tanyanya dengan senyuman yang lebar.


Annisa melakukan hal serupa. Mereka pun mengaitkan jari kelingking.


"I love you," ujar Ghaisan lembut.


"I love you too, Kak," sahut Annisa pelan.


Keduanya melepaskan kaitan jari itu sambil tersipu dan menunduk malu.


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


Kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa. Karena terkadang cinta membuat manusia mengesampingkan logika tanpa memikirkan akibatnya. Terkungkung kesalahan demi satu kata, yakni bahagia. Namun, akan selalu ada manusia lain yang berhati mulia. Memilih untuk memaafkan dan menerima takdir-Nya.


...Tamat...


__ADS_2