Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
ke pantai


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Langit sore yang cerah, mengiringi laju mobil yang dikemudikan Adisurya. Meski dengan perasaan yang tak menentu, Adisurya mencoba untuk tetap konsentrasi pada kemudinya.


Suasana di kursi belakang juga sangat hening. Rayhan yang masih memikirkan semua yang baru saja diketahuinya, dan Raydita yang kehilangan semangat belanja saat mengetahui Annisa juga ikut bersama mereka.


Sesekali Adisurya menoleh pada Rianti. Istrinya itu bahkan berdehem beberapa kali, berharap ada yang memulai pembicaraan.


"Han, kamu mau beli apa nanti?" tanya Rianti mencoba memecah keheningan.


Rayhan tidak bergeming. Ia seolah menulikan pendengarannya. Rianti nampak kecewa, namun ia mengerti akan sikap putranya itu.


"Kalau kamu mau beli apa, Sayang?" tanya Rianti pada Raydita.


"Apa aja deh, Ma. Lihat aja nanti," sahut Raydita malas.


"Oke. Nisa, mau beli apa?"


"Nggak ada, Bu," sahut Nisa pelan.


"Kalau nggak ada kenapa ikut? Sumpek tahu nggak," ujar Raydita ketus.


"Eh, Lo nggak usah nge-gas. Biasa aja kali," delik Rayhan tak kalah ketusnya.


"Kak Ehan kenapa sih? Dita kan ngomong sama dia, kok maen nyamber aja." Gerutunya.


"Suka-suka gue dong. Siapa elo?" Deliknya lagi.


Adisurya dan Rianti terlihat bingung. Adisurya ingin menegur, namun ia tahu alasan dibalik sikap Rayhan. Begitu juga dengan Rianti, saat ini ia tak mungkin membela salah satunya.


"Mmm gimana kalau kita lihat sunset aja. Kita ke pantai, oke?" ujar Adisurya.


"Mama setuju. Aah udah lama nggak ke pantai. Kalian setuju kan?" tanya Rianti sambil menoleh ke belakang.


Raydita mengangguk pelan, begitu juga dengan Annisa. Sementara Rayhan mendengus pelan, "Terserah."


Di sisi lain, Annisa merasa semakin tak nyaman. Ia menyesali kenapa mau diajak begitu saja. Harusnya ia tahu diri dan memilih diam di rumah.


Bunyi notifikasi pesan di ponsel Rayhan berbunyi. Rayhan telihat mengerutkan kening, lalu menyunggingkan senyumnya.


"Ke Ancol, Pa." Ujarnya.


Adisurya menoleh, dan tersenyum tipis. Menyadari sikap papanya, Rayhan pun berucap, "Agas lagi di sana."


"Sama siapa, Kak?" tanya Raydita antusias.

__ADS_1


"Sama ceweknya. Puas Lo! Aneh, ya sama nyokapnya lah," ujar Rayhan ketus dan dingin.


"Ma! Pa! Kak Ehan-nya nih. Dita salah apa sih, dari tadi kok marah-marah." Rengeknya.


"Han ...." Adisurya menegur pelan. Di tatapnya Rayhan dari kaca spion. Adisurya menghela nafasnya melihat Rayhan yang membuang muka.


Adisurya mengerahkan kemudinya ke salah satu pantai di ibukota tersebut. Raydita merasa senang karena di sana banyak spot yang instagramable. Begitu juga dengan Annisa. Ini kali pertama ia mengunjungi pantai.


Annisa menatap takjub melihat pantai yang sudah terlihat. Apalagi saat mobil itu sudah terparkir. Rasanya ingin segera berlari ke pantai.


"Ma, ke sana yuk!" Raydita menarik lengan Rianti dengan riangnya. Mereka menuju jembatan yang sering disebut jembatan cinta, mungkin karena jembatan itu di desain berbentuk lambang hati.


Dari kejauhan, Ghaisan terlihat berjalan di jembatan itu. Raydita memekik memanggil nama Ghaisan dengan senangnya.


"Kak Agas!" Serunya sambil melambaikan tangan.


"Norak." Rayhan berlalu melewati Raydita begitu saja.


Rayhan menghampiri sahabatnya. Dari belakang Ghaisan, Rika terlihat senang menyambut keluarga Adisurya. Namun senyuman di wajah Rika memudar saat melihat Annisa yang direngkuh pundaknya oleh Adisurya.


"Rika, senangnya kita bisa ketemu di sini. Anngap ada kita lagi liburan. Iya kan?" ujar Rianti.


Rika mengangguk pelan, lalu bertanya, "Gimana kalau kita dinner di resto itu? Menunya lumayan."


"Oke," sahut Rianti.


"Ma, Tante, foto dulu yuk di sini. Pa, fotoin dong." Raydita memberikan ponselnya pada Papa Adi.


"Sini, Sayang. Kita foto dulu. Kapan lagi papa foto di tempat seperti ini."


"Bagus ya, Yah."


"Iya. Agas! Boleh minta tolong nggak?"


"Boleh, Om." Ghaisan menghampiri, sedangkan Rayhan hanya menoleh sebentar dan kembali menatap air yang cukup tenang.


"Han, sini." Adisurya melambaikan tangannya memanggil Rayhan. Dengan malas Rayhan pun menghampiri.


"Apa sih, Pa?"


"Kok apa sih? Ya di foto dong."


Adisurya merengkuh pundak Annisa. Sedangkan Annisa bergelayut di lengan Rayhan. Awalnya Rayhan terlihat canggung, namun sesaat kemudian putra Adisurya itu menyunggingkan senyuman.


"Agas, sini! Gantian, Om yang fotoin kalian."


"Nisa, mau kemana? Ayo foto sama Ehan dan Agas," ujar Adisurya.

__ADS_1


Annisa terlihat ragu. Namun tanpa diduga Rayhan menarik lengannya dan merengkuh pinggang Annisa. Ghaisan menautkan alis melihat sikap Rayhan. Selain tak biasa, ada rasa yang tidak ia mengerti saat melihat lengan Rayhan melingkar di pinggang Annisa.


"Nggak harus gini juga, Ray." Ujarnya sembari menjauhkan lengan Rayhan dari pinggang Annisa.


"Kenapa? Tangan, tangan gue. Masalah buat Lo?" tanya Rayhan heran sambil kembali melingkarkan lengannya.


Ghaisan mendelik lalu melingkarkan tangannya di pundak Annisa. Melihat hal itu, Rayhan mengerutkan keningnya. Annisa yang merasa risih, menjauhkan tangan kedua pria muda tersebut.


"Nisa nggak ikut ah. Kalian aja," ujar Annisa, lalu berjalan mendekati Ayah Adi yang mengulumkan senyuman.


"Mau nggak? Kok malah bubar?" tanya Adisurya saat melihat keduanya saling menjauh.


"Nggak deh, Om. Geli kalau cuma berdua sama Si Ray."


"Siapa juga yang mau difoto sama Lo. Sini, Nis!" Rayhan mendekatkan Annisa padanya lalu mengarahkan kamera ponselnya padanya dan Annisa. Tanpa diduga, Ghaisan ikut-ikutan seolah tak rela Rayhan hanya difoto berdua dengan Annisa.


Rayhan pun mau tak mau meneruskan pose mereka hingga beberapa kali. Melihat Rayhan yang kesal dengan keusilannya, Ghaisan berlari sambil tertawa. Rayhan mengejar sambil melemparkan kerikil pada Ghaisan.


Adisurya dan Annisa tersenyum lebar melihat tingkah mereka. Kemudian Adisurya merengkuh pundak Annisa dan melanjutkan langkah mereka menyusuri jembatan itu.


"Indah ya?" Ujar Adisurya saat melihat Annisa yang sedang mengagumi langit senja yang menjingga.


"Iya, Yah. Indah banget."


"Mau makan apa, Sayang? Seafood suka nggak?"


"Suka nggak ya? Makannya juga belum pernah," sahut Annisa setengah berkelakar. Annisa tidak menyadari ucapannya itu menyakitkan di telinga dan hati Ayah Adi.


Mereka meneruskan langkah. Sesekali Adisurya mengecup pucuk kepala Annisa. Dari arah belakang, tawa Rayhan dan Ghaisan terdengar. Rupanya mereka sudah mengikuti langkah Adisurya dan Annisa dengan saling mengejar.


Di sisi lain, tatapan Rika tertuju pada mereka. Ada rasa tak suka melihat kedekatan Adisurya dengan Annisa.


Rika menoleh pada Raydita yang sedang mencari posisi pas untuk selfie. Kemudian tatapannya tertuju pada Rianti yang sedang memilih menu untuk suami dan anak-anaknya.


"Rianti, kenapa kamu juga membawa Annisa?"


"Kenapa? Memangnya nggak boleh?" Rianti menyempatkan menoleh sebentar.


"Heh, jangan bilang Adisurya sudah memberitahukan siapa itu Annisa."


Rianti menutup buku menu itu. Ditatapnya Rika yang juga sedang menatapnya.


"Memangnya Annisa itu siapa? Sepertinya kamu tahu banyak hal daripada aku," ujar Rianti berlagak tidak tahu apa-apa.


"Dia itu ...." Rianti menatap tajam pada Rika yang terlihat gugup.


"Apa?"

__ADS_1


"Dia ...."


_bersambung_


__ADS_2