Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
kembalinya Adisurya dan Rianti


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Lantunan suara adzan yang terdengar merdu perlahan membangunkan tidur Annisa. Gadis itu mengerjap sambil menoleh pada ranjang di sampingnya yang ditempati Rayhan, sang kakak.


Semalam Heru memesankan kamar dengan tipe twin bed di hotel yang berada dekat dengan rumah sakit untuk mereka. Melihat Rayhan yang masih terlelap, Annisa menghampiri dan berniat membangunkannya.


"Kak, Kak Ehan ... salat yuk!" ajaknya.


Annisa menatap lekat wajah Rayhan. Nampaknya Rayhan sangat lelah hingga berkali-kali dibangunkan pun masih saja tak bergeming.


Annisa menghela nafasnya. Ia pun membetulkan selimut Rayhan yang tersingkap. Setelah itu, Annisa berlalu ke kamar mandi.


Setelah salam, Annisa menengadahkan tangan. Selain mendoakan kesembuhan Raydita, ia juga meminta diberi rasa tenang dari perasaannya yang berkecamuk mengetahui orang tuanya sebentar lagi akan sampai. Harus bagaimana ia bersikap terhadap mereka?


Tak dipungkiri, ia merasa sedih sekaligus kecewa mendengar kenyataan di masa lalunya. Jika sedari awal tidak diharapkan, harusnya ia tak ada di sini saat ini.


***


Derap langkah yang terburu-buru terdengar menuju ruang observasi rumah sakit itu. Raydita masih ditempatkan di sana karena menunggu hasil pemeriksaan lanjutan sebelum dipindahkan ke ruangan.


Langkah Adisurya dan Rianti terhenti di depan pintu ruangan itu. Dengan sangat pelan, Rianti membuka pintu dan langsung menghampiri Raydita.


Melihat kondisi Raydita, Rianti terisak di dekapan Adisurya. Dibalik mata yang berkaca-kaca, Adisurya menahan geram melihat setiap luka di wajah dan tangan Raydita. Setelah menenangkan Rianti, Adisurya meninggalkan ruangan itu dan langsung menuju ruangan Sandy bersama Heru.


Ruangan Sandy sudah dijaga beberapa orang polisi. Setelah berbicara dengan mereka, Adisurya meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan itu.


Dengan ditemani seorang polisi, Adisurya menghampiri Sandy yang sedang mendapatkan perawatan dari seorang perawat. Selain luka di bagian kepala, Sandy juga mengalami patah tulang selangka bagian kanan.


Sandy menatap datar pada Adisurya. Sesekali pria itu terlihat meringis merasakan sakit saat perawat memasangkan strap penyangga di bahunya.


"Apa kau tidak berpikir ulang sebelum 'bermain-main' dengan putriku? Aku akan pastikan kau membusuk di penjara. Dan perusahaanmu akan hancur tak bersisa. Camkan itu," geram Adisurya dengan sorot mata yang teramat marah.


Sandy menatap kosong pada punggung Adisurya yang berlalu meninggalkan ruangannya.


Dita itu anak kamu. Dia anak kamu! Anak kita.


Sejak tersadar, pekikan Rida seakan terus menggema di dalam kepala Sandy. Membuatnya tak mampu berpikir lain selain rasa penasaran akan kebenaran tentang Raydita.


Adisurya kembali ke ruang observasi bersamaan dengan seorang dokter dan perawat yang masuk ke ruangan itu.


"Bagaimana kondisi putri kami, Dok?" tanya Rianti setelah dokter selesai memeriksa kondisi Raydita.


"Hipotermia yang dialami oleh putri anda sudah mulai membaik. Pernapasan, irama jantung, dan tekanan darah sudah mulai stabil. Pasien sudah boleh dipindahkan ke ruangan," tutur Dokter.

__ADS_1


"Terima kasih, Dok," ujar Adisurya lega.


"Dok, pasien menunjukkan tingkat kesadaran yang membaik," ujar perawat.


Rianti yang terlihat sangat senang melihat gerakan jari Raydita segera menghampiri.


"Dita. Sayang, ini mama," bisik Rianti sambil mengusap-usap kening Raydita.


"Ma-ma ...," lirih Raydita.


"Iya, Sayang. Ini, Mama," sahut Rianti dengan suara bergetar menahan tangisan.


"Di-dingin, Ma. Di-Dita takut," ucap Raydita terbata dengan air mata yang meleleh di kedua ujung matanya.


"Sekarang ada mama, Sayang. Papa juga ada. Jangan takut lagi ya." Rianti memeluk Raydita sambil menahan isakan dan menciumi wajah Raydita. Penculikan itu meninggalkan trauma bagi Raydita.


Dokter meminta berbicara empat mata dengan Adisurya. Bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka.


Dua orang polisi masuk ke ruangan itu. Satu dari mereka meminta izin untuk bertanya pada Raydita.


Raydita terlihat takut melihat dua polisi itu. Kepalanya terus menggeleng saat polisi menanyakan kronologi kejadian.


"Pak. Anak saya baru juga sadar. Apa nggak bisa nunggu dia pulih dulu?" tanya Rianti dengan nada meninggi.


Pintu ruangan itu kembali terbuka. Rianti yang mengira kalau itu polisi sudah bersiap akan marah, namun urung karena rupanya Rayhan yang masuk ke ruangan tersebut.


"Han, mana Nisa? Kok nggak bareng kamu?" tanya Rianti heran.


"Ehan kira Nisa di sini," sahut Rayhan bingung.


"Kamu ini gimana sih? Kok bisa nggak tahu adiknya pergi kemana," ujar Rianti sambil mencoba menghubungi Annisa dan menghampiri Rayhan.


"Duuh, kok nggak diangkat," gumam Rianti cemas. Rianti pun menelepon ke rumah karena berpikir mungkin saja Annisa sudah pulang.


"Di rumah juga nggak ada?" tanya Rianti pada Bi Susi. Melihat wajah mamanya yang memerah menahan tangis, Rayhan berlalu keluar untuk bicara pada Heru dan memintanya mencari Annisa.


"Kamu dimana sih, Nak? Ya Allah, baru aja satu masalah selesai, sekarang apa lagi ini?" gumam Rianti lirih.


"Ma."


"I-iya, Sayang." Rianti menghampiri Raydita.


"Dita lapar," ucap Raydita pelan.


"Ah, iya. Ini udah ada makanan. Ayo, duduk sayang. Setelah makan, kita akan pindah ke ruangan." Rianti mencoba menyembunyikan perasaannya dan mulai menyuapi Raydita.

__ADS_1


Mengetahui Annisa tidak ada, Adisurya terlihat sangat frustasi. Pria paruh baya itu tidak bisa membayangkan jika Annisa sampai mengalami hal serupa seperti Raydita.


Rayhan yang sedang bersama papanya di depan rumah sakit pun menelepon Yuda dan meminta nomer Istiqomah. Pikirnya, mungkin saja Annisa sedang bersama sahabatnya itu.


"Isti lagi di luar kota, Ray. Nggak mungkin Nisa ke rumah Isti," ujar Yuda di ujung ponsel Rayhan.


"Iya juga," gumam Rayhan.


Ujung matanya menangkap sosok Annisa. Ia segera menoleh dan terlihat lega.


"Pa." Rayhan menepuk pelan lengan Papa Adi dan menunjuk ke arah Annisa. Setengah berlari, Adisurya menghampiri Annisa dan langsung memeluknya.


"Nisa udah ada, Yud. Thanks ya." Rayhan menutup panggilan dan berjalan menghampiri Annisa dan papanya.


"Ayah kapan datang?" tanya Annisa datar. Ia tidak mengerti mengapa sikap ayahnya seperti itu.


"Kamu dari mana saja, Nak? Kami semua sangat khawatir," ucap Adisurya yang kembali memeluk erat putrinya.


"Nisa tadi jalan-jalan sebentar. Terus beli serabi untuk sarapan. Lumayan antri. Nisa kembali ke hotel, Kak Ehan udah nggak ada di kamar. Jadi Nisa kesini. Ini, Kak."


Annisa menyodorkan plastik berisi satu dus kecil serabi pada Rayhan. Ia bahkan melingkarkan tangannya di lengan Rayhan sambil menarik pelan agar Rayhan mengikuti langkahnya.


Adisurya menatap sendu langkah kedua anaknya. Ia berdehem pelan dan memasang raut senang, lalu menghampiri dua anaknya seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ayah minta dong. Ayah juga lapar," rayu Adisurya pada Annisa sambil membuka lebar mulutnya.


Adisurya hanya bisa menelan ludah. Annisa beranjak tanpa menghiraukan dirinya dan menjawab telepon dari seorang temannya.


"Ini, Pa." Rayhan menyodorkan dus serabi itu. Adisurya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis pada Rayhan.


Adisurya menatap nanar pada Annisa yang memunggunginya. Ia merasa ada yang berbeda pada putrinya itu. Tapi kenapa?


"Han, apa terjadi sesuatu pada adikmu?"


"E-enggak, Pa. Emangnya kenapa?" Rayhan balik bertanya sembari melirik pada Annisa.


"Nggak apa-apa. Hanya saja, papa merasa sikap Nisa agak beda."


"Hanya perasaan papa saja," timpal Rayhan.


"Kamu benar, semoga saja hanya perasaan papa." Adisurya kembali menatap Annisa. Entah mengapa ia merasa putrinya itu sedang tidak baik-baik saja.


Begitu juga dengan Rayhan. Kilasan wajah sembab Annisa saat ia kembali ke vila tiba-tiba saja mengusik hatinya. Ada apa dengan Annisa? Apa terjadi sesuatu yang ia tidak tahu?


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2