Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
bertemu di resto


__ADS_3

Happy reading ....


Ikah tertegun setelah membaca semua lembaran itu. Banyak tanya dalam benaknya, terutama alasan berkas ini ada di sini. Bukankah seharusnya disimpan rapi di lemari Rianti?


"Umi!"


"I-iya, sebentar." Cepat-cepat Ikah merapikan berkas itu dan menyimpannya ke tempat semula.


"Umi, ternyata anak yang punya vila ini, teman sekelas Isti." Ujarnya riang. Isti bergegas memberitahu uminya setelah dari vila bersama kakek dan abinya. Di dalam vila itu ada foto keluarga Adisurya.


"Isti sekelas sama Neng Nisa?" tanya Bi Marni yang menyela pekerjaan.


"Iya, Nek. Bukan cuma Nisa, tapi juga Raydita Adisurya. Nenek kenal Nisa? Pernah ke sini, Nek?" Bi Marni mengangguk senang.


"Raydita Adisurya?" gumam Ikah bingung.


"Itu loh, Umi. Putrinya Pak Adi. Umi tahu nggak? Kak Rayhan kakaknya Raydita, ganteeeng banget." Ujarnya dengan raut wajah yang mendamba.


"Eeh, nanti kedengeran Abi loh."


"Ups. Abi masih di taman vila sama kakek, hehe. Nek, Nisa itu kan sahabat Isti. Walaupun kami sekelas sama Dita, tapi dia cuek sama Nisa. Mungkin karena Nisa cuma anak angkat. Jadi dia pura-pura nggak kenal. Udah ah, Isti mau ke vila lagi." Isti terlihat senang dan berlari kecil menuju vila.


Ikah menatap heran pada ibunya yang terlihat bahagia. Karena penasaran, ia pun bertanya, "Nisa itu anak angkat Neng Rianti ya, Bu? Terus tadi di lemari, Ikah baca namanya Annisa Putri Adisurya, itu beda orang atau gimana?"


Mendengar pertanyaan putrinya, Bi Marni terdiam sesaat, lalu menjawab, "Sebenarnya Neng Nisa bukan anak angkat. Yang anak angkat itu Non Dita."


"Kok bisa begitu, Bu?" Ikah menghampiri ibunya.


Pelan-pelan Bi Marni menceritakan masa lalu Annisa. Kedua mata Ikah sampai berkaca-kaca mendengarnya.


"Apa Neng Rianti sudah mengetahui kebenarannya?" Bi Marni menggeleng pelan.


"Kasihan anak itu, Bu. Sudah sepantasnya dia mendapatkan haknya sebagai anak mereka." Ujarnya iba.


"Ibu bisa apa, hanya bisa mendoakan semoga Neng Rianti dilembutkan hatinya dan bisa menerima Neng Nisa sebagai putrinya. Sekali-kali kamu berkunjung ke sana, syukur-syukur kamu bisa mendekatkan Nisa dengan ibunya."


"InsyaAllah, Bu."


Di kediaman Adisurya ....


Adisurya sedang memberi instruksi pada pegawai mebel yang sedang memasukkan barang-barang yang dibelinya di kamar yang akan ditempati Annisa.


"Bi, Santi dengar Nisa akan pindah ke kamar itu."


"Memang iya."


"Enak banget si Nisa. Udah dapat ponsel mahal, tinggal di rumah utama lagi," ujar Hani ketus.


"Dia kan anak angkat, Hani. Beda sama kita yang cuma pembantu."


"Iya tahu." Deliknya.


Annisa yang jadi pembicaraan justru tidak mengetahui apa-apa. Sejak Yuda meninggalkan rumah, Annisa langsung membaca dan mempelajari buku-buku yang dibawa sahabatnya itu.


"Sudah semua, Mas?" tanya Rianti yang berjalan menuruni anak tangga.


"Sudah. Coba lihat sini, pas nggak kalau posisinya begitu."

__ADS_1


Rianti memasuki kamar itu. Ia memang sengaja mengganti furnitur di kamar itu dengan satu set furnitur berwarna putih dan pink muda yang terlihat manis.


"Udah pas. Pak, meja belajarnya di sebelah sana aja." Titahnya dan diangguki pegawai mebel itu. Setelah semua selesai, mereka pun pamit pergi.


"Kira-kira Nisa suka nggak ya, Mas?" tanya Rianti sambil terduduk di atas kasur baru yang terasa lembut.


"Pasti suka dong, Sayang."


"Besok belanja yuk, Mas. Ajak anak-anak semua."


"Boleh. Tapi kan besok ada guru private Nisa."


"Ya sore, biar sekalian pulangnya kita dinner."


"Setuju banget kalau gitu. Sip." Rianti tersenyum tipis melihat senyum bahagia di wajah suaminya.


"Bi, sudah siap makan siangnya?" tanya Adisurya yang berlalu ke ruang makan.


"Sudah, Tuan. Silahkan."


"Panggil Nisa ya, Bi. Dia sedang apa?"


"Neng Nisa dari tadi di kamar, Tuan. Biasanya membaca buku."


"Oh. Suruh ke sini makan dulu." Bi Susi mengangguk kecil, kemudian keluar dari ruangan itu. Tak lama Annisa datang menghampiri, tepat saat Rianti sedang menyendokkan nasi untuk suaminya.


"Sini masuk, Nisa. Kenapa ragu-ragu seperti itu?" ujar Adisurya sambil menarik kursi di sisi kirinya. Sementara Rianti di sisi kanannya.


Adisurya bisa melihat, Rianti nampak canggung, begitu juga dengan Annisa. Ia pun berpura-pura tidak menyadari dan bersikap hangat pada keduanya. Perlahan, suasana mulai membaik dan mereka bisa menikmati makan siang sambil sesekali saling mencuri pandang.


***


"Enak ya jadi mereka, bahagia tanpa memikirkan masalah apa-apa. Hmm, coba dulu aku tidak mengenal Sandy. Hidupku sekarang bahagia. Berkeluarga dan punya anak. Seandainya bayi itu ada, mungkin seusia mereka." Gumamnya, yang tak lain adalah Rida.


Kening Rida berkerut sekaligus tersentak melihat pengunjung resto yang sedang di arahkan pelayan. Betapa tidak, itu adalah Sandy dan juga istrinya.


Hal serupa juga terlihat dari raut wajah Sandy saat tanpa sengaja tatapannya beradu dengan Rida. Pria itu menyeringai sambil mendudukkan bokongnya.


"Dita?" Gumamnya.


"Dita, siapa?" tanya Fany.


"Putri Adisurya," jawab Sandy malas.


"Yang mana?" Fany celingukan mencari sosok Raydita. Kebetulan Raydita mengangkat tangannya membalas sapaan Sandy yang melambai padanya.


"Oh itu. Cantik," ujar Fany.


"Pasti lah, ibunya juga cantik," sahut Sandy sekenanya, membuat Fany menatapnya heran.


"Itu siapa, Dita?" tanya Mela.


"Om Sandy, bokapnya Kak Raka."


"Oh."


"Tapi Mama nggak suka gue dekat dama dia." Ujarnya pelan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Mela dan Tasya bersamaan.


"Nggak tahu." Raydita mengangkat sedikit bahunya.


"Udah makan, nonton yuk." Imbuhnya.


"Ayo."


"Mungkin Om itu tipe om-om, Dit. Makanya nyokap melarang Lo dekat sama dia," ujar Tasya.


"Aneh. Yang namanya Om, ya pasti om-om. Nggak mungkin opa-opa. Ya nggak, Dit?" Raydita mengangguk sambil terkekeh mendengar ucapan Mela.


"Maksud gue, Om-om yang suka godain ABG seperti kita ini," jelas Tasya.


"Oh, yang suka jadi 'sugar daddy' gitu ya. Hehe, mungkin aja sih. Kalian tahu, kemarin aja nih ya, gue dibeliin kalung ini. Hampir lima belas jeti loh. Hmm padahal gue nggak minta dibayarin. Tahu bakal dibayarin, gue cari yang dua kali lipat harganya. Asik kayanya ya ngerjain om-om begitu," ujar Raydita pelan.


"Lo jalan sama dia, Dit?"


"Iya, kemarin. Gara-gara si Upik Abu tuh, gue jadi dimarahin Mama." Gerutunya.


"Kok bisa gara-gara si Nisa?"


"Ya bisa laah. Dia kan emang selalu jadi biang kesialan dalam hidup gue. Kemarin tuh, gue nggak mau satu mobil sama dia. Jadi ya, gue ikut mobil bokapnya Kak Raka. Eh, gue dimarahin mama. Katanya jangan dekat-dekat sama Om itu." Tuturnya sambil menoleh pada Sandy yang sedang menuju kasir.


"Haha, tapi dapat kalung gratis kan? Lumayan," ujar Mela dan diangguki oleh Tasya.


"Iya juga sih," sahut Raydita pelan.


"Yuk ah, cabut. Film apa ya yang lagi in?" Mela bersiap akan beranjak.


"Bayar dulu b*go," ujar Raydita.


"Iya ya, hehe. Mbak!" Mela memanggil pelayan yang berada tak jauh dari mereka.


"Bill-nya ya." Imbuhnya. Pelayan itu berlalu, tak lama kembali lagi.


"Sudah dibayarkan oleh bapak yang di sana." Ujarnya sambil menunjuk pada Sandy.


"Nah loh, Dit. Gimana ini?" tanya Mela.


"Jangan-jangan dia beneran mau jadiin Lo sugar baby," celetuk Tasya.


"Enak aja. Lo kira gue kurang duit? Ya udah lah, samperin aja. Masa iya nggak say thanks."


Mau tak mau, Raydita dan kedua sahabatnya menghampiri meja Sandy. Mereka saling menyapa dan memperkenalkan diri, lalu berterima kasih. Setelahnya pamit undur diri.


Kepergian tiga remaja itu tak luput dari tatapan Rida. Ia terkejut melihat anak-anak itu ternyata mengenal Sandy. Rida pun berniat meninggalkan resto itu. Namun alangkah terkejutnya ia mengetahui bill-nya ternyata sudah dibayar Sandy.


Rida menoleh pada Sandy yang tersenyum menyeringai padanya. Mungkin pria itu berharap dirinya datang menghampiri dan berterima kasih. Tapi tidak. Rida meraih sling bag-nya dan berlalu pergi begitu saja.


Sandi mengikuti langkah Rida hingga ke luar resto dengan ujung matanya. Pria itu terkekeh pelan melihat sikap Rida yang menurutnya menggemaskan.


"Kenapa, Mas?" tanya Fany datar.


"Nggak apa-apa."


"Heh, senyum-senyum sendiri seperti orang gila," decih Fany.

__ADS_1


Sandy kembali menyeringai. Ia pun merogoh ponselnya dan mengirim pesan pada Rida.


_bersambung_


__ADS_2