Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
aspirasi vakum


__ADS_3

Happy reading ....


*


Suasana malam di klinik memang tak seramai jika siang hari. Rika sengaja mengambil tugas malam ini dan mengurungkan niatnya untuk mengambil cuti.


Dari kaca jendela ruangannya, Rika menatap keremangan di luar. Sekilas ia memikirkan kondisi Rida yang belum ada perkembangan. Rika menghela nafas saat memikirkan pertemuannya dengan Angel.


Flashback on


Rika menatap heran pada Angel yang memasang wajah mengiba. Dengan kening yang berkerut, ia pun bertanya, "Tolong apa? Setelah kamu dengan seenaknya membatalkan acara malam itu, masih berani kamu minta tolong sama tante, heh?"


"Tante, please. Aku dalam masalah besar. Bukan hanya nggak akan bisa kuliah, aku pasti diusir dari rumah. Please, Tante. Tolongin aku," pinta Angel dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Rika merasa kasihan pada Angel. Ia pun mulai melembut dan kembali bertanya, "Kamu mau tante melakukan apa? Coba cerita apa masalahnya."


"Tante, aku ... aku hamil."


"Apa?" pekik Rika yang sangat terkejut mendengarnya.


"Sebenarnya, malam itu Kak Agas mengetahui apa yang Angel lakukan di Bali. Dia ...."


Angel menceritakan semuanya pada Rika mengenai alasannya membatalkan acara pertunangan. Rika sampai berkali-kali mengusap dan memalingkan muka saat mendengarnya. Ditatapnya sesaat Angel yang masih bercerita, haruskah Rika bersyukur rencananya malam itu gagal?


"Tante tahu kan, papa nggak ngizinin Angel kuliah di luar negeri. Kalau sampai papa sama mama tahu tentang hal ini, masa depan Angel gimana, Tante? Kalau Angel nggak gugurin sekarang, Angel akan kabur dari rumah sampai anak ini lahir dan membuangnya. Sama aja kan, Tante? Lebih baik sekarang dari pada nanti. Setidaknya-."


"Kenapa baru mikir sekarang, heh? Harusnya kamu itu mikir jauh kedepan sebelum melakukan hal bodoh seperti itu. Kamu-." Kalimat Rika terhenti. Ia merasa dejavu.


Rika melihat sosok Rida dihadapannya. Menangis ketakutan karena pria yang menghamilinya tidak bertanggung jawab. Apa-apaan ini, hal serupa dengan orang yang berbeda?


Jika dulu Rida bersikeras tidak ingin menggugurkan kandungannya, Angel justru meminta hal itu. Haruskah ia membantu?


"Tante, Angel tahu ini salah. Tapi please, ini akan jadi pelajaran yang sangat berharga buat Angel. Angel janji akan menjadi lebih baik, Tante. Tolongin Angel ya," pintanya lagi.


Rika diam seribu bahasa. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu. Tatapannya lurus pada Angel yang terlihat sangat putus asa. Angel pasti ketakutan mengingat Darma sangat keras mendidiknya.


"Tante tidak bisa membantumu, Ngel. Kamu tahu kan Tante ini dokter umum, bukan dokter kandungan ataupun bidan. Kamu bisa mengunjungi klinik khusus aborsi yang memang dilegalkan. Tante tidak mau ambil resiko. Sebaiknya kamu pergi. Tante capek," ujar Rika dengan ekspresi yang datar.

__ADS_1


"Tapi setidaknya tante pasti tahu cara melakukannya. Di sini juga peralatannya lengkap. Tante ... klinik seperti itu banyak syaratnya. Angel juga udah minum obat buat ngugurin, tapi sepertinya belum keluar juga. Tante, kalaupun anak ini nanti lahir, dia mungkin saja terlahir cacat karena efek obat itu. Please, Tante. Periksa dulu, lihat apa yang terjadi di dalam sini. Angel nggak mau punya bayi cacat." Rengeknya.


Lagi-lagi Rika tertegun mendengar penuturan Angel. Rika juga sudah sangat lelah. Ia ingin segera pulang untuk beristirahat.


"Oke. Tante akan kabari nanti. Sekarang pulanglah," pinta Rika jengah.


"Janji ya, Tante."


Flashback off


Entah apa yang dipikirkan Rika. Sebelum datang ke klinik, ia menelepon Angel dan memintanya datang malam ini. Angel langsung setuju, karena ia beralasan pada orang tuanya menginap di rumah seorang teman, padahal Angel menginap di hotel.


Tok ... tok. "Tante," sapa Angel yang langsung masuk ke ruangan Rika.


Rika hanya menghela nafasnya tanpa berucap apa-apa. Rika melepas jas profesinya dan menggantungnya pada gantungan yang tersedia. Ditatapnya lekat jas itu. Rika tahu ini menyalahi aturan. Karenanya, Rika tidak mengenakan jas itu saat akan melakukannya.


"Ikut tante." Ujarnya dingin.


Angel mengikuti langkah Rika menuju sebuah ruang tindakan. Klinik itu memang milik Rika. Ia juga bekerja sama dengan rekannya yang seorang dokter kandungan dan membuka praktek di sana. Meski hanya memiliki 3 ruang inap, peralatan di klinik itu terbilang memadai.


"Selamat malam, Dok," sapa seorang perawat.


Rika mengangguk pada perawat itu dan seorang keluarga pasien yang lewat di sana. Rika dan Angel pun masuk ke dalam ruangan diiringi tatapan heran dari perawat tadi.


Di dalam ruang tindakan, Angel memperhatikan setiap sudut ruangan itu. Ada beberapa ruangan lagi di dalamnya. Dan saat ini, mereka menuju ruang USG.


Angel menuruti setiap perintah Rika. Ia berbaring dan menyingkap t-shirt yang dikenakan. Tatapannya tertuju pada layar monitor yang sejujurnya ia tidak mengerti gambar yang tidak jelas itu.


"Delapan minggu," ujar Rika pelan.


Angel mengangguk pelan. Tidak jauh dari perkiraannya.


"Kamu yakin akan menggugurkannya?" tanya Rika.


"Iya, Tante. Nggak lama, kan?" Angel balik bertanya.


"Nggak sampai 30 menit," sahut Rika santai. Padahal sebenarnya dalam dada Rika, jantungnya berdebar sangat kecang.

__ADS_1


"Oke deh. Sekarang apalagi, Tan?" tanya Angel seakan sudah tidak sabar ingin melalui semuanya.


Angel beranjak dari tempat tidur dan mengikuti langkah Rika ke ruangan lain. Rupanya itu ruangan untuk tindakan operasi caesar dan sudah ada seorang perawat yang sedang menyiapkan peralatan yang dibutuhkan. Tentu saja perawat itu melakukannya atas permintaan Rika.


Angel menatap horor pada peralatan yang berjejer rapi di dekat ranjang. Memang tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk membuat Angel mulai bergidik membayangkan apa yang akan terjadi.


"Berbaringlah. Usahakan untuk rileks. Akan ada bius lokal di bagian **** '*', untuk mengurangi rasa nyeri. Kamu bisa menahannya, kan?" tanya Rika sambilmengenakan sarung tangan latex.


Angel mengangguk ragu. Rika akan melakukan aspirasi vakum. Cara kerjanya adalah dengan menyedot janin dan plasenta keluar dari rahim menggunakan alat tabung kecil (dikutip dari hellosehat.com).


Rika berharap proses ini akan cepat selesai. Ia tidak ingin ada yang mencurigai apa yang dilakukannya saat ini. Karena tentu akan mengancam kelanjutan profesi juga izin kliniknya.


Rika mulai melakukan peyuntikkan bius pada area pribadi Angel. Terlihat ringisan pelan di wajah Angel saat merasakan suntikan yang Rika berikan. Angel kemudian terbelalak melihat wujud vakum yang akan digunakan.


"Sudah siap?" tanya Rika pada Angel, juga pada perawat yang membantunya.


"I-iya, Tante," sahut Angel sambil berbaring mencoba merilekskan tubuhnya.


"Kita mulai ya," ujar Rika memberi aba-aba.


Rika mulai melakukan rangkaian prosedur awal yang sempat dipelajarinya dari file yang dikirimkan temannya. Rika beralasan hanya ingin menambah wawasan saat temannya itu bertanya tujuan Rika mencari tahu informasi tentang aspirasi vakum.


Rika mulai memeriksa bagian luar untuk menentukan ukuran vakum yang akan digunakan. Harus pas karena jika tidak sesuai ukurannya, vakum tidak bisa digunakan. Setelah mendapatkan yang pas, Rika mulai memasukkan vakumnya.


Angel tersentak dengan kedua mata yang terbelalak. Sangat terasa sekali sedotan kuat dari alat itu di dalam rahimnya.


Setelah ditarik keluar, Rika terlihat agak bingung. Pada perawat itu, ia berkata : "Sepertiya agak lengket."


"Kalau begitu, ada kemungkinan kurang bersih, Dok."


"Kita bersihkan secara manual," ujar Rika.


Perawat itu menyiapkan peralatan yang kurang. Rika pun mulai membersihkan dengan peralatan yang sudah tersedia.


"Aww!" tiba-tiba Angel memekik sangat kencang.


Rika yang sedang fokus terperanjat, kemudian terbelalak melihat darah mengucur dari area itu. Rika mulai panik saat Angel menjerit histeris merasakan sakit yang teramat sangat.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2