
Happy reading ....
🌿
Adisurya mengantar anak-anak tanpa keluar dari mobilnya. Setelah ketiganya bersalaman, mereka pun turun dan melangkah menuju gerbang sekolah.
Rayhan menghampiri Raka yang sedang melepaskan helm. Mereka menunggu Ghaisan, baru kemudian masuk bersamaan.
Sementara itu ....
"Nisa! Nisa, tunggu!" seru Istiqomah sambil berlari ke arah Annisa.
"Hei, Isti! Kamu sepertinya senang sekali."
"Iya dong. Weekend kemarin aku ke tempat nenek dan kakek. Eh tahu nggak, Nis ...."
"Apa?" tanya Annisa cepat. Keduanya mengobrol sambil berjalan ke arah kelas mereka.
"Nenek dan kakekku itu kan penjaga vila, dan kamu tahu vila siapa itu?"
"Vila siapa? Artis? atau vila Pak Presiden?" Annisa terlihat bingung.
"Bukan. Tapi vila ayah angkat kamu. Papanya Kak Rayhan sama Dita." Sahutnya dengan semangat.
Annisa mencoba untuk mengingat. Kemudian ia berucap dengan ekspresi seakan tak percaya, "Bi Marni sama Mang Dayat?" Isti mengangguk cepat.
"Kamu cucunya Bi Marni?" tanya Annisa lagi.
"Iya. Aku juga nggak nyangka loh. Dunia ini jadi terasa sempit ya."
Keduanya terlihat senang dengan hal itu. Ingin sekali Annisa berbagi kabar gembira dengan sahabatnya. Tapi melihat kebahagiaan Isti, ia berfikir mungkin lain kali saja.
"Dorr! Kalian happy banget. Ada apa sih? Ajak-ajak dong," ujar Yuda yang menyela diantara Annisa dan Isti.
"Kamu main nyelonong aja sih, Yud," delik Isti.
"Yee, judes amat Bu Haji. Aku juga kan ingin seperti kalian," ujar Yuda yang langsung memegang tangan keduanya dan berjingkrak dengan ekspresi senang yang dibuat-buat, namun hanya sesaat.
"Begitu. Ajak aku dong, jangan cuma berdua," sambung Yuda sambil melepaskan tangan Isti dan Annisa.
"Kamu kenapa? Aneh," ujar Annisa dengan tatapan horor.
"Iya, aneh. Yuk Nis, kita duluan. Oh iya, aku bawa buku Bahasa Inggris yang untuk kamu itu loh."
"Oh ya? Terima kasih," ucap Annisa.
Isti dan Annisa bergandengan meninggalkan Yuda yang tertegun.
"Idih, kalian jahat. Awas ya. Nisa! Isti! Tunggu!" seru Yuda sambil berlari kecil.
__ADS_1
Melihat Yuda yang berlari ke arah mereka. Isti dan Annisa juga berlari untuk menghindarinya.
"Hei, jangan tinggalin aku!" seru Yuda lagi dengan cueknya. Ia seakan tak perduli dengan tatapan aneh siswa lain yang ada di sepanjang koridor sekolah, termasuk juga Raydita.
Raydita menatap jengah sikap Annisa dan kedua temannya. Bagi Raydita, sikap kekanak-kanakkan seperti itu sangatlah kampungan.
Tidak biasanya Raydita merasa malas untuk belajar. Bayangan sikap manis papa dan mama pada Annisa berkelebat begitu saja. Belum lagi ucapan papa yang mengatakan bahwa Annisa adalah putri kandungnya.
"Kalian anak Adisurya." Kalimat itu juga menggema di kepala Raydita.
Papa bohong. Walaupun aku sepersusuan dengan Kak Ehan, tetap saja aku ini bukan anak papa. Batinnya.
Raydita menghentikan langkahnya tepat di dekat lorong toilet. Ia menatap malas tangga yang menuju lantai atas tempat kelasnya berada. Kemudian tatapannya beralih ke lorong toilet siswa.
Satu helaan napas dibuang Raydita, kemudian berbelok ke arah toilet. Pikirannya saat ini benar-benar kacau. Raydita merasa malas untuk belajar, apalagi di kelas ada Annisa. Si anak kandung yang kini jadi kesayangan papanya.
Apa aku sembunyi di toilet aja ya? Batinnya.
Raydita sudah masuk ke dalam salah satu bilik toilet yang letaknya paling ujung dari jejeran bilik toilet siswi tersebut. Di saat yang bersamaan, Viola dan Anya, temannya juga masuk ke sana.
"Vio, bolos yuk!" ajak Anya sambil mencuci tangan.
"Ayo. Gue juga lagi males nih. Mana pelajaran pertama Metematika lagi," sahut Viola.
"Ke base camp?"
"Iya lah, kemana lagi? Mana bisa ngelewatin security. Bokap udah wanti-wanti jangan buat masalah."
"Ini kan tahun terakhir bokap menjabat. Kalau sampai ketahuan gue bikin masalah, bokap nggak bisa dipilih lagi. Lo tahu kan, keputusan dewan komite itu tergantung keputusan Tuan Adisurya, dan dia orangnya nggak suka ada masalah," tutur Viola.
"Tapi Bokapnya Si Ray itu kayanya cuek ya."
"Nggak kelihatan kan kalau dia punya kuasa di sekolah ini?" Anya mengangguki ucapan Viola.
Saat keduanya hendak melangkah keluar toilet, mereka terkejut ada siswi keluar dari bilik toilet yang paling ujung. Pikir mereka tidak ada siapapun di sana.
"Sial. Rupanya ada yang dengar, dan ternyata ini adalah anak kelas 1 yang belagu itu. Siapa namanya?" umpat Viola yang kemudian bertanya pada Anya.
"Mmm siapa ya?" Anya mencoba mengingat.
"Gue Raydita. Kenapa memangnya kalau gue belagu, masalah buat kalian heh?" jawab Raydita dengan gayanya yang angkuh.
"Ck, Lo lupa ya siapa gue?" tanya Viola ketus sambil mendekati Raydita.
"Lo cuma anak kepala sekolah kan?" cibir Raydita.
"Cuma, Lo bilang?" Anya terlihat geram dan melangkah ke depan, namun ditahan Viola.
"Dia ngelunjak, Vio," ucap Anya tak terima. Mendapat isyarat dari Viola, Anya pun melangkah mundur dengan perasaan geram.
__ADS_1
Raydita menyeringai sambil berucap, "Lo tahu siapa gue? Gue, Raydita Adisurya. Pemilik tanah tempat sekolah ini berdiri. Bokap Lo itu, jongos papa gue. Jadi Lo nggak usah belagu deh. Sok-sokan suka sama Kak Ehan," delik Raydita dengan angkuh, dan sukses membuat wajah keduanya memucat dengan mata yang terbelalak.
Bel masuk mengembalikan kesadaran mereka. Dengan cepat Anya mengingatkan Viola, "Vio, ayo ke atas. Kalau udah pada masuk bisa ketahuan."
Masih dengan sisa keterkejutan, tanpa berucap sepatah kata pun Viola membalikkan badan. Namun langkah mereka terhenti oleh ucapan Raydita, "Kalian mau bolos kan?"
"I-iya," sahut Viola gugup.
"Gue ikut. Gue lagi males di kelas," ujar Raydita dingin.
"O-oke. Ayo!" Viola menyanggupi. Meski Anya terlihat tak setuju, namun dengan isyarat Viola, temannya itu menurut saja.
Sementara itu di dalam kelas, Annisa merasa heran karena Raydita belum kelihatan batang hidungnya. Para siswa sudah bersiap dengan kedatangan guru mata pelajaran pertama, namun Raydita belum juga ada.
Dita kemana ya? Mela sama Tasya ada ..., batin Annisa.
"Mel, Si Dita kemana?" tanya Tasya pelan pada Mela yang sedang menunggu jawaban chats dari Raydita.
"Ck. Belum dibaca," sahut Mela kesal karena mau tak mau ia harus memasukkan ponselnya.
"Tanyain sama jangan si Upik Abu?"
"Nanti aja deh. Mr. James bisa ngamuk kalau kita berisik," sahut Mela sambil melirik pada Annisa.
Di salah satu bagian atap sekolah, Raydita tidak menyangka jika tempat seperti itu dijadikan base camp oleh Viola dan Anya. Walau cukup luas, ada beberapa tangki penampungan air di sana. Ada juga beberapa kursi bekas yang disusun rapi di salah satu sudutnya.
Pagar besi menghalangi pingirannya. Area gedung sekolah empat lantai itu terlihat luas dari atas.
"Dit, benar Lo adiknya Rayhan?" tanya Viola hati-hati.
Raydita menghampiri dan duduk di kursi yang disiapkan Anya.
"Kalau nggak percaya, tanya aja sama bokap Lo." Deliknya.
"Terus, kalau anak kelas 1 yang katanya pacar Si Ray, itu siapa? Gue pernah lihat kalian turun bareng. Ooh, jadi yang waktu itu Tuan Adisurya. Hehe maaf gue nggak ngenalin kalau lagi pakai baju casual," tutur Anya sambil nyengir.
"Jangan bilang dia adiknya si Ray juga," timpal Viola.
"Lo mau tahu siapa dia?" Viola mengangguk cepat, lalu mendekatkan telinganya pada bibir Raydita.
"Whats? Lo serius?" pekik Viola.
"Apa, Vio? Dia siapanya Ray?" Anya penasaran.
"Serius lah. Apa untungnya gue bohongin Lo? Kalau Lo mau dapatin Kak Ehan? Lo harus bisa nyingkirin dia," ujar Raydita.
"Heh, tentu. Rayhan cuma punya Viola. Siapapun yang mencoba merebutnya, bakal jadi mangsa empuk buat gue. Lo lihat aja nanti," desis Viola.
Raydita menyeringai licik. Akhirnya ada yang bisa dijadikan alat untuk menyingkirkan Annisa. Dengan begitu, ia tetap bisa menjadi anak manis demi mendapatkan perhatian kedua orang tuanya.
__ADS_1
_bersambung_