
Happy reading ....
🌿
"Tunggu dulu, i-ini apa maksudnya? Tadi pagi Lo nggak masuk kelas karena sakit perut? Terus, Nisa bilang ke mama, gitu?" tanya Rayhan sambil melepaskan tautan tangan Raydita.
"Nisa nggak bilang apa-apa ke mama, Kak," sahut Nisa.
"Bohong. Lo ngadu ke mama. Mentang-mentang status Lo udah berubah. Dasar tukang ngadu. Lo cari perhatian mama kan?" delik Raydita.
"Enggak. Beneran, aku nggak ngadu apa-apa ke mama, selain apa yang kamu ucapin ke Mang Asep tadi." Annisa membela diri.
"Lo ngomong apa ke Mang Asep?" tanya Rayhan pada Raydita.
"Ee ... itu, tadi aku pergi sama teman-temanku, Kak. Sama Mela, sama Tasya," sahut Raydita mencoba untuk tidak terlihat gugup.
"Tasya? Lo yakin?"
"Iya. Masa Dita bohong sih, Kak."
"Heh, Lo mau coba adu domba gue sama Nisa ya? Asal Lo tahu, tadi gue lihat Tasya ada di sekolah. Dia nungguin sepupunya yang lagi basket sama gue. Nggak percaya? Tanya tu sama Raka," ujar Rayhan dingin.
Wajah Raydita memucat. Ia tak mungkin lagi mendebat Rayhan saat Raka menganggukkan kepala. Dengan kesal, Raydita meninggalkan kamar Annisa.
"Dia kenapa jadi begitu sih?" gumam Rayhan.
"Udah lah, Ray. Jangankan Dita, gue, Lo, dan Nisa juga, pasti pernah bohong. Iya kan, Nis?" tanya Raka pada Annisa.
"I-iya, Kak." Nisa tersenyum kecut.
Rayhan mengacak kasar rambutnya yang masih basah. Ia dan Raka meninggalkan kamar Annisa.
Sementara itu, Annisa merasa bingung dengan apa yang terjadi. Hari ini, Raydita seperti tak terkendali.
"Apa ini semua karena Dita takut tidak dianggap lagi di keluarga ini? Aku jadi tidak enak, bagaimanapun juga tidak ada yang menginginkan situasi ini," gumam Annisa. Ia pun kembali membaca buku pemberian sahabatnya.
__ADS_1
***
Di kamarnya, Raydita benar-benar merasa gusar. Ia menganggap semua orang sudah berubah. Ingin rasanya mengadu, tapi harus mengadu pada siapa?
"Tunggu dulu, aku merasa ada yang aneh ...," gumam Raydita mencoba untuk berfikir. Ia kemudian teringat ucapan Mama Rianti yang menurutnya punya arti berbeda dengan apa yang diucapkan Papa Adi.
Dia putriku. Annisa Putri Adisurya. Dia bayi yang Kau dan Mas Adi tukar dengan Dita.
Nisa adalah saudari kalian. Dia anak mama dan papa. Anak kandung kami yang secara tidak sengaja tertukar di rumah sakit.
"Annisa itu sengaja ditukar, atau tidak sengaja tertukar? Aku jadi bingung ...." Gumamnya lagi.
Raydita teringat pada Dokter Rika. Raydita pun berinisiatif menanyakan segalanya pada mama dari Ghaisan itu. Ia kemudian meneleponnya.
"Halo, Tante. Lagi di mana?" tanya Raydita pelan.
"Di klinik. Kamu kenapa? Kok lemas, sakit?"
"Nggak, Tante. Dita lagi sedih aja. Tante lagi sibuk nggak?"
"Tante ... tante tahu kan semua tentang Dita?"
Hening. Tak ada jawaban apapun dari Rika.
"Tante, ceritain dong ke Dita." Pintanya dengan nada manja.
"Kamu ada masalah?"
"Mama barusan marahin aku, Tante. Gara-gara Nisa ngadu yang enggak-enggak. Mama berubah sejak tahu Annisa itu putri kandungnya," adu Raydita yang terdengar sedih.
Rika terhenyak. Ia tidak menyangka Adisurya dan Rianti ternyata sudah membeberkan kebenaran perihal Annisa.
"Mama sama papa kamu bilang apa, Sayang?"
"Kata papa, aku sama Nisa nggak sengaja tertukar di rumah sakit. Tante, Dita ini anak siapa?" Suara Raydita terdengar berat.
__ADS_1
Seketika amarah Rika meletup. Ia merasa geram pada Adisurya yang dinilai telah mengingkari ucapannya sendiri.
"Jangan sedih, Sayang. Tante yakin, ini hanya sementara. Rianti dan Adisurya sangat menyayangimu. Mereka baik pada Annisa hanya karena perasaan bersalah. Itu saja," hibur Rika.
"Nah itu, Tante. Kenapa mereka merasa bersalah? Kan kami tertukar bukan sesuatu yang disengaja. Mereka tidak adil, hanya karena ada Nisa, aku dilupakan begitu saja."
"Kamu tidak usah khawatir, Dita. Annisa itu hanya mimpi buruk bagi Rianti. Kalau tidak, mana mungkin Adisurya menukarnya denganmu."
"Maksud tante, kami sengaja ditukar?" tanya Raydita penuh selidik.
Rika terdiam sesaat, ia bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Raydita. Ia tak ingin mendengar kesedihan pada nada suara Raydita.
"Tante ... maksudnya apa? Kenapa Nisa itu jadi mimpi buruk mama?"
"Sebenarnya ... Annisa itu terlahir tidak sempurna," ucap Rika ragu.
"Maksudnya? Tidak sempurna bagaimana, Tante?"
Mau tak mau, ibarat kata sudah terlanjur basah, Rika pun menceritakan segalanya pada Raydita. Tidak, bukan cerita seutuhnya.
Seperti halnya Adisurya dan Rianti yang melewatkan tentang siapa sebenarnya Raydita ketika bercerita pada Rayhan, Rika pun melakukan hal yang sama. Hanya kebenaran tentang Annisa yang ia ceritakan pada Raydita.
Oh My God. Ternyata begitu ceritanya. Sekarang aku mengerti, batin Raydita saat telinganya sedang mendengarkan cerita Rika dengan seksama.
"Tante minta maaf, Sayang. Kamu pasti merasa terabaikan saat ini. Percayalah, lima belas tahun bukan waktu yang singkat. Mereka benar-benar menyayangimu," hibur Rika lagi mengakhiri ceritanya.
"Semoga saja, Tante. Terima kasih, Tante. Dita mau istirahat dulu, menenangkan pikiran biar nggak sedih lagi."
"Oke, Sayang. Kalau ada apa-apa, bilang sama tante ya. Kamu cerita semuanya. Tante pasti akan mendengarkan kamu."
"Iya, Tante. Terima kasih." Panggilan pun diakhiri. Raydita meletakkan ponselnya di atas nakas.
Di peluknya boneka yang biasa menemaninya tidur. Ada seringaian di wajahnya. Raut wajah Raydita terlihat puas dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Gue udah tahu kartu AS mama dan papa. Nisa pasti nggak tahu alasan sebenarnya kenapa kami bisa tertukar. Aah, bukan. Tapi ditukar. Ckckck ... gue harus mulai berfikir nih. Siapa yang akan gue bidik. Nisa atau mama?"
__ADS_1
_bersambung_