
Happy reading ....
*
Sangat berbeda dengan Ghaisan yang terlihat santai, Angel justru ketar-ketir dengan kehadiran pria itu. Angel sudah bisa menebak maksud kedatangan Ghaisan, apalagi tadi ia bisa masuk ke ruangan itu dengan mengaku sebagai Darel.
"Mau apa kamu ke sini? Jangan bilang kamu mau meminta kami menarik tuntutan terhadap dokter gadungan itu," hardik Reni.
"Jaga ucapan tante ya! Jangan membuat kesabaran saya habis," sahut Ghaisan datar.
"Heh. Sok-sokan kamu. Sudah sana pergi! Camkan ini ya di otak kamu, keluarga saya akan menuntut keadilan atas apa yng menimpa Angel. Nggak ada itu belas kasihan. Jangan mentang-mentang kenal, kamu mau rayu kami untuk melepaskan Rika. No way!" tegas Reni.
Ghaisan mengeringai tipis pada Reni, kemudian berucap, "Oke, kalau kalian inginnya seperti itu. Saya juga bisa melakukan hal yang sama. Tidak berbelas kasih," ujar Ghaisan sambil menoleh pada Angel dengan ujung mata yang disipitkan.
"Memangnya kamu mau apa? Kamu itu nggak pantas bicara begitu. Sombong," decih Reni.
"Banyak yang akan saya lakukan, Tante. Pertama, saya akan memperlihatkan pada tante bagaimana sebenarnya putri tante ini." Ghaisan menjeda kalimatnya. Ia menyeringai tipis melihat Angel menggeleng-gelengkan kepala dengan raut mengiba saat Ghaisan mulai memutar video asusilanya.
Sebenarnya Ghaisan sudah menghapus video itu. Akan tetapi, Raka yang ternyata masih menyimpannya mengirim ulang tanpa diminta, sesaat setelah meminta sahabatnya itu menanyakan nama pacar Angel pada temannya.
Reni terbelalak sambil membungkam mulutnya yang menganga. Ia menoleh pada Angel dengan tatapan nyalang dan siap membabi buta. Reni menyambar ponsel Ghaisan, beruntung Ghaisan sigap menjauhkannya.
"Tante mengerti kan maksud saya? Dan yang kedua, pihak kepolisian sudah mengantongi rekaman cctv klinik yang memperlihatkan bahwa Angel datang dua kali ke klinik di hari kejadian tidak dengan raut wajah terpaksa, apalagi tertekan. Dia bahkan masih sempat mengulum lolipop saat turun dari taksi. Ketiga, jika ini terbukti tuduhan semata, saya akan layangkan tuntutan balik dengan kasus pencemaran nama baik. Oh iya, nantinya kalian juga harus bersiap-siap berhadapan dengan Om Adisurya dengan kasus yang serupa," ujar Ghaisan santai.
Reni yang semula congkak, kini mulai memperlihatkan ekspresi bingung dan muram.
"Tante, saya akui yang dilakukan mama memang satu kesalahan fatal. Dan saya sangat menyesalkan hal itu. Tapi dalam kasus ini, berdasarkan keterangan dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan). Mama dan perawat yang membantu di saat kejadian memberikan keterangan yang saling melengkapi. Itu artinya, Angel juga harus bersiap berurusan dengan hukum." Ghaisan menatap Angel dan Reni yang seakan sudah kehabisan kata.
"Hmm, maaf tante, saya harus segera pulang," sambung Ghaisan sambil menoleh ke arah pintu. Terlihat dari frosted glass, petugas berdiri tepat di depan pintu ruangan itu.
"Oh iya. Mengenai video, saya beri waktu satu jam dari sekarang. Saya yakin, tante dan Om Darma pasti tahu apa yang harus dilakukan. Dan jika lebih dari satu jam saya tidak mendapat kabar baik, tante tentu tahu apa yang bisa saya lakukan," seringai Ghaisan sambil menggoyangkan ponsel yang digenggamnya.
Ghaisan berlalu dari ruangan itu. Saat ia sedang berpamitan pada dua petugas kepolisian, terdengar amukan Reni yang diikuti suara jeritan Angel. Kedua petugas itu terkejut dan langsung membuka pintu, sementara Ghaisan melangkah pergi dengan seringaian tipis di wajah.
Dari rumah sakit itu, Ghaisan menuju rumah sakit tempat Rika dirawat. Dari luar ruang ICU, Ghaisan menatap sendu pada Rida yang terbaring tidak berdaya.
__ADS_1
Belum lama ini Ghaisan mengetahui cerita yang sebenarnya mengenai masa lalu Annisa. Ia yang semula bersikeras tidak mau hubungannya dengan Annisa merenggang, harus menelan saliva saat mengetahui cerita Raydita tentang kejadian di masa lalu yang dilakukan ibunya.
Ghaisan merasa kehilangan muka. Kini ia tidak punya keberanian untuk menemui pujaan hatinya.
"Ma, Tante Rida sudah benar menolak rencana mama yang ingin menggugurkan kandungannya di masa lalu. Lalu mengapa mama justru memikirkan hal yang sama dua kali? Lihat hasilnya sekarang, tante yang seharusnya bahagia, terbaring lemah di sana. Dan Annisa ... Agas sangat mencintainya, Ma. Tapi dengan kenyataan ini, Agas tidak bisa berada diantara kalian berdua," batin Ghaisan sambil melangkah meninggalkan ruangan ICU.
Dengan menggunakan taksi, Ghaisan pulang ke rumahnya. Setelah mandi dan berganti pakaian, ia akan kembali ke kantor polisi mengantar makanan, pakaian, dan selimut untuk ibunya.
Senja mulai menyapa, suara gemuruh mulai terdengar bergantian dengan kilatan petir yang menggelegar. Ghaisan mengendarai mobilnya menuju sebuah restoran langganan Rika dan memesan menu kesukaan sang mama. Sambil menunggu pesanannnya selesai, ia berbicara dengan Bambang SH.—pengacaranya.
Rupanya, Darma dan keluarga sangat takut Ghaisan menyebarkan video asusila Angel. Mereka mecabut tuntutannya pada Rika. Akan tetapi, semua sudah terlanjur. Kasus itu sudah masuk ke ranah hukum dan tetap akan diproses sampai tuntas meskipun tuntutan pada Rika sedang dalam proses pencabutan. Imbasnya, Angel juga menjadi tersangka dan bersiap menjalani proses penyelidikan yang akan dijalaninya.
Hujan masih sangat lebat saat Ghaisan tiba di kantor polisi. Sebelumnya ia sudah meminta izin pada petugas yang berjaga di sana. Dikarenakan masih dalam masa tahanan sementara, Rika masih boleh dikunjungi tanpa melihat jadwal besuk. Tak hanya membawakan makan malam untuk ibunya, Ghaisan juga membawakan delapan cup kopi panas dan dua dus donat ternama untuk para petugas itu.
Ghaisan menyajikan makanan yang dibelinya di atas meja. Saat ini, ia sedang menunggu Rika mengganti pakaian di kamar mandi. Ghaisan tersenyum lebar melihat Rika berjalan menghampiri dan langsung menarik kursi untuknya. Rika menatap haru pada putranya, juga makanan yang dibawakan untuknya.
"Mama makan yang banyak ya. Supaya mama bisa tidur nyenyak," ujar Ghaisan lembut.
"Kamu juga ya, Sayang." Ghaisan mengangguk dan mulai menyuapkan makanannya.
Ghaisan terdiam.
"Apa kamu mengancam mereka? Kamu masih menyimpan video itu?" selidik Rika.
Ghaisan terkejut mendengar hal itu. Rika menyadari ekspresi wajah putranya tersebut.
"Angel menceritakan semuanya pada mama. Jadi, apa benar seperti itu?" tanya Rika lagi.
"Agas minta maaf, Ma. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa Agas lakukan saat ini. Sebenarnya Agas sempat bingung memikirkan caranya, karena video itu sudah Agas hapus. Tapi kemudian, Raka mengirimkannya lagi dan meminta Agas mempertimbangkannya. Raka bahkan mengancam akan menyebarkan video itu, karena meyakini pernyataan Angel yang mengaku telah dipaksa mama melakukan aborsi adalah sebuah fitnah," tutur Ghaisan.
"Raka?" gumam Rika.
"Iya ma, Raka. Ghaisan merasa beruntung memiliki sahabat yang selalu ada dalam situasi apapun juga. Rayhan dan Raka, kami bertiga sudah seperti satu anggota tubuh. Jika ada bagian yang sakit, semua bisa merasakannya."
Rika tertegun. Sikapnya sudah salah selama ini pada Raka. Rika menatap Ghaisan yang sedang lahap menyantap makanannya. Rika melihat ada kesedihan di raut wajah putranya.
__ADS_1
"Kamu terlihat sangat lelah, tidur yang nyenyak ya di rumah. Mama akan membiasakan diri di tempat seperti ini. Kata petugas, mama akan dipindahkan ke ruang tahanan yang ada di sebelah sana. Di sana ada tempat tidur, jadi ya lumayan dari pada di sel tadi," ujar Rika pelan.
"Maafkan Agas, Ma." Ghaisan tertunduk sangat dalam.
"Tidak, Sayang. Ini salah mama, dan mama sudah seharusnya mendapatklan hukuman atas kesalahan mama itu." Rika menggenggam tangan Ghaisan sangat erat.
Setelah makan malam usai, Ghaisan berbincang sebentar dengan Rika. Seorang petugas menghampiri dan meminta Rika segera ke ruang tahanannya yang baru.
Dengan berat hati, ibu dan anak itu harus berpisah. Rika memeluk erat Ghaisan dan memintanya untuk segera pulang. Ghaisan menatap nanar punggung ibunya yang digiring petugas. Ghaisan cukup lama duduk termenung di luar kantor polisi entah sedang memikirkan apa.
Ghaisan mulai beranjak dari tempatnya duduk. Langkahnya gontai menuju mobil yang terparkir di depan gedung itu. Beberapa kali ia menghela nafas dan membuang kasar. Ghaisan membuka kaca jendela dan mulai mematik sigaret untuk menemani perjalanannya menuju rumah.
Setibanya di rumah, Ghaisan memarkirkan mobilnya. Ghaisan turun dari mobil dan menuju teras rumahnya. Ghaisan terkesiap saat menyadari di teras itu ada Annisa. Antara rindu, malu dan ragu, bercampur dalam hati Ghaisan.
"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Ghaisan datar.
"Diantar ayah," sahut Annisa pelan sambil menatap Ghaisan yang memalingkan wajahnya.
"Om Adi-nya kemana?"
"Pergi dulu sebentar. Katanya ada perlu."
"Oh. Kamu mau apa ke sini? Bukannya kamu sendiri yang meminta kita tidak usah bertemu?" tanya Ghaisan dingin.
"Kak Agas sudah makan?" tanya Annisa mengalihkan percakapan.
"Sudah. Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan, sebaiknya kamu pulang." Ghaisan membuka pintu rumahnya dan berlalu meninggalkan Annisa.
"Kak," panggil Annisa pelan.
Ghaisan menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Ia bisa merasakan Annisa berjalan mendekatinya. Hatinya berdesir merasakan kedua tangan Annisa yang melingkar di pinggangnya. Ghaisan mencoba untuk menahan gejolak di dalam dada saat merasakan Annisa menempelkan wajah di punggungnya.
"Nisa kangen, Kak," lirihnya.
_bersambung_
__ADS_1