
Happy reading ....
*
Sejak adanya yayasan itu, tekad Annisa untuk bisa mengajar semakin kuat. Jika nanti saatnya tiba anak-anak telah memulai sekolahnya, Annisa berkeinginan membantu mengajar di Yayasan 'Bunda Asih'.
Tidak hanya Annisa, Isti juga mengutarakan hal yang hampir sama. Setidaknya, setiap hari Jumat, Isti ingin membagikan makanan untuk anak-anak di yayasan tersebut.
Tapi itu nanti, menunggu tahun ajaran baru di mulai. Karena saat ini, di minggu ini, mereka disibukkan dengan persiapan pernikahan Isti dan Rayhan.
Persiapan pernikahan itu membuat Rianti tak ingin berlama-lama di London. Nyonya Adisurya itu ingin terlibat langsung dalam persiapan meskipun selama ini, ia dan Ikah sudah cukup sibuk merencanakan segalanya.
Bagaimana dengan Rayhan?
Jangan ditanya. Kakak dari Annisa dan Raydita itu bahkan tidak perduli pada acara kelulusan jika bukan Adisurya dan Rianti yang memaksa tinggal sampai urusan sekolahnya selesai.
Dan hari ini, sepulang kuliah Raydita sengaja menjemput mereka di bandara. Sejak keluar dari pintu kedatangan, sosok Rayhan yang tampan mampu mengalihkan perhatian banyak orang. Terutama para wanita muda yang ada di sana.
Bisikan kekaguman hampir terdengar di sepanjang langkah Raydita. Tidak dipungkiri, Rayhan memanglah mempesona. Terlebih dengan kaca mata hitam yang dikenakannya.
"Kak Ehan!" seru Raydita sambil melambaikan tangan. Rayhan membalas lambaian tangan Raydita sambil tersenyum, dan hal itu justru membuat beberapa wanita itu nampak bahagia.
"Sudah lama nunggu?" tanya Adisurya.
"Belum, Pa. Baru datang," sahut Raydita yang langsung menghampiri Rayhan.
"Nisa nggak ikut?" tanya Rayhan sambil merengkuh pundak Raydita.
"Masih ada kuliah," sahut Raydita. Keluarga itu pun berlalu menuju bagian luar bandara. Tak ayal, ada beberapa yang mengabadikan kebersamaan mereka dengan kamera ponsel. Bahkan ada yang mengunggahnya di media sosial dengan keterangan menggelitik.
'Minggir, WOY!!! Cowok ganteng lewat ....'
'Calon CEO nih. CEO di mana? .... di hatiku, hatimu, dan hati kita semua wkwkwk.'
Sementara itu, Rayhan yang mengambil alih kemudi mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran milik keluarganya. Selain sudah waktunya makan siang, Rayhan juga ingin menemui seseorang di sana.
"Ciee yang udah nggak tahan," sindir Raydita yang duduk di sampingnya sambil memegang bunga yang tadi dibelinya atas pesanan Rayhan. Raydita mengulumkan senyum melihat wajah Rayhan yang sumringah.
"Jangan ngebut, Han. Ingat, malam pertama sudah di depan mata," timpal Adisurya dari kursi belakang.
"Siap, Pa," sahut Rayhan sembari tersenyum lebar.
__ADS_1
Kebahagiaan Rayhan itu tentunya menular pada semua anggota keluarga Adisurya. Mereka hanya bisa terkekeh dan menggeleng pelan saat Rayhan turun dengan terburu-buru dari mobil yang sudah terparkir di depan restoran sambil membawa bunga.
"Nisa pulang jam berapa, Dit?" tanya Adisurya.
"Kalau nggak salah sih jam dua, Pa," sahut Raydita.
"Hmm nggak bisa makan bareng kita dong ya," sesal Adisurya.
"Mama telpon deh, siapa tahu bisa bolos," seloroh Rianti.
"Diih, Mama. Nisa mana mau bolos kuliah. Kaya nggak tahu aja," ujar Raydita.
"Hmm ya sudahlah. Nanti malam aja kita bikin acara makan malam bersama. Kita rayakan kelulusan Rayhan dengan makan malam keluarga. Mama akan minta calon besan datang ke rumah. Jangan lupa, pacar kamu juga suruh datang," ucap Rianti.
"Iya, Ma," sahut Raydita.
"Gimana, Dit? Kamu sama Yuda serius?" tanya Adisurya dengan mimik menggoda.
"Serius lah, masa enggak," sahut Raydita dengan wajah yang merona menghindari tatapan kedua orang tuanya.
Ketiganya mulai memasuki restoran dan langsung disambut hangat manager dan beberapa staf, juga chef restoran tersebut. Sementara di sisi lain restoran itu ....
Langkah Rayhan yang semula cepat, mulai melambat saat aroma kue tercium hidungnya. Di ambang pintu ruangan bakery, Rayhan menatap punggung wanita berjilbab yang sedang membuat adonan pastri yang tak lain adalah Isti.
"Assalamu'alaikum, Cantik," sapanya.
"Wa'alaikumsalam, Kak Ray," sahutnya dengan wajah merona.
Keduanya terlihat malu-malu dan salah tingkah. Terlihat jelas rasa rindu pada keduanya. Namun rasa rindu itu harus ditahan untuk sementara waktu.
"Kak Ray kapan datang?" tanya Isti sambil berlalu untuk mencuci tangannya.
"Baru aja," sahut Rayhan. Tatapannya tak lepas dari sosok gadis yang selalu mengisi setiap ruang dalam hati dan pikirannya itu.
Isti melepas apron yang dikenakannya. Sebelum berlalu, ia mengeluarkan satu loyang pastri yang sudah matang, dan memasukkan yang siap oven.
"Sayang, ke depan yuk!" ajaknya lembut.
Isti mengangguk sambil menata kue-kue itu di atas piring. "Yuk," ajak Isti yang mendekati Rayhan.
"Bismillahirrohmanirrohim, aaa ...." Satu kue disuapkan pada Rayhan yang spontan membuka mulutnya.
__ADS_1
"Enak?" tanya Isti.
"Hmm enak. Tapi ada yang lebih enak," ujar Rayhan.
"Apa itu?" tanya Isti.
"Wajah kamu," sahut Rayhan sembari memberikan buket bunga yang sedari tadi dipegangnya.
"Terima kasih," ucap Isti sambil terkekeh pelan. "Memangnya wajah Isti makanan?" deliknya manja.
"Enak dilihat, Sayang. Enak dipandang, enak di ...."
"Di, apa?" tanya Isti menggoda.
"Di cium, di kuel-kuel. Hehe, enak kali ya," sahut Rayhan dengan senyum terkulum dan membuat Isti tersenyum malu.
"Kak Ray pegang ini ya," ujar Isti menyodorkan piring kue.
"Kirain megang tangan kamu," seloroh Rayhan sambil menerima piring kue itu. Delikan manja yang diperlihatkan Isti membuat Rayhan semakin merasa gemas saja.
Setelah meminta rekan sesamanya untuk melihat kue buatannya di oven, Isti berjalan beriringan dengan Rayhan untuk menyapa calon mertuanya.
"Hai, Sayang! Hari ini kamu membuat apa?" tanya Rianti.
"Ini, Ma," sahut Isti yang meletakkan bunga di atas meja, dan mengambil piring kue dari Rayhan.
"Silakan. Hehe, harusnya makan dulu ya, ini malah kebalik," ujar Isti.
"Aku sih nggak masalah, mau di bolak-balik juga," celetuk Rayhan.
"Mode pasrah ya, Han?" goda Adisurya menimpali.
Rayhan terkekeh, tapi cepat-cepat meralatnya saat mendapat tatapan aneh dari Isti.
"Menu, Sayang. Nggak masalah di bolak-balik juga. Misal nih, dessert di awal, atau makanan inti di akhir. It's okay, yang penting makannya sama kamu," kilah Rayhan.
"Jiaah, gombal. Cowok doyan banget sih ngegombal. Udah kaya lalapan aja," seloroh Raydita.
"Ciee, yang sering digombalin pacarnya," goda Rianti.
"Iih. Apaan sih, Mama?" protes Raydita dengan wajah merona.
__ADS_1
Gelak tawa pun tak terhindarkan, dan mereka saling menggoda satu dengan lainnya. Tak ayal keluarga itu pun menularkan kebahagiaan pada mereka yang melihatnya.
_bersambung_