
Happy reading ....
Ujung mata Bi Susi dapat menangkap bahwasanya majikan perempuannya sedang salah tingkah. Sekilas ia mendengar apa yang diucapkan Nyonya Adisurya itu.
Apa Nyonya sudah tahu kalau Neng Nisa itu putrinya? batin Bi Susi.
Setelah meletakkan secangkir teh mint untuk Rianti, Bi Susi undur diri.
"Maksud mama, papa kalian kan menganggap Nisa itu sebagai putrinya. Itu artinya dia juga adik kamu kan, Han? Saudari kalian," tutur Rianti yang mencoba tak terlihat gugup.
"Ooh, kirain beneran dia adik Ehan. Lagian nggak mungkin juga, hehe."
"Ck, ngapain sih dia pakai kabur segala, cari perhatian. Nyusahin aja," decih Raydita.
"Nggak kabur juga sih, papa aja yang khawatirnya berlebihan," kilah Rianti.
"Mama juga gitu. Dari pagi Ehan dengar mama marahin pelayan."
"Ya itu ... karena mama khawatir sama papa kamu. Dia pergi begitu aja waktu tahu Nisa nggak di rumah."
"Heh, lama-lama ngelunjak tuh si Upik Abu."
"Kalian hari ini mau kemana?" Rianti mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin mendengar kedua anak itu menjelekkan Annisa.
"Dita mau les, Ma. Pulangnya mau hangout sama Tasya juga Mela. Boleh ya, Ma?"
"Boleh, asalkan diantar Mang Asep."
"Yaa mama." Raydita terlihat kecewa.
"Kenapa? Mang Asep nggak ngikutin kamu kan? Dia cuma nunggu di mobil."
"Iya aja gitu, susah amat. Dari pada nggak diizinin," imbuh Rayhan.
"Ingat, Dita! Jangan pergi lagi sama papanya Raka." Tegasnya.
Raydita mengangguk dengan wajah yang cemberut. Sementara Rayhan merasa heran mendengarnya.
"Lo pergi sama bokapnya si Raka, kemana?"
__ADS_1
"Cuma ke mall, Kak. Nggak lama kok."
"Kapan?"
"Kemarin."
"Kamu kenal Sandy, Han?"
"Nggak juga sih, Ma. Pernah nggak sengaja ketemu sekali."
"Om Sandy kan teman mama?"
"Bukan teman, hanya kenal di kampus."
"Ooh. Tapi dia kenal sama si Nisa."
"Kata siapa? Nggak mungkin."
"Iya kok. Kemarin dia nyapa Nisa, ngajak juga malahan," sahut Raydita malas. Rianti merasa heran, namun kemudian terlihat lega saat Rayhan berkata, "Om Sandy ketemu Nisa waktu lagi sama Ehan, Ma. Nggak cuma sama Ehan sih, sama Raka, sama Agas juga."
"Kak Ehan belakangan ini akrab banget sama dia. Nggak malu apa dilihatin anak satu sekolah?"
Rianti yang sedang menyeruput tehnya menajamkan pendengaran, mendengar obrolan Rayhan dan Raydita.
"Anak-anak kan tahunya Nisa pacar kakak."
"Uhhuk ... uhhuk." Rianti menepuk-nepuk dadanya sambil berdehem.
"Tuh, mama aja sampai keselek dengarnya. Kak Ehan aneh deh, Ma. Masa iya bilang si Nisa pacarnya. Terus, suka kumpul bareng lagi, suap-suapan segala malahan."
"Ngadu! Rese, Lo." Rayhan beranjak dari sofa menuju ruang makan. Putra Adisurya itu menarik kursi dan siap untuk sarapan.
"Emang bener." Raydita mengikuti Rayhan dan meminta dibuatkan sarapan lain oleh Bi Susi.
Rayhan mulai menyuapkan nasi goreng buatan Bi Susi, sementara Raydita menunggu roti lapisnya selesai dibuatkan sambil bermain ponsel.
Rianti tertegun, mencoba mencerna obrolan mereka. Dalam hati Rianti bergumam, "Apa mungkin Ehan suka sama Nisa? Oh My God, ini tidak bisa dibiarkan."
"Ma, Ehan boleh pakai mobil ya?" tanya Rayhan membuyarkan lamuanan Rianti.
__ADS_1
"Urus dulu SIM-nya." Rianti beranjak dan menghampiri mereka.
"Masih belum boleh sama papa, Ma. Please!"
"Ya kalau begitu jangan dulu. Tunggu sampai kamu 18 tahun."
Rayhan terlihat kecewa. Raydita terkekeh melihat raut wajah kakaknya itu.
Mobil sport mewah itu memanglah milik Rayhan. Mobil yang sama yang dipertaruhkan pada taruhan antara Rayhan dengan kedua temannya. Mobil itu merupakan hadiah ulang tahunnya yang ke-17. Namun Adisurya melarang putranya menggunakan mobil itu sebelum usia Rayhan genap 18 tahun.
"Mmm Dita minta apa ya ulang tahun nanti?"
"Masih lama. Norak, Lo."
"Idih, ada yang bad mood."
Rayhan dan Raydita saling mengejek dengan ekspresi wajah. Sedangkan Rianti lagi-lagi larut dalam pikirannya sendiri.
Ulang tahun? Kalau Dita ulang tahun, bukankah itu artinya Nisa juga? Mereka lahir di hari yang sama. Hadiah apa yang selama ini Nisa dapatkan di hari ulang tahunnya? Tiba-tiba saja Rianti merasa hatinya sangat sakit. Jangankan hadiah, mungkin Asih bahkan tidak perduli dengan hari kelahiran putrinya itu.
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Rianti. Cepat-cepat ia beranjak untuk menyambut kedatangan suami dan putrinya. Ia tidak menghiraukan tatapan aneh dari dua remaja yang sedang mengunyah makanan mereka.
"Neng. Syukurlah Neng Nisa tidak apa-apa." Suara Bi Susi yang sedari tadi menunggu di depan rumah menghentikan langkah Rianti. Istri Adisurya itu berdehem untuk menetralkan perasaannya.
Rianti melangkah menuju halaman rumah. Senyum Annisa langsung memudar ketika melihat kedatangannya.
"Nisa, sini Nak!" Annisa menghampiri Ayah Adi yang kemudian berbisik, "Minta maaf sama ibu ya."
Annisa mengangguk pelan. Ayah dan anak itu mendekati Rianti yang terpaku dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Bu, maafkan Nisa, karena sudah membuat ibu khawatir." Ujarnya pelan sambil menundukkan kepala.
Rianti menatap pucuk kepala Annisa dengan bola mata yang bergetar. Sisi keibuannya ingin sekali memeluk dan mengatakan ia lega melihat putrinya sudah kembali ke rumah. Namun lagi-lagi ia tepis dan memilih untuk berkata, "Yang saya khawatirkan itu Mas Adi, bukan kamu."
Rianti menarik lengan Adisurya yang mengulumkan senyuman. Pria itu paham bagaimana perasaan Rianti saat ini.
"Ayah ke dalam dulu ya. Ingat! Jangan keluar rumah sebelum mendapat izin dari ayah atau ibu." Ujarnya, dan diangguki oleh Annisa.
Bi Susi tersenyum tipis. Ada asa di balik senyuman itu. Ia berharap setelah ini kehidupan Annisa semakin baik saja. Bi Susi bersyukur, ada hikmah dibalik kehebohan pagi ini.
__ADS_1
_bersambung_