Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Raka-Yuli (halusinasi?)


__ADS_3

Happy reading ....


*


Setibanya di ibukota, kediaman Adisurya yang menjadi tujuan pertama Raydita. Hal itu lantaran dirinya akan menginap di rumah Rida.


Dari balik kemudi, Raydita tersenyum lebar mengetahui Rianti, Annisa, dan Adisurya sudah menunggu di teras. Sepertinya mereka sengaja menunggu kedatangan Raydita sambil menikmati keindahan senja.


"Assalamu'alaikum ...," sapa Raydita.


"Wa'alaikumussalam," sahut mereka.


"Syukurlah, kamu sampai dengan selamat. Mama sempat khawatir saat tahu kamu pulang sendiri," ujar Rianti.


"Nis, bawain dong," pinta Raydita sembari memberikan paper bag yang dibawanya.


"Siap," sahut Annisa.


"Masuk, yuk! Anginnya mulai dingin," ajak Adisurya.


"Papa udah mulai tua ya. Angin begitu aja terasa dingin," seloroh Rianti.


"Eeh, Mama. Sebentar lagi Ehan menikah, kita akan punya cucu. Terus nanti Nisa sama Dita juga nyusul Ehan. Mmm di rumah kita ini akan banyak anak kecil. Jadi kita harus jaga kesehatan, biar bisa main sama cucu," sahut Adisurya.


"Dengar itu, Ma. Tapi kalau nikah, Nisa aja dulu deh yang udah ada calonnya. Dita ikhlas kok belakangan, hehe," sahut Raydita.


"Jangan salah, jodoh itu datang tanpa diundang lho," seloroh Annisa.


"Jailangkung kali ah, datang tak diundang pulang tak diantar," kelakar Raydita. Annisa terkekeh begitu juga Adisurya yang merengkuh Raydita. Mereka pun berkumpul di ruang keluarga sambil membuka oleh-oleh yang dibawa Raydita.


"Nis, gue sama Kak Raka ketemu teman lo di resto," ujar Raydita.


"Teman Nisa, siapa?" tanya Rianti yang kemudian menoleh pada Annisa, dan dijawab dengan gelengan cepat.


"Namanya Yuli," sahut Raydita.


"Yuli? Yang benar kamu ketemu Yuli, Dit? Restoran mana?" tanya Annisa antusias. Pasalnya, ia dan Yuli kehilangan kontak. Nomor ponsel Yuli sudah lama tidak aktif.


"Keluar dari jalan tol **, apa ya lupa lagi nama restonya. Nanti tanyain deh sama Kak Raka," usul Raydita.


"Oke, nanti aku tanyain," sahut Annisa senang.


"Teman di mana, Sayang?" tanya Adisurya.


"Di desa, Yah," sahut Annisa.

__ADS_1


"Dia nggak kuliah?" tanya Adisurya lagi.


"Nggak tahu, Yah. Tapi kayanya nggak mungkin deh. Pak Indra itu orang berada kok," sahut Annisa bingung.


Adisurya mengangguk-angguk pelan. "Kalau dia nggak kuliah, Ayah akan bantu dia," imbuhnya.


"Beneran, Yah? Terima kasih," ujar Annisa sembari memeluk Adisurya.


"Jangan dulu bilang terima kasih dong, 'kan belum." Adisurya mengusap surai Annisa, lalu menciumnya.


***


Dua bulan kemudian ....


Pekan ini, Annisa dan teman-teman se-agkatannya sudah mulai masuk kuliah. Mereka mengikuti ospek yang diadakan di kampus masing-masing. Tidak terkecuali di kampus Raka.


Meski tidak aktif di organisasi kampus, Raka dan teman-temannya asik memperhatikan para mahasiswi baru. Binar mata mereka tak ubahnya seperti predator yang mengamati mangsa.


"Ka, yang itu tuh! Alamaak, cantik nian ...," puji seorang teman Raka.


"Yang itu memang cantik, tapi baju merah itu yang paling perfect. Selain cantik, dia juga seksi," timpal seorang temannya yang lain sambil menunjuk seorang mahasiswi yang berjalan tak jauh dari tempat mereka berada.


"Lewat ah! Bukan selera gue," sahut Raka.


"Yee, ya jangan disamakan sama anak pengusaha kaya itu dong, Ka. Ya jelas jauh. Ini standar menegah ke bawah, Bro," seloroh teman Raka.


"Bukan itu maksud gue. Selera gue juga nggak tinggi-tinggi amat," kilah Raka.


"Terus, lo nyari yang gimana sih?" tanya temannya lagi. "Coba lo perhatiin, masa iya dari sekian banyak nggak ada satu pun yang nyangkut," imbuhnya.


"Mmm yang gimana ya?" gumam Raka sembari mengedarkan tatapannya.


"Yuli?" gumam Raka dalam hati saat tanpa sengaja tatapannya menemukan sosok yang ia cari.


"Oh My God! Itu benar Yuli, 'kan?" pekik Raka masih di dalam hatinya.


Raka berjingkrak dan senyum-senyum sendiri, kemudian salah tingkah mendapati tatapan aneh teman-temannya.


"Lo kenapa, Ka?" tanya temannya.


"Eh? Nggak kenapa-napa, hehe. Ada semut gigit di ketek jadi geli, haha. Udah ya, gue pergi. Bye!" pamitnya.


Raka berlalu meninggalkan teman-temannya yang menetap horor sekaligus heran dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba berubah.


Raka berlari kecil menghampiri tempat dimana tadi ia melihat Yuli. Namun Raka harus kecewa, karena ternyata Yuli sudah meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Dia kemana sih? Cepat banget hilangnya. Atau jangan-jangan itu halusinasiku aja ya?" gumam Raka celingukan sambil berkacak pinggang.


"Ah, bodo amat. Sekalipun itu cuma bayangannya, gue kejar! Kalau perlu, gue pakai jurus seribu bayangan biar bisa nangkap bayangannya Yuli," tandas Raka. Ia pun berlalu mencari-cari ke tempat yang biasanya sering didatangi para mahasiswa baru.


Dua puluh menit kemudian ....


Raka mulai kelelahan mencari kesana-kemari, tapi jangankan sosok Yuli, bayangannya pun tidak ditemukan.


"Haiss! Gue yakin itu dia. Nggak mungkin gue salah lihat, apalagi salah mengenali," gerutu Raka bermonolog. Raka tidak perduli jika apa yang dilakukannya mengundang perhatian orang yang berlalu lalang.


"Tunggu. Gue belum ke perpustakaan. Apa mungkin dia ada di sana? Hmm secara dia kan setipe sama Annisa. Bisa jadi 'kan?" gumamnya kemudian.


"Oke. Bebeb Yuli, i'm coming!" serunya dengan suara pelan, tapi gayanya terlihat meyakinkan.


Raka melangkah lebar menuju ke ruang perpustakaan. Di bagian depan, perpustakaan, Raka bertemu dengan salah satu temannya.


"Oh My God! Nggak salah lo datang ke sini? Tunggu, tunggu. Apa gue yang salah tempat ya?' Raka menatap aneh pada temannya yang sedang mendongak untuk memastikan nama ruangan tersebut.


"Ah, benar kok. Ini memang perpustakaan. Teruss, angin apakah yang membawa seorang Raka datang ke tempat ini?" tanya temannya setengah mengejek.


"Hmm sialan lo. Emangnya gue nggak boleh ke sini? Lo mau tahu angin apa, heh? Angin cinta. Hahaha," kelakar Raka sambil menoyor kepala temannya itu.


"Ssstt, jangan berisik."


Seketika tawa Raka terhenti melihat penjaga perpustakaan sedang memelototinya.


"Hehe. Maaf, Bu. Ini 'kan masih di luar perpustakaan," kilah Raka yang tersenyum kecut mendapati delikan tajam dari penjaga perpustakaan itu.


"Mampus, Lo. Hihihi ... gimana, masih mau masuk nggak?" goda temannya tadi.


"Masuk dong. Jangankan ibu yang barusan, bokapnya juga gue hadapin. Siapa takut?" Raka berlagak sok berani masuk ke dalam ruang perpustakaan.


"Bokapnya? Bokap siapa memangnya?" gumam teman Raka heran. Ia pun berlalu masih dengan kebingungan akan sikap Raka.


Sementara itu di dalam perpustakaan ...


"Hehe. Permisi, Bu," ucap Raka saat melewati ibu penjaga yang masih menatap tajam padanya.


Raka berjalan cepat dan berbelok di salah satu lorong yang ada di sana. Ia berjalan diantara jejeran buku untuk sekedar mencari sosok Yuli. Dari lorong ke lorong ia susuri, bahkan tak jarang Raka melihat satu persatu mahasiswi yang sedang duduk sambil membaca untuk memastikan kalau-kalau saja itu Yuli.


"Huft. Sepertinya ini memang halusinasi gue doang," gumam Raka sambil bersandar di salah satu lemari. Raka terlihat kecewa, dan berkali-kali menghela nafasnya.


Raka pun memutuskan untuk beranjak dari tempat itu. Langkahnya yang terlihat gontai, seketika berhenti saat seseorang menyebut namanya dengan suara pelan.


"Kak Raka?"

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2