
Happy reading ....
🌿
Tak hanya Annisa, hampir semua terkejut melihat kedatangan Viola dan Anya. Terkecuali Raydita.
Raydita menyambut hangat Viola.
"Gue kira Lo nggak bakalan datang," ujar Raydita senang.
"Datang dong. Masa iya, enggak." Viola dan Anya kemudian menyapa mereka yang ada di sana.
"Ray, Lo nggak keberatan kan kita gabung sama kalian?" tanyanya sembari melingkarkan tangannya di lengan Rayhan.
"Kalau gue keberatan, emang Lo bakal pulang lagi?" Rayhan balik bertanya.
"Kak Ehan cocok lho sama Lo," seloroh Raydita.
"Oh ya?" Viola terlihat sangat senang, kemudian terlihat kesal karena Rayhan memaksa untuk melepaskan tangannya.
Annisa datang bersama Bi Marni. Ia menyapa Viola dan Anya dengan senyuman tipis, namun tak diacuhkan.
Raka dan Ghaisan bertugas mengipasi bara. Rayhan yang membolak-balikkannya. Sementara Tasya dan Mela membantu mengolesi mentega. Tak hanya ikan, mereka juga membakar jagung.
Sesekali Mela melirik pada Raydita yang terlihat sangat akrab dengan Viola. Tasya menyenggol lengannya dan Mela pun berusaha bersikap biasa.
Di sisi lain, Annisa sedang bertukar pesan dengan Yuda. Rayhan menghampiri sambil membawa jagung bakar yang sudah matang.
"Chat-an sama siapa?" tanya Rayhan sambil meniup-niup jagung yang akan diberikannya pada Annisa.
"Yuda. Dia ada di sini, tapi nggak bisa ke sini."
"Maksudnya apa sih? Ada di sini, tapi nggak bisa ke sini?"
"Maksud Nisa, Yuda ada di dekat sini. Tapi dia nginep di rumah teman kakaknya," sahut Annisa.
"Siapa?" tanya Raka yang menghampiri mereka.
"Yuda, Kak. Besok pagi dia mau ngetrail di perkebunan teh. Mungkin agak siang baru bisa ke sini," tutur Annisa.
"Wiih, asik tuh. Ikutan yuk," ajak Raka.
"Boleh juga. Tapi boleh nggak?" tanya Rayhan dan Raka mengangkat bahunya pelan.
"Coba aja tanya, Kak," usul Annisa.
"Setuju. Tanyain, Nis." Raka terlihat bersemangat.
Annisa pun kembali berbalas pesan dengan Yuda. Melihat senyum di wajah Annisa, Yuda merasa optimis besok bisa ngetrail.
"Gimana?" tanya Yuda tak sabar.
__ADS_1
"Boleh, besok pagi. Teman kakaknya ada yang nggak bisa ikut. Rumahnya juga dekat, jadi motornya bisa dipinjam. Kaya klub motor cross mungkin ya, Kak?"
"Bisa jadi. Aseek ...." Raka dan Rayhan bertos-ria. Mereka semakin senang melihat lokasi yang dikirimkan Yuda.
"Gas, kita ngetrail," ujar Raka dengan gayanya menunggangi si kuda besi. Ghaisan hanya menanggapi dengan mengacungkan ibu jarinya.
Anak-anak itu menikmati makan malam mereka di ruang perapian. Udara yang semakin dingin memaksa mereka masuk ke dalam vila. Tasya bahkan terserang flu.
Mang Asep dan Bi Marni membereskan di teras belakang, tidak adanya Mang Dayat menghadirkan tanya di benak Rayhan. Saat Bi Marni membawa makanan yang tertinggal di meja teras ke dalam, Rayhan pun bertanya, "Mamang kemana, Bi?"
"Maaf, Den. Mamang tidak enak badan sudah dua malam. Mamang selalu meriang, Den."
"Demam?"
"Iya, Den. Kalau siang segar bugar, tapi kalau malam begini badannya langsung panas," sahut Bi Marni.
"Sudah dibawa ke dokter, Bi?" tanya Annisa yang menghampiri.
"Belum, Neng. Kalau siang kan biasa aja. Jadi Bibi pikir, mungkin sudah sehat. Eh, malam ... panas lagi."
"Besok bawa ke dokter ya, Bi. Mumpung di sini ada kami. Jadi Bibi nggak usah khawatir," ujar Annisa yang diangguki oleh Rayhan.
"Iya, Neng. Tapi kalau akhir pekan begini, dokter praktek dirumahnya, di dekat kantor kecamatan. Kalau Bibi lama bagaimana, Neng? Suka antri," ucap Bi Marni.
"Ya nggak apa-apa. Yang penting Mamang diperiksa biar cepat sehat," sahut Annisa.
"Baik, Neng. Besok pagi setelah membuat sarapan, Bibi akan membawa Mamang ke dokter. Terima kasih, Neng, Den."
"Sama-sama, Bi," sahut Annisa.
***
"Kenapa berhenti?" tanya Ghaisan menghampiri.
"Malu. Nisa kira belum ada yang bangun, hehe." Annisa menautkan alisnya melihat Ghaisan mematahkan ranting kecil dari semak yang berada tak jauh darinya.
"Sama aku malu, dilihatin ini dari tadi kamu nggak malu," ujar Ghaisan sambil menyodorkan ranting dengan ulat berukuran sedang ada di dekat ujungnya.
"Aaa! Kak Agas, hiii. Buang, Kak!" pekiknya.
"Dia mau lihat kamu lagi."
"Hii!" Annisa berlari tak menentu dengan Ghaisan yang berjalan mengikuti arah langkahnya.
Mereka tidak menyadari, ada sepasang mata yang mengamati dari balik tirai. Raydita menatap lurus dari kaca jendela kamarnya.
"Gimana?" Raydita terperanjak, lalu menoleh.
"Momentnya pas. Kita akan beraksi setelah Kak Ehan pergi," sahut Raydita.
"Oke."
__ADS_1
***
Suasana vila terasa sepi bagi Annisa yang tak ditemani kedua sahabatnya. Rayhan dan kedua temannya menuju tempat Yuda berada dengan diantar Mang Asep. Sedangkan Bi Marni dan Mang Dayat, pergi ke dokter.
Dengan malas, Annisa kembali ke kamarnya. Ia terhenyak saat tiba-tiba terhuyung karena ada yang mendorongnya keras sekali.
"Ka-kamu, mau apa?"
"Mau ngasih Lo pelajaran. Kenapa? Nggak suka? Mau teriak? Coba aja, nggak akan ada yang nolong Lo." Viola dengan angkuhnya menghampiri Annisa.
Plak! Satu tamparan mendarat di pipi Annisa.
"Nangis, heh? Cengeng," ejek Viola sambil menoyor kepala Annisa.
Belum habis keterkejutan Annisa atas perlakuan Viola yang tiba-tiba, juga rasa panas yang menjalar di bagian pipinya, Annisa terbelalak melihat seringaian Raydita yang berdiri diambang pintu kamarnya.
"Dita, a-apa maksudnya ini?" Annisa menatap nanar Raydita yang mengangkat bahunya.
Raydita masuk ke dalam kamar, sementara Anya, Tasya, dan Mela menunggu di luar pintu dan memilih menjadi penonton saja.
Viola melangkah semakin maju, dan memaksa Annisa memundurkan langkahnya hingga terpojok.
Plak! Satu tamparan diterima Annisa lagi. Kedua manik Annisa yang semula hanya berkaca-kaca, kini meneteskan air mata.
"Salahku apa?" tanyanya lirih.
"Salah kamu? Kamu nggak salah. Hanya saja ...." Viola memutar video yang sempat direkamnya saat berada di balik pohon. Mereka yang ada di sana mendengarkan dengan seksama, dan mulai menatap tak suka pada Annisa.
"Bisa-bisanya cewek udik si upik abu ini jadi bahan taruhan. Dan apa tadi, Kak Agas beneran suka sama Lo?" Annisa menggelang cepat melihat sorot mata Raydita yang marah.
"Aww! Dita ... lepasin, Dit." Dengan gerakan cepat Raydita menjambak rambut Annisa dan menariknya. Raydita tak ada rasa iba sedikitpun meski Annisa memelas padanya.
Viola dan Anya menyeringai puas. Sementara itu Tasha yang sempat melongo pun menyenggol Mela yang langsung memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
Raydita yang mereka lihat saat ini sangatlah berbeda. Meski Raydita terkenal arogan, melakukan kekerasan adalah hal yang belum pernah dilakukannya.
"Sekarang Lo ngerti salah Lo dimana, hah? Gue nggak terima, Rayhan sayang sama Lo. Ngerti?" bentak Viola.
"Aku ini adiknya Kak Ehan. Kamu salah sangka, Vio ...," ucap Annisa dengan wajah yang mengiba.
"Heh, kamu pikir aku nggak tahu, kalau kamu itu orang kampung yang dijodohkan sama Rayhan."
"Itu nggak benar. Kamu dengar dari siapa?" tanya Annisa sambil mengusap air matanya.
Viola tidak menjawabnya. Namun gerakan matanya mengarah pada Raydita.
Yup. Saat Viola menanyakan perihal Annisa, Raydita membisikkan apa yang diucapkan Viola barusan.
Annisa tinggal di rumah keluarga Adisurya karena sudah dijodohkan dengan Rayhan. Kemarahan Viola semakin memuncak saat mendengar pernyataan Rayhan pada kedua sahabatnya bahwa ia menyayangi Annisa.
"Dita, kenapa kamu berbohong? Kamu tahu kan siapa aku? Kak Ehan itu kakakku, kakak kita," ujar Annisa pelan.
__ADS_1
"Gue memang tahu siapa Lo. Bahkan gue tahu rahasia dibalik tertukannya kita. Tertukar? Hahaha. Kita ini ditukar. Lo dengar ... di-tukar."
_bersambung_