
Happy reading ....
*
Suasana di dalam ballroom itu nampak riuh dengan tepuk tangan para siswa dan orang tua saat tiga siswa terbaik maju ke bagian depan untuk menerima penghargaan. Dari kursi para orang tua, Adisurya dan Rianti menatap haru Annisa yang menjadi salah satu dari ketiga siswa itu. Gadis yang dulu bahkan tidak pandai berbahasa inggris itu kini diminta berpidato di depan teman-teman dan para orang tua dengan menggunakan bahasa inggris tentunya.
Hal serupa juga dirasakan pasangan Dahlan dan juga Julaikah, orang tua Istiqomah. Dari bibir keduanya tak henti berucap syukur atas prestasi membanggakan yang diraih putri mereka. Maklum saja, awalnya baik Ikah maupun Dahlan menyangka prestasi Isti akan anjlok setelah berpisah dari Rayhan. Tapi rupanya, hal itu jadi pendorong Isti untuk membuktikan keseriusannya dalam belajar.
Raka yang berada diantara dua pasangan itu tersenyum tipis. Ia menoleh pada Adisurya dan berkata, "Selamat Om-Tante!"
Adisurya mengangguk sambil tersenyum, semantara Rianti sibuk mengabadikan moment itu dengan ponselnya. Raka pun berganti menoleh pada Dahlan, dan berkata, "Selamat Abi-Umi!"
"Terima kasih, Nak Raka," sahut Ikah.
Raka mengangguk pelan dan kembali menatap ke bagian depan. Kemudian menoleh pada Raydita yang sedang menatap Annisa dengan senyumnya sambil sesekali berbisik pada Mela dan Tasya.
Raka melihat Yuda yang duduk di barisan belakang Raydita sedang asik dengan ponselnya. Raka pun memutuskan untuk menghampiri Yuda karena merasa bosan berada diantara para orang tua.
"Hei, asik sendiri aja. Lihat tuh Annisa lagi pidato, nggak sopan," gerutu Raka.
"Idih, siapa Lo? Murid bukan, wali murid juga bukan. Ngapain di sini?" tanya Yuda berkelakar.
"Eh, gue murid sini, dua tahun yang lalu ... hehe. Gue juga wali Raydita kalee," delik Raka.
"Wali? Sejak kapan?" gumam Yuda.
"Sejak jaman jahiliyah. Puas lo? By the way, thanks ya. Lo udah nolongin Dita malam itu. Sayangnya si Vio sama cowok itu udah balik ke Australia. Gue belum sempat balas perbuatan mereka," ujar Raka sambil menatap Raydita. Yuda tersenyum tipis mendengarnya.
Acara berlangsung meriah. Setelah susunan acara selesai, para siswa dan siswi itu berswa foto dengan teman-teman dan orang tua mereka.
Annisa mendapat banyak ucapan selamat berupa buket bunga dari para siswa yang ia sendiri tidak mengenalnya. Sejak mengetahui Annisa putri kandung Adisurya, banyak orang tua yang tertarik akan sosoknya. Mereka mengagumi kesederhanaan dan sopan santun Annisa. Tak sedikit dari mereka memimpikan Annisa menjadi calon menantunya. Cantik, pintar, santun, dan banyak lagi kelebihan yang mereka lihat dari Annisa. Siapa yang akan menolak pesona Annisa?
"Ciee ... banyak yang PDKT. Telat dikit, Kak Agas bisa kegeser nih," goda Mela.
"Nggak lah," sahut Annisa. Saat ini mereka sedang berada di taman hotel tempat acara berlangsung.
"Masa sih?"
__ADS_1
Annisa sontak menoleh pada suara seseorang yang sangat dikenalnya itu. Wajahnya merona melihat Ghaisan yang sedang melangkah ke arahnya dengan buket bunga yang sangat cantik.
"Ehhem," dehem Isti menggoda. Begitu juga teman-teman sekelas Annisa. Mereka menjauh perlahan, dan membiarkan Ghaisan leluasa mendekati Annisa.
"Happy Graduation, My Lovely," ucap Ghaisan sembari menyodorkan bunga itu pada Annisa.
"Terima kasih, Kak," sahut Annisa malu-malu menyambut buket bunga itu.
Raydita berjalan di belakang Annisa, dan dengan sengaja mendorong Annisa yang refleks di sambut Ghaisan. Gelak tawa serta godaan teman-teman Annisa menggema di tempat itu.
Hanpir semua orang yang melihatnya ikut merasakan romansa Ghaisan dan Annisa. Namun tidak semua ikut bahagia, karena ada beberapa orang tua yang berada di depan hotel justru mendelik sinis dan berusaha memprovokasi Rianti.
"Jeng Rianti, kok Annisa dibolehkan pacaran sama anak narapidana sih?" tanya seorang wali siswa.
"Iya, Jeng. Kasihan kan Nisa, kalau sama anak dokter gadungan itu, bisa-bisa nggak ada masa depannya," timpal seorang lainnya.
Rianti merasa tertohok dengan ucapan mereka. Adisurya yang melihatnya, menggenggam tangan Rianti dan tersenyum tipis saat istrinya yang menoleh padanya.
"Mereka sudah pacaran sebelum ada kasus itu, Ibu-ibu. Jadi ya, anggap saja apa yang terjadi pada Dokter Rika adalah ujian bagi mereka. Saya sih terserah Annisa. Toh dia yang akan menjalaninya," sahut Rianti.
"Jeng Rianti apa nggak kasihan sama anak sendiri? Anak itu pasti nggak jelas masa depannya. Kasus ibunya akan menjadi bayang-bayang karirnya nanti," ujar seorang ibu yang entah siapa itu.
Adisurya menggandeng tangan Rianti dan berjalan menuju mobil mereka. Raka yang tanpa sengaja mendengar itu semua merasa terharu atas pembelaan Adisurya terhadap sahabatnya.
Raka menoleh pada Ghaisan yang tersipu dan tak kuasa menanggapi godaan teman-teman Annisa. Yuda yang kebetulan melihatnya, memanggil Raka untuk berfoto bersama.
"Hmm, sayang ya Rayhan nggak ada. Kalau ada dia, lengkap deh kita," seloroh Yuda.
Isti yang mendengarnya menundukkan kepala dengan raut wajah sendu. Satu tahun telah berlalu, dan selama itu tidak ada kabar dari kekasihnya itu. Heh! Isti menyeringai menertawakan dirinya sendiri. Selama ini baginya Rayhan tetaplah kekasih pemilik hatinya, tapi ia sendiri tidak tahu apa arti dirinya bagi Rayhan saat ini. Mungkin saja pria itu sudah mendapatkan tambatan hati yang baru. Dan jika prasangka menyeruak, Isti merasa lemas seketika.
***
Setelah mengantar Annisa pulang, Ghaisan mengunjungi Rida di rumah sakit. Adik dari Rika itu terlihat senang dengan kedatangan Ghaisan. Rika membuka lebar kedua tangannya. Ghaisan mendekati Rida dan memeluknya.
"Bagaimana keadaan tante?"
"Seperti yang kamu lihat, Sayang. Tante merasa lebih baik. Hari ini kamu pulang demi mengucapkan selamat atas kelulusan Annisa, 'kan?" tanya Rida menggoda.
__ADS_1
"Iya, Tante. Itu salah satunya. Selain itu, Agas ingin bertemu tante dan juga mama," sahut Ghaisan sambil mendudukkan bokongnya di kursi.
"Ah, iya. Bagaimana kabar mamamu, Agas? Kak Rika belum pernah datang menjenguk tante. Sebenarnya tante merasa ini agak aneh, tapi tante nggak berani menanyakannya pada Dokter Edwin. Khawatir Kak Rika sedang tugas di luar kota dan mengganggunya. Jadi tante putuskan untuk menunggu saja sampai dia datang sendiri," ujar Rida dengan raut wajah sedih.
Rida sangat ingin bertemu Rika. Ia terlalu lama tak sadarkan diri, dan tak mengetahui kabar kakaknya.
"Tante. Sebenarnya mama ...."
Ghaisan menceritakan semuanya dengan sangat hati-hati. Rida terlihat sangat syok dengan apa yang didengarnya. Rida mengusap air matanya, kemudian menatap sendu wajah Ghaisan yang sudah menjalani semua ini sendirian.
"Kamu yang sabar ya ...."
"Iya, Tante," angguk Ghaisan.
Sementara itu di tempat lain ....
Sejak Angel berada di lapas yang sama, kehidupan Rika tidak baik-baik saja. Dengan kelihaiannya bermain kata-kata, Angel mampu memprovokasi penghuni lapas lain yang menganggap Rika telah menjebaknya. Alhasil, apapun yang dilakukan Rika tak lepas dari keusilan teman-temannya.
Rika frustasi dengan apa yang selama ini ia alami. Ia bahkan tidak leluasa mengikuti kegiatan yang diadakan pihak lapas. Seandainya bisa, Rika sangat ingin lari dari tempat itu. Bertemu Angel menjadi mimpi buruk dalam hidupnya.
Saat ini, Rika sedang berada di ruang kesehatan. Ruangan itu tempat ternyaman bagi Rika yang mulai akrab dengan asiten dokter yang bertugas di sana. Temannya itu sedang dipanggil kalapas (kepala lembaga pemasyarakatan) dan membiarkan Rika berada di ruangan tersebut.
Setiap kali Rika berada di ruangan itu, kerinduan akan profesinya selama ini menyeruak di hatinya. Kerinduan akan Rika yang sangat ingin ia dengar kabarnya, terlebih kerinduan akan Ghaisan yang sudah lama tidak datang menjenguknya.
Meski begitu, Rika merasa senang karena setiap akhir pekan Ghaisan selalu meneleponnya. Akan tetapi, sudah dua pekan ini Ghaisan tidak menghubunginya.
'Eh, Tante. Tante sadar nggak sih? Tante itu hanya akan jadi duri untuk masa depan Kak Agas. Oh iya, tante nggak lupa kan sama ucapan tante, yang bilang kalau lebih baik mati dari pada harus melihat Nisa bersama Kak Agas. For your information aja, Kak Agas itu rela melakukan apapun untuk bersama Annisa. Buktinya, dia masih pacaran sama Nisa.'
Sekilas ucapan Angel yang sangat mengena di hati Rika menggema di ingatannya. Membimbangkan hati Rika yang kini sedang menatap nanar botol obat penenang yang berada di dalam lemari obat di ruangan itu.
"Angel benar, aku hanya akan menjadi duri untuk masa depan Agas. Dia sangat mencintai putri Rianti itu. Aku tidak mungkin tega membuatnya harus memilih antara aku atau Annisa. Ja-jadi, aku harus bagaimana?" tanya Rika bermonolog.
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ia tidak ingin membebani Ghaisan.
Tangan Rika gemetar ketika mencoba menggapai botol obat yang sedari tadi seakan menggodanya itu. Kilasan wajah Ghaisan sejak kecil sampai saat ini melintas di benak Rika. Begitu juga dengan kilasan sosok Ryan. Rika seakan hilang akal mengingat senyum manis Ghaisan saat bersama Annisa. Tangannya gemetar hebat saat membuka tutup obat penenang itu.
"Mas ... aku bukan ibu yang baik untuk Agas. Aku hanya akan jadi penghalang kebahagiaannya. Mas ... aku-."
__ADS_1
Glek. Glekk. Rika susah payah menelan butiran obat itu.
_bersambung_