Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Raka


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Rintik hujan mengiringi sang mentari yang mulai menenggelamkan diri. Angin yang berhembus cukup kencang membuat siapa saja enggan untuk keluar.


Begitu pula dengan Rayhan dan Raka. Untuk mengobati sedikit kecewa karena rencana hangout mereka gagal, keduanya bermain playstation di ruang keluarga. Tak jauh dari mereka, Annisa sedang asik bertukar pesan dengan dua sahabatnya.


Rianti keluar dari kamarnya, bersamaan dengan Raydita. Nyonya Adisurya itu merangkul pundak Raydita yang masih nampak kesal. Mereka menuruni anak tangga. Melihat Annisa juga ada di ruang keluarga, Raydita pun bersikap manja pada mamanya.


"Nisa, pakai baju hangat, Sayang," ujar Rianti sesampainya di ruang keluarga.


"Hehe. Iya, Bu." Annisa langsung beranjak dan melangkah ke kamarnya untuk mengambil sweater. Rianti tersenyum lebar melihat kepatuhan Annisa.


"Sore, Tante," sapa Raka. Rianti mendelik tanpa menjawab sepatah kata pun juga.


"Untuk makan malam ada apa, Bi? Tuan ingin sup katanya. Kita punya apa yang bisa dijadikan sup?" tanya Rianti pada Bi Susi yang sedang menghidangkan camilan.


Rianti berjalan menuju ruang makan. Sementara Raydita mendudukkan bokongnya tak jauh dari Rayhan.


Apa Tante Rianti jutek sama gue gara-gara papa? Tapi kan gue nggak tahu apa-apa, batin Raka heran. Ada rasa tidak nyaman mengetahui nyonya rumah tidak menyukai kehadirannya.


"Ka, jangan ngelamun dong. Fokus ... fokus," tegur Rayhan dan ditanggapi senyuman kecut oleh Raka.


"Ray, gue pulang ya. Gue pesan taksi online," ujar Raka yang mendadak mendownload aplikasi transportasi online di ponselnya.


"Katanya mau nginep, gimana sih Lo? Nanti gue anterin kalau udah nggak hujan. Santai aja ...," ujar Rayhan.


"Nyokap gue suka marah kalau nginep nggak bilang dulu sebelumnya. Tugas besok juga ada yang belum gue kerjain," sahut Raka tanpa menoleh.


"Iya-iya, tapi nggak usah pesan taksi juga kali. Ada Mang Asep, nanti gue minta buat nganterin Lo. Makan dulu laah, Lo kan paling doyan masakan Bibi," bujuk Rayhan.


"Lain kali aja. Gue kan sering ke sini," ujar Raka yang memperlihatkan pesanan taksinya pada Rayhan.


Rayhan nampak kesal, namun tak bisa berbuat banyak. Mereka mengakhiri permainan dan mulai menikmati camilan buatan Bi Susi.


Tak lama kemudian, Raka beranjak dari tempat duduknya diikuti Rayhan. Annisa yang kembali ke ruangan itu, menatap heran pada sahabat kakaknya tersebut.


"Kak Raka mau pulang? Masih hujan," ujar Annisa yang spontan mendekat pada Rayhan saat terlihat kilatan petir dari kaca jendela. Annisa langsung memegang lengan Rayhan dan menyembunyikan wajahnya di punggung Rayhan saat tergengar suara guntur yang menggelegar.


"Modus ... bilang aja pengen deket-deket Rayhan," goda Raka.


"Ish, apaan sih Kak Raka? Nisa beneran takut. Kak Raka jangan dulu pulang," ujar Annisa.


"Iya nih, nggak biasanya Lo begini," delik Rayhan.


"Kalau gue di sini, kalian akan terganggu dong," sahut Raka asal.

__ADS_1


"Keganggu apaan? Gila Lo, Nisa itu adik gue." Rayhan mendorong pelan punggung Raka yang terkekeh.


"Kalau dia adik Lo, berarti Dita juga bisa jadi adik gue dong. Ya nggak, Dit?" kelakar Raka yang memang belum tahu tentang Annisa yang sebenarnya.


"Ogah," sahut Raydita sambil mendelik. Raka hanya menanggapinya dengan senyuman lebar. Ia kemudian melangkah menuju ruang makan, sementara Rayhan menuju bagian depan rumahnya.


"Tante, Raka permisi pulang dulu." Pamitnya pada Rianti.


"Bi, jangan lupa banyakin daun sopnya ya." Rianti tidak mengacuhkan Raka yang hanya bisa menelan ludah.


Dengan ragu, Raka melangkah meninggalkan ruangan itu. Raka tersenyum kecut pada Annisa yang sedari tadi memperhatikannya.


Di bagian depan rumah, mobil Adisurya baru memasuki gerbang rumah. Adisurya menautkan alis melihat Rayhan dan Raka ada di teras.


"Kenapa di luar?" Tanyanya.


"Raka lagi nunggu taksi, Pa," sahut Rayhan.


"Taksi? Antar aja sama Mang Asep," ujar Adisurya.


"Nggak usah, Om. Terima kasih," sahut Raka. Suara klakson mengalihkan perhatian mereka. Raka berpamitan dan berlari kecil setelah memastikan itu taksi yang dipesan olehnya.


Rayhan dan Adisurya masuk ke dalam rumah. Melihat kedatangan Adisurya, Raydita segera menghampiri dan bergelayut manja. Raydita terlihat senang dan mendelik pada Annisa ketika Papa Adi mengecup pucuk kepalanya.


Annisa juga menghampiri mereka. Ia mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan ayahnya. Rianti terlihat bahagia melihat Adisurya dikelilingi ketiga anak mereka.


"Dita juga mau ke kamar dulu. Lupa nggak bawa ponsel," ujar Raydita sambil menarik pelan lengan papanya menuju tangga. Rianti mengikuti di belakang keduanya.


Rayhan menoleh pada Annisa yang berlalu ke kamar. Merasa jenuh seorang diri di ruangan itu, Rayhan masuk ke kamar Annisa.


"Lo lagi ngapain?" tanya Rayhan yang langsung menjatuhkan diri di kasur.


"Baca-baca aja, Kak," sahut Annisa. Annisa tersenyum tipis saat menatap sekilas pada Rayhan yang masuk tanpa permisi.


"Nis, tadi siang itu gimana sih sebenarnya?"


"Gimana, apa?" Annisa mengerutkan keningnya.


"Memangnya benar, Dita nggak masuk satu pelajaran?" tanya Rayhan penasaran. Annisa mengangguk ragu.


"Full satu pelajaran?" Rayhan seakan tak percaya.


"I-iya, Kak." Annisa hanya bisa nyengir.


"Kok bisa? Memangnya dia nggak pegal nongkrong di WC?" Annisa hanya mengangkat pelan bahunya.


"Tadi Lo nggak ke kantin? Gue cuma lihat si Kuya di sana." Ujarnya asal.

__ADS_1


"Si Kuya? Yuda kali, Kak." Annisa mengulumkan senyum.


"Aah, bodo amat. Isti tadi bekal apa?" Annisa terlihat heran, namun kemudian bercerita pada Rayhan perihal apa yang ia dan kedua temannya lakukan di jam istirahat tadi siang.


Sementara itu, Raka sudah tiba di rumahnya. Melihat putra semata wayangnya datang dengan keadaan sedikit basah, Fany yang semula tak berniat makan malam pun meminta pelayan menyiapkan makan malam untuk mereka.


"Kamu pakai baju siapa, Ka?"


"Punya Ray, Ma."


"Ganti Sayang, dingin. Kamu pulang naik apa? Motor kamu di rumah Ray?"


"Iya, Ma. Aka naik taksi. Tadi Om Adi mau nyuruh Mang Asep nganterin Aka. Tapi Aka nggak mau," sahut Raka sambil menuangkan air minum.


"Lain kali langsung pulang dong, Sayang."


"Aka kan nganterin Ray. Dia dianter papanya, jadi nggak bawa motor. Rencananya juga tadi kita mau hangout di cafe, Ma."


"Ooh, ya sudah. Sana ganti dulu, biar nggak masuk angin. Kalau sudah nanti turun ya, kita makan malam. Mama mau ke ruang kerja dulu," ujar Fany.


Raka menatap sendu punggung mamanya. Setelah terdengar pintu yang ditutup, Raka berlalu ke kamarnya di lantai dua.


Saat Raka hendak masuk ke dalam kamar, Sandy keluar dari kamar. Raka menatap ragu pada papanya.


"Jam segini kamu baru pulang? Dari mana?" tanya Sandy ketus sambil menghampiri Raka.


"Dari rumah Rayhan, Pa." Sahutnya pelan.


"Heh, papa nggak suka kamu terlalu dekat dengan anak Adisurya itu. Kalau perlu, jauhi dia."


"Kenapa, Pa? Papa tidak suka Aka dekat dengan Ray, tapi papa sendiri dekat dengan Dita. Benar kan?" tanya Raka dengan tatapan menyelidik. Sebisa mungkin Raka menyembunyikan rasa gugupnya.


Meskipun Sandy adalah ayahnya, nyatanya hubungan mereka tidak seperti ayah dan anak. Sandy selalu bersikap tidak acuh pada semua hal yang menyangkut putranya.


"Siapa yang bilang begitu?" tanya Sandy dengan tatapan tidak suka.


"Tidak penting Aka tahu dari siapa. Pa, Dita itu anak yang baik. Jauhi dia! Rayhan sudah seperti saudara bagi Aka, begitu juga dengan Raydita. Karena papa, Tante Rianti jadi tidak menyukai Aka. Mengapa papa selalu menjadi mimpi buruk untuk Aka?"


"Kamu ...." Sandy mengepalkan tangannya menahan rasa geram. Tidak biasanya Raka bersikap seperti saat ini.


"Kenapa, Pa? Aka ini anak papa kan? Itu artinya papa itu udah tua. Bersikaplah seperti seorang ayah, bukan seperti om-om yang suka daun muda."


"Berani sekali kamu." Geramnya.


Melihat Papanya yang marah hendak melangkah lebih dekat, Raka cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya. Dari balik pintu yang terkunci, ia bisa mendengar suara papanya yang menggeram, "Awas kamu. Beraninya menasehati orang tua."


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2