Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
acara perpisahan (1)


__ADS_3

Happy reading ....


*


Malam gulita mengiringi langkah Adisurya bersama Rianti dan juga Annisa menuju apartemen Rida. Saat ini hampir tengah malam, dan baru saja Annisa mendapat chat dari Yuda, bahwa Raydita mengalami demam tinggi. Tanpa pikir panjang, Annisa memberitahukan perihal kondisi Raydita pada kedua orang tuanya.


Rianti menekan bel pintu apartemen itu. Tidak butuh waktu lama, Yuda sudah membukakan pintu untuk mereka.


"Gimana Dita, Yud?" tanya Rianti yang langsung menuju kamar Raydita.


Yuda tidak sempat menjawab, karena langkah Rianti sangat cepat berlalu meninggalkannya. Begitu juga dengan Annisa dan Adisurya.


Raydita mengalami demam tinggi, sementara di bagian kedua telapak kaki dan tangannya sangat dingin. Mela dan Tasya terlihat takut terkena amarah Adisurya dan Rianti. Kedua sahabat Raydita itu tertunduk sangat dalam di salah satu tepi ranjang.


Adisurya membopong Raydita dan melangkah meninggalkan apartemen itu tanpa banyak bicara. Begitu juga dengan Rianti. Namun langkah Rianti terhenti, saat Mela memanggilnya pelan.


"Tante ...." Mela memberanikan diri mendekati Rianti.


"Ada apa?" tanya Rianti datar.


"Tadi, dari rumah sakit ada telepon untuk Dita. Katanya, Tante Rida sudah siuman," sahut Mela.


"Benarkah?" Senyum Rianti terlihat sekilas. "Oh iya, kalian mau menginap di sini atau bagaimana?" tanya Rianti menyempatkan bertanya pada tiga teman Raydita.


"Kami mau pulang aja, Tante," sahut Mela dan diangguki Tasya.


"Kalau kamu, Yud?" tanya Annisa.


"Aku juga pulang," sahut Yuda pelan.


Annisa mengerutkan keningnya melihat gelagat Yuda. Ia kemudian mendekati Yuda dan menempelkan punggung tangannya pada kening Yuda.


"Kamu juga demam, Yud," ujar Annisa.


"Aku nggak apa-apa, Nis. Kamu tenang aja," sahut Yuda sambil tersenyum tipis.


"Tapi lo tadi nyebur juga, Yud," timpal Tasya.


Rianti mendekati Yuda dan melakukan hal yang sama seperti Annisa. "Kamu ikut kami ke rumah sakit. No, debat. Ayo!" ajak Rianti.


Mau tidak mau, Yuda menuruti Rianti. Mereka berpisah dengan Mela dan Tasya di basement apartemen. Sepanjang perjalanan, Yuda menceritakan kejadian yang dilihatnya, juga yang didengarnya dari dua sahabat Raydita. Baik Rianti maupun Adisurya menggeram menahan amarah di dalam dada.


Rianti sengaja meminta Adisurya menuju rumah sakit yang sama dengan Rida. Mereka ingin mengehemat waktu agar bisa memantau Rida juga Raydita.


Sesampainya di rumah sakit, Raydita dan Yuda ditangani di ruang IGD. Setelahnya, Raydita menempati ruang rawat, sedangkan Yuda menolak dan memilih bermalam di ruang IGD.


"Ma, boleh Dita melihat Mama Rida?" tanya Raydita pelan.


"Kamu istirahat saja dulu, Sayang. Papa sedang menanyakan kondisi Rida pada Dokter Edwin. Kamu harus sehat untuk bisa melihat Rida. Sekarang, kamu istirahat," tegas Rianti.


Annisa mengusap lengan Raydita yang menoleh padanya dan diberi anggukan kepala. Raydita tersenyum tipis, lalu mulai berbaring sambil menggenggam tangan Rianti.


***


Keesokan harinya, Raydita mulai merasa lebih baik. Meskipun merasa lelah, Rianti menyanggupi saat Raydita meminta diantar ke ruang ICU untuk melihat Rida.


Semalam, Adisurya dan Annisa meninggalkan Rianti di ruangan Raydita. Sementara Yuda, memilih pulang bersama Yopi yang datang menjenguknya.


Suasana haru menyeruak saat Raydita langsung berlari ke arah Rida yang sedang dalam pemeriksaan dokter. Raydita memeluk erat Rida yang tersenyum sambil menitikkan air mata.


"Ka-kamu kenapa, Sayang?" tanya Rida saat menyadari piyama yang dikenakan Raydita adalah piyama rumah sakit.


"Dita hanya demam, Ma." Raydita tak bisa menyembunyikan rasa bahagia bisa melihat Rida kembali siuman meski masih dalam kondisi sangat lemah.


"Jangan dulu terlalu sering berinteraksi ya. Pasien masih harus banyak istirahat," pesan Dokter.

__ADS_1


"Iya, Dok. Terima kasih," sahut Raydita.


Sepeninggal dokter dan perawat, Rida menoleh pada Rianti. Wanita yang telah membesarkan Raydita itu mendekati dengan senyuman di wajahnya. Tatapan sendu Rida menyiratkan rasa terima kasih yang tak terkira. Rianti mencoba memahaminya dan mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.


"Kamu harus kuat. Sebentar lagi acara perpisahan sekolah Dita. Kita sama-sama menghadirinya. Kamu mau, kan?" tanya Rianti dengan nada perlahan.


Rida berkedip pertanda mengiyakan, bersamaan dengan air matanya yang berderai di kedua ujung matanya. Rianti mengusap lembut air mata itu.


Rida menoleh pada Raydita yang tersenyum lebar. Ia melihat ada harapan dibalik senyuman itu. Tapi Rida tak bisa berbuat banyak, karena kondisinya sendiri sudah sangat lemah.


***


Hari-hari berlalu .... Acara perpisahan itu pun tiba.


Suasana rumah Adisurya sejak pagi sudah di ramaikan dengan kehadiran juru rias dari salon langganan Rianti. Nyonya Adisurya itu tentunya menginginkan penampilan yang terbaik untuknya, juga kedua putrinya.


Adisurya yang sedang menikmati secangkir kopi di teras belakang sampai menggeleng pelan mendengar kehebohan Rianti dalam mengatur segalanya. Sedangkan Annisa dan Raydita memilih untuk menuruti saja keinginan Rianti. Mereka tidak ingin mendebat karena hal itu akan percuma saja.


"Mas, jangan santai begitu dong. Ayo sana mandi! Masa nanti kita udah cantik disuruh nunggu," ujar Rianti kesal. Sedari tadi Adisurya masih saja tidak mengacuhkan dirinya yang meminta suaminya itu untuk segera bersiap-siap.


"Masih satu jam, Sayang. Masih ada waktu. Emangnya kamu, kalau mandi lama," sahut Adisurya santai.


"Mas ...." Rianti memberi penekanan pada panggilannya.


"Iya, iya. Ini seruputan terakhir kok," sahut Adisurya.


Rianti mendelik manja pada Adisurya yang memberinya senyuman tipis. Setelahnya, ia kembali masuk ke kamar tamu yang digunakan sebagai tempat rias.


Sebelum menuju ke lantai dua, Adisurya menyempatkan melihat sebentar ke ruangan itu. Tatapan pria paruh baya itu menyiratkan kekaguman pada kedua putrinya. Meski banyak cerita dibalik keakraban mereka, Adisurya merasa lega karena bisa menemani keduanya menggapai cita-cita.


Annisa bercita-cita menjadi tenaga pendidik, sementara Raydita ingin menjadi dokter, mengikuti jejak Ghaisan. Akan tetapi baik Annisa ataupun Raydita, tidak akan ada yang mengenyam pendidikan di luar negeri.


Annisa tidak berminat sama sekali kuliah di luar negeri, karena menurutnya pendidikan di negeri sendiri sudah mumpuni. Sedangkan Raydita, lebih ke keinginannnya untuk tetap berada di samping Rida.


Meski Rida tidak lagi menempati ruang ICU, ia belum diperbolehkan pulang dan masih harus mendapatkan perawatan secara intensif di rumah sakit. Hal itu tentu membuat Rida merasa kecewa karena tidak bisa hadir di moment penting putrinya.


Tok ... tok ... tok. "Mama! Good morning!" sapa Raydita riang sambil membuka pintu ruangan itu.


"Hai! Cantk sekali anak mama," ujar Rida dengan tatapan berbinar.


"Pasti dong. Kan mamanya juga cantik," sahut Raydita sambil bergaya bagai seorang model.


Rida tersenyum lebar sambil membuka kedua tangannya. Raydita segera menghampiri dan memeluk Rida.


"Maafkan mama, Sayang."


"Nggak apa-apa, Ma. Yang penting mama sehat. Setelah ini, kita akan tinggal bersama lagi. Hmm?"


Rida mengangguk pelan, kemudian bertanya, "Mama Rianti sama Papa Adi nunggu di bawah?"


"Iya. Nisa juga," sahut Raydita yang asik mengambil foto kebersamaannya dengan Rida.


"Ya udah, sana berangkat. Biar nggak telat," ujar Rida sambil sesekali tersenyum pada kamera yang diarahkan Raydita.


"Oke. Nanti pulang dari sana Dita ke sini lagi ya, Ma."


"Iya, Sayang. Selamat ya! Hmm, mama nggak ngasih apa-apa ya buat kamu. Sekali lagi mama minta maaf," ujar Rida dengan raut menyesal.


"Mama apaan sih? Dita cuma butuh doa mama. Selain itu mama harus sehat, biar nanti kalau Dita wisuda dengan gelar dokter, mama bisa hadir dan bangga sama Dita."


"Aamiin. Semoga, Sayang." Rida menatap haru wajah Raydita.


Rida memang susah tidak lagi memiliki apapun juga. Semua saham bernilai fantastis yang ia miliki di banyak perusahaan sudah beralih atas nama Raydita. Berkaca dari pengalamannya belum lama ini, Rida khawatir jika suatu hari ia meninggal mendadak dan belum sempat mengalihkan semua hartanya pada Raydita.


Rida melambaikan tangannya pada Raydita yang berlalu sambil sesekali menoleh kepadanya. Saat pintu itu tertutup, Rida menghela nafasnya. Ia sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk melihat senyum putrinya tersebut.

__ADS_1


Di sisi lain, Raydita yang mengenakan kebaya dengan segala aksesoris pendukungnya tentu membuat sebagian pengunjung rumah sakit menoleh padanya. Raydita terlihat sangat cantik. Ia berlalu dengan percaya dirinya menuju bagian depan rumah sakit.


"Eh? Mobil papa di mana? Seingatku tadi di sini deh," gumam Raydita heran.


Raydita memperhatikan sekelilingnya, akan tetapi mobil yang tadi membawanya ke tempat itu benar-benar tidak ada. Raydita merogoh ponselnya dan bersiap untuk menelepon sang mama. Namun kemudian keningnya kembali berkerut melihat sebuah mobil sport berhenti tepat di hadapannya.


"Kak Raka?" gumam Raydita heran saat melihat Raka turun dari mobil itu.


"Hai, Cantik! Butuh tumpangan?" tanya Raka dengan gayanya yang sok cool.


"Sejak kapan Kak Raka ganti mobil?" tanya Raydita yang menatap kagum pada mobil di hadapannya.


"Gue nggak ganti mobil kok," sahut Raka santai.


"Ini mobil siapa dong? Kak Raka minjem ya?"


"He-em," sahut Raka sambil melempar kunci mobil pada Raydita yang refleks menangkapnya.


Raydita terlihat bingung dengan apa yang dilakukan Raka. Tapi kemudian ternganga saat mendengar Raka berkata, "Itu mobil lo, Dita. Gue kan pernah janji."


"Beneran, Kak?" tanya Raydita yang tak percaya dengan semua itu. Raydita bergantian menoleh pada mobil dan juga Raka yang berjalan menghampirinya.


"Iya dong. Masa iya gue bohong."


"Aaa, thank you!" seru Raydita yang langsung memeluk Raka


"Hehe. Gue baik, 'kan?" seloroh Raka.


Raydita melepaskan pelukannya dan mengangguk cepat.


"Cium dong," pinta Raka sambil menunjuk pada salah satu pipinya.


Raka terkesiap mendapati Raydita yang langsung mendaratkan bibir tak hanya di pipi yang ditunjuknya, melainkan di kedua pipinya secara bergantian. Kemudian Raka terkekeh karena tak menyangka Raydita serius menanggapi candaannya.


"Kenapa ketawa, Kak?"


"Enggakq kenapa-apa. Lo lucu," ujar Raka.


"Kok Lucu?" tanya Raydita bingung.


"Lain kali, kalau ada yang ngasih hadiah jangan asal ngasih cium ya. Apalagi kalau minta lebih. Janji?"


"Maksudnya?" Raydita tidak memahami maksud ucapan Raka.


"Ya gitu deh pokoknya. Awas loh kalau asal nyium cowok."


Raydita nyengir dengan wajahnya yang merona.


"Acaranya udah mau mulai, kan?" tanya Raka mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin Raydita jadi salah tingkah.


"Eh, iya. Ini aku yang nyetir, Kak?" tanya Raydita.


"Iya. Lo bisa, 'kan?"


"Bisa dong," sahut Raydita sambil membuka pintu mobil itu.


"Jangan bawa gue ke akhirat ya. Gue belum kawin, yang ada nanti arwah gue gentayangan," kelakar Raka sambil mendudukkan bokongnya.


"Masa sih belum kawin? Belun nikah kalee. Kawin sih tiap malam, hahaha."


"Sok tahu," ujar Raka sambil menoyor pelan kepala Raydita.


Raydita terkekeh dan mulai memutar kemudi.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2