Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
sekolah lagi


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Bagian dada yang terasa amat sesak memaksa Rida menepikan mobil yang sedang dikemudikannya. Sedari tadi, ucapan Raydita menggema dalam benak Rida.


Rida mengantuk-antukkan kepalanya pada kemudi. Wanita berusia lebih dari 35 tahun itu terisak mengingat rentetan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.


"Oh My God!" Rida kembali ke posisi duduknya semula sambil mengusap kasar wajahnya berkali-kali.


Rida sempat berharap, Raydita akan menjadi sosok yang mampu menuntunnya ke jalan yang lebih berarti. Akan tetapi, itu semua percuma.


Dddrrt ... ddrrtt.


Rida merogoh ponselnya yang berada dalam tas. Rida terlihat malas saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Halo, Vel."


"...."


"Aku akan pertimbangkan lagi, Vel."


"...."


"Iya, aku tahu."


"...."


"Oke. Tapi rahasiakan ini dari Kak Rika ya, please."


"...."


"He-em. Terima kasih, bye."


Rida menghela napasnya dalam-dalam. Seringaian tipis terlihat di wajahnya. Seringaian yang ditujukan untuk dirinya sendiri.


Rida memutar kemudi dan meneruskan perjalanannya. Mau tak mau, ia harus kembali berdamai dengan takdir yang ditulis Tuhan untuk dirinya. Setelah Sandy, Raydita, dan kini ....


"Huft. Aku pasti bisa melewati semua ini," gumam Rida menyemangati dirinya sendiri.


***


Suasana pagi di kediaman Adisurya terlihat kembali seperti biasanya. Lengkingan suara Rianti yang memanggil nama anak-anaknya menggema di dalam rumah.


Satu persatu anggota keluarga itu menghampiri Rianti di ruang makan. Hari ini, Rayhan dan Annisa kembali bersekolah. Sedangkan Raydita, akan kembali sekolah pekan depan.


"Ayo, sarapan sayang!"serunya.


"Bu, Nisa boleh berangkat sama Kak Ehan?" tanya Nisa pelan.


Rianti menoleh pada Adisurya yang membalasnya dengan senyuman.


"Ibumu takut kalian pergi lagi," seloroh Adisurya.


"Nggak lah, Ma," kilah Rayhan.


"Janji ya," pinta Rianti dan diangguki oleh Rayhan. "Kalau begitu, boleh." Ujarnya kemudian.


Raydita terdiam sambil menunduk. Selama ini, Rayhan tidak pernah mengajak Raydita pergi sekolah dengan motornya. Tapu pada Annisa, Rayhan bersikap berbeda.


"Sayang, obat kamu hampir habis?" tanya Rianti pada Raydita.

__ADS_1


"Iya, Ma. Sehari lagi ini," sahut Raydita.


"Besok check up dong ya?" tanya Rianti lagi. Raydita mengangguk. "Oke," ujar Rianti sambil menyuguhkan kopi untuk suaminya.


Setelah sarapan selesai, Rayhan dan Annisa berpamitan. Meninggalkan Raydita dan kedua orang tuanya di ruang makan.


Rianti menarik kursi di dekat Raydita dan bicara dengan lembut padanya sambil menggenggam tangan Raydita.


"Dita, boleh mama minta sesuatu?" tanya Rianti.


"Apa itu, Ma?" Raydita balik bertanya dengan tatapan bingung. Ia bahkan menoleh pada Papa Adi yang mengangkat bahunya sedikit.


"Dita, belajarlah memaafkan Tante Rida. Maksud mama ... mama kandung kamu. Coba, sekali saja, minta dia menjelaskan semuanya. Itu memang tidak akan merubah apapun, Sayang. Tapi setidaknya kamu tahu kebenaran itu dari mamamu sendiri. Ya?"


Raydita menatap sendu wajah Rianti yang sedang menantapnya juga.


"Dita akan coba, Ma. Tapi jangan sekarang ya. Dita perlu waktu," sahut Raydita.


"Tentu, Sayang. Kapanpun kamu siap, tidak harus sekarang," ujar Rianti.


"Oke, Ma."


"Ingatlah selalu kami ini keluargamu," ujar Adisurya.


"Iya, Pa. Terima kasih," sahut Raydita.


Raydita berpamitan ke kamarnya. Raut wajahnya terlihat datar dan sesekali menghela napasnya.


Dita ingin berdamai dengan semua ini. Ia takut kehilangan kasih sayang Adisurya dan Rianti. Itu sebabnya Raydita belajar akur dengan Annisa. Tapi Rida ....


Hatinya tak sebesar hati Annisa. Raydita merasa jijik jika mengingat siapa dirinya. Tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Semua yang selama ini ia elukan, ternyata bukan sepenuhnya miliknya. Harta, saudara, bahkan orang tua. Semua itu milik Annisa.


Ponsel Raydita berdering, Tasya melakukan panggilan video dan Raydita menjawab panggilan itu dengan kikuk.


Raydita terlihat canggung padahal mereka tidak bertemu secara langsung.


"Gue ... Gu-gue ...."


'Ada yang mau ngomong nih.'


Raydita melihat Mela di samping Tasya. Mela sepertinya ragu, namun Tasya memaksanya bicara.


'Dit, sorry ya. Gue nggak ada maksud jelek kok sebelumnya. Gue kesel aja, karena Lo meragukan persahabatan kita. Sorry ya, Dit. Lo diapain sama Om Adi? Lo nggak diusir, kan?'


Raydita menatap kedua sahabatnya yang jadi salah tingkah. Baru kali ini ia bisa menatap lekat mereka sejelas ini. Raydita kemudian menunduk sesaat dan mengangkat lagi kepalanya.


"Guys, maafin gue ya. Gue udah salah menilai kalian. Sekarang gue tahu, kalau kalian emang tulus mau temenan sama gue. Sorry," ujar Raydita pelan dan menunduk lagi.


'Kita udah maafin kok, Dit. Iya kan, Mel?'


'Iya, Dit. Kita tetap sahabatan, kan?'


Raydita mengangguk sambil tersenyum tipis.


'Uuh, jadi pengen meluk deh.'


Tasya merengkuh pundak Mela dan membuat Raydita mengulumkan senyum.


"Kok kalian belum masuk kelas? Bolos ya?" todong Raydita.


'Enggak dong. Lagi ada rapat dewan pengawas dan komite sekolah. Dengar-dengar sih, katanya Om Adi memberi titah untuk mengganti kepala sekolah. Apa itu karena video kemarin ya, Dit? Om Adi pasti marah banget lihat Vio nampar Nisa,' ujar Mela.

__ADS_1


"Mungkin aja," sahut Raydita pelan.


'Lo kapan masuk? Tadi gue lihat Kak Ehan sama Nisa.'


"Senin depan," sahut Raydita singkat.


'Dita. Kita boleh ke rumah Lo lagi nggak?' tanya Tasya penuh harap.


Raydita mengangguk dan membuat kedua sahabatnya itu senang.


'Oke. Pulang sekolah ya.'


"Oke." Raydita menutup panggilannya.


Raydita tersenyum menatap pantulan wajahnya di cermin. Annisa benar, ia tidak kehilangan apa-apa. Tidak keluarga, tidak juga sahabat dekatnya.


***


Kembalinya Rayhan cs ke sekolah menghadirkan euforia tersendiri bagi para siswi di sekolahnya. Tak terkecuali Isti. Hari ini, Isti tidak membawa bekal dan sedang terduduk di kantin bersama Annisa dan Yuda.


Isti menatap kagum pada Rayhan yang berada tidak jauh dari mejanya. Beberapa siswi terlihat tebar pesona bahkan ada yang menawarkan jajanannya pada Rayhan, Ghaisan, dan Raka.


"Gantengnya ...," gumam Isti.


"Kamu kalau suka ngomong dong, jangan di pendam. Nanti bentol-bentol baru tahu rasa," seloroh Yuda.


"Kok bentol sih? Memangnya Kak Ray semut? Tapi nggak apa-apa deh. Aku rela digigit kalau semutnya Kak Ray," ujar Isti pelan.


"Ish-ish," delik Yuda.


"Ray lagi lihatin kamu tuh," goda Yuda saat Isti sedang berbalas pesan dengan seseorang.


"Mana?" Isti langsung mengalihkan tatapannya pada Rayhan.


"Tapi bo-ong, haha ...." Yuda terbahak, sedangkan Annisa mengulumkan senyumnya. Tawa Yuda membuat beberapa siswa menoleh pada mereka. Karena malu, Isti menginjak kaki Yuda sangat keras.


"Aww, sakit tahu," ringis Yuda kesal.


"Rasain. Ketawanya nggak usah lebar-lebar," gerutu Isti.


"Yee mulut-mulut siapa?" delik Yuda.


Melihat wajah Isti yang cemberut, Yuda pun berniat menjailinya.


"Ray! Dapat salam dari-, mmppth." Isti bergerak cepat membungkam mulut Yuda dengan tangannya. Kedua maniknya yang membulat sempurna menatap Yuda dan memberi isyarat pada sahabatnya itu agar diam.


"Dari siapa, Yud?" tanya Rayhan.


Gerakan bola mata Yuda mengarah pada Isti, sedangkan Isti menggeleng-gelengkan kepalanya cepat sambil nyengir dan menoleh pada Rayhan.


"Kok cuma Ray sih yang dapat salam? Buat gue ada nggak?" tanya Raka.


"Lo dapat jahe, Ka," sahut Yuda setengah berseru.


"Enak dong anget, haha. Itu yang di sebelah Lo, nggak salam gitu sama gue?" tanya Raka yang ditujukan pada Annisa.


"Apaan sih?" Raka menepis tangan Ghaisan yang menoyor kepalanya.


"Cemburu bilang," imbuh Raka.


"Sotoy Lo," delik Ghaisan.

__ADS_1


Rayhan dan Raka mengulumkan senyum melihat raut wajah Ghaisan yang salah tingkah. Rayhan juga memberi acungan jempol pada Raka. Entah apa maksud Rayhan, karena Raka juga memberi isyarat serupa pada Yuda.


_bersambung_


__ADS_2