
Happy reading ....
🌿
Menjelang siang, Rayhan dan kedua sahabatnya berpamitan pada Heru. Ketiga remaja itu kembali ke rumah masing-masing.
Setibanya di rumah, kening Rayhan tertaut melihat mobil yang terparkir di halaman.
"Mobil siapa itu, Mang?"
"Guru les-nya Neng Nisa, Den."
"Oh."
Rayhan masuk ke dalam rumah melalui pintu samping. Melihat ruang tamu yang dibuka, kemungkinan Annisa dan gurunya berada di sana.
"Ehan, kenapa baru pulang? Katanya mau pulang pagi. Udah sarapan?"
"Sudah, Ma. Semalam Ehan tidur malam banget."
"Oh, pantas aja."
Rayhan menghampiri Raydita yang sedang menontong tv di ruang keluarga. Terdengar suara Papa Adi yang rupanya sedang mendampingi Annisa belajar. Suara Papa terdengar dominan dari pada guru itu sendiri. Papa semangat sekali mengajari Annisa.
"Kenapa Lo? Bad mood gitu."
"Kak, aneh nggak sih? Papa sama Mama jadi perhatian banget sama Nisa," ujar Raydita pelan.
"Terus?"
"Sebel aja. Jadi berasa dia yang anak Mama sama Papa." Gerutunya pelan.
"Bodo amat ah. Mendingan gue tidur lagi." Rayhan beranjak dan melangkah menuju tangga. Ada yang mengelitik dalam hatinya saat mendengar suara Annisa yang kesulitan mempelajari Bahasa Inggris. Rayhan pun mengintip ke ruang tamu.
Rayhan terkesiap melihat senyum hangat Papa Adi yang menatap pada Annisa. Jelas terlihat dari sorot matanya papa sangat menyayangi Annisa.
"Han, kapan pulang?"
"Ba-barusan, Pa." Rayhan nampak gugup karena kepergok oleh papanya. Sekilas tatapannya beradu dengan Annisa yang tersenyum tipis.
"Ehan ke kamar dulu ya, Pa." Papa Adi mengangguk kecil. Rayhan berlalu meneruskan langkahnya, dan masih bisa mendengar suara Papa Adi yang mengajari Annisa.
Ada rasa canggung dalam hati Annisa berada dalam rumah itu. Terlebih karena ia sangat tahu Ray bersaudara tidak menyukai keberadaannya. Alhasil ia memilih untuk berdiam diri di kamar sambil belajar.
Saat merasa bosan, Annisa ke dapur membantu menyiapkan menu makan siang.
"Nisa, enak ya jadi kamu. Baru datang ke rumah ini udah diistimewakan. Kamu juga sekarang sombong, jadi jarang ke dapur," ujar Hani ketus
"Nisa kan harus belajar, Hani. Kamu nggak usah iri deh. Dosa tahu," ujar Santi.
"Ck, kamu nyamber aja kalau aku lagi ngomong." Deliknya.
Annisa hanya terdiam mendengarnya. Tak berniat sedikitpun menanggapi ucapan Hani.
Saat terdengar azan, Annisa pamit ke kamarnya. Setelah salat, ia kembali membaca.
"Bi! Sudah siap belum makan siangnya?"
Annisa mendengar pekikan Bu Rianti. Cepat-cepat ia menuju tempat tidur dan berbaring. Annisa membaca buku yang dipegangnya, kemudian memutuskan untuk memejamkan mata.
Ceklek.
Nisa terperanjat, namun cepat-cepat menenangkan diri.
__ADS_1
"Nisa, kamu tidur?"
Derap langkah Ayah Adi terdengar mendekati memasuki kamar. Tak lama terdengar suara AC yang dinyalakan. Lalu selimut yang ditarik untuk menutupi tubuh Annisa dan buku di tangan Nisa pun diambil. Langkah Ayah Adi terdengar menjauh, dan suara pintu yang ditutup pun terdengar.
"Mana Nisa, Pa?"
"Ketiduran."
Annisa membuka kelopak matanya. Termenung sesaat, dan kembali menutupi wajah dengan lengannya.
Setelah makan siang, keluarga Adisurya hendak kembali ke kamar masing-masing, kecuali Rayhan. Putra Adisurya itu nampak asik berbalas pesan dengan kedua sahabatnya di ruang keluarga.
"Sayang, nanti sore kita shopping ya. Pulangnya dinner, oke?" ujar Rianti sebelum masuk ke kamar.
"Oke, Ma." Raydita terlihat riang.
"Mau dinner dimana?"
"Mmm dimana ya? Gimana kalau di resto yang lagi hits banget, Pa. Mau nggak? Kata Mela tempatnya instagramable banget."
"Mau makan atau mau foto-foto?"
"Dua-duanya. Ya, Pa. Please ...."
"Boleh, dimana?"
"Dita tanyain Mela dulu." Adisurya mengangguk dan melangkah menuju masuk ke kamarnya.
Sementara itu Rayhan mendongak melihat ke lantai atas dan membuang napas pelan saat terdengar pintu yang ditutup. Sepi, rumah besar itu terasa sepi. Hanya sayup-sayup terdengar para pelayan berkelakar di rumah belakang.
Rayhan beranjak dan melangkah mendekati kamar Annisa. Perlahan diputarnya pegangan pintu dan masuk ke dalam kamar.
Tatapannya langsung tertuju pada Annisa yang sedang meringkuk. Langkah Rayhan menuju meja belajar yang diatasnya terdapat beberapa buku tergeletak begitu saja.
Annisa terperanjak, degup jantungnya tak beraturan karena kaget dengan sikap Rayhan. Baru saja ia benar-benar akan terlelap, dan kini merasa bingung melihat raut wajah Rayhan yang menatapnya tajam.
"Ada apa, Kak?"
"Kenapa buku Yuda ada sama Lo?"
"Oh ini, untuk belajar Nisa."
"Guru les sama papa, apa masih belum cukup heh? Apa perlu gue juga ngajarin Lo? Emang Lo sebodoh itu ya?"
"Bukan gitu, Kak. Ini cuma buat baca-baca." Annisa mengambil buku itu dan meletakkannya di atas nakas.
"Besok, Lo balikin bukunya ke Yuda."
"Nggak mau, udah boleh kok sama Ayah."
"Lo dengar gue nggak?" tanya Rayhan dengan nada yang tinggi.
"Aah, Kak Ehan. Kepala Nisa lagi pusing malah dimarahin." Annisa menarik selimutnya dan kembali berbaring.
"Lo sakit?" Rayhan terduduk di tepi tempat tidur. Ia juga meletakkan punggung telapak tangannya di kening Annisa.
"Nggak panas," ujar Rayhan pelan sambil mengerutkan keningnya.
"Nisa nggak sakit, Kak. Cuma pusing. Baru aja Nisa mau tidur, Kak Ehan ngagetin." Nisa menjauhkan tangan Rayhan dari keningnya.
"Oh, sorry."
"Kak Ehan mau apa cari Nisa?"
__ADS_1
"Nggak mau apa-apa. Ya udah kalau Lo mau tidur, gue keluar." Rayhan nampak enggan beranjak dari samping Annisa.
Melihat Rayhan yang sudah melangkah ke arah pintu, Annisa membetulkan selimutnya dan mencoba kembali terlelap.
"Ee ... Nis. By the way, makasih ya. Lo khawatir sama gue." Ujarnya ragu-ragu.
Annisa nampak berpikir sesaat, kemudian tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
"Mmm gue keluar." Annisa mengangguk cepat. Rayhan pun berlalu meninggalkan Annisa yang merasa lega.
Rayhan menuju gudang di rumah belakang. Melewati dapur dimana para pelayan sedang makan siang.
"Den, ada yang bisa Mang Asep bantu?" Mang Asep menghampiri Rayhan yang membuka pintu gudang.
"Aku mau nyari buku-buku Bahasa Inggris, Mang. Mungkin masih ada."
"Sebentar, Mang Asep panggilkan Bibi dulu."
Rayhan masuk ke dalam gudang yang cukup pengap. Dibukanya jendela ruangan itu dan menatap jejeran dus yang tertata rapi di atas rak.
"Den Ehan mau ngambil yang mana? Biar Mang Asep ambilkan." Tawar Mang Asep yang kembali datang bersama Bi Susi.
"Bi, buku-buku Ehan di dus yang mana?"
"Di mana ya? Bibi juga lupa, Den." Bi Susi dan Mang Asep mulai membuka satu persatu dus itu, begitu juga dengan Rayhan.
"Ini bukan, Den?" Rayhan menghampiri dan melihat tumpukan buku di dalamnya.
"Mungkin. Itu koper siapa, Bi?" tanya Rayhan menunjuk pada koper yang berada paling atas pada rak tersebut.
"Itu sepertinya punya tuan. Kalau tidak salah, tuan sendiri yang meletakkannya di sana."
"Oh. Bibi sama Mang Asep keluar aja deh. Bukannya lagi pada makan? Ehan bisa cari sendiri kok."
"Benar nih, Den?"
"Iya, Mang. Santai aja," sahut Rayhan.
"Oke deh kalau begitu. Panggil Mang Asep kalau memerlukan sesuatu ya, Den."
"Siap."
Sepeninggal Mang Asep dan Bi Susi, Rayhan mulai mengeluarkan buku-buku itu dari dalam dus. Ia mencari buku Bahasa Inggris bekas untuk dipelajari Annisa.
Rayhan tersenyum tipis saat menemukan buku yang dicarinya. Ia pun kembali mencari di dus yang lain.
"Emangnya Yuda doang yang punya buku begitu. Gue juga punya, lebih banyak malahan." Gumamnya sambil menumpuk buku-buku Bahasa Inggris miliknya dari tingkat sekolah dasar, hingga sekolah menengah.
"Udah cukup mungkin ya." Gumamnya lagi. Rayhan berdiri menatap buku-buku yang berserakan. Ia memutar pandangan dan merasa penasaran pada koper yang merupakan milik papanya.
Koper itu terlihat sudah berdebu, selain terletak paling atas, mungkin juga belum pernah dibuka setelah sekian lama. Karena penasaran, Rayhan menarik kursi untuk menjangkau koper tersebut.
_bersambung_
Apa isi koper itu? Kira-kira ada sesuatu yang penting nggak ya?
Nantikan episode selanjutnya nanti malam, oke?
InsyaAllah😁
🌿
Hai, Readers🤗 Mohon maaf banget belakangan ini jarang up🙏 kondisi lagi tidak memungkinkan🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih, masih bersedia menunggu. Sehat selalu, dan Selamat hari raya Idul Adha 1442H. Mohon maaf lahir dan batin🙏