
Happy reading ....
*
Beberapa saat sebelumnya ...
Mobil yang dikemudikan Adisurya memasuki halaman rumahnya. Kening Adisurya berkerut melihat ada mobil lain di depan rumahnya.
"Mobil siapa itu, Pak?" tanya Adisurya pada security.
"Teman Non Dita, Tuan." Sahutnya.
Adisurya meneruskan langkahnya masuk ke dalam rumah. Ia merasa heran karena samar-samar terdengar suara Raydita yang sedang berdebat.
"Video? Video apa yang sedang mereka bicarakan," batin Adisurya.
Semakin langkahnya mendekati kamar Raydita, semakin jelas perdebatan itu terdengar.
"Video saat Dita memojokkan Nisa di Vila? Apa itu artinya terjadi sesuatu di sana? Apa ini ada hubungannya dengan perubahaan sikap Annisa?" Semua pertanyaan itu memenuhi pikiran Adisurya.
"Video apa yang kamu bicarakan?" Terlihat jelas ketiga remaja putri itu terkejut dengan kehadiran Adisurya yang tidak terduga.
Sekali lagi Adisurya bertanya, "Mela. Om tanya, video apa yang mau kamu sebarin?"
"Vi-video ... bukan video apa-apa, Om," sahut Mela tergagap.
"Om sudah dengar pembicaraan kalian. Perlihatkan pada Om," pinta Adipura datar.
Raydita menghampiri papanya dengan raut wajah yang ketar-ketir. "Obrolan kita nggak penting kok, Pa. Iya kan, Guys?" Raydita menoleh pada kedua sahabatnya.
Namun rupanya Adisurya kali ini tidak menghiraukan kilahan Raydita. Pria itu bersikeras meminta diperlihatkan video yang dibicarkan Mela.
Dengan ragu sekaligus takut, Mela mencari video itu di ponselnya kemudian diserahkan pada Adisurya dengan tangan yang gemetar. Raydita berjalan mundur dengan sangat perlahan menjauhi papanya sambil meremas jemarinya sendiri.
Adisurya mulai memutar video. Perubahan ekspresi wajah Adisurya terlihat jelas detik demi detik video itu diputar sampai video berakhir. Sebelum mengembalikan ponsel Mela, Adisurya mengirimkan video itu ke ponselnya. Sedangkan yang ada di ponsel Mela, ia hapus.
"Om minta maaf. Kalian, pulanglah," titah Adisurya datar.
"Baik, Om. Kami permisi," sahut Mela yang langsung menarik tangan Tasya keluar kamar Raydita.
__ADS_1
Tasya dan Mela keluar dengan tergesa-gesa. Di depan rumah, lagi-lagi mereka berpapasan dengan Rianti yang baru saja tiba.
"Kok cuma sebentar?" tanya Rianti heran melihat ekspresi wajah mereka.
"Disuruh pulang sama mama, Tante," sahut Tasya berdusta.
pamit keduanya.
Rianti tersenyum tipis mengantar kepergian mereka. Setelahnya ia masuk ke dalam rumah.
"Papa kecewa sama kamu, Dita. Papa tidak membesarkan kamu untuk jadi anak yang arogan dan suka menyakiti orang lain."
Mendengar ucapan Adisurya, Rianti tertegun sesaat. Kemudian berjalan cepat di tangga menuju kamar Raydita.
"Ada apa, Mas?" tanya Rianti yang terkejut melihat Raydita terisak sambil bersimpuh di lantai.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Rianti sambil mendekati Raydita.
"Mas, ada apa ini?" tanya Rianti lagi.
Adisurya membuang kasar napasnya dan memberikan ponselnya pada Rianti sambil berucap, "Mama lihat saja sendiri."
Rianti mengambil ponsel itu dengan raut wajah bingung. Ia pun memutar video yang ada di layar ponsal Adisurya. Rianti sampai menutup mulutnya sendiri dan menoleh pada Raydita dengan air mata yang menetes di pipinya.
"Pa, maafkan Dita." Isaknya.
"Papa nggak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan ini semua." Adisurya berlalu meninggalkan kamar itu dengan rasa kecewa yang teramat dalam.
Sementara itu ...
"Ma, Dita minta maaf. Dita-." Kalimat Dita terhenti karena Rianti menepis tangannya.
"Ma ...."
"Siapa yang memberi tahukan kebenaran itu sama kamu?" tanya Rianti dingin.
"Siapa?" bentak Rianti yang membuat Raydita terkejut mendengarnya.
"Apa kamu tuli, hah?" bentak Rianti lagi sambil menarik daun telinga Raydita.
__ADS_1
"Aww! Sakit, Ma," ringis Raydita.
"Apa cuma kamu yang bisa merasakan sakit? Apa kamu pikir Nisa tidak? Apa begini cara kamu membalas kebaikan dan kasih sayang kami selama ini? Jawab!" Rianti menoyor kepala Raydita hingga tersungkur ke lantai.
Raydita menangis tersedu-sedu tanpa berani menoleh apalagi menatap wajah Rianti yang sedang marah.
"Kalau kamu tidak bisa menerima Nisa di rumah ini, kamu bisa datang pada Rida dan hidup dengan wanita yang katanya ibu kandung kamu itu. Terserah, mama tidak akan melarang kamu melakukannya kalau memang kamu mau." Rianti beranjak dan meningalkan Raydita yang masih tersedu.
"Ma ...." Panggilnya lirih. Namun kali ini Rianti benar-benar marah. Raydita hanya bisa menatap nanar pada langkah Rianti yang kini menuruni tangga. Langkah itu dipercepat saat terdengar suara motor Rayhan memasuki garasi rumah.
Raydita bangkit dan berlari ke arah tangga. Dari atas sana, ia bisa melihat Papa Adi sedang memeluk hangat Annisa.
"Terima kasih, Han. Kamu bisa diandalkan," ujar Adisurya sambil mengangkat ibu jari yang ditujukan pada Rayhan.
"Iya dong, Pa. Kalau cuma jagain Nisa sih gampang," sahut Rayhan santai dan sedang menerima ciuman di pipi dari mamanya.
"Kamu capek, Sayang?" tanya Adisurya pada Annisa.
"Enggak, Yah. Cuma pegal," sahut Annisa pelan.
"Nisa." Rianti memanggil Annisa lirih. Adisurya menoleh dan menarik pinggang Rianti agar mendekat padanya sambil berkata, "Mama sini dong. Jangan malu-malu."
Rianti nampak canggung saat memeluk Annisa. Beruntung Annisa balas memeluknya dan membuat Rianti yang sedari tadi menahan air mata menangis juga.
"Maafkan ibu, Sayang." Ujarnya sambil terisak.
"Nisa juga minta maaf sudah membuat ibu khawatir," ujar Annisa pelan.
"Gimana disana, Han? Betah? Agas sama Raka kok nggak kesini?" tanya Adisurya sambil menghampiri putranya.
"Langsung pulang. Pa, bikin vila dong di sana. Tempatnya enak loh," pinta Rayhan.
"Hmm jangan-jangan kamu kepincut gadis sana ya?" goda Papa Adi.
"Enggak."
"Ah masa. Itu mukanya kok merah?"
"Enggak. Papa bohong," sahut Rayhan tersenyum menaggapi godaan papanya.
__ADS_1
Mereka tidak menyadari ada yang menatap sendu kebersamaan itu. Dengan kepala yang tertunduk, Raydita kembali ke kamarnya.
_bersambung_