Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Raka-Yuli (gosip)


__ADS_3

Happy reading ....


*


Perjalanan Raka dan Raydita berakhir di halaman depan sebuah hotel bintang empat di kota B. Selama di kota itu, Raydita akan menginap di hotel karena tidak mungkin menginap di kamar kos Raka. Dan mobilnya pun akan dibawa oleh Raka.


Keduanya pun turun dari mobil. Raydita menatap heran pada Raka yang disangkanya akan kembali masuk setelah mengeluarkan ransel miliknya. Tapi Raka justru menarik kunci dan menutup pintu mobil.


"Kak Raka mau kemana?" tanya Raydita heran.


"Mau nganterin kamu sampai ke kamar. Masa iya kakak biarin kamu begitu aja," sahutnya.


"Ooh. Kirain mau langsung pergi," sahut Raydita.


"Ya enggak dong. Yuk!" Raka menggandeng tangan Raydita masuk ke hotel.


Setelah check in, mereka pun diantar pegawai hotel hingga ke kamar yang akan ditempati Raydita. Di dalam kamar ....


"Aah, lega. Akhirnya sampai dan bisa juga nyetir jauh," ujar Raydita sembari menjatuhkan dirinya di tempat tidur.


Raka yang sedang meletakkan ransel di sofa tersenyum lebar melihatnya.


"Kosan Kak Raka jauh nggak dari sini?" tanya Raydita.


"Lumayan dekat. Besok mau sarapan di mana? Mau di hotel atau di pinggir jalan?"


"Di pinggir jalan? Maksudnya?" Raydita menoleh dengan tatapan heran.


"Ya kita cari sarapan di luar," sahutnya tanpa menoleh.


"Ooh ...."


Keheranan Raydita bertambah saat melihat Raka sedang mengamati beberapa barang yang ada di hotel, seperti vas bunga, bawah meja, kotak tisu, lampu duduk dan masih banyak yang lainnya lagi. Tak hanya itu, Raka bahkan masuk ke kamar mandi.


"Kak Raka lagi ngapain?" tanya Raydita saat Raka keluar dari kamar mandi.


"Ya kali aja ada kamera tersembunyi," sahutnya asal.


"Parno," ujar Raydita pelan.


"Yee jaga-jaga, Dita."


"Hmmm nelpon mama dulu ah," ujar Raydita.


"Kakak pulang ya," pamit Raka.


"Sekarang?"


"Iya. Besok pagi kakak jemput. Kita sarapan di luar aja ya?"


"Oke."

__ADS_1


"Hati-hati," ujar Raka.


"Nggak kebalik tuh? Ada juga Dita yang bilang begitu."


"Hehe. Bye! Good night, Sweety," ujar Raka sambil membuka pintu kamar.


"Good night! Happy nice dream," sahut Raydita.


Raydita tersenyum tipis menatap Raka yang berlalu dari kamarnya. Senang sekaligus haru. Kini Raydita tak perlu lagi merasa iri pada sikap Rayhan terhadap Annisa. Meski tak memperlihatkannya, Raydita merasa bahwa Rayhan mengistimewakan Annisa. Tapi kini, ia merasakan hal itu dari Raka. Mungkin benar pepatah yang mengatakan, kalau darah lebih kental dari pada air. Raydita melihat ketulusan seorang kakak pada sosok Raka.


***


Raydita menghabiskan satu harinya di kota B dengan berwisata kuliner dan membeli apapun yang diinginkannya. Tak lupa, ia juga membelikan oleh-oleh untuk Rida, Rianti, dan Annisa. Sepanjang hari, Raka selalu setia menemani. Raka bahkan tidak ke kampus demi menemani sang Adik.


Setelah puas berbelanja, Raka kembali mengantar Raydita ke hotel. Turun dari mobil, mereka berjalan beriringan. Raka yang mengenakan kaca mata hitam, nampak cool dengan beberapa paper bag yang dijinjingnya. Keduanya pun masuk ke dalam hotel dengan santai.


Raydita memperhatikan sekitarnya. Ia merasa ada yang aneh dari tatapan beberapa orang yang berpapasan dengan mereka. Sementara Raka dengan cueknya berjalan sambil membaca pesan pada ponselnya.


"Eh? Kok bisa?" gumam Raka sembari menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Dan sontak saja Raydita menubruknya.


"Kak Raka, jangan berhenti mendadak dong," gerutu Raydita.


"Sorry."


"Kak, apa ini perasaan Dita aja ya? Mereka kok pada ngelihatin kita?" tanya Raydita pelan.


Raka memperhatikan sekitarnya. "Mungkin karena ini," ujar Raka sembari memperlihatkan salah satu artikel yang dikirim temannya.


"Oh My God, bisa-bisa papa ngamuk," gumamnya.


Bagaimana tidak, bukan hanya satu, tapi berita mengenai, 'Raydita Adisurya tertangkap kamera memasuki hotel bersama seorang pria' bertebaran hanya dalam hitungan menit saja. Tak lama kemudian, ponsel Raydita terus membunyikan notifikasi pesan dari teman-temannya, terutama Mela dan Tasya.


'Ogeb ya itu yang buat berita. Dia nggak tahu aja kalau lo sama Kak Raka itu kakak-adik.'


'Udah biarin aja, Dit. Nanti juga beritanya tenggelam sendiri.'


'Makanya punya cowok dong, biar nggak digosipin sama kakak sendiri. Hahaha ....'


Raydita tersenyum tipis membaca pesan dari kedua temannya itu. Ia merasa lega, setidaknya orang-orang terdekat mengetahui kebenaran tentang dirinya. Terlebih malam tadi saat menelepon Rianti, ia menceritakan tingkah Raka yang mencari kamera tersembunyi di kamar hotelnya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Raka khawatir.


"Enggak, Kak. Udahlah biarkan saja," sahut Raydita.


"Ya sudah, yuk!" Raka pun meneruskan langkahnya mengantar Raydita.


"Kamu yakin bisa pulang sendiri?" tanya Raka.


"Yakin," angguk Raka.


"Kakak antar sampai resto yang kemarin malam ya. Lumayan setengah perjalanan lebih," ujar Raka.

__ADS_1


"Pakai motor?" tanya Raydita.


"Iya dong. Kalau nebeng sama kamu, nanti kakak pulangnya gimana? Naik bis?"


Raydita menyeringai tipis sambil berkata, "Modus. Bilang aja mau ketemu lagi sama Yuli. Pakai alasan nganter Dita."


"Hehehe. Kan sambil menyelam, bisa berenang," kelakarnya.


"Minum air, Kak. Bukan berenang."


"Kakak sih ogah menyelam sambil minum air. Apalagi air laut, asin. Wleee."


Raydita terkekeh karenanya.


***


Pukul empat sore, Raydita kembali ke ibukota. Meski Raka mengendarai motor, tidak lantas meninggalkan Raydita yang sempat terjebak kemacetan. Raka sepertinya ingin memastikan jika Raydita baik-baik saja.


Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, mereka pun tiba di depan resto tempat Yuli bekerja. Raka turun dari motornya dan menghampiri Raydita yang sudah membuka kaca jendela mobilnya.


"Dit, istirahat dulu ya," pinta Raka.


"Nggak ah, Kak. Biar cepat sampai," sahut Raydita.


"Yakin?"


"Yakin, Kak."


"Oke. Langsung telpon ya kalau udah sampai," pesan Raka.


"Oke, kakak bawel," sahut Raydita.


"Hati-hati ya, Dek." Raka tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya pada Raydita yang mengangguk pelan.


Setelah mobil yang dikendarai Raydita hilang dari pandangannya, Raka menoleh pada restoran itu. Raka kembali mengendarai motornya dan parkir di area restoran.


Raka memasuki restoran dengan percaya diri. Seorang pegawai resto mengarahkannya pada salah satu meja, namun tatapan Raka justru memutar mencari sosok Yuli.


"Mas, Yuli hari ini kerja nggak?" tanya Raka sebelum pegawai itu berlalu meninggalkannya.


"Yuli? Oh, yang pegawai baru itu?"


Raka refleks mengangguk.


"Sebenarnya sih bukan pegawai, Mas. Dia itu kalau tidak salah masih saudara jauh yang punya restoran ini. Dan ikut bantu-bantu di sini sambil menunggu bos saya yang sedang mencarikan tempat tinggal, Mas. Dan kemarin itu, terakhir kali dia di sini," tuturnya.


"Oh, begitu ya," ujar Raka pelan.


"Terima kasih, Mas," imbuh Raka. Terlihat jelas kekecewaan pada raut wajahnya.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2