
Happy reading ....
*
Meski langit ibukota nampak berawan, tapi udara yang menyelimutinya terasa gerah. Sepertinya akan ada hujan lebat sore atau malam nanti. Dan untuk saat ini, orang-orang banyak memilih keluar rumah.
Sebuah taksi menepi di bahu jalan yang berada di depan kantor polisi. Ghaisan turun dari taksi itu dan bergegas menuju area kantor polisi.
"Permisi, Pak. Saya ingin mengunjungi ibu saya," ujar Ghaisan pada petugas yang ditemuinya.
"Siapa nama ibunya?" tanya petugas itu.
"Dokter Rika," sahut Ghaisan.
"Oh. Silahkan ke bagian Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT). Nanti ada petugas yang akan mengarahkan," ujarnya.
"Baik, Pak. Terima kasih." Ghaisan pun mempercepat langkahnya menuju tempat yang ditunjukkan petugas itu.
Saat memasuki ruangan itu, Ghaisan langsung menemui petugas yang juga menghampirinya. Setelah mengutarakan maksudnya, Petugas itu mengarahkan Ghaisan pada sel sementara yang dihuni Rika.
Ghaisan terkesiap melihat sosok ibu yang sangat disayanginya itu. Rika duduk bersandar sambil memejamkan mata. Sepertinya Rika tertidur karena sejak semalam, ia tidak bisa terlelap.
Ghaisan menggigit bibir bawahnya dan melemparkan pandangan asal menahan air matanya agar tidak luruh. Ghaisan melihat ibunya berada di titik terendah dalam kehidupannya.
Seakan merasakan kehadiran Ghaisan di dekatnya, Rika perlahan membuka kelopak matanya. Wajahnya nampak terkejut tapi juga senang melihat Ghaisan ada di hadapannya.
Rika berdiri dan berjalan cepat sambil berkata, "Sayang, kapan datang?"
"Baru saja, Ma. Bagaimana keadaan mama? Mama sudah makan belum?" tanya Ghaisan sambil mengusap air mata di pipi Rika yang tersenyum menyambutnya.
"Mama baik-baik saja. Ka-kamu langsung ke sini? Kenapa nggak ke rumah dulu? Kamu pasti capek," ujar Rika sembari mengusap wajah putranya dari balik jeruji besi yang jadi penghalang.
"Mama jangan khawatir ya, Agas sudah bicara dengan Pak Bambang. Beliau akan membantu menangani kasus mama," ujar Ghaisan lembut.
"Bukan mama yang memaksa Angel, Sayang. Bukan. Angel yang datang sendiri ke klinik," ujar Rika dengan suara bergetar.
"Iya, Ma. Agas percaya. Mama tenang aja. Kita akan tunggu Pak Bambang datang. Tadi Agas sudah memintanya ke sini," ujar Ghaisan.
"Mama sudah makan?" tanya Ghaisan mengulangi pertanyaannya. Rika mengeleng pelan.
__ADS_1
"Agas beli makanan dulu ya. Nanti kita makan bareng," ujar Ghaisan mencoba bersikap santai.
Rika terlihat berat melepaskan tangan Ghaisan. Ditatapnya punggung Ghaisan yang berlalu meminta izin kepada petugas yang ada di sana. Rika mengusap kasar wajahnya. Ia sangat tahu bagaimana perasaan putra semata wayangnya saat ini.
"Awas kamu, Angel! Kamu dan keluargamu yang menyebarkan fitnah tentang Rida akan merasakan akibatnya. Jangan harap kalian bisa lolos," geram Rika dalam hatinya.
Di bagian luar kantor polisi, Ghaisan berbelok mencari rumah makan. Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Heru menepi di halaman kantor polisi tersebut. Heru datang bersama pengacara pribadi Adisurya. Mereka datang ke tempat itu untuk melayangkan tuntutan pencemarnan nama baik yang dilakukan seorang kerabat Darma.
Setibanya di dalam, Heru dan Rika sempat beradu pandang. Tatapan dingin Heru membuat Rika menundukkan kepalanya. Setelah membuat laporan, Heru menyempatkan untuk mendekati Rika.
"Saya ikut prihatin atas kasus yang menimpa Anda, Bu Dokter. Tapi saya tidak akan melepaskan Anda jika terlibat dalam kasus yang menyeret nama Tuan Adisurya," ujar Heru datar.
"Pak Heru, saya tidak pernah mengatakan kalau Raydita itu anak Rida dengan Adi. Demi Tuhan, saya tidak mengatakan itu," sanggah Rika.
"Kita lihat nanti. Siapapun yang mengganggu ketenangan Tuan Adi, tidak akan bisa lolos begitu saja," ujar Heru dingin.
"Om Heru. Apa maksud om mengatakan itu pada mama? Mama mengatakan yang sebenarnya. Bukan salah mama kalau mereka salah paham tentang Dita," ujar Ghaisan kesal.
"Agas, sudahlah," cegah Rika. Ia tidak ingin putranya terlibat masalah di dalam kantor polisi.
"Oke. Kita akan buktikan kebenaran ini. Meski mungkin, dengan sangat terpaksa harus mengungkap identitas Nona Dita kepada publik," ujar Heru sambil berlalu.
Ghaisan dan Rika meinta izin untuk makan bersama. Meski berada di sebuah ruangan sempit yang disediakan untuk mereka di salah satu sisi kantor itu, keduanya terlihat bahagia bercampur haru. Rika mengusap air matanya berkali-kali. Wanita itu memaksakan agar bisa menelan makanannya karena Ghaisan sendiri yang sesekali menyuapi.
"Maafkan mama, Sayang," isaknya. Rika sudah tak tahan lagi menahan dadanya yang terasa sesak.
"Ma, makan saja dulu. Mama harus sehat, kuat. Kita pasti bisa melewati ini semua," ujar Ghaisan sembari menggenggam tangan Rika yang berada di atas meja.
Rika mengangguk pelan, kemudian berpesan, "Jangan lupa tengok tantemu. Mama yakin Adi tidak akan mengizinkan Dita ke luar rumah setelah apa yang terjadi."
"Iya, Ma. Setelah ini, Ghaisan akan ke rumah sakit."
"Kamu jangan terlalu lelah. Mama nggak mau kamu sakit. Nanti siapa yang ngurus kamu," ujar Rika sambil mengusap kepala Ghaisan.
Ghaisan meraih tangan mamanya dan mencium punggung tangan itu berkali-kali. Rika kembali terisak melihat kecemasan di wajah putranya.
Keadaan Angel yang masih dalam pantauan dokter membuat tim penyidik mengulur waktu dalam melakukan tugasnya. Setelah dinyatakan siap secara psikis oleh dokter pendampingnya, Angel baru bisa memberikan keterangan.
Tim penyidik mungkin bisa mengulur waktu. Tapi tidak dengan Ghaisan. Setelah meyakinkan Rika ia akan selalu ada di dekatnya, Ghaisan langsung menuju ke rumah sakit. Tapi bukan rumah sakit tempat Rida di rawat. Melainkan tempat Angel di rawat.
__ADS_1
Di depan ruang rawat Angel, terlihat dua orang berseragam kepolisian berjaga. Saat melihat Ghaisan menghampiri mereka, salah satu petugas itu bertanya, "Ada keperluan apa, Dek?"
"Saya ingin bertemu Angel, Pak. Saya, teman dekat Angel," aku Ghaisan.
Kedua petugas itu saling menatap sekilas. Ghaisan melanjutkan rencana yang sudah dipikirkannya selama dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Saya mohon izinkan saya, Pak. Saya ingin bertemu sekali saja," ujar Ghaisan mengiba.
"Sebentar, saya akan bertanya pada pasien. Nama kamu siapa?"
"Saya Darel," ujarnya. Darel merupakan pacar Angel yang diketahuinya dari teman Raka.
Polisi itu mengangguk kemudian masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan itu ada Reni. Tapi sedang di kamar mandi.
"Darel?" gumam Angel saat petugas itu memberitahukannya.
Angel menoleh pada pintu kamar mandi, lalu menoleh kembali pada petugas itu.
"Suruh masuk saja, Pak," ujar Angel pelan.
"Baik, kalau begitu. Tapi tolong diingatkan untuk tidak belama-lama."
"Iya, Pak," angguk Angel.
Polisi itu berlalu meninggalkan Angel. Bersamaan dengan Reni yang keluar dari kamar mandi.
"Ada apa, Ngel? Pak polisi itu mau ngapain ke dalam?" tanya Reni sambil melihat ke arah pintu.
"Ada yang ingin mengunjungi Angel, Ma."
"Siapa?" Reni menoleh pada Angel dengan tatapan heran.
Suara pintu yang dibuka mengalihkan perhatian mereka. Keduanya terbelalak saat melihat Ghaisan berdiri di ambang pintu.
"Kamu?" pekik keduanya.
"Iya. Ini saya, Tante. Kenapa, kalian terkejut?" tanya Ghaisan santai sambil menutup rapat pintu.
_bersambung_
__ADS_1