
Happy reading ....
Raut wajah bahagia terlihat jelas dari Raydita yang melihat mamanya. Gadis cantik itu dengan riangnya masuk ke dalam mobil.
"Kita mau kemana, Ma?"
"Makan siang sama Mama Ghaisan."
"Tante Rika?" Rianti mengangguk pelan sambil menyelipkan rambut Raydita di belakang telinganya.
"Mang, kok nggak jalan?" tanya Rianti heran karena Mang Asep tidak bergeming.
"Nggak nunggu Neng Nisa dulu, Nya?" tanya Mang Asep ragu.
"Ngapain juga nunggu dia. Jalan! Sekarang," sahut Rianti dengan nada tinggi.
Mang Asep pun mau tak mau menuruti. Ia merasa tidak tega jika harus meninggalkan Annisa. Meski begitu, tadi pagi Mang Asep sudah menjelaskan panjang lebar rute ke sekolah dari rumah dan sebaliknya. Hanya untuk berjaga-jaga, karena Mang Asep tidak berharap kejadian serupa terulang lagi.
Sementara itu di salah satu sisi bangunan sekolah itu. Annisa merasa lega setelah menyalesaikan hajat yang sedari ditahannya. Ia menggeser kunci kamar mandi dan menyembul dari pintu tanpa berprasangka apa-apa. Namun tiba-tiba ....
Byurr.
Annisa terperangah dan tersadar oleh gelak tawa yang ia dengar. Annisa menatap nanar bagian depan bajunya yang basah.
Beruntung hanya bagian depan. Jika tidak, mungkin buku-buku di dalam tas ranselnya akan kebasahan. Namun tetap saja, ia tidak bisa keluar dari area toilet dengan keadaannya yang seperti itu.
"Rasain Lo! Itu belum seberapa. Lo lihat aja nanti," delik Viola yang menjatuhkan gayung begitu saja.
Viola dan kedua temannya masih saja tertawa di sepanjang lorong sekolah. Rayhan yang baru saja keluar dari toilet putra merasa heran sekaligus penasaran. Ia mengendap dan tertegun melihat Annisa yang terisak sambil menangkup wajahnya.
"Nih."
Annisa terperanjak merasakan sesuatu yang dilempar tepat mengenai kepalanya. Ia menoleh ke arah Rayhan saat menyadari yang dilempar itu sebuah handuk kecil.
"Kebetulan ada Lo. Ikut gue ke lapangan. Lumayan, ada yang bisa disuruh ngambilin bola." Ujarnya, diiringi isyarat tangan.
Sambil mengikuti langkah Rayhan, Annisa mengelap semua bagian yang basah. Sesampainya di pinggir lapangan, Annisa merasa malu karena beberapa siswa putra memperhatikan dirinya. Ia berdiri mematung dengan wajah raut wajah yang canggung di salah satu sudut lapangan.
__ADS_1
"Ray, kok bawa dia?" tanya Raka heran.
Ghaisan yang sedang melakukan shooting bola ke dalam ring pun menoleh saat melihat beberapa temannya berbisik-bisik. Ia pun menghampiri Raka dan Rayhan sambil memantul-mantulkan bola ke lantai lapangan.
"Ngapain dia di sini?" tanya Agas datar.
"Iya nih, nggak tahu si Ray," timpal Raka.
"Memangnya kenapa?" Rayhan balik bertanya dengan santainya. Ia mengenakan sepatu olah raga dan mengikat talinya.
"Lo nggak lihat anak-anak ngelihatin dia kaya apaan? Kasihan tahu," ujar Ghaisan sambil memutar pandangannya. Ia melihat Annisa yang berada agak jauh dari mereka tertunduk sambil memegang handuk di bagian dadanya.
"Biar aja dia di sana. Lo nggak lihat bajunya basah," ujar Rayhan yang merebut bola dari tangan Ghaisan.
Ghaisan dan Raka saling menatap mengisyaratkan tanya. Mereka tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan Rayhan terhadap Annisa.
"Eh, Lo dan Lo, kalau masih berani lihatin dia, gue bikin bonyok itu muka," ancam Rayhan sambil menunjuk pada beberapa siswa yang tersenyum menyeringai melihat rok Annisa yang basah di bagian depan.
Tidak hanya siswa yang mendapatkan ancaman, siswa lain pun cepat-cepat memalingkan muka dari Annisa dan kembali pada kegiatan mereka di lapangan itu. Sebisa mungkin mereka menghindari Annisa yang masih terpaku di tempatnya.
Raka dan Ghaisan pun kembali melanjutkan permainan mereka. Bergabung dengan Rayhan dan beberapa siswa lain untuk saling merebut dan mengoper bola. Sesekali ketiga siswa itu menoleh pada Annisa seolah ingin memastikan ia masih berada di sana.
***
Sambil terpaku, Annisa menatap setiap gerak-gerik Rayhan. Dalam hati Annisa mengagumi siswa arogan yang tak lain adalah kakak laki-lakinya.
"Kak ..." Gumamnya sangat pelan.
Annisa terkesiap manakala Rayhan menoleh walau tanpa ekspresi yang berarti. Ada perasaan bahagia saat mengingat kini ia mempunyai dua laki-laki dalam kehidupannya. Yakni Ayah Adi dan juga Rayhan, kakaknya.
Hampir satu jam berlalu, meskipun pegal, Annisa merasa lega. Teriknya sinar mentari membuat bagian seragamnya yang basah mengering. Kini ia tidak lagi merasa malu dan berniat menghampiri Rayhan untuk pamit pulang.
Rayhan dan teman-temannya sedang beristirahat sambil meneguk air mineral. Raka menautkan alisnya saat melihat Annisa mendekati mereka.
"Ray, dia ke sini." Ujarnya.
Rayhan menoleh, begitu juga dengan Ghaisan. Namun mereka kembali tak acuh dan menghabiskan air dalam botol kemasan yang mereka pegang.
__ADS_1
"Kak Ehan, Nisa pulang ya," ucap Annisa ragu-ragu.
Rayhan menoleh, lalu berkata, "Lo mau pulang naik apa, hah? Mang Asep nganter Mama sama Dita ke mall. Tunggu sebentar lagi kenapa sih? Nggak sabaran banget." Deliknya.
Annisa mengangguk pelan dan mundur selangkah agar tidak terlalu dekat dengan mereka. Ia tidak ingin keberadaannya di sana membuat sang kakak merasa kesal.
Setengah jam berlalu, kini Annisa sedang mengikuti ketiga siswa itu ke tempat parkir. Raka meminjam helm pada security yang ternyata memberikan helm milik Yuda yang dititipkan Ghaisan tadi pagi.
Dengan ragu, Annisa naik ke motor Rayhan. Tadi pagi, Rayhan memang mengendarai motornya lebih dulu ke sekolah. Bisa dipastikan putra Adisurya itu tidak tahu kalau Annisa ditinggalkan Raydita.
Ketiga motor itu berlalu meninggalkan area sekolah. Mereka melaju beriringan dengan kecepatan yang menyesuaikan keadaan jalanan. Annisa mengeratkan tangannya yang melingkar bila laju motor Rayhan sangat cepat.
Tiba di lampu merah, Annisa lupa melonggarkan lingkaran tangannya. Hal itu membuat Ghaisan dan Raka menatap heran karena ekspresi Rayhan yang santai.
"Ada hubungan apa mereka berdua? Jangan-jangan beneran pacaran."
Begitulah kira-kira yang ada di benak dua sahabat Rayhan.
Ketiga motor itu menepi di salah satu restoran cepat saji. Annisa tertegun melihat di mana ia berada saat ini.
"Eh, motornya udah berhenti. Lo nggak bakalan jatuh. Turun nggak?" ujar Rayhan ketus.
Annisa tersadar dan cepat-cepat melepaskan lingkaran tangannya. Ia tersenyum kikuk pada Raka dan Ghaisan yang menghampirinya.
"Eh, Kalian. Mau makan apa mau pacaran?" tegur Raka karena Rayhan dan Annisa masih berada di atas motor.
"Nggak tahu nih anak. Ada lem kali di jok motor gue. Nisa, Lo mau turun nggak sih? Gue lapar," ujar Rayhan datar.
"I-iya, Kak. Nisa turun."
Raka mengulumkan senyum melihat raut wajah Rayhan yang kesal. Mereka pun berjalan menuju ke area restoran.
Dari dalam restoran cepat saji itu, ada seseorang yang memperhatikan mereka. Keningnya berkerut saat melihat wajah remaja perempuan yang berada diantara tiga remaja laki-laki yang sedang menarik kursi.
"Bukankah Raka berteman dengan anak Adisurya? Ooh, berarti dua orang yang berboncengan tadi adalah anak-anak Adisurya. Heh, pantas saja. Anak perempuan itu mirip dengan Rianti." Gumamnya dalam hati.
🌿
__ADS_1
Siapakah orang yang sedang memperhatikan mereka?
_bersambung_