
Happy reading ....
*
Siang hari ini cuacanya cukup mendukung bagi siapa saja yang ingin menghabiskan waktu di luar ruangan. Awan putih tipis yang berserakan terlihat kontras dengan warna biru yang membentang luas di angkasa.
Deru motor yang cukup memekakan telinga, menarik perhatian Rika yang tengah berada di dalam mobil Reni. Saat lampu lalu lintas berwarna merah, suara motor itu berhenti tidak jauh dari mobil yang ditumpangi Rika. Rika menoleh, dan tersentak ketika melihat motor yang sangat dikenalnya itu. Meski wajah pengemudi motor itu tertutup helm, ia yakin itu adalah putranya, dan ....
Deg. "Annisa?" pekik Rika dalam hati saat wanita yang tengah melingkarkan tangannya di pinggang Ghaisan menoleh seperti sedang memperhatikan sekitarnya."Jadi Agas pergi bersama Annisa. Apa itu artinya hubungan mereka baik-baik saja?" tanya Rika dalam hatinya.
"Jeng Rika, ada apa? Kok sepertinya ada yang sedang dipikirkan," tegur Reni.
"Ya begitu lah, Jeng. Saya sedang memikirkan cincin seperti apa yang sekiranya disukai Angel. Takutnya ukuran pas, tapi model nggak cocok. Maklum anak muda zaman sekarang, cepat banget ganti selera," kilah Rika.
"Santai saja, Jeng. Angel nggak aneh-aneh kok," ujar Reni sambil tersenyum tipis.
Lampu lalu lintas pun berubah warna dari merah menjadi kuning. Rika menoleh sekali lagi dan menatap geram pada Annisa yang memeluk Ghaisan yang sudah melajukan motornya karena lampu lalu lintas sudah berwarna hijau.
Motor itu melaju cukup kencang. Rika sempat mencari kemana Ghaisan melajukan motornya. Ia sempat kecewa ketika merasa telah kehilangan jejak putranya dan Annisa. Namun kemudian, tanpa sengaja Rika melihat Ghaisan dan Annisa turun dari motor di sebuah halaman parkir sebuah restoran.
Rika menyeringai sambil menyipitkan ujung matanya saat melewati restoran itu. Jalanan yang cukup padat, membuat Rika masih bisa melihat pasangan muda itu masuk ke restoran sambil bergandengan tangan.
Di tempat lain ....
Suasana berbeda sangat terasa di apartemen Rida. Celotehan riang Raydita yang menimpali ucapan Raka membuat Rida dan Rianti terkekeh sambil menggeleng pelan.
Rida sedang menunjukkan kamarnya dan pada Rianti. Meski mereka tidak terlalu dekat, keduanya terlihat cukup akrab. Dari segi usia, Rianti memanglah lebih tua. Namun jika dilihat dari penampilan, Rida yang memang sedang sakit itu terlihat sangat pucat dengan bagian kepala yang selalu ditutup.
"Dit, beli makan yuk!" Terdengar ajakan Raka dari ruang tv.
"Beli aja sendiri," sahut Raydita malas.
"Gue kan nggak tahu lo maunya apa. Gue yang traktir deh. Ayo dong, Dit." Ajaknya lagi.
__ADS_1
"Maksa," delik Raydita.
"Nanti kalau gue balik lagi dari kota B, gue beliin tas yang lagi viral. Lo mau, kan?" bujuk Raka setengah menggoda.
"Oke-oke. Tapi janji ya, beliin," sahut Raydita.
"Siap ...."
Rida mengulumkan senyum yang coba ia sembunyikan mendengar ibrolan Raka dan Raydita. Tak lama, terdengar suara Raydita yang berpamitan pada mereka dan masih mengobrol sambil berjalan menuju pintu.
"Kak, ajarin gue nyetir dong," pinta Raydita.
"Emang udah boleh?" tanya Raka.
"Belum sih. Tapi nggak ada salahnya juga kalau bisa lebih awal."
"Belajar aja dulu yang benar. Kalau lo lulus dengan hasil yang memuaskan, gue janji beliin lo mobil. Tapi jangan yang mahal," ujar Raka.
"Beneran nih?'
"Gue inginnya mobil yang kaya di film James Bond 007 itu loh, Kak." Raydita berkata dengan nada manja sambil memasang mode puppy eyes.
"Itu mahal, Dek. Harus nabung berapa tahun baru bisa kebeli," sahut Raka menatap gemas pada Raydita yang mendelik sambil memajukan bibirnya.
Tak hanya Rika yang mengulumkan senyum mendengarnya. Rianti juga melakukan hal yang sama.
"Dita beruntung ya, punya dua kakak, saudari, sepupu, yang kesemuanya memang sudah dekat dari awal," ujar Rianti.
Rida mengulumkan senyumnya sambil mengangguk. "Terima kasih, Kak," ujar Rika kemudian.
" Untuk apa?" tanya Rianti heran.
"Untuk banyak hal yang sudah Kak Rianti dan Kak Adi lakukan pada Dita. Terima kasih, Kak. Selamanya Rida berhutang budi pada kalian," sahut Rida pelan sambil tertunduk sangat dalam.
__ADS_1
"Sudahlah. Jangan melakukan sesuatu yang tidak bisa kulakukan, Rida."
"Maksud kakak apa?" tanya Rida bingung. Rida mengangkat wajahnya dan menatap wajah Rianti yang terlihat sendu.
"Seandainya Asih masih ada. Mungkin aku juga akan melakukan apa yang kamu lakukan saat ini. Sayangnya, dia sudah tiada. Seumur hidupku, aku berhutang budi padanya. Aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikannya, meskipun dengan semua yang kumiliki. Aku mencoba mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi. Dan sejujurnya, aku bersyukur Nisa berada dalam pengasuhan Asih. Meskipun aku selalu menyalahkan diriku sendiri jika mengingat kesulitan yang dialami putriku sendiri," tutur Rianti dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Rida menangkap penyesalan yang teramat dari sorot mata Rianti. Rida pun memeluk wanita yang sudah membesarkan putrinya tersebut. Rida tidak menyangka jika Rianti akan terisak. Seolah ada beban di hati Rianti yang ingin dilepaskan bersamaan dengan luruhnya air mata yang membasahi pundak Rida.
"So-sorry." Rianti tertunduk sangat dalam seakan ingin menyembunyikan wajahnya yang sembab. Rida meraih tisu dan memberikannya pada Rianti.
"Terkadang, kita memang butuh seseorang untuk menumpahkan perasaan yang sulit digambarkan. Di depan Mas Adi, aku tidak bisa melakukannya," ujar Rianti pelan.
"Kakak benar. Akupun sering merasa seperti itu," timpal Rida.
"Kamu harus kuat, Rida. Beri Dita kesempatan menikmati dan mengukir kenangan bersamamu yang akan diingatnya seumur hidup."
Rida mengangguk sambil memaksakan senyum. Dua wanita itu saling menguatkan satu sama lain.
***
Pukul empat sore Ghaisan tiba di rumahnya. Rika menyambut kedatangan putranya itu dengan riang dan menawarkan camilan yang baru saja di suguhkan pelayan.
"Agas mau mandi dulu ya, Ma. Nanti Agas temani mama ngeteh," ujar Ghaisan sambil berjalan menuju tangga.
"Oke, Sayang." Rida menatap Ghaisan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu memang harus membersihkan semuanya dari bau anak itu. Kalau perlu, buang saja pakaianmu itu," gumam Rika sangat pelan.
Ghaisan terlihat riang menanggalkan pakaiannya dan hanya mengenakan handuk saat beranjak ke kamar mandi. Wajahnya sumringah mengingat kebersamaan dengan Annisa. Senandung pelan terdengar dari kamar mandi. Ghaisan tak menyadari, ada yang masuk ke kamarnya dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur.
Rika terlihat senang saat mengetahui ponsel Ghaisan yang tak dikunci. Ia mendelik sinis pada foto Annisa yang menjadi wallpaper ponsel Ghaisan.
"Heh, kita akan lihat apa kamu masih bisa tersenyum besok. Hmm aku sudah tidak sabar, bagaimana reaksi anak itu kalau tahu Agas akan bertunangan ya?" desis Rika sambil menuliskan sesuatu di pesan chat dengan nama 'My Lovely' yang memajang wajah Annisa.
__ADS_1
Setelah memastikan pesan terkirim, Rika menghapusnya. Tidak hanya pesan yang ditulisnya, tapi juga nama Annisa dari deretan riwayat chat Ghaisan. Rika menoleh pada pintu kamar mandi dan menyeringai tipis mendengar suara Ghaisan yang masih terdengar bergumam.
_bersambung_