Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
extra part—memanfaatkan kesempatan


__ADS_3

Happy reading ....


*


Beberapa bulan kemudian ....


Cuaca di luar nampak sangat cerah. Langit biru terlihat kontras dengan awan putih tipis yang menghiasinya.


Dari balik jendela kamar, Annisa menatap ke luar sambil memeluk kaki yang sengaja dinaikkan ke kursi. Tatapannya kosong seakan tidak ada yang sedang diinginkannya. Entah mengapa, akhir pekan ini terasa membosankan bagi Annisa.


Kedua orang tuanya ada acara di luar kota. Mereka berangkat dengan pesawat pagi tadi. Rayhan entah kemana. Mungkin dia bermain basket bersama dua sahabatnya. Sedangkan Raydita, menemani Rida belanja.


Annisa membuang kasar nafasnya. Bahkan Isti tidak bisa datang ke rumahnya. Dan Yuda, sejak kembali dari Jepang dia sangat akrab dengan Rayhan dan dua sahabatnya.


"Hmm enaknya ngapain ya? Baca komik aja deh." Gumamnya malas.


Annisa beranjak dari kursi dan berjalan menuju lemari buku. Ia memilih komik diantara beberapa komik manga favoritnya. Setelah mengambil satu buku, Annisa keluar dari kamar dan terduduk di sofa.


"Neng, mau bibi buatkan jus?" tawar Bi Susi yang ditemuinya sedang menata peralatan di ruang makan.


"Boleh, Bi. Terima kasih sebelumnya," sahut Annisa sembari tersenyum tipis.


"Sama-sama, Neng. Jus buah naga, mau?" tawarnya lagi. Annisa menganggukkan pelan.


Annisa pun mulai membaca komik yang dibawanya. Dari ruang makan terdengar obrolan ringan antara Bi Susi dan Hani.


Annisa tersenyum mendengar obrolan mereka. Sejak mengetahui statusnya di rumah ini, Hani dan Santi sangat menjaga jarak darinya. Annisa merasa risih, dan ingin berbincang seperti dulu. Namun, menurut Bi Susi, mereka khawatir tidak bisa menjaga sikap dan Bu Rianti sangat tidak suka ada pelayan yang ngelunjak. Jadi mereka memilih bersikap dan berucap seperlunya saja.


"Ini jusnya, Neng. Warnanya cantik, secantik Neng Nisa," ujar Bi Susi memuji.


"Hehe bibi bisa aja. Secantik yang buatnya dong," balas Annisa.


Bi Susi tersenyum tipis. Dari luar ruang makan, terdengar suara Mang Asep yang bertanya pada Hani, "Neng Nisa ada?"


"Ada di dalam," sahut Hani.


"Ada, Den. Silahkan masuk," ujar Mang Asep.


Annisa saling menatap dengan Bi Susi. Jika bukan Rayhan yang datang, lalu siapa?


Bi Susi berjalan menjauhi sofa. Tatapan Annisa mengikuti langkah Bi Susi yang meninggalkan ruangan tv. Annisa terkesiap melihat sosok yang menyembul dari ruang makan.


"Eh, Den Agas. Sendirian, Den? Den Ehan sedang keluar," ujar Bi Susi.


"Oh, ya? Saya kira ada di rumah, Bi," sahut Ghaisan dengan ujung mata melirik pada Annisa.


"Dari tadi perginya, Den."


"Kalau begitu, saya ngobrol sama Annisa aja deh." Ucapnya sambil tersenyum kikuk.


"Silahkan, Den. Mau bibi buatkan minum?"

__ADS_1


"Tidak usah, Bi. Terima kasih," ujar Ghaisan.


Bi Susi pamit kembali pada pekerjaannya. Ghaisan berjalan mendekati Annisa yang terlihat salah tingkah.


Meski hubungan mereka sudah berjalan beberapa bulan, Annisa dan Ghaisan tidak pernah sekalipun berkencan atau menghabiskan waktu berdua seperti anak muda yang sedang kasmaran pada umumnya. Mereka cukup menikmati obrolan malam sebelum tidur melalui video call. Dan itu seperti sebuah keharusan bagi keduanya.


"Nisa kira Kak Agas lagi sama Kak Ehan," ujar Annisa sambil menatap pergerakan Ghaisan yang terduduk tepat di sampingnya.


"Ish, duduk di sana. Ada bibi," imbuh Annisa sangat pelan sambil menunjuk pada sofa yang berada tak jauh darinya.


"Ck. Biarin aja. Kapan lagi bisa begini. Baca apaan sih?" tanya Ghaisan yang langsung mencondongkan badannya pada Annisa.


Annisa refleks menjauhkan wajahnya dari Ghaisan. Annisa bahkan berdehem sambil memalingkan wajahnya. Melihat hal itu, Ghaisan hanya mengulumkan senyuman.


"Yang, jalan yuk!" ajaknya.


"Kemana?" tanya Annisa heran.


"Ya kemana aja. Makan, nongkrong, shopping juga boleh. Hmm? Please," pinta Ghaisan penuh harap.


"Nanti kalau bibi nanya, gimana?" tanya Annisa sambil melihat ke arah ruang makan. Di ruangan itu sudah sepi, dan sepertinya bibi dan Hani sudah ke dapur lagi.


"Ya, bilang aja mau jalan. Mereka nggak akan kepo kok. Mau ya?"


Annisa terdiam sejenak. Ditatapnya wajah tampan Ghaisan yang mempesona. Keduanya saling menatap. Dan tatapan Ghaisan membuat Annisa jadi salah tingkah.


"Nisa belum mandi, Kak." Ujarnya malu. Annisa meminum jus untuk menutupi perasaannya.


"Ish, nggak gitu juga ngelihatinnya, Kak," ujar Annisa sembari mengarahkan telunjuknya pada pinggang Ghaisan.


Ghaisan terkekeh dengan imajinasinya sendiri. Ia pun menyambar gelas berisi jus milik Annisa dan meminumnya.


"Itu bekas Nisa, Kak Agas."


"Memangnya kenapa? Nggak boleh? Idih, pacarku ternyata pelit ya," delik Ghaisan berpura-pura.


"Bukan gitu, Kak. Kak Agas nggak merasa jijik?" tanya Annisa malu.


"Jangankan cuma bekas bibir, bibirnya langsung juga nggak akan nolak," jawab Ghaisan dengan nada menggoda.


"Apaan sih? Nisa mandi dulu ah," kilah Annisa yang langsung beranjak dari kursi.


"Jadi pergi dong?"


"Iya. Tapi nggak lama ya. Nisa harus jawab apa kalau Kak Ehan atau Dita keburu pulang?"


"Bilang aja kalau kita pacaran. Si Ray juga pacaran sama Isti," ujar Ghaisan santai.


"Kak Agas tahu dari siapa? Kak Ehan emang bilang?" tanya Annisa penasaran. Ia kembali mendekati Ghaisan.


"Nggak juga. Tahu aja. Aku pernah mergokin mereka waktu di Kyoto. Lagian juga beda, Yang. Mereka suka curi-curi pandang," sahut Ghaisan.

__ADS_1


"Kaya siapa?" tanya Annisa dengan raut menggoda.


"Kaya aku yang suka lihatin kamu," sahut Ghaisan sambil menarik ujung hidung Annisa.


"Aww!" pekiknya pelan.


"Udah sana cepetan mandi. Lima menit, nggak pakai lama."


"Lima menit? Mandi apaan? Kak Agas secepat itu kalau mandi? Idih, emang bersih?"


"Lama juga belum tentu bersih. Yang ada ngabisin sabun," sahut Ghaisan.


"Ya jangan mainin sabun dong, Kak. Aneh, kaya anak kecil aja main sabun di kamar mandi," delik Annisa yang kembali meneruskan langkahnya menuju kamar.


"Dia nggak tahu ada yang minta disabunin," gumam Ghaisan yang merasa geli sendiri. Ghaisan kembali meminum sisa jus dalam gelas sampai habis.


Bukan tanpa alasan Ghaisan ke rumah Annisa. Saat mengetahui Adisurya dan Rianti tidak di rumah, Ghaisan menghubungi Rayhan. Tanpa sepengetahuan Annisa, Ghaisan sudah mengumumkan statusnya pada Rayhan dan Raka. Namun begitu, Rayhan masih menutupi hubungannya dengan Isti. Mungkin karena merasa tak enak pada Raka yang pernah mendapat penolakan dari Angel, siswa kelas yang menjadi incaran Raka.


Hari ini Raka tidak bisa hangout dengan mereka karena harus menemani mamanya ke luar kota. Kedua orang tua Raka baru saja sah bercerai. Saat mengetahui hal itu, baik Rayhan maupun Ghaisan bingung harus mengucapkan apa.


Sandi di vonis penjara seumur hidup karena didakwa penculikan anak di bawah umur yang direncanakan. Fany yang memang sudah muak dengan sikap Sandy, bersikeras mengakhiri pernikahan mereka.


Sebagai anak broken home korban perceraian, Raka tidak menampakkan kesedihan yang berarti. Ia terlihat riang seperti biasanya. Namun di dalam hatinya, siapa yang tahu bagaimana itu.


"Eh, lo niat ngomong nggak?" tegur Rayhan di ujung ponsel Ghaisan.


"Ray, mumpung si Raka lagi nggak ada, ngedate yuk!" ajaknya.


"Idih, ogah. Gue normal, Gas. Ngapain gue ngedate sama lo? Sorry ya, gue bukan jones (jomlo ngenes)," sahut Rayhan.


"Yee, siapa juga yang nggak normal? Gue punya Nisa kalee," balas Ghaisan.


"Sombong ...," ejek Rayhan.


"Lo juga ada Isti, kan? Lo ajak dong dia. Double date gitu, Ray."


"Double date? Boleh juga tuh. Mau nggak, Yang?"


Ghaisan mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Rayhan. Tak ingin menduga-duga, Ghaisan pun bertanya, "Lo lagi sama Isti, Ray?"


"He-em," sahut Rayhan singkat.


"Gila, Lo. Awas lo dua-duaan yang ketiga syaiton," canda Ghaisan.


"Ya lo itu syaitonnya. Gangu aja," sahut Rayhan ketus.


"Sorry, gue kan nggak tahu. Jadiin ya, kita double date. Tempatnya terserah kalian deh, gue sama Nisa ngikut."


"Oke. Nanti gue chat ketemuannya di mana. Awas lo, kalian di sana juga cuma berdua, kan? Ada syaiton baru nyaho," balas Rayhan. Ghaisan terkekeh mendengarnya sembari menoleh pada pintu kamar Annisa.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2