
Happy reading ...
Dengan perasaan gelisah Rianti menunggu Raydita kembali. Hampir saja ia melupakan waktu makan siangnya kalau Bi Susi tidak mengingatkan.
"Bi, panggil Annisa." Titahnya datar. Bi Susi mengangguk pelan lalu beranjak ke luar. Tak lama Annisa datang menghampiri Rianti. Dengan canggung Nisa menurut saat Rianti menyuruhnya duduk.
Rianti mulai mengunyah makanannya, namun Annisa masih diam saja. Kening Rianti berkerut melihat Annisa yang masih menundukkan wajahnya.
"Kenapa nggak makan?" tanya Rianti dingin.
"Nisa belum lapar, Bu."
"Kamu pikir saya memanggil kamu ke sini untuk ngelihatin saya makan, heh? Apa harus saya yang menyendokkan nasinya?"
Annisa cepat-cepat menggeleng, lalu membalikkan piring yang menelungkup di hadapannya. Setelah satu piring nasi beserta lauknya telah tersaji, Annisa berdoa di dalam hati dan mulai menyuapkan makanannya.
Diam-diam Rianti mencuri pandang. Ada rasa sesal karena tadi telah menghardik Annisa. Ia tertegun melihat Annisa yang menepikan irisan bawang daun dan cabai yang terdapat dalam cap cay. Hal serupa rupanya juga dilakukan Rianti.
Ibu dan anak itu melakukan hal yang sama. Hanya saja, Annisa tak berani mengangkat wajahnya, sehingga tak menyadari bahwa Rianti sedang mengulumkan senyum padanya.
Rianti beranjak dan meletakkan piringnya di wastafel. Mengingat itu bukanlah kebiasaannya, sepertinya Rianti tak mau Annisa mengetahui ia menyisakan irisan bawang daun dan cabai di piring itu. Setelahnya, ia pun kembali terduduk.
"Bagaimana sekolah kamu? Ada kesulitan?" tanya Rianti canggung. Annisa mengangguk pelan.
"Apa itu? Kamu tidak punya teman?" Annisa menggelengkan kepalanya.
"Lalu apa?" Nada bicara Rianti mulai meninggi. Nyonya Adisurya itu merasa kesal karena Annisa hanya menjawab dengan gerakan kepala.
"Nisa tidak bisa Bahasa Inggris, Bu." Sahutnya ragu.
"Ya belajar dong. Kamu itu sekolah di sekolah internasional. Jadi menguasai Bahasa Inggris itu harus," ujar Rianti dengan nada yang datar.
"Nisa akan belajar lebih giat, Bu."
"Ya memang harus begitu. Jangan membuat kami malu." Annisa mengangguk lagi.
Dengan susah payah Annisa menelan sisa makanannya. Ia merutuki diri yang menyendok terlalu banyak nasi. Setelah selesai, Annisa membereskan meja makan. Sambil mendengarkan Rianti yang lagi-lagi menghubungi Raydita karena mencemaskanya.
Di rumah belakang, para pelayan sedang berleha-leha. Baik Santi ataupun Hani sedang asik bermain ponsel mereka.
__ADS_1
"Wiih jauh juga ya," gumam Santi.
"Apa yang jauh, Mbak?" tanya Annisa.
"Ini loh jarak dari sini ke kotaku 500 km lebih. Ini Mbah Google benar nggak sih?" tanya Santi pada Hani.
"Ya benar lah," sahut Hani tak acuh.
"Mmm kalau dari sini ke kota asal Nisa dekat mungkin ya."
"Coba kita cari." Annisa mendekati Santi dan memperhatikan panjang jarak dari kota ini ke kota asalnya.
"Lumayan 200 km, itu baru sampai jalan raya. Belum ke dalam lagi, ada mungkin satu jam kalau naik angkot."
"Heh, udah pelosok, nyungseb lagi," cibir Hani.
"Kampungmu juga sama aja, Han. Mendaki gunung lewati lembah," delik Santi membela Annisa.
"Kalau pakai angkutan umum dari sini naik jurusan mana aja, Mbak Santi tahu nggak?"
"Yang penting dari sini ke terminal, kalau mau pakai bis. Kalau mau pakai kereta ya ke stasion," sahut Santi.
"Terserah. Bisa pakai ojek di pangkalan di depan sana. Bisa juga naik angkot jurusan ke terminal atau stasion." Jelasnya.
"Ooh, gitu ya."
"Kamu mau kabur ya, Nis? Nanya-nanya segala," tuduh Hani.
"Cuma mau tahu, Mbak. Kalau ke pasar dari sini naik apa?" tanya Annisa lagi.
Santi memberitahu dengan senang hati. Tidak hanya itu, Santi juga memperlihatkan artis K-Pop idolanya pada Annisa.
Tak lama terdengar bunyi klakson di depan rumah utama.
"Sepertinya itu Non Dita baru pulang," gumam Hani dan diangguki oleh Nisa dan Santi.
Benar saja, Raydita mengajak Sandy memasuki halaman rumahnya dan tak lama terlihat Rianti yang keluar dari pintu utama.
"Mama! Dita telat sedikit, nggak apa-aoa ya." Rayunya dengan wajah yang memperlihatkan jurus puppy eyes andalannya.
__ADS_1
"Iya-iya. Hai, San! Mari masuk."
"Thank, di luar aja. Nggak lama kok," sahut Sandy.
Sandy dan Rianti pun mengobrol di teras, sementara Raydita pamit ke kamarnya.
"Aku nggak nyangka Raka itu putramu."
"Sama. Aku juga nggak nyangka kalau ternyata anak-anak kita bersahabat. Sepertinya pertemanan kita dulu menurun pada mereka."
"Hehe, bisa aja. Tapi untungnya dua-duanya laki-laki ya. Coba kalau satu laki-laki, satu perempuan. Yang ada nanti persahabatan mereka kacau," ujar Rianti.
"Ya nggak apa-apa, kalau dulu kita tidak berjodoh, siapa tahu anak kita berjodoh," sahut Sandy sembari menyeringai.
Mendengar hal itu, raut wajah Rianti berubah datar. Ia tidak suka dengan apa yang baru saja didengarnya. Sepertinya Sandy menyadari perubahan ekspresi itu, ia pun segera pamit undur diri.
"Heh, jadi kamu masih memandang rendah aku, Rianti? Kita lihat saja nanti," gumam Sandy sebelum melaju meninggalkan rumah mewah Adisurya dan Rianti.
Di dalam kamarnya, Raydita terlihat senang dengan kalung dengan mutiara hitam yang baru saja dipilihnya. Sandy benar, warna hitam mutiara itu terlihat kontras dengan warna kulitnya yang putih.
Tok ... tok.
"Ma, lihat deh. Bagus kan?" Raydita memamerkan kalungnya pada Rianti.
"Om San-."
"Mama nggak suka kamu dekat dengan dia, Dita. Ini pertama dan terakhir kalinya kamu bertemu Sandy. Kalau sampai papa tahu, papa juga tidak akan menyukainya. Paham?" Tegas Rianti yang kemudian membalikkan badannya meninggalkan kamar Raydita.
"Paham, Ma," sahut Raydita sangat pelan. Gadis itu tidak mengerti kenapa mamanya yang tadi terlihat ramah, tiba-tiba berubah.
***
Malam mulai larut, namun Rianti masih terduduk di balkon kamarnya sambil memperhatikan jendela kamar Annisa. Dari depan rumah terdengar pintu gerbang yang dibuka pertanda Adisurya baru saja datang.
Sekali saja, Rianti berharap bisa melihat wajah Annisa dari jendela itu. Namun saat tak kunjung terlihat juga, Rianti memutuskan untuk beranjak saja.
"Mas Adi?" Gumamnya. Sosok Adisurya terlihat berjalan menuju rumah belakang.
"Mau apa dia ke kamar Annisa malam-malam begini? Apa yang dibawanya itu?" Kedua mata Rianti menyipit dengan kening yang dikerutkan. Namun suaminya sudah memasuki area rumah belakang yang sebagian terhalang tanaman.
__ADS_1
_bersambung_