
Happy reading ...
"Ini untuk Nisa, Yah?" Adisurya mengangguk cepat.
Adisurya menyelipkan rambut Annisa ke belakang telinganya. Sorot mata gadis yang semula terlihat sangat mengantuk itu jadi berbinar setelah melihat pemberian Adisurya.
Betapa tidak, sebuah ponsel berlogo buah tergigit berwarna ungu muda kini dalam genggamannya. Tidak hanya itu, Adisurya juga memberi Annisa tas slempang berukuran kecil berwarna senada.
"Kamu suka?"
Annisa mengangguk, dan berucap, "Terima kasih, Yah."
"Sama-sama. Selain nomer kamu, di ponsel itu sudah ada nomer ayah, ibu, Ehan, Dita, dan Mang Asep."
"Mang Asep?" tanya Annisa sambil tersenyum lebar.
"Iya. Oh iya lupa, Ayah belum memasukkan nomer Heru." Ujarnya sambil meminta ponsel itu dari Annisa.
"Kenapa nomer Pak Heru juga, Yah?" tanya Annisa bingung.
"Kalau ada apa-apa, telpon Mang Asep atau Heru. Ponsel ayah sering dalam mode silent, jadi takut nggak ke angkat."
"Ooh."
"Ya sudah, tidur lagi ya. Ayah mau ke kamar." Annisa mengangguk dan turun dari ranjangnya untuk mengantar sampai pintu.
Sebelum keluar dari kamar Annisa, Adisurya membuka kedua tangannya sedikit, berharap Annisa masuk dalam pelukannya. Dengan malu-malu Annisa pun memeluk Ayah Adi yang tersenyum lebar.
"Terima kasih, Yah."
"Mimpi indah, Sayang." Annisa mengangguk pelan. Rasa haru menyeruak saat Ayah Adi mengecup pucuk kepalanya.
Adisurya melangkah menuju kamarnya. Menyapa Rianti yang sedang menunggu sambil bersandar di atas tempat tidur.
"Mas kok baru ke sini? Bukannya dari tadi mas datang?" tanya Rianti sambil turun dan hendak mengambilkan baju untuk suaminya.
"Aku dari kamar Nisa. Tadi sore sepulang dari meeting, aku belikan dia ponsel. Nggak apa kan?"
"Nggak apa-apa. Tapi sepertinya anak itu butuh yang lain," ujar Rianti sambil memberikan piyama milik suaminya.
"Apa itu?"
"Guru les."
Adisurya mengerutkan keningnya. Rianti pun melanjutkan ucapannya, "Dia belum bisa Bahasa Inggris."
"Kamu ngobrol sama Nisa?" Adisurya terlihat senang sambil menatap lekat pada Rianti. Wajah Rianti seketika bersemu dan mangalihkannya dengan mengambil air minum di atas meja.
"Pelan-pelan saja ya. Aku tahu ini tidak mudah," ujar Adisurya yang meminum air pemberian istrinya.
"Oh iya, kamu belum nyuruh Nisa pindah kamar?" tanya Adisurya sambil melangkah menuju kamar mandi. Rianti menggeleng pelan.
__ADS_1
"Ayo dong, Sayang. Nggak usah gengsi, kamu pasti bisa." Ujarnya sambil tersenyum lebar.
Adisurya bukan tak bisa apalagi tak mau Annisa segera masuk dan tinggal di rumah utama. Hanya saja, ia ingin Rianti sendiri yang memintanya pada putri mereka.
Di kamarnya, Nisa merasa sangat senang. Dia terus saja memainkan ponselnya. Mulai dari mengunduh aplikasi, juga mencari informasi.
"Kalau naik bis, cuma tiga jam. Dari terminal, aku bisa naik ojek biar lebih cepat. Pulang ah ...." Ujarnya senang.
"Tapi kalau tidak diijinkan bagaimana?" Gumamnya bingung.
"Ahaa, aku kirim pesan saja pada Ayah Adi. Gampang kan," ujar Annisa senang.
Annisa pun menarik selimutnya. Ia ingin cepat tertidur agar bisa segera merealisasikan rencananya.
***
Azan subuh berkumandang. Annisa segera terbangun dan langsung ke kamar mandi.
"Hiiii dingin, tapi seger." Ujarnya sambil mengenakan mukena.
Setelah selesai salat subuh, Annisa mulai bersiap. Bukan mengenakan baju untuk bepergian, ia justru mengenakan celana trainning dan kaos lengan panjang.
Annisa mengambil tas slempang kecil yang diberikan Ayah Adi semalam. Tas itu cukup untuk menyimpan ponsel, dan juga uang. Ia bertekad akan menginap di rumah Yuli, sahabatnya. Tak lupa, Nisa mengenakan jaket untuk melengkapi penampilannya. Sebelum keluar, Annisa mengirim pesan pada Ayah Adi.
"Mau kemana, Nisa?" tanya Santi heran.
"Mau jalan-jalan sebentar ke depan, Mbak. Mumpung libur."
"Kalau nanti takut udah pada bangun. Nanti Bu Rianti marah."
"Oh iya ya. Ya udah deh, jangan lama-lama ya." Annisa hanya tersenyum tipis.
Di hari libur, penghuni rumah utama biasanya keluar kamar agak siang. Saat ini para pelayan sedang sibuk bekerja.
"Jogging, Neng?" tanya Security yang sedang membantu pekerja taman menyiram tanaman. Annisa mengangguk pelan, lalu mengucapkan salam.
Annisa menyusuri tepi jalan perumahan elit itu. Ia sering melewatinya, jadi memang sudah tak asing lagi. Annisa ingin menghemat waktu, jadi ia memilih menggunakan ojek pengkolan yang biasa mangkal.
"Terminal bis, Pak."
"Siap, Neng."
Motor yang ditumpangi Annisa, melaju dengan kecepatan tinggi. Jalanan yang biasanya padat merayap itu masih terlihat lengang. Mungkin karena ini akhir pekan dan masih sangat pagi.
Sesampainya di terminal, Annisa turun dan membayar ongkos ojeknya. Setelah itu, ia pun bertanya pada seorang pedagang yang sedang membuka kios.
"Maaf, Pak. Mau tanya. Kalau bis jurusan kota S, di sebelah mana?"
"Masuk aja ke terminal, Neng. Nanti ada tulisan kota tujuan di setiap barisan bis."
"Terima kasih, Pak."
__ADS_1
Annisa berjalan memasuki area terminal. Terlihat orang-orang sudah mulai ramai. Terdengar juga suara panggilan dari beberapa pria untuk setiap jurusan bis.
Mendengar nama kotanya disebut, Annisa segera mendekati. Setelah bertanya, ia pun masuk ke dalam bis.
Baru beberapa orang di dalam bis itu. Ada juga penjual makanan di sana. Annisa memilih tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari kursi supir. Satu helaan nafasnya dibuang saat punggungnya sudah bersandar.
"Lontong, tahu, sarapannya, Neng. Risol, molen, juga ada." Seorang pedagang menawari Annisa.
Annisa pun membeli untuk sekedar mengganjal perutnya. Setelah penjual itu pergi, Annisa mengeluarkan ponselnya.
"Belum dibaca. Sepertinya ayah belum bangun," gumam Annisa saat melihat pesan yang dikirimnya pada Ayah Adi. Kemudian, Annisa memasang mode silent pada ponselnya.
Di waktu yang bersamaan ....
Adisurya mengerjap dari tidurnya. Pria itu menggeliat, lalu tersenyum melihat wajah cantik Rianti yang masih terlelap.
Adisurya meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia berniat ingin menggoda Annisa dengan menelepon ke ponsel baru putrinya itu.
Adisurya mengernyitkan keningnya, kemudian tersenyum mengetahui Annisa lebih dulu mengirim pesan padanya.
Dengan semangat, Adisurya membetulkan posisi duduknya, lalu membaca pesan dari Annisa. Raut wajahnya seketika berubah saat pesan itu terbaca.
'Ayah, Nisa izin pulang dulu ya. Nggak lama kok, besok juga ke sini lagi. Please ...'
Pesan itu dikirim Annisa hampir satu jam yang lalu. Adisurya segera turun dari tempat tidurnya, dan bergegas ke luar kamar.
"Bi, Nisa dimana?" tanya Adisurya yang menuruni tangga secepat yang ia bisa.
"Di kamarnya, Tuan," sahut Bi Susi.
"Neng Nisa tadi ke luar. Katanya mau jalan-jalan sebentar," ujar Santi yang juga ada di sana.
"Ke luar?" Adisurya terlihat gusar.
Ia mulai menelepon Annisa sambil melangkah lebar menuju ke kamar belakang.
"Kok nggak diangkat sih," gumam Adisurya dengan raut wajahnya yang cemas. Adisurya langsung mengarah ke luar sambil memanggil satu persatu pelayan laki-laki di rumahnya.
"San, kapan Neng Nisa ke luar? Kok Bibi nggak lihat."
"Tadi Bi. Waktu Bibi baru masuk ke sini. Santi kan masih di dapur."
"Neng Nisa bilangnya mau jalan-jalan gitu?"
"Iya, Bi. Apa jangan-jangan dia kabur?"
"Huss, sembarangan aja kamu ini."
"Bisa jadi kan, Bi?"
Bi Susi terlihat sangat khawatir sekaligus bingung.
__ADS_1
_bersambung_