
Happy reading ....
🌿
Sore di rumah Adisurya ....
Rida mengulumkan senyumnya melihat Raydita yang sangat antusias memperlihatkan apa saja yang dibelinya untuk perlengkapan liburan ke Jepang. Selain baju casual dan kardigan, sepatu, juga aksesoris penunjang lainnya dibeli Raydita.
Tak berbeda jauh dengan Raydita, Annisa juga melakukan hal serupa. Rianti bahkan membeli sweater wool untuk mereka yang warnanya senada dengan hoodie milik Rayhan.
Dua remaja itu terlihat sangat senang. Sampai-sampai menularkan senyum pada dua wanita yang sedang menatap mereka.
"Puas banget yang udah ngerampok Tante Rida," sindir Rayhan yang sedang menuruni tangga. Putra Adisurya itu terlihat segar dengan rambutnya yang basah.
"Enggak kok ya, Tante," sahut Raydita sambil menoleh pada Rida yang langsung mengangguk.
"Tumben Kak Ehan jam segini mandi," cetus Annisa.
"Iya nih. Mau kemana, Han?" timpal Rianti.
"Nggak kemana-mana. Di rumah aja," sahut Rayhan santai.
"Bohong. Paling juga mau nongkrong," delik Raydita.
"Sumpah, gue nggak akan kemana-mana," pungkas Rayhan.
"Nisa, Isti udah ada kabar belum?" tanya Rianti.
"Belum, Bu. Mungkin nggak dibolehin sama Umi-nya," sahut Annisa.
"Sok tahu," timpal Rayhan bergumam, tapi masih terdengar oleh Annisa yang berada tak jauh darinya.
"Emang kakak tahu?" tanya Annisa pelan dengan tatapan heran.
"Ada deh," sahut Rayhan.
Tak berselang lama, terdengar suara klakson mobil dari depan rumah dan sontak saja Rayhan melonjak sambil beranjak dari tempatnya.
"Siapa Han, teman-teman kamu?" tanya Rianti heran. Tak hanya Rianti, Annisa dan Raydita juga saling menatap heran, kemudian mengangkat bahu.
"Bukan, calon mantu," sahut Rayhan sekenanya sambil berlalu ke depan rumah.
Rianti mengerutkan kening dan menoleh pada Rida yang tersenyum tipis. Rianti pun menyusul langkah putranya.
Dari luar terdengar suara Rianti yang menyambut tamunya. "Senangnya, akhirnya kamu bisa gabung juga. Ayo, masuk!"
Annisa menoleh pada Raydita dengan raut wajah gembira sambil berkata, "Isti."
Raydita mengangguk dan Annisa cepat-cepat berlalu ke ruang depan.
"Siapa, Sayang?" tanya Rida pada Raydita.
__ADS_1
"Teman Nisa, mau ikut juga. Tante ikut?" tawar Raydita.
Rida menggeleng pelan sambil tersenyum masam.
"Oh iya ya. Minggu depan sudah mulai kemoterapi. Dita bawain oleh-oleh aja deh. Tante mau apa?"
"Tante mau kamu memanggil 'mama' sepulangnya dari sana," sahut Rida, tapi hanya terlontar dalam hatinya.
"Tante lagi bingung ya, mau oleh-oleh apa?" todong Raydita.
"Apa aja," sahut Rida pelan. "Dit, Tante pulang ya. Nggak enak ada tamu," ujar Rida yang mulai memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Jangan dong. Kan kata mama makan malam dulu," cegah Raydita.
Rida pun tersenyum dan menghampiri Raydita. Ia membantu putrinya itu membereskan barang-barang yang berserakan lengkap dengan pembungkusnya.
Rianti memperkenalkan Rida sebagai adik dari sahabatnya. Mereka terlihat akrab dan terlibat obrolan hangat. Mereka tidak menyadari, ada hati yang bersorak senang dan diam-diam mencuri pandang.
Rianti juga meminta tamu-tamunya makan malam bersama. Dengan dibantu Ikah, Rianti ikut menyiapkan meja bersama Bi Susi dan beberapa ART-nya.
Rida dan Raydita membawa barang belanjaannya ke kamar Raydita. Sedangkan Annisa yang menjinjing tas Isti, mengajak sahabatnya itu ke kamarnya.
"Seneng deh, malam ini kita bisa tidur berdua. Kalau bertiga sama Dita, gimana?" tanya Annisa.
"Boleh. Kita bisa ngobrol semalaman. Iya, kan?" ujar Isti riang. Annisa pun menutup pintu kamar.
Dahlan tersenyum mendengar kegembiraan putri semata wayangnya. Isti memang sangat jarang bisa menginap di rumah orang lain, jika bukan di rumah nenek dan kakeknya.
"Ray nanti juga seperti papa dong ya," ujar Dahlan.
"Mudah-mudahan, Om," angguk Rayhan malu.
"Jangan dong, harus lebih baik dari papa," ujar Adisurya sembari mengusap punggung putranya.
"Pasti ya, Ray?"
"InsyaAllah, Om," sahut Rayhan.
"Sudah ada rencana kuliah dimana?" tanya Dahlan lagi.
"Inginnya sih di London." Dahlan mengangguk kecil.
"Untungnya nggak punya pacar ya, Han. Jadi nggak LDR-an. Banyak lho anak teman mama nggak jadi kuliah di luar karena berat ninggalin pacarnya. Hmm akhirnya, sekolah di sini juga nggak bener karena pacaran terus. Orang tua yang pusing kalau anak begitu, mau mengandalkan siapa mengelola perusahaan kalau anaknya sekolah aja nggak serius," tutur Rianti.
Rayhan tertegun mendengar penuturan mamanya. Long distance relationship? Rayhan baru terpikir hal tersebut. Itu artinya, ia dan Isti akan ....
Rayhan menoleh pada Isti yang tertunduk dengan wajah muram. Kekasihnya itu pastilah memikirkan hal yang sama.
Obrolan para orang tua jadi samar terdengar. Pikiran Rayhan dipenuh dengan kata LDR dan sosok Isti. Rayhan menghela nafasnya dan meneruskan makan sambil sesekali menoleh pada Isti.
Kedua orang tua Isti tidak bisa lama di kediaman Adisurya. Setelah menitipkan Isti dan menyerahkan dokumen pribadi yang diperlukan untuk perjalanan, mereka pun langsung menuju kota di mana sebuah pabrik milik Dahlan sedang bermasalah. Rida juga berpamitan setelah mengobrol sebentar.
__ADS_1
"Sayang, tidurnya jangan terlalu malam ya," pesan Rianti sebelum berlalu ke kamarnya.
"Iya, Ma."
" Iya, Bu," sahut Annisa dan Isti.
"Han, kamu belum mengantuk?" tanya Adisurya sambil melangkah menuju tangga.
"Sebentar lagi, Pa," sahut Rayhan pelan.
"Mama sama papa ke kamar ya," pamit Rianti.
"Iya, Ma," sahut Rayhan.
"Dit, tidur di kamarku yuk!" ajak Annisa.
"Boleh. Gue bawa dulu bantal ya," sahut Raydita beranjak ke kamarnya.
"Nanti masuk aja ya," ujar Annisa pada Raydita. "Ayo, Isti! Selamat malam, Kak Ehan."
Rayhan hanya tersenyum tipis sambil menatap pada Isti yang diam-diam juga menatapnya. Sejak pembicaraan tadi, Rayhan jadi lebih banyak diam.
Annisa menutup pintu kamarnya dan bersemangat mengajak sahabatnya itu ke tempat tidur. Tapi melihat Isti yang muram, Annisa jadi heran.
"Kamu kenapa, Isti? Nggak senang ya nginep di rumahku?" tanya Annisa sambil terduduk di samping Isti.
"Senang banget. Hanya saja aku belum biasa. Rasanya agak aneh, hehe." Kilahnya.
"Jangan sungkan, anggap aja kamar sendiri. Oh iya, kamu minum susu dulu nggak kalau mau tidur? Kalau iya, nanti aku buatkan," tawar Annisa.
"Enggak usah. Aku masih kenyang," sahut Isti yang mencoba bersikap wajar karena tak enak pada Annisa.
"Berarti biasanya suka minum susu dulu?"
Isti tersenyum malu dan berucap, "Umi yang minta."
"Umi kamu baik ya. Kalau dulu almarhumah ibu bisa beli susu, aku yakin ibu juga akan membuatkannya untukku," ujar Annisa pelan.
"Nisa ...." Isti menggenggam tangan sahabatnya.
"Haha aku melow ya. Setiap kali lihat umi kamu, aku ingat ibu. Wajahnya teduh gitu, hehe. Udah ah, kita kan mau seru-seruan. Aku mau cerita sesuatu nanti. Kamu pasti nggak nyangka," ucap Annisa yang kembali riang.
"Oh ya? Apa itu?" tanya Isti antusias.
"Ada deh, nanti aja nunggu Dita. Kamu juga cerita sesuatu ya. Pokoknya harus, Dita juga. Kalau perlu kita ngobrol sampai pagi. Kan libur," tutur Annisa dengan semangat.
"Mmm perlu camilan nggak ya? Kamu mau sesuatu nggak, Isti?" Isti menggeleng pelan.
"Aku ngambil air minum dulu ya. Kamu santai aja, sambil mikirin mau cerita apa," seloroh Annisa.
Isti menatap nanar langkah Annisa yang menuju pintu. Ia menggigit bibirnya sendiri sambil bergumam, "Harus? Gimana dong, cerita jangan ya?"
__ADS_1
_bersambung_