
Happy reading ....
🌿
"Ma ...." Raydita menatap Rianti dengan kedua maniknya yang berkaca-kaca.
"Mama harus bagaimana, Dita? Kamu anak yang kami besarkan dengan penuh cinta. Kami berikan segala yang terbaik untuk kamu. Oke, mungkin kamu berpikir itu sebelum mama tahu kalau Annisa itu anak mama. Tapi Papa? Papa tahu segalanya dari awal, Dita. Papa tetap sayang kan sama kamu?" Rianti menatap lekat pada Raydita.
"Apa salah kalau sekarang kami mau menebus kesalahan di masa lalu? Bukan keinginan Nisa terlahir dalam kondisinya yang seperti itu. Mama sama papa yang salah. Begitu juga dengan kamu, Sayang. Bukan keinginan kamu terlahir sebagai anak ...." Rianti terlihat ragu meneruskan ucapannya.
"Mama mau bilang kalau Dita anak haram, kan?" delik Dita yang melengoskan wajah.
"Tidak, Sayang. Tidak ada yang seperti itu. Seperti halnya Nisa, orang tuamulah yang salah. Kalian anak-anak dititipkan pada kami para orang tua dalam keadaan suci. Tidak ada anak haram, Sayang," ujar Rianti lembut.
"Tapi kenyataannya begitu, Ma. Dita tidak punya orang tua yang sah," timpal Raydita dengan suara yang berat.
"Dita-."
"Dita mau sendiri dulu, Ma. Please," pinta Raydita dengan kepala tertunduk. Rianti menatap sendu pucuk kepala Raydita. Ia tahu, ada air mata yang coba disembunyikan Raydita.
"Mama keluar ya. Sebentar lagi obatnya di minum," ujar Rianti pelan. Raydita yang masih menunduk pun menganggukkan kepala.
Sekali lagi Rianti menoleh sebelum menutup pintu kamar Raydita. Semua ini benar-benar tidak mudah. Terutama untuk kedua anaknya.
Rianti berjalan menuruni tangga dan menuju kamar Annisa. Diarahkannya pandangan ke setiap sisi kamar itu.
Terbayang pertemuan pertamanya dengan Annisa. Anak itu terlihat lusuh dengan pakaian sederhana juga tubuhnya yang kurus.
Rianti tidak sanggup jika harus membayangkan kesulitan yang dialami putrinya selama 15 tahun ini. Belum lagi jika mengingat perlakuannya pada Annisa sebelumnya. Tuhan ... masih pantaskan untuk dimaafkan?
Rianti terisak dia tepi ranjang Annisa. Menyesali diri, hanya itu yang ia bisa lakukan untuk saat ini.
__ADS_1
***
Sementara itu di kediaman Rika ....
Langkah Ghaisan yang baru saja keluar dari kamarnya terhenti di ujung tangga. Ia menatap heran pada Mamanya dan juga Rida yang sedang beradu mulut membicarakan Raydita.
"Kenapa, Kak? Kenapa Dita tidak boleh tinggal di sini?" tanya Rida dengan nada tinggi.
"Karena tempat dia di rumah Rianti," sahut Rika tegas.
"Dia putriku, dan Dita juga sudah tahu hal itu."
"Aku tidak perduli. Kau tidak tahu betapa menyesalnya aku sudah membohongi mendiang ibu. Rida kuliah ... nggak bisa pulang karena banyak tugas, bla bla bla. Bahkan saat ibu kritis dan ingin bertemu denganmu, kau tidak datang karena sedang hamil besar. Itu sebabnya aku memutuskan akan menitipkan Dita ke panti asuhan setelah dia lahir. Jadi jangan pernah membawa dia ke rumah ini." Tegasnya.
Rida menatap Rika dengan kedua maniknya yang bergetar. Ini memang salahnya. Dia sudah durhaka sebagai anak, tapi haruskah ia durhaka juga pada putrinya?
"Kak ...." Rika balik menatap tajam pada Rida.
Rika berlalu dan terperanjat melihat Ghaisan ada di sana mendengarkan perdebatannya dengan Rida. Rika terlihat salah tingkah dan mencoba menjelaskan dengan suara tergagap.
"Sa-sayang, mmm itu ... Tante kamu dan Dita ...." Rika menoleh pada Rida kemudian Ghaisan.
Ghaisan mendekati mamanya sambil berkata, "Agas sudah tahu, Ma."
"A-apa?"
"Agas sudah tahu semuanya. Malam ini Agas menginap di rumah teman, Ma." Pamitnya.
"Di rumah siapa, Sayang?" Rika hanya bisa menelan saliva melihat Ghaisan berlalu tanpa menghiraukannya.
***
__ADS_1
Lain di kota, lain pula di desa.
Malam ini suasana rumah Indra terasa hangat dengan gelak tawa yang menggema. Yuli dan Annisa tak hentinya menggoda Rayhan yang lahap menyantap ayam bakar buatan Pak Indra. Mereka seakan puas melihat wajah Rayhan yang memerah.
"Enak kan, Den?" tanya Bi Titin yang juga ada di sana.
"Ini sih mantap, Bi." Rayhan mengacungkan ibu jarinya.
"Makanya jangan asal ucap. Ayam kan memang sumber makanan. Sok-sokan bilang nggak akan makan, eeh tahunya paling doyan," gerutu Annisa sambil menahan senyuman.
"Ish, udah dong. Nih kakak kasih," ujar Rayhan sembari menaruh tulang paha ayam di piring Annisa.
"Yee, emangnya Nisa guguk."
"Guk ... guk," timpal Rayhan yang kemudian tertawa pelan.
Setelah makan malam, Annisa dan Yuli mengobrol di kamar. Sementara Rayhan pamit ke depan rumah. Ia hendak menyalakan sigaretnya sambil menikmati udara malam pedesaan.
Tidak ada yang tahu, dibalik sikap acuhnya, Rayhan sangat terharu dengan cara orang-orang di desa itu memperlakukannya.
Sejak pertama menginjakkan kaki di desa ini, orang-orang sangat ramah menyapanya. Bahkan ada beberapa ibu yang tanpa sungkan mengutarakan kekaguman serta memintanya menjadi menantu mereka.
Rayhan tentu tahu itu hanyalah candaan. Namun sejujurnya, ia menyukai senyum mereka yang tulus.
Satu hari berada di desa ini, banyak pengalaman baru yang didapat Rayhan. Makan bersila di atas tikar. Bercengkrama dengan siapa saja yang menyapanya, bahkan seekor ayam memberinya pengalaman.
Rayhan terkekeh mengingat semua kejadian yang membuatnya terlihat lucu. Sampai suara seseorang mengalihkan tatapannya.
"Nisa ada di rumah Pak Indra. Ini rumahnya."
"Kalian? Ngapain kesini?" tanya Rayhan sambil menatap tak percaya.
__ADS_1
_bersambung_