Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Rayhan-Isti (fitting baju pengantin)


__ADS_3

Happy reading ....


*


Pagi yang ceria di kediaman Adipura. Setelah sekian lama, kelima anggota keluarga itu akhirnya bisa berkumpul bersama.


Adisurya nampak bahagia berada diantara ketiga anaknya. Sementara Rianti sedang berbicara dengan seseorang melalui telpon di teras belakang rumahnya.


Sedari pagi, Rianti sudah disibukkan dengan persiapan pernikahan Rayhan yang hampir sembilan puluh sembilan persen selesai. Nyonya Adisurya itu sangat ingin acara putranya nanti berjalan baik, dan tentunya tanpa kendala.


Adisurya yang mengetahui hal itu hanya bisa menyunggingkan senyumnya. Pria yang dikenal luas karena kesuksesannya di dunia bisnis itu barulah merasakan kesuksesan yang sesungguhnya saat melihat istri dan anak-anaknya bahagia.


"Nis, Agas kapan datang?" tanya Adisurya pada Annisa.


"Katanya lusa, Yah," sahut Annisa.


Adisurya mengangguk pelan, dan menoleh pada Rianti yang menghampiri sambil bertanyapada Rayhan, "Jadikan fitting bajunya hari ini?"


"Jadi dong, Ma," sahut Rayhan cepat.


"Mama kurang peka nih. Nggak lihat apa, Ehan udah mandi dari pagi? Latihan ya 'kan, Han?" goda Adisurya.


"Latihan apa, Pa?" Rayhan balij bertanya.


"Latihan mandi junub, haha ...," kelakarnya.


"Yee, Papa. Tahu aja," ujar Rayhan dengan senyumnya yang lebar.


Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Rayhan sering meminta diajarkan bacaan salat pada Annisa. Sejak pernikahannya dengan Isti sudah ditentukan, Banyak hal yang Rayhan pelajari untuk memantaskan diri menjadi suami Isti. Meski masih jauh dari kata mengerti , setidaknya Rayhan mulai memahami apa itu pernikahan menurut agama yang dianutnya.


Tidak hanya melulu tentang cinta. Ada tanggung jawab, juga janji pada Sang Maha Khalik untuk bisa menjaga, dan menuntun pasangannya agar bisa bersama menuju surga-Nya.


"Nis, kamu ikut ke butik ya," pinta Rayhan yang diangguki cepat oleh Annisa.


Annisa tentu sangat tahu, jika Rayhan dan Isti tidak diizinkan hanya jalan berdua oleh Abi-nya Isti.


"Kok cuma Nisa? Dita nggak diajak?" tanya Raydita dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.


"Kamu lupa ya, hari ini kamu jadi supir Mama," ujar Rianti mengingatkan.


"Oh iya, ya. Hehehe ...," kekeh Raydita.


"Jangan lupa suruh Yuda ngambil seragam groomsmen-nya. Punya Yuli sama Raka juga ya," ujar Rianti.


"Oke. Nggak sekalian sama Kak Agas?" tanya Raydita.


"Tanya aja sama pacarnya," sahut Rianti sambil melirik pada Annisa.


"Bawa aja sekalian," ucap Annisa seraya tersipu.


"Oke deh, kalau begitu," angguk Raydita.


Annisa, Raydita, Yuli, dan pasangan mereka akan menjadi bridesmaid dan groomsmen pada pernikahan Rayhan-Isti. Untuk meramaikan, Rianti juga meminta Tasya dan Mela bersama pasangan mereka ikut menjadi pendamping pengantin di hari bahagianya nanti. Sebelumnya, para gadis itu sibuk memilih warna, model, dan aksesoris untuk pemanis seragam yang akan mereka kenakan nanti.


***


Mobil yang dikemudikan Rayhan menepi di halaman rumah Isti. Di teras rumah itu, Dahlan sedang mengobrol dengan tamunya.


"Assalamu'alaikum," sapa Annisa dan Rayhan bersamaan.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah," sahut Dahlan dan tamunya.


"Ayo, masuk Nak Nisa, Nak Ray," ujar Dahlan pada Nisa dan Rayhan yang bergantian menyalaminya.

__ADS_1


"Ini calon mantu Gus Dahlan?" tanya tamu itu.


"Iya, Ustad," sahutnya. "Nak Ray, ini teman Abi, Ustad Hanif. Ini Annisa, adik Rayhan." Dahlan pun memperkenalkan mereka.


"Nisa ke dalam dulu ya, Pak," pamitnya.


"Silakan, Nis. Nak Ray mau ke dalam, atau menunggu di sini sambil ngobrol?" tanya Dahlan.


"Di sini saja, Abi," sahut Rayhan.


Dahlan tersenyum lebar dengan gerakan tangan mempersilakan. Siapa yang menyangka, jika kemudian Annisa dan Isti juga dipanggil untuk mendapatkan wejangan dari Ustad Hanif.


"Ini juga calon pengantin, Ustad. InsyaAllah tahun depan ya, Nis?" tanya Dahlan.


"InsyaAllah," angguk Annisa sambil tersipu.


"Bagini anak-anak, banyak yang lupa, atau bahkan tidak menyadari, dalam perencanaan pernikahan itu, ada yang lebih penting selain menyiapkan segala hal yang bersangkutan dengan acara. Yaitu apa? Nasihat atau wejangan tentang apa dan bagaimana sebuah ikatan pernikahan itu," tutur Ustad Hanif yang diangguki Dahlan dan juga Rayhan, Nisa, dan Isti.


"Ijab kabul pernikahan itu tidaklah sulit, tidak juga lama. Bahkan mungkin hanya beberapa menit saja. Yang lama itu apa? Ibadahnya. Karena hakekatnya, selain menyempurnakan agama, pernikahan itu juga menjadi ibadah terlama. Di dalamnya ada kenikmatan dunia yang berbalas pahala, enak nggak tuh? Udah nikmat dapat pahala, hehe. Tapi ingat, kehidupan rumah tangga juga tidak selalu enak. Semua berpasangan, kalau ada enak, berarti ada tidak enaknya juga. Apapun itu bentuknya. Entah itu kepribadian pasangan yang tidak sesuai bayangan kita, atau apa saja ...."


Mereka mendengarkan dengan seksama penuturan Ustad Hanif. Setelah dirasa cukup, ketiganya pun berpamitan.


Di tengah perjalanan. Rayhan menepikan mobilnya. Annisa dan Isti merasa heran karena mereka belum sampai di tujuan.


"Ada apa Kak Ray?" tanya Isti.


"Yang, pindah dong," pinta Rayhan.


Tadi, Isti duduk di kursi belakang kemudi bersama Annisa. Tentu karena tak ingin mendapat teguran dari Dahlan dan tamunya. Tapi sekarang, Rayhan ingin melihat calon istrinya itu duduk di sampingnya. Annisa yang mengerti akan hal itu pun mempersilakan, toh masih ada dirinya diantara keduanya.


"Nah gitu dong," ujar Rayhan dengan senyuman lebar.


"Maaf ya, Nis. Kamu jadi sendirian," ucap Isti.


"Dia nggak sendri. Ada Agas yang menemani," timpal Rayhan yang melirik Annisa yang sedang berbalas pesan dengan Ghaisan dari spion dalam mobilnya.


"Tahu aja," ucap Annisa tanpa menoleh.


Rayhan dan Isti saling menatap untuk sesaat. Annisa berdehem, dan membuat keduanya tersipu.


"Jalan, Kak," ujar Annisa.


"Siap," sahut Rayhan.


Sekali lagi Rayhan dan Isti saling melirik, dan rona wajah pada keduanya sudah cukup jadi pertanda keduanya saling mendamba.


"Ehhem ...," dehem Annisa.


"Jangan ngintip terus dong, Nis. Bisa-bisa kamu bintitan," gerutu Rayhan. Isti terkekeh, sementara Annisa mendelik dengan wajah yang ditekuk.


Rayhan mengemudikan mobilnya menuju salah satu butik milik seorang desainer ternama. Setibanya di tempat yang dituju, mereka disambut oleh sang desainer dan asistennya. Ketiganya pun diarahkan ke lantai dua butik itu.


Isti dan Annisa terpana melihat gaun pengantin yang berjejer rapi dengan manekin cantik sebagai pelengkapnya. Gaun-gaun yang didominasi warna putih itu membuat siapa saja ingin mengenakannya.


"Cantik semua. Punyamu yang mana, Is?" tanya Annisa.


"Punya Neng Isti ada di dalam. Mari, silakan," ujar desainer itu.


Isti menoleh pada Rayhan yang memberinya anggukan pelan. Dengan ditemani Annisa, Isti masuk ke dalam ruangan untuk mencoba gaun pengantinnya.


Annisa berdecak kagum melihat dua gaun yang terlihat elegan walau desainnya terbilang sederhana. Kedua gaun itu akan dikenakan saat akad, dan resepsi. Batu permata yang menghiasi keduanya membuat gaun itu terlihat sangat mempesona.


"Cantik banget, Is," ujar Annisa.

__ADS_1


"Terima kasih. Aku gendut nggak, Nis?" tanya Isti pelan.


"Enggak," geleng Annisa.


"Mery, calon prianya sudah disuruh fitting?" tanya desainer itu pada asistennya.


"Udah, Say," sahutnya.


"Aku lihat Kak Ray dulu ya," bisik Annisa.


Annisa berlalu dari ruangan itu. Ia menunggu Rayhan keluar dari ruang ganti di sisi lain dari lantai dua tersebut. Annisa kembali memperhatikan gaun-gaun yang berjejer itu. Wajahnya merona saat membayangkan dirinya mengenakan salah satunya.


"Ehhem. Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Daripada cuma dibayangin, cobain dong. Boleh, kok. Iya 'kan, Mbak?" saran Rayhan.


"Aah, enggak. Nanti aja, kalau sudah waktunya," kilah Annisa.


"Nggak apa-apa sekarang juga kalau Neng-nya mau. Yuk, saya ada gaun yang sepertinya akan sangat cocok kalau Neng yang pakai," ujar seorang desainer yang merangkap sebagai asisten desainer senior di butik itu.


"Eh? Enggak, nggak usah. Terima kasih," tolak Annisa.


"Coba dulu. Kakak nggak masuk ke sana lho, sebelum kamu coba memakainya," ujar Rayhan dengan raut wajah serius.


"Kok gitu?" gumam Annisa dengan kening yang dikerutkan.


"Makanya coba. Sana," titah Rayhan.


Annisa pun menurut. Ia masuk ke dalam ruang ganti, dan tak lama kemudian desainer itu masuk dengan gaun yang dimaksudkannya tadi.


"Bagus banget gaunnya," terdengar pujian Annisa dari dalam ruangan itu. Tak berselang lama, desainer itu keluar karena Annisa merasa malu jika ada yang menemani saat mengenakannya.


Annisa mengagumi gaun putih yang sedang dikenakannya. Seandainya saja hari ini merupakan fitting baju pengantinnya, mungkin akan ada Ghaisan yang juga akan melakukan fitting baju sebelum dikenakan saat hari-H.


"Astagfirulloh." Annisa terperanjat mengingat Rayhan yang mungkin sedang menunggunya untuk keluar. Bagaimana jika benar Rayhan belum masuk ke ruang ganti Isti hanya karena menunggu dirinya?


"Kak Ehan. Nisa ud-" Annisa tertegun saat pintu geser itu terbuka. Pria tampan yang sedari tadi bermain dalam benaknya sedang bersandar sembari menatapnya dengan binar kerinduan.


"K-k-kak Agas?" gumam Annisa seraya menengok ke sekelilingnya yang ternyata sepi.


"Ini nggak mungkin Kak Agas, 'kan? Kak Ehan sama yang lain pada kemana ya?" batin Annisa bingung.


Sekali lagi Annisa menatap pria yang masih belum bergeming dari posisinya itu. Annisa merasa bingung, apakah ini hanya khayalannya semata?


Untuk menyadarkan dirinya, Annisa mencubit lengannya sendiri.


"Aww. Sakit .... Berarti ini nyata, 'kan?" batinnya lagi dan kembali menatap pada pria itu.


"Hai, Sayang," sapa Ghaisan yang mulai beringsut dari posisinya dan melangkah mendekati Annisa yang melongo tak percaya.


"I-ini ... beneran Kak Agas?" tanya Annisa dengan raut wajah yang sulit dijelaskan. Antara bahagia, dan tak percaya. Juga bingung karena mengira kekasihnya akan datang lusa.


"I miss you," ucapnya pelan.


Annisa tersipu, sekaligus haru. Kata-kata yang sering didengar melalui ponsel, kini didengar langsung dari orangnya yang berada di hadapannya. Saat ini, di tempat ini.


Yups. Ghaisan benar-benar ada di sini.


Belum sempat hilang rasa tak percayanya, Annisa merasakan pinggangnya ditarik Ghaisan. Aroma parfum yang sudah tak asing lagi itu menambah keyakinan bahwa semua ini adalah nyata.


"I love you, Nisa," bisik Ghaisan.


"Love you too, Kak," sahut Annisa lirih sembari melingkarkan tangannya di pinggang Ghaisan.


Annisa tidak menyangka akan mendapat kejutan manis di tempat ini. Ia sangat yakin, sang kakak-Rayhan ikut terlibat hingga kejutan ini bisa terealisasi.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2